
Kayra mengangguk - anggukkan kepala, sekalipun penjelasan Dariel tidak sepenuhnya dia mengerti.
"Seiring waktu engkau akan memahami semuanya Ra..." Kata Dariel seakan bisa membaca pikiran Kayra.
Kayra tersenyum. "Riel.... bagaimana aku bisa berganti baju? Tadi malam seingat ku aku masih pakai baju rumah sakit."
"Baju mu kotor sekali, pasti tidak nyaman memakainya saat tidur. Jadi ku bantu ganti baju."
"Jadi kamu melihatku tanpa baju?" Kayra membelalakkan matanya.
"Gak papa Ra... aku gak ngelakuin apa - apa kok." Dariel mengucak rambut Kayra.
"Kulit mu mulus banget Ra... trus juga ada dua gunung kembar disitu." Dariel menunjuk dada Kayra dengan gerakan dagunya. Spontan Kayra menyilangkan tangannya di depan dada, mencoba menghalangi pandangan Dariel kearah dadanya yang saat itu tidak pakai dalaman.
"Dasar mesum." Kayra melayangkan pukulannya ke dada Dariel.
"Aduh...." Dariel berpura - pura kesakitan. "Tunggu balasan ku ya!" Dariel mengarahkan jari - jarinya ke arah dada Kayra.
"No....." Kayra menghindar, ia pun berdiri dan berlari kecil sambil tertawa. Membuat Dariel gemas dan segera mengejarnya. Merekapun berkejar - kejaran di sepanjang ruangan goa. Sampai akhirnya Kayra berlari ke mulut gua. Ia menghentikan langkahnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling hutan di luar gua. Hutan yang hijau dan lebat, membuatnya terperangah tak percaya. Dariel yang sedari tadi mengejar langsung memeluk saat mendapati Kayra berhenti di mulut gua. Dariel memberikan ciuman ditengkuk Kayra. Membuat Kayra bergidik kegelian.
"Riel... kita dimana?" Tanya Kayra.
__ADS_1
"Di Papua."
"Bagaimana bisa?" Kayra menutup mulutnya tak percaya.
"Aku bisa membawa mu kemanapun. Rara... ingin kemana?"
"Ke kamar ku mau ambil baju ganti, kalau gak pakai dalaman kayak gini rasanya risih gak nyaman. Juga lebih baik aku pulang saja, aku sudah sangat kangen sama bik Sari." Kata Kayra menunjukkan wajah sedihnya.
Dariel termenung sejenak, selama ini yang dia bisa hanya pergi ke tempat yang sudah dia datangi. Rumah Kayra memang sudah pernah ia datangi. Kalau ia memilih masuk ke rumah Kayra ia takut ketahuan. Beberapa waktu yang lalu saat ia mengawasi pekerjaan EO de party di rumah Kayra ia merasa ada aura kegelapan yang sangat pekat. Itu membuatnya gentar, tidak berani bertemu Kayra dengan teleportasi. Membuatnya menahan rindu bertemu Kayra.
"Ra... terlalu beresiko kalau pulang ke rumah mu sekarang. Ibu dan semua keluargamu tahunya kamu lagi dirawat di Singapura, setidaknya tunggu satu atau dua bulan dulu."
"Kenapa? Kan aku bisa jelasin ke mereka kalau aku bisa menyembuhkan diri ku sendiri." Kata Kayra.
"Satu atau dua bulan? Selama itu? Trus aku sembunyi di sini selama itu? Ditempat terpencil jauh dari manusia lain di tengah - tengah hutan belantara?"
"Rara.... aku akan temanin kamu dan kita akan habiskan banyak waktu bersama. Gak papa kan? Toh ini untuk kebaikan kita juga." Bujuk Dariel.
"Ra... maaf aku pergi sebentar."
Seketika Dariel menghilang dari pandangan. Kayra terkejut dan kebingungan. Ia mencoba mencari - cari dan memanggil Dariel di dalam goa, ia tidak bisa menemukannya. Seketika ia merasa kesepian, ketakutan membayangkan bagaimana kalau ia ditinggalkan selamanya. Di sini di sebuah goa di tengah hutan antah barantah. Kalaupun ia berusaha untuk keluar dari hutan pastinya banyak binatang buas di luar sana. Siap sedia menjadikan nya menu makan mereka. Air matanya menitik di sudut mata. Hiks hik hik....
__ADS_1
"Rara jangan nangis, aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu." Dariel tiba - tiba muncul dan memberikan pelukan hangat pada Kayra.
"Riel... jangan pernah pergi ninggalin aku sendiri, aku takut." Kayra memeluk balik Dariel dengan erat, ia ingin kekasihnya selalu menemaninya dan tidak akan pernah meninggalkannya walau semenit.
"Maafkan aku cinta, tadi ada orang yang mencari ku di kamar mes proyek. Kalau aku tidak menemuinya ia pasti curiga. Dan takutnya ia akan waspada sehingga gerak ku jadi terbatas. Kalau itu terjadi akan sulit untuk menemanimu." Dariel berharap Kayra bisa mengerti keadaannya.
"Bagaimana, Riel bisa sampai sini?" Tanya Kayra.
"Aku dikirim papa ke sini saat baru dengar kabar kamu kecelakaan, papa ketakutan kalau sampai terjadi sesuatu pada ku. Apalagi melihat kondisi luka mu yang sangat parah. papa mengirim ku ke tempat terpencil meminimalisir kesempatan ku mengetahui kabar tentang mu. Tapi papa salah, bagaimana pun kamu adalah bagian jiwa ku. Aku pasti bisa merasakan kalau ada hal - hal buruk terjadi pada mu "
"papa mu kenal aku? tahu kalau kita pacaran?" Kayra bingung mencerna kata - kata Dariel.
"Ya beliau sudah tahu. Asistennya selalu memata - matai aku. Wajarlah kalau informasi mengenai pribadi ku papa dengan mudah dapat mengetahuinya. Hanya kemampuan khusus ku yang ku tutup rapat dari orang lain. Hanya kamu Ra... yang tahu mengenai ini."
"Riel... apa papa mu setuju dengan hubungan kita?" Tanya Kayra cemas.
"Sangat setuju, bahkan beliau berencana mau bikin pesta kejutan dihari ulang tahunmu. pesta itu gagal karena kamu kecelakaan dan masuk rumah sakit. Dan papa juga yang menyiapkan perawatan terbaik di rumah sakitnya, mendatangkan dokter spesialis dari Singapura. Beliau sangat menyayangi mu, saat tahu Rara menghilang dari rumah sakit beliau mengerahkan orang - orang nya untuk terus mencarimu. Beliau menyayangi mu seperti menyayangi anak nya sendiri. Kalau semua ini sudah beres. Bagaimana kalau kita langsung tunangan?" Dariel menatap Kayra penuh harap.
"Kita baru saja pacaran belum ada satu bulan, kita juga punya cita - cita yang belum tercapai." Kayra mengingatkan.
"Kan gak papa lho, ikatan sah supaya hubungan kita semakin dekat dan semakin dekat juga kita bisa saling mendukung untuk mencapai kesuksesan." Dariel memegang tangan kanan Kayra dan mencium jari - jemari Kayra. Tiba - tiba di jari manis Kayra sudah tersemat sebuah cincin dengan berlian mungil. Sebuah cincin sederhana dan elegan. Kayra terbelalak terpana melihatnya.
__ADS_1
"Wow Magic. Riel bagaimana kamu bisa bikin sebuah sulap?"