Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Terdampar


__ADS_3

Dariel merencanakan sesuatu. Rencana kali ini harus berhasil agar ia punya waktu leluasa bersama Kayra. Ia segera mempersiapkan bawaan dibantu Kayra. Sebuah tas ransel berisi beberapa pack biscuit, air botol mineral, satu set baju ganti, handuk, salep luka, juga cream pengusir nyamuk.


"Apa lagi yang mau dibawa Riel?" Tanya Kayra memastikan barang bawaan Dariel sudah termuat ke dalam ransel semua.


"Aku ingin bawa kamu serta, andai punya kantong ajaib Doraemon." Dariel merasa berat meninggalkan Kayra.


"Ha... ha...ha Riel jangan ngaco." Kayra mencubit pipi Dariel gemas. Dibalas Dariel dengan kecupan singkat di bibir tipis Kayra.


"Riel.... jangan lama - lama perginya ya...., aku takut" Kata Kayra.


"Iya, aku usahain cepat kembali. Doa kan rencana kita berhasil. Aku pergi dulu ya." Dariel melangkah pergi meninggalkan Kayra sendiri.


Kayra segera mengunci pintu kamar Dariel. Ia memilih untuk merebahkan tubuhnya diranjang. Matanya menatap langit - langit kamar. Lamunannya segera melayang, ia sangat merindukan bik Sari, Mang Ujang, Ibu Neta juga Cerry. Seminggu lebih ia tidak berjumpa dengan mereka. Rasa kangen yang ia rasa semakin terasa saat Dariel pergi jauh darinya. Ia tidak bisa menahan Dariel untuk tetap bersamanya. Ia membiarkan Dariel ikut tim CSR karena ia sangat percaya padanya. Selama sebulan hubungannya dengan Dariel, tidak pernah sekalipun Dariel menyakiti atau berbohong padanya.


Kayra menyadari perasaan cintanya yang mendalam pada Dariel bukan sekedar kekaguman atau hanya sebuah kesan sepintas. Ada perasaan kuat, dan ketergantungan pada Dariel yang selalu menghadirkan rasa nyaman dan memberi kehangatan dalam hatinya.

__ADS_1


Setetes air mata menitik dari ujung matanya, saat mengingat perbuatan jahatnya menyakiti Dariel. Kenapa sampai ia tega mencekik pria yang sangat disayanginya. Apakah benar ada roh jahat yang berusaha mengendalikannya? Roh jahat yang berusaha melampiaskan dendam pada pangeran Bandawasa? Tapi mengapa harus melibatkannya? Ataukah mungkin ia sudah gila?


Kayra semakin sedih, air matanya mengalir deras membasahi bantalnya.


"Dariel... aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu, Aku akan melakukan apapun untuk mu." Desah Kayra di sela - sela tangisannya. Ia merasa pusing dan tidak berapa lama Kayra terlelap dalam tidur siangnya. Tubuh Kayra serasa berputar - putar menuju pusat putaran yang semakin kuat menariknya masuk.


"Tolong...... tolong." Kayra menggapai - gapai berharap ada pegangan yang bisa diraihnya. Namun ia semakin tenggelam masuk kedalam kegelapan yang semakin pekat.


Tubuhnya terhempas keras di permukaan licin dan basah. Kayra menajamkan matanya berusaha melihat ke sekitarnya yang hanya terlihat bayangan samar. Sosok - sosok tubuh melayang menuju kearahnya. Kayra menggosok - gosok matanya, berusaha agar dapat melihat dengan jelas. Namun yang terlihat olehnya sosok - sosok buram atau lebih tepatnya gambaran orang - orang semi transparan. Semakin lama semakin mendekat kearahnya dengan gerakan yang sangat mulus seperti meluncur di atas permukaan es yang tak terlihat.


Sosok- sosok tubuh transparan terus berusaha mendekati Kayra. Selangkah lagi sosok - sosok transparan itu mencapai Kayra, mereka terhenti dan secara serempak menyerukan kata - kata aneh bersamaan.


Kayra sama sekali tidak bisa menangkap kata - kata yang mereka ucapkan. Namun ada sebuah pengertian yang ditangkapnya, sosok -sosok transparan itu seakan minta tolong padanya? Membuatnya semakin bingung. Seketika ada cahaya putih terang menyilaukan, bersinar dari arah depan seketika memudarkan kehadiran sosok - sosok transparan. Semakin lama sosok - sosok itu lenyap tak berbekas.


Kayra mengamati keadaan sekitar, ia sudah berada di dalam sebuah kamar. Ruangan kamar yang sangat familier baginya. Cahaya lampu kamar yang terasa hangat berasal dari lampu kristal gantung menerangi seluruh isi kamar. Sebuah kaca antik besar terpaku kuat di salah satu sisi dinding dekat kepala ranjang. Kayra ingin memastikan benarkah kamar yang ia masuki ini adalah kamar Neta? Seketika jantungnya berdegup kencang. Bagaimana kalau ibu Neta memergokinya? Apa yang akan ia katakan? Bagaimana kalau ibu Neta sampai marah padanya? padahal hubungan mereka sudah semakin membaik.

__ADS_1


Ada suara langkah kaki tergesa - gesa mendekati kamar Neta. Kayra segera bersembunyi diantara celah almari dan dinding. Kayra baru menyadari keadaan kamar ibu Neta ada sedikit berbeda. Beberapa waktu lalu tidak ada almari kayu jati, juga tumpukan buku - buku, sejak kapan ibu tirinya suka buku? Ternyata bukan sedikit berbeda, namun sangat berbeda yang sama cuma cermin antik besar yang terpasang kuat di dinding.


Langkah kaki semakin mendekat disusul suara pintu dibuka dan segera ditutup dengan kasar. Seorang gadis berambut panjang sepinggang menerobos masuk dan segera menghambur keatas tempat tidur. Gadis itu menangis terisak - isak. Jari - jari lentiknya mengetat dan memukul - mukul bantal dengan penuh emosi.


"papa jahat, aku benci papa!" Si gadis semakin keras dalam tangisannya. Namun beberapa saat seketika terdiam. Si gadis segera beranjak menghampiri cermin antik di dinding. Sekilas Kayra dapat melihat wajah gadis itu. Wajah cantik yang sangat ia kenal, Ibu Neta dengan versi lebih muda.


"Bagaimana bisa?" Gumam Kayra lirih. Apakah ia telah terseret dan terdampar ke masa lalu? Kayra terpaku di tempatnya, hanya bisa membelalakkan mata tidak percaya.


Neta muda melangkah mendekati cermin antik. Matanya sembab dengan pandangan putus asa. Ia meratap di depan cermin. Tidak ada lagi jalan lain baginya.


"Hidup ku tidak ada artinya lagi, bila aku tidak bersama Hendra. Aku akan melakukan apa saja asalkan bisa hidup bersama kekasih ku selamanya." Neta muda mengambil sesuatu dari laci bukunya. Sebuah bungkusan kain putih diletakkannya di atas meja belajar. Neta muda menggumamkan kata - kata asing yang belum pernah di dengar Kayra. Sepertinya sebuah mantra.


Neta kemudian membuka perlahan bungkusan kain itu dengan sangat hati - hati. Tampaklah sebuah keris kecil hanya sebesar genggaman tangan. Gagangnya terbuat dari emas murni bertahtakan berlian. Tekat Neta sudah bulat. Ia menggenggam keris kecil itu di tangan kirinya dengan erat, kemudian menorehkan ujung keris yang tajam ke telapak tangannya. Torehan tajam ujung keris meninggalkan luka sayatan dalam yang seketika mengalirkan darah. Darah menetes dari telapak tangannya yang terluka.


Neta mendekat kembali ke kaca antik, ia berdiri tegak menghadap kaca. Neta menggenggam telapak tangan kanannya kemudian diangkatnya tinggi - tinggi di atas kepalanya. Neta menutup rapat matanya, mulutnya komat - kamit menggumamkan sesuatu. Darah menetes diatas kepalanya mengalir hingga merembes di pipi membuat wajah Neta yang cantik menjadi sangat mengerikan. Mantra masih terus dirapalkan semakin lama semakin keras. Menghadirkan suasana mistis yang menakutkan.

__ADS_1


Kayra menggigil ketakutan.


__ADS_2