
"Raka... coba lihat papa, apa yang sebenarnya terjadi?" Desak Erlangga.
"Ada keajaiban pa... sungguh... Raka melihat dengan mata kepala Raka sendiri." Kata Raka antusias. Namun Erlangga semakin mengeryitkan dahi nya. Perkataan Raka muter- muter, membuatnya semakin mengkawatirkan anak sulung nya itu.
"Permisi tuan Raka, nyonya meminta tuan datang ke kamar nya!" Kata seorang perawat.
"Oh... iya, saya akan segera kesana. Apakah nyonya sudah selesai berganti baju?" Tanya Raka balik.
"Sudah tuan, si kecil juga sudah bersama ibu nya." Jelas si perawat.
"Oh ya?" Raka langsung berjalan menjauhi papa nya. Ia seakan berubah menjadi pikun sekarang, sejak lahir bayi Miracle nya.
Erlangga yang ditinggalkan begitu saja hanya geleng- geleng kepala. Ia sekarang benar- benar yakin kalau Raka bermasalah. Ia sudah mengatur rencana untuk memeriksakan anak nya pada psikiater.
Erlangga segera menyusul anak nya yang telah berjalan duluan.
Hari beranjak tengah malam, namun Raka dan Keke masih terus bersenda- gurau. Seakan, inilah hari baru bagi mereka.
Ya benar... kedatangan bayi Miracle adalah sebuah awal baru bagi mereka menjadi orang tua. Sebuah kebahagiaan besar, lebih berharga dari sekedar emas permata.
***
"Kukuruyukkkkk.... Kukuruyukkkkk.." Suara alarm Dariel membangunkan Kayra. Ia segera meraih hp dari atas nakas. Jam dinding masih menunjukkan pukul 12.00 WIB. Kayra segera mematikan alarm. Mungkin suaminya telah salah menyetel alarm. Matanya masih sangat berat. Ia kembali bergelung di dalam selimut.
"Cinta... bangun, ayo... kita jalan- jalan." Bisik Dariel, sambil menggoncangkan tubuh Kayra.
"Masih... ngantuk," keluh Kayra enggan. Namun ia menurut juga saat Dariel memakaikan jaket pada nya. Selesai memakai jaket Dariel langsung membawa Kayra bertelephortasi.
Secepat kilat mereka telah sampai ditempat tujuan mereka. Kayra masih sangat mengantuk, karena mereka baru sejam tidur. Dariel masih setia memeluk Kayra. Saat melihat Kayra merem kembali, Dariel menepuk pipi nya lembut.
"Cinta... kita sudah sampai, buka mata mu!"
Kayra mengucak mata nya membuang kantuk.
"Dimana kita Riel?" Tanya Kayra dengan sesekali menguap.
"Lihat lah, kita sudah diatas menara Eifel!" Seru Dariel bahagia. Kayra segera mengedarkan pandang nya. Dihadapan nya terhampar pemandangan luar biasa. Ia bisa melihat semburat jingga di atas langit. Bangunan- bangunan menjulang khas Paris berjajar rapi. Apakah mungkin mereka benar- benar sudah di Paris?
"Sebentar lagi kita akan melihat matahari terbit, Gimana Ra... apakah kamu menyukai pemandangan ini?" Tanya Dariel.
"Aku suka banget Riel, tapi sepertinya ini pemandangan sunset. Bukan Sunrise." Kata Kayra mengoreksi.
"Bagaimana bisa? di Jakarta baru tengah malam." Jawab Dariel bimbang.
"Beda waktunya kan lima jam Riel. Disini lima jam lebih lambat dari pada di Jakarta." Ralat Kayra.
"Berarti aku salah donk.." Kata Dariel penuh penyesalan. Melihat kesedihan di wajah suaminya, Kayra tidak tega.
"Gak papa Riel... ini adalah kejutan paling manis. Setidaknya kalau kita gak bisa lihat Sunrise kita bisa lihat sunset. Sama- sama indah. Makasih sayank..." Kayra mengecup pipi Dariel. Membuatnya terkejut.
"Apa hanya ciuman pipi? Tidak kah engkau ingin mencium yang lain?" Goda Dariel.
"No... Riel, bisa kah kita berfoto- foto?" Tanya Kayra, karena ia tidak membawa ponsel.
Dariel mengambil ponsel dari balik jaket nya. Mereka pun mencari spot yang menarik untuk berfoto bersama. Sekali waktu Dariel iseng mengambil foto mereka saat ia mencuri ciuman bibir bersama Kayra. Spontan Kayra yang menyadari keisengan Dariel langsung menyerang perut Dariel dengan cubitan bertubi- tubi.
"Hentikan... sakit Ra... kata Dariel sambil berlari menjauh." Membuat Kayra semakin bersemangat memburu nya. Saat mereka berlarian di tangga tidak sengaja, kaki Kayra terantuk anak tangga. Ia pun nyaris jatuh. Beruntung Dariel menolong nya tepat waktu.
Dariel memeluk erat istrinya. Ia tidak ingin istrinya terluka sedikit pun.
"Cinta... hati- hati," bisik Dariel pada nya.
"Maaf..." kata Kayra menyesal.
"Bersyukur, cinta tidak jatuh. Kalau sampai jatuh akulah yang paling merasa bersalah." Kata Dariel sungguh- sungguh. Ia pun menelusuri wajah Kayra dengan jemarinya.
"Ra... jaga diri mu untuk ku ya..." Kata- kata Dariel membuat hati Kayra serasa melambung di udara. Ke dua belah pipi Kayra merona merah. Dariel yang melihatnya seketika gemas. Dariel mengecup dahi, dua belah pipi Kayra dan terakhir kecupannya mendarat di bibir Kayra. Sesaat mereka terhanyut dalam hasrat. Hingga seberkas cahaya menyilaukan mengganggu mereka.
__ADS_1
"Qui est là-bas!"
Teriakan seseorang seketika membuat Dariel dan Kayra menghentikan kemesraannya.
"Riel... sepertinya petugas patroli. Bagaimana kalau kita tertangkap?" Tanya Kayra takut.
"Tenang... ada aku. Cinta mau ke mana lagi?" Tanya Dariel.
"Pulang aja Riel... besok kita kuliah." Jawab Kayra mengingatkan.
"Ok." Jawab Dariel dan secepat blits kamera ia membawa Kayra pergi.
Mereka berdua telah tiba di kamar. Kayra segera melihat jam dinding. Jam 1 malam, ia harus segera tidur kalau tidak ingin besok bangun kesiangan.
Sebelum tidur ia menuliskan menu sarapan dan roti isi daging untuk bekalnya besok pagi. Setelah itu Kayra turun ke dapur, dan meninggalkan catatannya di pintu kulkas. Baru ia menyusul tidur di dekapan Dariel.
Rasanya baru saja memejamkan mata. Namun tidur nya sudah terganggu deringan alarm. Kayra sangat kesal, kepalanya terasa pusing sekali. Namun ia bertekat hari ini mereka harus kuliah. Karena hari ini hari mereka menjalani ospek.
Kayra sering mendengar kisah- kisah tentang ospek yang penuh tantangan. Tentunya ia tidak ingin melewatkan nya.
Kayra sudah mandi dan berpakaian rapi. Hari ini ia memakai celana jeans panjang dipadu kaos polo berkerah. Bisa dibilang penampilan Kayra jadul banget. Meskipun begitu, tidak memudarkan kecantikan dan bentuk tubuhnya yang ramping.
Saat Kayra memoleskan make up nya, sepasang tangan tiba- tiba melingkar di perut nya. Kayra menatap suami nya dari pantulan cermin. Rambutnya acak- acakan, namun Dariel terlihat dewasa dan sangat tampan.
"Riel... cepat mandi. Hari ini pertama kita masuk kuliah lho!" Kata Kayra mengingatkan.
"Cinta... kita gak usah kuliah ya? Kita honey moon seminggu ini gimana?" Rayu Dariel, mencoba meluluhkan hati Kayra.
"Riel... ayo lah... masa muda kita masih panjang. Kita masih bisa meraih cita- cita. Cepat mandi gih..!" Perintah halus Kayra.
"Apakah perjanjian kita sudah berlaku sekarang?" Tanya Kayra mengingat kan perjanjian mereka semalam.
"Perjanjian apa?" Tanya Dariel pura- pura lupa.
"Kalau Riel gak mau kuliah, harus menuruti perintah ku selama sebulan. Gimana?" Tantang Kayra, mengingatkan perjanjian mereka semalam.
"Iya... iya... oke, aku nurut. Ra... jangan pakai make up ya? Nanti kalau ada yang suka sama kamu gimana?" Dariel semakin mengetatkan pelukannya.
"Kamu satu- satu nya wanita yang menggetarkan hati ku. Aku mencintai mu Ra..." Kata Dariel membawa tubuh Kayra semakin melekat pada nya.
"Iya, aku juga mencintai mu. Udah cepat mandi. Kusiapkan sarapan buat kita." Kata Kayra seraya melepaskan diri dari pelukan Dariel. Ia menyambar tas ranselnya dan segera berlari menuju dapur.
Hatinya berdebar- debar, hari ini ia akan mulai kuliah.
"Nyonya... sarapan nya sudah saya siapkan di meja," kata seorang pelayan.
"Trimakasih Bik." Kayra berjalan ke meja makan. Sudah ada semangkuk sop ayam dan sepiring bergedel kentang. Sesuai pesanan nya. Juga tak ketinggalan, pelengkap nya krupuk dan sambal. Air liur Kayra seketika mendesak keluar. Cepat- cepat ditelan nya. Rasanya ia ingin segera menghabiskan makanan di depan nya. Namun ia menahan diri, ia akan menunggu Dariel.
"Bik,... tuan Erlangga sudah datang?" Tanya Kayra memastikan.
"Belum Non, Tuan belum pulang." Kata bibik pelayan sambil menyajikan segelas susu hangat untuk Kayra.
"Terimakasih bik." Kata Kayra tulus.
"Kalau ada yang lain nya, panggil saya ya nyonya..." Kata bibik pelayan hendak mengundurkan diri. Namun Kayra menahan nya.
"Bik... bolehkah saya tahu nama bibik supaya mudah nanti saat memanggil?" Tanya Kayra sopan.
"Nama saya Inah Non, eh... nyonya." Jawab bik Inah.
"Bik Inah bisa panggil saya Kayra saja." Jawab Kayra.
"Tidak... nyonya Kayra sudah jadi nyonya di rumah ini. Jadi saya tetap harus memanggil seperti itu." Kata bik Inah keras kepala. Kayra hanya tersenyum, "Terserah.. bibik kalau begitu." Kayra mulai menyeruput susu hangat nya.
Tak berapa lama, Dariel turun juga ke ruang makan. "Cinta... masak apa?" Tanya Dariel sambil mendekati Kayra.
"Bibik yang masak." Jawab Kayra sembari mengambilkan makanan untuk suami nya. Dariel lahap menghabiskan makanan nya.
__ADS_1
"Hmmm... enak Ra..." Dariel sudah akan menambah makanan nya, namun ditahan Kayra.
"Jangan banyak- banyak, nanti perut jadi gak nyaman." Nasehat Kayra mempengaruhi Dariel. Ia pun tidak jadi nambah makan.
Mereka segera berangkat. Berhubung jalan kampus melewati rumah sakit melati, mereka berniat berhenti sebentar untuk menjenguk kak Keke.
"Kita jadi mampir ke rumah sakit ya Ra..?" Tanya Dariel mengingat kan.
"Iya... kita singgah bentar, lihat si boy yang lucu banget." Kata Kayra, ia gemas mengingat si baby semalam yang mungil dan menggemaskan.
"Aduh... tadi lupa ada bekal yang sudah disiapkan bik Inah, jadinya gak kebawa." sesal Kayra.
"Emang nya bekal apa?" Tanya Dariel.
"Roti isi daging bakar pedas." Kata Kayra membayangkan bekalnya yang tertinggal.
"Tenang aja, nanti biar diantarkan sopir ke Rumah sakit." Kata Dariel sambil menelepon rumah.
Mereka sudah tiba di parkiran rumah sakit, Parkiran cukup penuh membuat Dariel kesulitan mencari parkiran. Ia memutuskan memakai parkiran VIP di depan lobi. Saat mereka turun, langsung di sambut satpam.
"Maaf mas, parkiran ini khusus untuk tamu vip. Tolong segera pindahkan!" Kata satpam sopan. Dalam hati, Dariel merutuki kebodohan satpam itu. Apa ia tidak mengenal nya? Putra Erlanga. Pemilik Rumah sakit melati ini.
Dariel tidak mau berdebat, ia menyerahkan kuncinya. "Tanyakan pada Pak Hasan, saya Dariel Erlangga. Baru buatlah keputusan yang benar. Kata Dariel seraya menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumah sakit.
Si satpam sedikit kesal, tapi ia memilih untuk menahan diri. Toh kunci mobil ada pada nya, jadi ia bisa sesukanya memarkir mobil Dariel. Ia berencana mencarikan parkir paling jauh. Biar anak muda yang songong itu tahu rasa. Si satpam langsung membawa mobil Dariel ke parkiran terjauh. Ia tertawa puas, meskipun ia harus berjalan jauh untuk kembali ke pos nya.
Ia berjalan menuju pos, nafas nya terengah namun ada kelegaan di sana. Ia ingat pak Hasan atasan nya tadi sedang ngopi di kantin. Ia pun segera menemui pak Hasan. Benar juga, pak hasan sedang ngopi ditemani beberapa potong gorengan. Saat melihatnya pak Hasan langsung melambaikan tangan memanggilnya.
"Don... baru dapat apa ni... pagi- pagi sudah happy banget?" Tanya Hasan penasaran melihat satpam baru di depannya.
"Tadi ada anak kaya sok. Masak ia ingin memarkir mobilnya yang biasa di parkiran vip? Tadi ia menyebutkan nama komandan Hasan." Jawab Dono sambil memesan kopi.
"Siapa namanya?" Tanya Hasan penasaran. Seketika ada feeling tidak enak menghinggapi perasaan nya.
"Katanya Dariel Erlangga." Kata Dono dengan nada kesal.
Hasan yang sedang minum kopi, langsung menyemburkannya dari mulutnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" Cecar nya pada anak buah nya yang baru itu.
"Aku kerjain. Ku parkir mobilnya jauh- jauh dari lobi." Dono mengaku dengan tanpa rasa bersalah.
"Kalau kau ingin tetap kerja di sini, segera lembalikan mobilnya di parkiran VIP !" Perintah Hasan tegas.
"Tapi... " Dono mencoba memprotes namun langsung di bungkam dengan kata- kata pak Hasan.
"Dariel Erlangga, anak kedua pak Erlangga. Kamu harus tahu. Mereka pemilik Rumah sakit ini!" Kata pak Hasan membahana.
Dono langsung berlari- lari menuju tempat ia memarkir mobil Avansa hitam Dariel. Ia sampai tersengal berlari, namun ia tidak perduli. Yang terpenting ia tidak sekalipun bersalahan dengan pemilik rumah sakit yang sangat baik dengan semua karyawannya.
***
"Kak Keke, bagaimana kabar nya?" Tanya Kayra saat ia sudah sampai di dekat ranjang kak Keke.
"Baik Dek,... maaf ya gara- gara kakak acara resepsinya jadi kacau." Kata Keke penuh penyesalan.
"Kak... pesta kami berjalan lancar dan sangat meriah, itu karena kak Keke. Untung saja tidak terjadi apa-apa pada kak Keke. Kalau sampai terjadi, kamilah yang paling merasa bersalah." Kata Kayra sambil menggenggam tangan kak Keke. Membuat Keke merasa nyaman, ia pun memberikan senyum termanis.
"Miracle mana kak?" Tanya Dariel penasaran. Karena tidak dilihatnya bayi mungil kakak nya.
"Lagi dimandikan perawat." Jawab Raka yang berbaring di sofa.
"Papa mana? semalam beliau tidak pulang?" Tanya Dariel lagi.
"Papa tidur di kamar atas." Kata Raka sambil menguap.
"Rupanya kak Raka gak tidur semalaman ya?" Tanya Dariel sambil memperhatikan kakaknya lekat- lekat.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa tidur, di depan mata ku ada mujizat luar biasa." Jawab Raka dengan mata yang berbinar. Ada kebahagiaan yang meluap di sana.
"Kalian rapi banget, mau kemana?" Tanya Raka mengalihkan perhatian. Semalam- malaman ia bercerita panjang lebar pada papa nya namun bukannya percaya. Papa Erlangga meragukan diri nya. Ia tidak mau, kalau Dariel juga menganggapnya tidak waras. Jadi lebih baik, semuanya di simpannya rapat- rapat sebagai rahasia nya sendiri.