Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Hidup Baru


__ADS_3

"Sansan aku akan rajin mengunjungi mu, juga akan ku bawa ayah dan ibu untuk mengunjungi mu." Shinta berjalan menjauhi kuburan saudara kembarnya. Ia menemui Kayra yang sudah menunggu di bawah pohon.


"Ra... ayo kita pulang. Besok ku antar pulang ke Malang." Shinta mengulurkan tangan dan disambut Kayra. Mereka berjalan bergandeng tangan menuju GoCar yang sudah menunggu mereka.


"Rara makasih, kamu telah mengurai benang kusut hidup ku. Tanpa mu aku tidak bisa memikirkan akan jadi apa aku nantinya. Sekarang aku bisa mulai menatap masa depan. Dan aku akan segera memulai hidup baru." Kata Shinta mantap.


"Setelah ini apa rencanamu Shin?" Tanya Kayra.


"Aku ingin pulang ke Surabaya untuk merawat orang tua ku. Mereka sudah tua dan lama pensiun. Setidaknya aku akan berusaha membahagiakan mereka di masa tua mereka." Shinta tersenyum.


"Bagus itu, tugas seorang anak adalah berbakti. Shinta kamu beruntung orang tua mu masih ada. Sehingga kamu masih ada kesempatan membalas kebaikan mereka."


"Iya Ra... aku bahagia sekali. Terlebih setelah mengenalmu. Aku seperti diberi kesempatan hidup ke dua kali." Shinta memeluk Kayra.


"Maukah kau jadi saudara ku?" Tanya Shinta.


"Iya Shinta kita bersaudara." Merekapun berpelukan bahagia.


Sopir GoCar sesekali melirik melalui spion. Ia mendengar percakapan dua orang gadis penumpangnya. Sang sopir tersenyum. "Tidak banyak gadis sebijak mereka berdua." pikirnya.


Tiba- tiba ada benturan keras menghantam belakang mobil mereka. Hingga sang sopir tidak bisa mengendalikan laju mobilnya. Mobil terpental dan terguling- guling. Kayra dan Shanti berteriak panik. Mobil itu berakhir menabrak pembatas flyover. Kayra dan Shanti terlempar keluar dari mobil. Beruntung mereka tidak sampai terjatuh dari flyover yang cukup tinggi. Namun naas kepala Shanti terbentur aspal cukup keras. Kepalanya terluka parah, darah segar mengucur membasahi jalan raya. Kayra berjalan terseok- seok mendekati Shanti.

__ADS_1


"Shanti... bertahanlah, sebentar lagi pertolongan datang. Kamu harus bertahan untuk menepati janjimu pada Sandra. Juga kau bilang mau menjaga orang tua mu dimasa tua. Kau harus bertahan Shan..."


"Ra..., San...dra menung....gu...ku. Tri...ma..ka..." Kepala Shinta terkulai, nafasnya terhenti.


"Shinta... jangan pergi. Jangan pergi......" Air mata Kayra tumpah tak terbendung lagi. Ia tidak rela saudara yang baru di dapatnya terenggut dari nya. Tiba- tiba ada cahaya lembut menyinari tubuh Shinta. Sesosok tubuh transparan keluar dari badannya. Arwah Shinta menjauhi tubuhnya. Di depan sana arwah Sandra menantinya, mengulurkan tangan dan tersenyum. Arwah dua saudara kembar itu perlahan- lahan lenyap. Meninggalkan Kayra sendiri bersama jasad yang mulai dingin.


Hati Kayra teriris perih. Lebih sakit dari pada luka- luka disekujur tubuhnya. Ia tidak terima siapapun yang merenggut nyawa saudara barunya. Ada amarah dan sakit hati memenuhi rongga dada nya.


"Tidakkkk......" Kayra berteriak melepaskan semua rasa sesak di dadanya. Tanpa disadari Kayra, teriakannya membawa sebentuk teror mengerikan. Kegelapan seketika menyelimuti jalan raya. Suara benturan dan ledakan terdengar memekakkan telinga. Seketika Kayra tersadar.


"Cukup, jangan ada lagi korban." Secepat kilat awan gelap memudar. Kayra meringkuk ketakutan. Ia tidak mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi. Kegelapan dan kecelakaan hebat itu apakah ia yang melakukannya?


Kayra ketakutan, ia berlari dan terus berlari. Berusaha menjauhi kecelakaan mengerikan yang terjadi di depan matanya. Tenaga Kayra terkuras habis, ia berjalan sempoyongan dan akhirnya jatuh pingsan.


"Ambil buku mantra di kotak rahasia. Maka engkau jadi ratu kegelapan yang tak terkalahkan. Kau bisa menguasai dua dunia" sssstt..... sssttt... Wanita berbadan ular itu mendesis di dekat telinganya. Ada perasaan aneh menjalar diseluruh tubuh Kayra. Seperti arus listrik yang mengalirkan setrum.


"Aku bukan ratu kegelapan, aku tidak mau." Kayra melepas dan melemparkan gelang dan tiara ke lantai batu. Ia berlari ke luar ruangan yang terlihat seperti gua dalam tanah. Kayra berlari menuju celah terang. Saat ia sampai di ujung celah, kakinya tidak menapak tanah. Ia terperosok ke dalam sebuah jurang dalam.


A...aaa....a...aaa


Anehnya badannya tidak membentur batu atau benda keras. Namun sesuatu yang lembut dan empuk. Kayra membuka matanya, ia berada di sebuah ruangan bercat putih. Dengan aroma khas karbol.

__ADS_1


Ada selang tertancap di pergelangan tangannya. Ia merasa nyeri dan perih merasuki tubuhnya. Kayra tidak tahan, ia memilih mencabut selang infus itu. Tidak berapa lama luka- luka di tubuhnya sembuh, pulih seperti sedia kala. Saat ia akan beranjak turun dari ranjang. Seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangannya.


"Bagaimana keadaan mu nona? Apa sudah membaik?" Kayra bertanya- tanya dalam hatinya siapa pria ini? Mengapa terlihat ia sangat mempedulikannya?... Rupanya keraguan Kayra terlihat jelas. Hingga pria itu kembali mencairkan suasana.


"perkenalkan nama ku Erlangga. papa Dariel." Kayra terkejut pria itu ternyata papa nya Dariel?


"Ehmmmm... Dariel dimana Om?" Tanya Kayra lagi.


"Itulah yang mau ku tanyakan pada mu. Kalian tiba- tiba menghilang." Raut wajah Erlangga membiaskan kekuatiran yang mendalam. Membuat hati Kayra tersentuh dibuatnya.


"Om..., Dariel baik- baik saja. Kalau sudah waktunya pasti ia akan pulang. Ehmmm... apakah saya bisa pulang ke rumah saya Om..?" Tanya Kayra penuh harap.


"Setelah nak Kayra kasih Om penjelasan, segera om antar nak Kayra pulang." Erlangga mencoba bernegoisasi. Ia telah dibuat kebingungan dan kawatir setengah mati oleh Kayra dan Dariel. Hampir sebulan Kayra lenyap tak berjejak, kemudian Dariel juga menghilang di rimba Papua. Entah mengapa Erlangga begitu yakin kalau hilangnya Kayra dan Dariel berkaitan.


Kayra mengambil nafas dalam- dalam. Ia menimbang- nimbang penjelasan apa yang harus diberikan. Agar pak Erlangga percaya padanya tanpa harus membuka rahasia mereka.


"Sebenarnya saya pun tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi pada saya. Tiba-tiba saja saya sudah disekap di dalam hutan, ada Dariel juga di sana. Kemudian entah dengan cara bagaimana tiba- tiba saat saya bangun, saya sudah di kota Malang. Saya memutuskan untuk pulang ke Jakarta naik kereta api. Mengenal seorang


gadis di kereta api yang kemudian akan mengantar saya pulang. Namun di tengah jalan terjadi kecelakaan beruntun. Gadis itu meninggal. Saya ketakutan dan berlari hingga tak sadarkan diri. Dan disinilah saya terbaring di rumah sakit."


Kayra terpaksa menutupi kejadian yang sebenarnya untuk menjaga dari hal- hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


Erlangga mengerutkan kening berpikir keras, mencoba memahami perkataan Kayra yang tidak bisa diterimanya secara nalar.


__ADS_2