
"Tidakkkkkkk...." Kayra mundur dan menjauh dari kaca cermin rias. Namun naas kakinya terantuk kaki kursi dan ia pun terjatuh.
***
Di tempat lain ratusan kilo meter dari Malang. Ada seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik. Ia berdiri di depan kaca besar antik. Ia tertawa lebar, mantranya bekerja. Neta berhasil menemukan keberadaan Kayra.
"Rara... selicin apapun kamu, aku berhasil menemukan mu. Ternyata kecelakaan itu tidak mencelakaimu. Tetapi malah membuatmu terlahir kembali dengan kemampuan khusus yang semakin kuat. Bagus lah... Itu akan memuluskan rencana ku." Neta menyeringai puas.
***
"Aduh..." Rasa sakit di kakinya nyata. Kayra menengok ke arah kaca rias yang baru saja menayangkan peristiwa masa kecil yang tidak pernah diingatnya. Kaca itu sudah kembali menjadi kaca rias biasa. Ia duduk tertegun mencoba memahami apa yang baru saja ia alami. Apakah gambaran dalam kaca itu benar- benar adalah pengalaman hidupnya? Apakah itu berarti ibu kandungnya selama ini masih hidup? Apakah benar Neta yang selama ini dikenal sebagai ibu tirinya, sebenarnya adalah ibu kandung yang selama ini diketahuinya sudah meninggal? Bagaimana bisa.
Kayra membekap mulutnya mencoba menahan sesak di dadanya yang akan segera tumpah dalam isakan tangis. Ia harus menguasai diri. Ia mengambil nafas dalam - dalam menahannya sebentar dan akhirnya membuangnya dengan helaan kelegaan. Ia tidak boleh percaya pada apa yang dilihatnya di kaca karena itu mungkin hanya sebuah ilusi atau mimpi?
Kayra merapikan bajunya, ia bergegas berdiri. Ia ingin menemui Dariel, mencoba menyelesaikan kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka siang nanti. Juga ia ingin menyiapkan makan malam. Saat Kayra menuju dapur ia melihat diatas meja makan penuh makanan hangat. Dari aromanya Kayra sudah bisa menduga pasti enak rasanya. Ada lobster bakar madu, sea food asam manis, kwetiaw goreng, juga tidak ketinggalan sepiring sate hati ayam dan telur muda kesukaannya.
"Hmmm... aromanya sedap sekali. Apakah ini Dariel yang menyiapkan? Untuk siapa? apakah akan ada pesta? Kayra penasaran dan ia segera mencari keberadaan Dariel. Kayra menuju ke dapur karena dari sana terdengar suara gemericik kran mengalir.
"Riel...." Kayra tertegun melihat keadaan dapur yang begitu mengerikan. Terlihat peralatan masak bertumpuk di wastafel, dan juga di sekitar kompor dan meja dapur berserakan bahan- bahan makanan. Ada genangan minyak di lantai. Air kran juga dibiarkan mengalir. Tetapi Dariel tidak ada di dapur.
__ADS_1
"Nanti aja ku beresin, aku harus mencari Dariel terlebih dulu." Gumam Kayra. Ia pun meninggalkan dapur. Saat ia melewati ruang makan ia berpapasan dengan Dariel yang sangat terkejut melihat Kayra.
"Riel...." "Ra..."
Mereka menyapa bersamaan dan saat menyadari kekompakan mereka tersipu malu.
"Ra... maafkan aku ya tadi sudah berkata kasar pada mu." Dariel sangat menyesali kejadian siang tadi yang membuat Kayra terluka.
"Riel aku juga minta maaf ya."
Merekapun saling melempar senyum. Akhirnya hubungan mereka kembali menghangat.
"Ra... maukah kamu makan malam bersama ku?"
"Riel sebaiknya aku mandi dulu ya. Gak mungkinkan diacara makan malam aku datang seperti ini."
"Baiklah tuan putri silahkan. Nanti biarkan pangeran mu ini yang akan menjemput Tuan putri dari castil." Dariel bertingkah ala pangeran abad pertengahan. Kayra pun mengimbanginya. Ia menyilangkan kaki kiri kebelakang kaki kanan. Kedua jemari seakan memegang rok kembang. Kemudian dengan khitmat ia menekuk lututnya sedemikian rupa seperti seorang putri yang memberikan penghormatan. Ia terinspirasi dari film favoritnya.
Dariel terpesona, serentak mereka pun tertawa. Kayra segera berlari menuju kamarnya. Ia pun mandi cepat- cepat, namun saat di depan lemari baju ia kebingungan. Beberapa baju sudah di keluarkannya, namun ia merasa tidak pas. Sudah bertumpuk baju dicobanya, malah membuatnya semakin bingung.
__ADS_1
"Hhhhh Baju apa yang mesti ku pakai untuk acara dinner spesial ini?" Kayra menggaruk- garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia sudah menghabiskan waktu hampir setengah jam hanya untuk sebuah baju. Ia pun terduduk di kaki ranjang. Mencoba menenangkan dirinya yang sempat panik saat melihat jam. Matanya tertuju pada mini dress berwarna kuning favoritnya. Ia membulatkan tekat dan langsung memakainya. Dipadu dengan high heel silvernya. Ia memoles tipis bibirnya dengan lipstik, Menyapukan tipis- tipis bedak di wajahnya. Tampak sempurna. Kayra merapikan kembali baju- baju yang berhamburan diranjang ke dalam lemari pakaian. Saat semua pakaian selesai dikembalikan ke dalam lemari, bersamaan terdengar ketukan dari pintu kamarnya.
Tok...tok...tok..
Dariel sudah menunggu di depan pintu kamar saat ia membukanya. Dengan setelan jas hitam nan elegan membuat Dariel terlihat lebih dewasa dan gagah.
"Ra.... sudah siap?" Sambut Dariel dengan tersenyum lebar. Ia terpukau pada penampilan Kayra yang sangat menawan. Dariel melipat sikunya dan meminta tangan Kayra mengamitnya. Merekapun berjalan bergandengan menuju ruang makan.
Sekali lagi membuat Kayra terperangah takjub. Ruang makan sudah di dekor begitu rupa seperti restoran bintang lima. Terlebih meja makan sudah terhidang beraneka macam makanan yang menggugah selera. Ada rangkaian bunga anggrek menjadi pemanis meja makan juga lilin- lilin yang memancarkan cahaya hangat. Benar- benar perpaduan yang menghadirkan suasana romantis. Dariel mengantarkan Kayra di kursinya, sementara ia memilih duduk berseberangan dengannya. Dinner romantis ala kerajaan. Dengan berbagai alat makan yang membuat Kayra pusing.
"Riel... ini acara makan yang sangat romantis. Terimakasih ya." Kayra begitu berseri bahagia mendapat perlakuan istimewa dari kekasihnya.
"Iya Ra... ini spesial buat kamu." Merekapun mulai makan. Tapi sepertinya acara makan ini sangat tidak nyaman bagi Kayra. Ia kesulitan membuka cangkang lobster. Juga saat ia mulai memakan kerang terasa ribet kalau mesti pakai sendok dan garpu. Dariel mengangkat kursi dan membawanya ke dekat Kayra.
"Gak asyik duduk makan berjauhan, aku di sini aja ya." Dariel duduk berdampingan dengan Kayra. Ia juga langsung makan dengan tangan. Karena Dariel sebenarnya lebih suka makan langsung tanpa sendok. Saat melihat Dariel makan pakai tangan, Kayra mengikutinya. Merekapun makan dengan lahap. Beberapa kali Dariel menyuapkan kepiting yang berhasil di bukanya pada Kayra.
"Ra... aku tadi masak sesuatu. Apakah kamu mau mencobanya?" Tanya Dariel sambil membuka sebuah mangkuk sayur yang tertutup.
"Riel... kamu bisa masak?" Tanya Kayra takjub menerima mangkuk darinya. Ia melihat ke dalam mangkuk. Sepertinya mie goreng? atau omlet mie?
__ADS_1
"Apa ini Riel...?" Kayra menyendok masakan Dariel ke dalam piringnya.
"Mie goreng spesial, bagaimana Ra... enak gak?" Kayra merasai masakan Dariel. Seketika ia mengeryit. Aneh sekali rasanya. Sepertinya Dariel merebus mie nya kelamaan hingga membuat tekstur mie benyek seperti bubur. Rasa asin dan manis sangat berlebihan membuat perut Kayra seketika mual ingin muntah.