
"Ayo Ra... kita masuk aja!" Suara ibu Neta mengejutkannya.
"Ibu... siapa saja yang tinggal dengan kita di rumah ini?" Tanya Kayra memastikan. Mungkin orang yang mengintip di jendela itu adalah salah satu asisten rumah tangga di rumah ini.
"Kita berempat saja bersama bik Sari dan Mang Ujang,"Jawab ibu Neta.
"Maaf Nyonya, Non, saya baru pulang dari pasar. Jadi belum sempat masak." Bik Sari datang tergopoh- gopoh sambil membawa belanjaan yang cukup banyak. Kayra menawarkan bantuan untuk membantu bik Sari namun bik Sari tidak mau.
'Jangan- jangan ada penyusup. Sebaiknya aku periksa nanti' Gumam Kayra dalam hati. Mereka segera masuk ke dalam rumah. Furnitur di dalamnya bernuansa putih abu- abu. Terasa banget nuansa modern minimalis. Sangat berbanding berbalik dengan rumah besar sebelumnya Klasik dan lebih menonjolkan keantikannya.
"Ra... ibu sudah siapkan kamar buat mu. Ayo kita lihat." Ajak ibu Neta sambil menggandeng tangan Kayra.
"Bentar... merem dulu." Perintah ibu Neta saat mereka sudah berada di depan kamar lantai dua. Saat Kayra memejamkan mata, Neta perlahan membuka pintu kamar Kayra.
"Sudah... buka mata Ra..!" Perintah Ibu Neta semangat. Kayra membuka matanya. Ia terbelalak kamar nya bernuansa kuning cerah. Warna kesukaannya. Mulai dari horden, sprei juga dinding bernuansa kuning cerah. Kayra segera menghambur masuk ke dalam kamarnya.
"Ibu... ini kamar Kayra? Waw cantik sekali.. Kayra suka banget. Trimakasih ya Bu." Kata Kayra seraya memeluk erat ibu nya.
"Ya... ini kamar mu. Kamu bisa menempatinya, sampai kamu menikah dengan Dariel." Kata ibu nya dengan kesedihan yang ditutup nya rapat.
"Kalau Kayra sudah menikah, apa Kayra sudah tidak boleh lagi ke sini Bu?" Tanya Kayra sedih.
"Bukan itu maksud ibu Ra, kamar ini selalu milik mu. Tapi kalau kamu sudah menikah pasti Dariel akan memboyong mu ke rumahnya." Ibu Neta berusaha menjelaskan.
"Besok acara pemberkatan mu Ra.. di gereja St. Jhoseph. Tadi pak Erlangga menghubungi ibu. Apakah benar kalian tidak ingin dibuatkan pesta yang meriah?" Tanya ibu Neta.
__ADS_1
"Ya... bu. Kami hanya ingin menikah sakral dan sederhana hanya bersama keluarga dekat saja. Gak papa kan Bu?" Kayra memandang ibunya mengharapkan jawaban jujur. Saat dilihatnya ibunya mengangguk menyatakan persetujuannya, Kayra melanjutkan perkataannya.
"Bu... kami tidak mau kuliah kami terganggu dengan gosip yang tidak perlu. Nanti kalau kami sudah menjadi orang sukses, baru akan kami buat resepsi. Ibu setuju kan?" Tanya Kayra memastikan.
"Apa pun keputusan kalian, kami orang tua pasti mendukung." Jawab Ibu Neta, ia langsung memeluk anak kandung semata wayang nya.
"Udah... ayo coba dulu gaun pengantin mu. Tadi siang diantar oleh calon suami mu." Kata Ibu Neta, ia berjalan menuju lemari kaca dan mengambil kotak besar berhias pita.
Kayra membuka kotak itu dengan berdebar- debar, ia tidak sabar melihat gaun yang akan dikenakannya besok. Sebuah gaun berwarna putih. Beberapa bagian dihias dengan mutiara.
"Cantik sekali.... ." Gumam lirih Kayra mengagumi gaun nya.
"Coba dulu Ra" perintah ibu nya.
Tanpa menunggu waktu, Kayra segera mencoba gaun nya. Sangat pas di badannya. Berkali- kali ia berputar - putar mengamati bayangannya di cermin.
"Tapi Ra... gimana kalau kurang bagus hasilnya?" Tanya ibu Neta ragu.
"Aku percaya, ditangan ibu aku pasti tampil sangat cantik. Ya Bu... tidak keberatan kan membantu Rara?" Tanya Rara manja. Ia ingin lebih dekat dengan ibunya. Untuk menghapus puluhan tahun perpisahan mereka.
Ibu Neta mengangguk, ada rasa bangga mengaliri hatinya. Anaknya membuat nya merasa dibutuhkan.
"Udah Ra... cepat disimpan. Supaya tidak kotor saat di pakai besok." Kata Ibu Neta memperingatkan.
Kayra menuruti perintah ibunya yang dipandangnya baik." Ia segera berganti baju.
__ADS_1
"Ibu tunggu di bawah ya, segera turun kita makan malam bersama. Ibu mau lihat bik Sari sudah selesai masak apa belum?" Kata ibu Neta seraya pergi meninggalkan Kayra.
Neta menemui bik Sari yang sedang sibuk memasak. "Bik masak apa?" Tanya Neta ingin tahu.
"Masak soto ayam sama bergedel kentang nyonya. Nyonya tunggu aja di ruang makan. Disini bau Nya." Usir bik Sari halus. Sebenarnya ia belum terlalu nyaman dengan keberadaan Neta di dekatnya.
"Boleh ku bantu bik? Pingin belajar masak lagi." Jawab Neta cuek tak memahami kalau keberadaan nya di dapur mengganggu bik Sari.
Neta membantu menumbuk kentang. Dengan cekatan ia segera menyelesaikannya. Membuat bik Sari tidak percaya. Selama ini ia mengira kalau nyonya Neta tidak mengerti apa pun urusan dapur. Ternyata ia salah. Bergedel kentang sudah siap digoreng dalam waktu singkat. Keringat mengucur deras membasahi dahi Neta. Mungkin karena ia sudah terlalu lama tidak ke dapur. Hingga panas kompor membuat nya gerah.
Disanggulnya tinggi- tinggi rambut nya agar ia tidak merasa gerah. Hingga menampakkan tanda lahir di tengkuknya, sebuah bercak hitam berbentuk seperti daun. Bik sari dengan jelas dapat melihatnya. Ia tertegun memandang tanda leher Neta. Seketika air mata nya menetes.
"Nyonya Neta... bolehkah bibik bertanya?" Tanya bik Sari ragu- ragu.
"Ada apa bik? Tanya aja. Kalau aku bisa jawab ya pasti akan ku jawab." Kata Neta sambil tersenyum memandangi bik Sari yang serba salah.
"Ehm... apakah orang tua nyonya Neta masih hidup?" Pertanyaan Bik Sari membuat Neta merasa bingung. Tapi tak urung ia pun menjawab pertanyaan bik Sari.
"Mama ku sudah meninggal saat melahirkan aku, sementara papa meninggal tujuh belas tahun lalu. Saat aku hamil Kayra." Jawab Neta terus terang.
"Kalau boleh tahu, siapa nama papa dan mama nyonya Neta?" Kembali bik Sari melemparkan pertanyaan, membuat Neta semakin curiga. Jangan- jangan bik Sari ada kaitan dengan masa lalunya. Neta memutuskan untuk berterus terang.
"Papa ku Doni Kesuma kalau mamaku Ardila Sari. Nama ku diambil dari nama mama, Neta Ardila. Aku tidak pernah melihat mama. Foto mama habis terbakar saat rumah kami kebakaran." Neta menghela nafas dalam, merasakan pahitnya kehilangan mama nya tercinta.
Bik Sari bergegas mematikan kompornya dan segera berlari meninggalkan Neta yang kebingungan.
__ADS_1
"Bik Sari... ada apa?" Tanya Neta kebingungan. Ia segera mengejar bik Sari yang lari ke kamar. Apa yang sebenar nya terjadi. Atau siapa sebenarnya bik Sari? Setelah mengetahui papa dan mama nya langsung berupah aneh. Apakah bik Sari memang ada hubungannya dengan masa lalu kehidupannya?
"Bik... bik..., buka pintu nya! Tolong beri penjelasan kepada ku, apa yang sebenarnya terjadi?" Neta mengetok pintu kamar bik Sari. Ia sangat kawatir pada keadaan bik Sari, yang terlihat sangat terpukul.