
Hari ini Rahardian harus segera kembali ke Jakarta. Sebuah perjalanan penuh kegalauan. Kemarin malam ada semangat membara dan tiba- tiba hari ini semua musnah. Kalau boleh digambarkan semangatnya hari ini seperti kerupuk yang tersiram kuah soto. Melempem dan lenyot.
Semangatnya sudah demikian pudar.
Dengan tergesa- gesa ia segera mengemas barang- barangnya. Ia harus segera mengejar penerbangan siang ini juga.
***
"Riel... ngapain kamu ajak aku ke sini?"
Kayra menarik tangan Dariel yang setengah memaksa menariknya terus berjalan. Sedari pagi Dariel mendiamkannya, membuat Kayra jadi serba salah. Terlebih saat ini Dariel membawanya ke komplek pemakaman. Memang pemakaman yang mereka datangi cukup bersih dan tertata rapi. Menunjukkan sebuah komplek pemakaman elit milik orang berduit. Setelah beberapa lama Dariel memaksa Kayra terus berjalan melewati beberapa batu nisan. Akhirnya Dariel berhenti di depan sebuah makam. Terlihat berjubel bunga anggrek dan mawar putih yang masih cukup segar tersusun indah di sebuah vas kristal diatas pusara. Kayra mengamati batu nisan bertuliskan tinta emas. "RIP Jasmine :Istri dan Mama tercinta". Akhirnya Kayra mengerti ia dibawa Dariel ke makam mamanya.
"Ra... ini pusara mama ku, maukah engkau berjanji di depan pusara mama bahwa engkau mau menikah dengan ku?"
Gleg... seketika tenggorokan Kayra terasa kering. Sebuah kejutan yang membuatnya sangat bingung. Ia belum benar- benar yakin untuk cepat menikah dengan Dariel. Apalagi bersumpah di hadapan sebuah pusara? Kayra begitu bingung, membuat lidahnya kelu tak bisa bicara. Ia harus melakukan sesuatu agar Dariel tidak kecewa sekaligus juga ia tidak membuat kesalahan yang nantinya akan disesalinya seumur hidup. Ia memberikan anggukan samar.
__ADS_1
"Di hadapan pusara mama Jasmine aku berjanji akan menikah dengan Dariel saat usiaku sudah genap dua puluh lima tahun. Aku akan mencintai dan menyayangi Dariel seperti diri ku sendiri. Aku akan menjadi pendamping Dariel yang setia." Air mata Kayra membanjiri kedua pipi mulusnya. Ia begitu terharu saat membayangkan Ia menikah dengan Dariel.
Namun Dariel menatapnya dengan pandangan kecewa. Ada kemarahan dan kekecewaan yang terpancar dari sorot matanya. Dariel mengetatkan rahangnya melampiaskan amarahnya. Saat ini ia benar- benar merasa di kecewakan Kayra. Seketika Dariel menggenggam erat tangan Kayra dan berteleportasi kembali ke villa.
"Riel... please, aku tidak tahu apa mau mu. Kau membawa ku kesana- kemari tanpa memberi penjelasan."
"Udahlah Ra... kamu gak benar- benar mencintai aku." Dariel menampilkan wajah frustasi. Membuat Kayra serba salah.
"Riel... please. jangan seperti ini. Ayolah kita mesti berfikir lebih dewasa. Sebuah pernikahan bukan sesuatu yang main- main. Diperlukan persiapan yang matang, juga umur yang matang. Uang saja tidak cukup menjamin kehidupan sebuah pernikahan bisa bahagia dan langgeng." Bujuk Kayra.
"Ra... apa kekuranganku? hingga engkau masih meragukan ku? Lihat aku sudah punya rumah dan villa atas nama ku sendiri. Aku juga sudah punya benerapa perusahaan. Sekalipun omsetnya belum terlalu besar, aku rasa kita bisa hidup berkecukupan dari keuntungannya. Ra... kalau pun kamu masih takut kekurangan, aku bisa minta bagian dari perusahaan papa. Itu tidak akan habis dimakan tujuh keturunan. Kalau kau mencintai ku. Please Ra... menikahlah dengan ku sekarang. Asal kau bilang iya. Mau menikah di negara manapun akan aku siapkan." Kata Dariel penuh kesungguhan.
"Ra.... aku tanya sekali lagi, maukah kamu menikah dengan ku sekarang?"
Dariel melemparkan pertanyaan yang seketika membuat Kayra tertegun. Lidahnya kelu Kayra hanya memandangi Dariel dengan tatapan penuh permohonan. Ia benar- benar tidak bisa menikah dengan Dariel sekarang. Ia perlu waktu.
__ADS_1
"Riel... aku perlu waktu."
"Udah lah Ra... aku tahu sekarang kamu tidak benar- benar mencintai ku!" Dariel dengan amarah yang meluap- luap menghentakkan kakinya dan berlalu meninggalkan Kayra sendiri.
Membuat Kayra begitu emosi menghadapi Dariel yang bertingkah ke kanak- kanakan. Kayra berlari dan langsung masuk kamar. Dalam pikirannya bergelut sebuah dilema, salah satu sisi ia sangat mencintai Dariel. Dariel sekalipun masih muda, seusia dirinya sudah membuktikan bahwa dia cukup dewasa. Dariel diam- diam juga sudah ada beberapa investasi. Sudah punya penghasilan sendiri, beberapa villa dan rumah atas namanya sendiri. Jadi sebenarnya Dariel sudah cukup menjanjikan kebahagiaan buatnya.
Namun ada hal lain di luar kendalinya yang membuatnya ragu untuk menikahi Dariel. Sebuah kutukan kebencian pada Dariel yang muncul diwaktu- waktu tertentu. Yang tanpa sadar menggerakkannya untuk membunuh Dariel. Itulah yang membuat Kayra ragu.
Kenapa Dariel begitu bersemangat menikahinya. Bahkan beberapa kali mengajaknya nikah dalam waktu dekat? Bukankah itu sama saja memelihara binatang buas dalam rumah? Sekali lengah tewas dimangsa binatang itu. Saat ini Kayra bisa digambarkan sebagai binatang buas itu. Ia merasa sangat buruk di hadapan Dariel.
Kayra menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ia meluapkan kesedihannya mengingat kata- kata Dariel yang menuduhnya tidak benar- benar mencintai nya. Ia membuat keputusan ini karena ia sangat mencintai Dariel. Ia tidak mau kekasih yang dicintainya mati di tangannya sendiri. Kenapa Dariel tidak bisa memahami dirinya? Bahkan kalau perlu ia akan meninggalkan Dariel demi keselamatannya. Namun Kayra tidak yakin bisa pergi jauh dari nya.
Kayra membenamkan wajahnya di bantal yang mulai basah terkena air matanya. Ia merasakan kenyamanan di sana ia membayangkan pelukan seorang ibu yang menenangkan anak gadisnya. Tiba- tiba ia merasa ada tangan yang mengelus rambutnya.
"Rara.... tenanglah sayang, kamu sudah buat keputusan terbaik. percaya lah pada takdir yang akan membimbingmu." Suara lembut menenangkan Kayra. Lamat- lamat ingatannya terdongkrak keluar dari kepalanya. Suara yang sangat ia kenal.
__ADS_1
Kayra segera bangkit dan terduduk di tepi ranjang. Ia mengusap - usap pelipisnya, berusaha berpikir keras. Kenapa aku menghayalkan perhatian dari seorang ibu? Dan itu dari ibu Neta? Apa segitunya aku mendambakan kasih dari sosok seorang ibu? Kayra tidak habis mengerti mengapa ia sampai bermimpi mendapat belaian dari seorang ibu. Air mata Kayra menitik di kedua sudut matanya. Tidak ada kenangan setitik pun yang ditinggalkan ibunya. Tidak ada foto, tidak ada peninggalan pribadi bahkan setitik ingatan tentang ibunya. Semua hal tentang ibunya seperti terhapus dari ingatannya, bahkan dalam mimpinya. Mahendra ayahnya hanya mengatakan bahwa saat ia berkaca, seperti itulah ibunya.
Kayra bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja rias. Ia pun duduk dan mengambil sisir untuk merapikan rambutnya. Ia memandang tajam ke dalam pantulan dirinya di cermin. Terlihat disana pantulan wajahnya sendiri. Diletakkannya sisirnya di tangan kirinya. Jari- jari tangan kanannya mulai meraba wajahnya.