
Cerry benar- benar terkejut dengan apa yang barusan dilihatnya. Rudy pria yang disukainya dengan diam-diam mendatangi kamar Kayra tengah malam? Dan membawa setangkai mawar? Hal itu membuat Cerry sangat kesal.
"Aku harus segera membuat Kayra diusir dari rumah ini!"
"Apapun akan ku lakukan untuk mendapat cinta Rudy."
Bermacam rencana telah di fikirkannya. Karena kelelahan, Cerry akhirnya tertidur juga.
pagi hari, hangatnya sinar mentari menerobos menembus horden tipis, mengusik tidur Cerry yang baru sesaat terlelap. Ia mencoba menggeliat dan menjauhi silaunya sinar mentari pagi. Namun ia mengalah dengan ketidaknyamanan yang dirasanya.
Segera ia bangun, menggosok gigi, mandi dan tidak ketinggalan memoles tipis bibirnya hingga terlihat segar dan menawan. Tak lupa bedak, blash on, eye shedow, juga maskara untuk bulu matanya.
Tidak lupa rambutnya diikat keatas untuk memperlihatkan lehernya yang putih dan jenjang.
Berdandan maksimal untuk pria idamannya.
"Rudy lihatlah diri ku yang cantik ini.., cintai aku Rudy." Cerry bermonolog sendiri di depan cermin sambil memonyongkan bibirnya yang sensual.
Terakhir dipilihnya baju paling seksi yang ia punya. Sebuah dress tanpa lengan, dengan potongan pendek diatas lutut. paha mulusnya terekspos dengan bebas. Cerry yakin saat Rudy melihat nanti pasti klepek- klepek dibuatnya.
Sekali lagi ia mematut diri dicermin.
"Sempurna....!" Cerry mengagumi dirinya sendiri.
Segera ia turun dari kamarnya, dan mencari keberadaan Rudy. Sampai ia dengar suara Kayra dari dapur.
"Tuan... apa yang tuan katakan, saya tidak pantas untuk tuan, saya hanya seorang pembantu. Tidak sepantasnya tuan lakukan ini."
"Kayra sayang.... panggil saja aku Rudi. Sejak pertama aku melihatmu... aku sudah benar- benar jatuh cinta padamu. Kau tau saat ini aku benar-benar tergila-gila padamu Kayra." Rudi semakin nekat dan berhasil memegang kedua tangan Kayra.
"Tolong lepaskan saya tuan.... kalo Nyonya atau Nona melihat pasti mereka akan salah paham." Kayra semakin terdesak. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Tuan... lepaskan saya..! Saya mau menyiapkan sarapan". Dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri, namun Rudy tidak melepaskan Kayra begitu saja.
Cerry yang sejak tadi berdiri di tangga dan melihat mereka tidak bisa menahan kecemburuan hatinya.
"Awas Kayra, kau akan dapat pembalasanku." Gumam Cerry.
Cerry mengetuk pintu kamar mamanya dan segera masuk kedalamnya.
"Ada apa Cerry? apakah sarapan sudah siap?" tanya Neta.
"pemalas itu lagi malas-malasan Ma. Aku melihat tadi... Kayra melakukan hal yang tidak pantas. Ia merayu om Rudi."
__ADS_1
"Ayo ma.... marah.. cepat marahi Kayra kalau perlu usir dia dari rumah ini." Harap Cerry dalam hatinya. Ia tidak siap mendapat saingan baru. Seorang Kayra yang beberapa hari belakangan terlihat semakin cantik. padahal ia tahu bahwa Kayra tidak punya alat make up satupun.
Tapi bagaimana bisa Kayra menjadi semakin cantik, semakin mulus dan menarik. Ia saja tidak habis pikir. Selama Cerry mengenalnya, Kayra adalah seorang yang tidak peduli dengan penampilan. Kulitnya kusam dan menghitam, body nya lempeng seperti
papan cor. Rambutnya yang panjang dibiarkan berantakan. Sekilas terlihat seperti gembel.
Tapi sekarang berubah seratus delapan
puluh derajat? Kayra lebih mirip seorang artis. Seperti Nia Ramadani?
Tidak mau berspekulasi panjang, Cerry segera mengikuti mamanya yang sudah terbakar amarah.
"Rara.....!!! dasar tidak tahu malu, masih ingusan sudah menjadi penggoda!" Bentak Neta dengan geram.
"plakk..." tamparan keras hinggap di pipi mulus Kayra dan meninggalkan bekas merah.
Neta tidak berhenti disitu saja, ia segera menyeret Kayra kekamarnya.
Sementara itu Cerry segera menghampiri Rudy, "Apa tidak sebaiknya kamu pergi dulu, mama kalau marah sangat menakutkan."
"Tenanglah .... tidak ada hal buruk yang akan terjadi." Rudy mencoba menghibur Cerry atau lebih tepatnya menghibur dirinya sendiri. Karena dia sangat tahu betapa mengerikannya saat Neta marah. Tapi sekarang sebesar apapun kemarahan Neta, tidak terlalu menakutkan baginya asalkan ia bisa mendapatkan Kayra.
Tidak berapa lama Neta datang kembali ia memandang Rudy dengan amarah yang meluap-luap. Rudy masih bisa bersikap tenang namun berbeda dengan Cerry nyalinya menciut hingga ia mundur dan menjauh dari Rudy.
"Rudy. !!!.... aku benci kamu, dasar laki-laki tidak tahu diuntung. Aku tidak mau melihat mu lagi..... pergi kamu dari sini!"
"Tidak.... aku tidak akan pergi sendiri, aku akan membawa Kayra bersamaku, aku sangat mencintainya!"
"pergi.....pergi dari sini!" Neta menjadi kalap. Dilemparkannya vas bunga, juga guci dan semua benda yang berhasil diraihnya. Sehingga pecah berantakan. Ada satu guci melayang hampir mengenai Rudy.
Cerry harus bertindak, dia khawatir Rudy akan terluka karenanya.
"Sudahlah ma... om Rudi tidak bersalah mungkin Kayra telah memeletnya".
Sepertinya Neta mendengarkan Cerry karena ia tiba-tiba menghentikan lemparannya.
Masih dengan amarah, Neta segera masuk kamar.
Sementara itu ... Cerry punya rencana terselubung. Ia segera mengejar Rudi.
"Om.. tunggu Cerry di hotel Red Star, nanti malam aku menyusul kesana".
"Ok." jawab Rudy sambil berlalu pergi. Setidaknya masih ada harapan, ada penghubung untuk Rudy bisa mendekati Kayra. Rudy mengendarai mobilnya dengan galau dan melaju pergi.
__ADS_1
Tidak berapa lama Neta juga pergi membawa Honda jazz merahnya.
Tinggallah Cerry sendiri, bingung melihat ruangan rumah yang berantakan. Malas kalau ia yang harus membersihkan. Kayra disuruhnya membersihkan semua kekacauan itu.
Setengah jam kekacauan itu selesai dibereskan Kayra. Hati Cerry berbunga- bunga karena sebentar lagi ia akan bertemu Rudy. Sehingga membuatnya seketika bermurah hati pada Kayra dengan memberikan susu kotak UHT dan dua lembar roti tawar.
Cerry sudah tidak sabar untuk menemui Rudy, hari masih sore. Ia segera memesan taxi on line, tanpa menunggu lama taxi yang dipesan sudah datang.
"Langsung ke Hotel Red Star, ya pak ."
"Baik Non." jawab sang supir langsung meluncur ke alamat yang dituju.
Sejam kemudian mereka baru sampai, karena jam- jam ini memang paling ramai dan padat. Banyak karyawan pada pulang kerja. Sehingga perjalanan yang harus nya bisa ditempuh lima belas menit molor jadi satu jam. Maklumlah jalanan Jakarta tidak pernah lenggang.
Setibanya di hotel, Cerry menghubungi Rudy yang menyuruhnya menunggu di resto hotel. "Ah kenapasih ketemuannya tidak dikamar saja, kan ada layanan kamar kalau mau makan. Kalau di resto gini gimana aku bisa deketin Rudy" Cerry mengeluh dalam hati. Sambil ia merapikan riasannya yang sedikit menor. Ia ingin terlihat lebih matang.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Rudy datang. Memakai Kaos denim abu-abu dan celana jeans biru. Saat melihatnya membuat Cerry terpana sekaligus membuatnya ciut. Bagaimana tidak, ia berpenampilan seperti tante-tante, sementara Rudy seperti anak Abg yang berpenampilan cuek.
"Hai ... Cerry, sudah pesan makanan?"
"Belum, sengaja nungguin kamu datang dulu."
"Sudah makan malam belum? Aku pesanin ya."
Rudy memanggil waitress dan memesankan makanan buat mereka.
"Cerry, apa mama mu tahu kalau kamu menemui ku?" Tanya Rudy menyelidik.
"Enggak, aku gak bilang mama. Lagian tadi waktu aku mau kesini mama pergi."
"Gak takut kena marah mama mu?"
"Ya kalau kena marah, nanti tinggal dijawab aja, gampangkan. hehhehe....." jawab Cerry hambar.
Makanan dan minuman tersaji, mereka segera menikmatinya. Bagi Cerry ini adalah makan malam terlezatnya selama ini. Bukan karena menu spaghetti bolognese nya atau jus apelnya, tapi kebersamaannya dengan Rudy. Itu lah yang membuat makannya begitu nikmat. Sampai tak terasa makanannya habis tandas tak tersisa.
"Wah rupanya anak cantik ini lagi kelaparan ya.? Mau nambah lagi?" tanya Rudi sambil gemas mengucak rambut Cerry.
Ternyata Cerry tidak terima diperlakukan seperti itu.
"please jangan lakukan seperti ini pada ku. Aku sudah dewasa, tinggal menghitung hari aku sudah tujuh belas, perlakukan aku seperti wanita dewasa."
"Oh.... maaf kan aku sayang, selama ini kamu keliatan imut dan lugu. Jadi aku juga ingin memperlakukan mu seperti anak manis."
__ADS_1
"Rudy... aku ingin ngomong serius sama kamu. Bisakah kita ngobrol di kamarmu saja?" Kata Cerry dengan tanpa basa-basi.
"Hahhhhh?" Rudy tercengang