
"Riel... aku cuma mau bentar aja ke depan cari bantuan manggilin taxi buat bawa kamu ke rumah sakit."
Bisik Kayra kembali. Ia sangat panik melihat keadaan Dariel yang semakin mengkawatirkan. Badannya terasa semakin panas, membuat badannya semakin menggigil, juga gigi - gigi nya bergemeretuk. Kayra tidak bisa diam. Ia takut kalau sampai Dariel semakin parah atau mungkin sampai tidak tertolong. Ia sudah akan berlari ke depan sampai tangannya digenggam erat Dariel.
"Ra.... ini bukan penyakit biasa...., dokter tidak bisa.... menolongku. Jangan.... bawa aku... ke rumah sakit...."
Dariel terbata - bata berusaha menahan Kayra. Ia sudah terbiasa dengan serangan demam yang datang dan pergi tiba - tiba. Biasanya setiap serangan demam bersamaan dengan kemampuan baru yang dia dapatkan.
"Tapi... Riel, bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?"
Tangis Kayra seketika pecah. Ia tidak akan bisa menerima bila sampai terjadi sesuatu pada Dariel. Terlebih bila itu terjadi karena kesalahannya.
"Ra... aku gak papa, percayalah pada ku. Aku dah... sering... alami ini. Aku cuma perlu kompres saja."
Dariel tetap berusaha menenangkan Kayra. Mendengar perkataan Dariel Kayra berusaha untuk percaya kepadanya. Ia pun dengan telaten mengompres kening Dariel dan segera mengganti kompres saat mulai kering. Hampir dua jam Kayra dengan telaten menjagai Dariel. Suhu badan Dariel berangsur turun dan terlihat Dariel terlelap dengan nyamannya.
Kayra berjalan meninggalkan kamar. Ia bermaksud masak sesuatu untuk makan malam. Kayra berjalan ke dapur, ia memeriksa isi kulkas. Kayra memutuskan untuk membuatkan Dariel bubur. Ia membuatkan Dariel bubur sayur dengan tambahan suwiran dada ayam. Sementara untuk dirinya sendiri ia membuat sop sayur jamur dan ayam goreng. Saat semua masakan matang, ia segera membawa makanan ke kamar Dariel.
Setibanya di kamar, Kayra mendapati Dariel sedang duduk di pinggir ranjang sambil minum segelas air putih.
"Riel... Kamu dah bangun?" Tanya Kayra antusias. Ia sangat senang melihat keadaan Dariel yang terlihat membaik dengan cepat.
"Udah Ra.. aku dah baikan. Hmhmmm aromanya sedap sekali. Cinta masak apa?" Dariel beranjak dari duduknya dan membantu Kayra menata makanan yang dibawanya di atas meja.
__ADS_1
"Ku buat kan bubur buat mu." Jawab Kayra sambil mengangsurkan semangkok bubur hangat ke tangan Dariel.
"Ra.... aku dah sehat, aku gak perlu bubur lagi. Aku mau itu aja." Dariel menunjuk piring berisi ayam goreng.
"Riel... kali ini nurut ya? kamu pasien ku jadi harus makan bubur yang sudah susah payah ku buatkan khusus untuk mu." Kayra membawa mangkok buburnya ke dekat Dariel. Ia segera menyuapi nya dengan beremangat. Awalnya Dariel ogah- ogahan makan buburnya, namun setelah tahu rasa buburnya sangat lezat dalam waktu singkat langsung tandas. Dariel masih juga membuka mulutnya padahal bubur dalam mangkok sudah habis. Kayra jadi terbengong dibuatnya.
"Dah habis Riel..."
"Ya...dah habis...? padahal belum kenyang." Dariel merajuk seperti anak kecil. Membuat Kayra gemes dan mencubit perut Dariel.
"Perut karet ini." Kayra tertawa. Namun Dariel memandangnya dengan pandangan mendamba.
"Riel... jangan lihat aku kayak itu donk. Aku kan jadi malu." Kayra menundukkan kepalanya dan segera mencari kesibukan lain. Mengambilkan kembali makanan untuk Dariel.
"Mau ambilin makanan lagi, katanya masih lapar?" Kata Kayra. Ia segera membawa nasi dengan sop ayam dan ayam goreng. Namun Dariel segera mengambil piring itu dari Kayra.
"He... kenapa piring nya diambil? Pasiennya dah sembuhkah ini? Dah bisa makan sendiri?" Kayra menggoda Dariel balik.
"Sekarang gantian, susternya juga perlu makan. Iya kan?" Dariel menyuapi Kayra yang langsung merona karena malu.
"Udah Riel... aku makan sendiri aja, aku kan gak papa." Kayra mencoba menolak suapan Dariel. Bukan Dariel namanya kalau ia mengalah begitu saja. Membuat Kayra tidak bisa lagi menolaknya. Setiap selesai satu suapan diberikan ke Kayra dariel memakan suapan berikutnya. Membuat Kayra langsung memprotesnya.
"Riel... jangan pakai sendok bekas ku. Kan gak higienis." Kayra berusaha merebut sendok dari Dariel.
__ADS_1
"Ra.... kita kan dah pernah ciuman, anggap aja ini ciuman gak langsung." Dariel dengan cuek melahap makanannya. Membuat Kayra seketika memanyunkan bibirnya karena kesal.
"O... Cinta mau disuapi.. a...." Dariel menyuapi Kayra nasi dengan ayam goreng.
"Aku mau sop nya, kasih kentang banyak - banyak." Kayra sudah membuang rasa jengahnya. Karena kalau ia tidak makan, ia pasti kelaparan. Tadi ia masak cuma seporsi hingga membuat penyesalan. Coba kalau tadi ia masak agak banyak. Tidak perlu juga makan sepiring berdua dan ujung- ujungnya ia hanya dapat bagian sedikit. Namun ada kebahagiaan memancar dalam hatinya. Hubungan yang semakin dekat dengan Dariel menghadirkan kebahagiaan yang tiada tara.
"Tara.... akhirnya habis juga. Kenyang..., Rara pintar masak. Apa aja yang kamu masak sangat enak. Makasih ya suster ku yang cantik. Hari ini kamu dah merawat ku, membuatkan bubur ayam dan masak masakan yang sangat enak..." Dariel membelai rambut Kayra yang tergerai indah.
"Sama - sama Riel... kamu juga dah nyuapin aku." Kayra tersenyum tersipu mengingat saat Dariel menyuapinya.
"Aku beresin dulu ya?" Dariel mengangguk mebiarkan Kayra membereskan piring kotor untuk dicucinya di dapur.
Saat Kayra meninggalkannya sendiri di dalam kamar. Dariel kembali merenung mengingat saat ia mendadak mengalami demam tinggi. Ada sosok tak kasat mata telah mendatanginya menyampaikan peringatan yang sama seperti sosok misterius yang menculiknya kemarin. Peringatan yang coba ia abaikan, kalau perlu ia akan melawan dunia untuk bisa tetap bersatu dengan Kayra. Lamunannya segera terputus saat Kayra masuk kembali ke dalam kamarnya. Kayra membawa sepiring pepaya yang telah dipotong - potong. Mereka segera menikmati buah pepaya yang terasa manis dan segar.
"Ra... segera mulai berlatih mengendalikan kemampuan khusus mu ya. Nanti aku akan membantumu." Dariel mengingatkan tujuan awal mereka sampai harus menyembunyikan diri. Menjauh dari orang- orang yang dikenal. Semata- mata untuk mempersiapkan Kayra dengan segala kemampuan khusus yang tidak diketahuinya.
"Ya... Riel... aku harus lebih mengenal diri ku sendiri. Mengetahui bagaimana kemampuan khusus ku bisa ku kendalikan dengan baik."
Kayra sebenarnya tidak terlalu memikirkan tentang kemampuan khusus yang dimilikinya. Bagi dia yang terpenting, ia sudah memiliki seorang kekasih yang sangat mencintainya itu sudah lebih dari pada cukup. Kayra merasa tidak ada yang lebih penting dari itu. Kebahagiaannya sudah terasa sempurna sekarang saat bersama Dariel.
"Ra... tidak cukup punya kekasih yang mencintaimu. Karena ia tidak selamanya bisa menjagamu. Kamu pun harus bisa melindungi diri sendiri." Kata- kata Dariel seketika mengagetkan Kayra.
"Riel... kamu bisa baca pikiran ku?"
__ADS_1