Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Berjarak


__ADS_3

Dariel menatap sedih dari lubang persembunyiannya. Keinginan Kayra bercerai darinya sangat melukai hatinya. Dariel tidak bisa menerima apapun alasan Kayra. Ia sangat menyintai Kayra dan tidak ingin berpisah darinya. Terlebih saat melihat kesedihan yang juga dirasakan Kayra.


***


Siang itu di kantin kampus. Kayra sedang menikmati makan siangnya. Sepiring spagetti dan segelas jus apel. Tampak ditemani Tia sahabatnya. Mereka tampak asyik dengan makanannya masing-masing. Tanpa menyadari sepasang mata yang menatap Kayra dengan penuh kerinduan.


Sepasang mata milik Dariel. Ia memilih duduk di kursi terjauh dari keberadaan Kayra. Terlindung oleh ornamen tanaman plastik. Dariel memilih tempat itu untuk bisa leluasa memandang Kayra tanpa dicurigai orang lain.


Dariel melihat masih ada kesedihan dalam raut wajah Kayra. Ia juga terlihat lebih pendiam dari biasanya. Hanya sibuk menghabiskan makan siang.


Dariel menghela nafas dalam-dalam. Hatinya terasa sesak. Ia belum sempat berbicara dengan Kayra setelah insiden malam itu, saat Kayra melukainya. Kalau tidak ingat pesan ibu Neta untuk sementara menjaga jarak dengan Kayra. Tentunya ia akan segera menghampiri Kayra. Menjelaskan banyak hal padanya dan memberikan rayuan teromantisnya.


Ia mengenal Kayra tidak bisa dipaksa. Jadi hari ini ia sengaja memberi jarak dengannya. Dariel tidak pernah menyalahkan Kayra atas insiden yang dialaminya. Ia tahu kalau Kayra melakukannya diluar kesadarannya. Ia juga sudah tahu konsekuensi ini sebelum ia memutuskan untuk menikahi Kayra. Dariel sudah siap, sekalipun ia harus tewas ditangan Kayra. Semua itu tidak bisa menghapuskan rasa cintanya pada Kayra.


"Hei... baru diputusin sama pacar ya sob?" Kata sebuah suara mengagetkan lamunan Dariel.


"Kutemani ya... biar kamu gak ngelamun aja. Bahaya kalau sendirian.. bisa kesurupan." Kata Toby, langsung meletakkan semangkok bakso di atas meja tepat di depan Dariel.


Dariel memandang teman sekelasnya dengan tidak suka. Baginya kehadiran Toby lebih merupakan gangguan baginya.


"Apakah kau mau mengusirku?" Tanya Toby pura-pura akan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Dariel bernafas lega. Akhirnya ia bisa menikmati kesendiriannya sekaligus ia bebas mengawasi Kayra dari tempat duduknya.


"Hahaha...., kau kira seorang Toby akan pergi begitu saja? Jangan mimpi!!!" Kata Toby sambil menepuk pundak Dariel. Tawanya yang aneh seperti orang sengau membuat Dariel benar-benar muak.


"Riel... aku tahu, Kayra bukan saudara mu. Benarkan? Tapi dia gebetan yang sekarang berusaha mati-matian menjauhimu. Tahu kah kamu kalau Kayra menjadi incaran kakak tingkat untuk dijadikan taruhan?" Kata Toby dengan ekspresi ratu gosip.


Dariel tetap bersikap tenang. Padahal dalam hatinya timbul rasa penasaran pada kata-kata Toby. Bagaimana bisa, Kayra yang sederhana sampai dijadikan taruhan oleh kakak kelas? Meskipun rasa penasaran menggerogoti hati Dariel, namun ia berusaha tenang.


"Nanti sepulang kuliah, temui aku di Cafe Letto. Aku akan kasih tahu sebuah rahasia besar." Kata Toby. Dengan cepat ia memakan bola-bola baksonya. Dan meninggalkan Dariel dengan beribu tanda-tanya dalam fikirannya.


Ia tadi sempat membaca fikiran Toby. Begitu banyak misteri dalam fikiran Toby yang hanya bisa ditangkapnya sebagai potongan-potongan puzzle yang membingungkan. Dariel memutuskan untuk menemui Toby sepulang kuliah.


Kedatangan Toby tadi sempat mengganggu konsentrasinya mengawasi Kayra. Dan saat Toby pergi, Dariel baru bisa melihat ke arah Kayra dengan leluasa.


Ia tidak bisa menangkap suara pembicaraan mereka, karena jarak yang cukup jauh. Namun melihat Senyuman Kayra dan perhatiannya tak lepas memandang Alex. Membuat Dariel panas. Ia langsung meninggalkan kantin, tanpa menghiraukan sepiring spagetti yang belum disentuhnya sama sekali.


Dariel tidak tahan melihat Kayra berdekatan dengan pria lain. Mungkinkah ini sebuah bentuk kecemburuan takut kehilangan Kayra?


Jam kuliah keempat sangat membosankan. Padahal dosen sedang menjelaskan tentang keajaiban sel-sel darah manusia.


Pikiran Dariel terlanjur pecah karena keberanian Alex mendekati Kayra istrinya. Ia tidak akan berdiam membiarkan Alex leluasa merayu Kayra. Ia akan membuat perhitungan dengan Alex dalam waktu dekat. Namun ia ingat pada kata-kata Toby saat di kantin tadi. Ya tidak ada salahnya, mungkin ada kaitannya dengan Alex ketua BEM yang tidak disukainya sejak Dariel melihatnya.

__ADS_1


Akhirnya jam kuliah berakhir. Dariel bergegas menuju parkiran mobilnya. Ia ingin sekali segera mendengar cerita Toby yang telah membuatnya penasaran.


Ia segera melaju ke Cafe Lotte. Tidak berapa lama ia telah sampai ke alamat yang dituju. Kebetulan Cafe Letto hanya berjarak lima kilometer dari kampusnya.


Ia segera masuk dan memeriksa keberadaan Toby. Pengunjung yang datang tak terlalu banyak, membuat Dariel bisa dengan cepat memeriksa. Namun tak terlihat batang hidung Toby, sesaat membuat Dariel gusar.


"Permisi, apakah Anda mas Dariel?" Tanya seorang cewek cantik berseragam pramusaji.


Dariel mengangguk. "Bos Toby masih dalam perjalanan. Anda dipersilakan menunggu diruangannya." Kata pramusaji itu seraya menunjuk sebuah ruangan berdinding kaca.


Tanpa membantah, Dariel mengikuti arahan sang pramusaji. Ia masuk ke dalam ruangan kaca berpendingin ac. Sebuah sofa empuk menjadi pilihannya meletakkan pan-tatnya.


Dari tempatnya duduk, ia bisa mengawasi dengan jelas para pengunjung yang datang. Rupanya ruangan dimana ia berada saat ini sekaligus menjadi ruang pengawasan. Sebuah layar monitor kecil juga memberi tampilan utuh cafe Letto yang tak terlalu luas.


Dariel menunggu cukup lama, hampir lima belas menit ia di sini. Namun Toby yang ditunggu-tunggu nya tak juga muncul di hadapannya. Mulutnya terasa kering, ia segera memanggil waitress dan memesan segelas kopi late panas, segelas jus cappucino dan sepiring roti bakar coklat keju dan semangkuk salad buah.


Tak berapa lama menu yang dipesannya tersaji manis di meja. Dariel segera melahap semua makanan dan minuman yang dipesannya. Seharian ia belum makan dengan benar. Dalam waktu singkat semua isi piring dan gelas telah berpindah ke dalam perutnya.


Dariel mulai tidak sabar menunggu kedatangan Toby. Ia mengumpat dalam hati, "Bodohnya aku, kenapa aku tidak minta nomer telephonnya tadi? Lima menit lagi kalau ia tak juga datang. Aku akan pergi." Ancam Dariel dalam hati.


Belum juga selesai ia bicara, Seorang pria bertubuh kurus masuk ke dalam cafe. Ia mengenali pria itu Toby. Buku-buku jarinya mengepal. Ingin melampiskan kekesalan pada teman sekelasnya itu. Hampir sejam ia menunggu dan baru sekarang Toby baru datang.

__ADS_1


"Hai Sob... Dudah lama menunggu ku ya? Hehehhe. Sepertinya ada yang kelaparan ini?" Kata Toby tanpa rasa bersalah. Sepertinya ia sengaja menggoda Dariel.


Dariel yang melihat tingkah tak bersalah Toby menjadi sangat geram. Ia merasa dipermainkan.


__ADS_2