
TERIMAKASIH BUAT PEMBACA SETIA YANG TELAH MENDUKUNG DENGAN MEMBERIKAN: VOTE, RATE, LIKE DAN MOTIVASINYA MELALUI KOMENTAR MANIS KALIAN.
SEBAGAI APRESIASI BUAT PEMBACA SETIA, SAYA BERENCANA MEMBUAT SEBUAH EPISODE SPESIAL KHUSUS BAGI PEMBACA LOYAL YANG MEMBERIKAN VOTE TERBANYAK.
PEMBACA JUGA BOLEH MENYUMBANGKAN IDE CERITA, YANG AKAN SAYA MASUKKAN DALAM PART SPESIAL BUAT KALIAN. IDE CERITA, TULIS DI DALAM KOLOM KOMENTAR YA...
LOVE YOU.... ♡♡♡
《◇●☆☆♡♡♡♡♡♡☆☆●◇》
Pagi itu Kayra terbangun masih di tempat yang sama. Perutnya terasa perih melilit, kemarin ia melewatkan makan malam nya. Lebih tepatnya ia tidak diberi makan oleh si penculik.
Kayra melihat sebuah pintu terbuka. Pintu kamar mandi yang semalaman terkunci, sekarang terbuka. Ia segera ke kamar mandi untuk menuntaskan panggilan di pagi hari.
Kamar mandi itu cukup besar namun tidak ada jendela ke luar. Membuat Kayra benar-benar pasrah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pagi ini pun, Kayra berusaha menghubungi Dariel. Namun lagi-lagi tidak berhasil.
Hanya menyisakan peluh yang menganak sungai di pelipisnya. Badannya pun lemas tak bertenaga. Kayra terduduk, berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Saat ini ia tidak ingin sampai pingsan. Ia ingin memastikan, siapa sebenarnya penculiknya.
Kayra kembali ke tempat tidur. Ia memilih membaringkan tubuh. Ia berfikir, mungkin karena fisiknya lemah hingga membuat ia tidak bisa bertelepati dengan Dariel. Ia mendesah dalam, rasa rindunya pada Babby M dan suaminya membuat kabut dimatanya berubah menjadi air mata.
Ia merasa seperti tawanan perang. Kehilangan kebebasan dan menderita kelaparan. Hari itu berjalan sangat lambat. Tidak ada seorangpun yang datang ke dalam kamarnya untuk sekedar melihat keadaannya. Bahkan sampai hari menjelang malam, tak juga ada yang mengantarkan makanan dan minuman. Terpaksa Kayra meminum air kran kamar mandi.
__ADS_1
Saat malam, perutnya terasa sangat pedih. Mungkin asam lambungnya naik. Kayra meringkuk dalam tidurnya, mencari posisi agar perutnya tidak terasa sakit. Malam itu Kayra tidak bisa tidur. Perutnya bertambah sakit. Ia hanya bisa meringis menahan sakit di perutnya. Selama ini ia tidak pernah merasakan sakit mag. Karena ia selalu teratur menjaga jadwal makannya.
Hingga pagi menjelang, belum juga ada yang datang membawakan makanan untuknya. Kayra akhirnya pasrah. Mungkin ia adalah tawanan yang terlupakan. Ia memejamkan mata, melupakan rasa perih perutnya. Hingga akhirnya ia tertidur untuk beberapa lama.
Saat kesadarannya mulai kembali. Ia mencium sesuatu. Sebuah aroma gurih menggelitik hidungnya. Menarik matanya membuka mencari sumbernya. Di atas sebuah meja dorong tersaji semangkok bubur ayam, jus buah dan segelas air putih.
Kelihatannya sangat lezat, membuat air liur Kayra nenetes. Ia pun beringsut bangun dari tidurnya. Memastikan apakah makanan itu memang untuknya. Ada selembar kertas tergeletak di sana. Kayra segera membacanya.
"Habiskan makananmu supaya tenagamu kembali pulih." Isi memo singkat itu. Kayra tidak mengenali penulis memo itu. Karena tidak ada nama penulis ataupun tanda tangannya. Ia berusaha mengerahkan kemampuannya mencari petunjuk dari kertas yang dibacanya. Namun tidak membuahkan hasil.
Kayra menyerah, ia mulai menyuapkan bubur ke dalam mulutnya yang pahit. Hanya sesendok yang berhasil ditelannya. Saat mencoba menyuapkan bubur untuk kedua kalinya, tiba-tiba rasa mual menyerangnya.
Kayra kawatir sakit mag nya akan kambuh lagi. Jadi ia meraih mangkuk bubur untuk mencoba memakannya lagi. Dan lagi-lagi rasa mual mendadak datang saat ia mencium aroma gurih bubur ayam. Ia tidak jadi memakannya. Diletakkan kembali mangkuk bubur itu, ke tempatnya semula. Ia pasrah hanya meminum jus dan air putih saja.
Kayra merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya. Ada sesuatu yang janggal seolah ada yang menyedot kemampuan khususnya dari dalam tubuhnya. Terlebih pagi ini, ada sesuatu yang lain dari dalam dirinya. Ia tidak pernah bermasalah dengan berbagai macam masakan sekalipun itu berbau tajam. Namun pagi ini saat ia mencium aroma bubur ayam seketika membuat perutnya terasa diaduk-aduk.
Kayra duduk bersandar di kepala ranjang. Pikirannya berkecamuk dengan segala hal yang semakin membuatnya pusing. Siapa sebenarnya yang menculiknya? Kenapa sampai sekarang si penculik tidak menampakkan batang hidungnya? Setiap kali ia terbangun, tak satu pun orang terlihat memasuki kamarnya.
Hanya saat ia tidur, ada seseorang yang memindahkannya ke ranjang. Juga menyediakan sarapannya pagi ini. Apakah sebenarnya ada orang diluar sana yang mempunyai akses bisa mengawasinya dari luar. Sehingga mereka bisa tepat waktu datang ke dalam kamarnya tanpa diketahuinya? Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.
Kayra beranjak hendak berjalan menuju ke kamar mandi. Jalannya terhuyung, Kayra kehilangan keseimbangan sehingga ia terjatuh di karpet. Kayra terbaring diam di atas karpet.
__ADS_1
Tak berapa lama, datang dua orang berjubah hitam-hitam, wajahnya tertutup topeng. Dua orang itu mengangkat Kayra dan membaringkannya kembali di atas ranjang.
Kayra bisa dengan jelas melihat kedua orang itu. Karena sebenarnya ia berpura-pura pingsan agar ia ada gambaran siapa-siapa yang sebenarnya telah menculiknya. Saat melihat kostum kedua pria yang masuk kedalam kamarnya. Hati Kayra berdesir ngeri.
Penculiknya bukan preman atau penjahat biasa. Melainkan bisa dikatakan suatu aliran hitam yang diidentikkan dengan jubah hitam juga penutup wajah. Salah seorang memegang nadi Kayra. Ia berbisik pada temannya, namun juga terdengar keras hinggap di telinga Kayra.
"Gadis ini lemah sekali. Apa mungkin ia bisa melalui ritual besok malam dengan selamat?" kata salah satu pria berjubah hitam.
"Tadi aku dapat informasi, kalau bulan merah akan datang lebih cepat. Bisa datang tengah malam nanti. Jadi tidak jadi masalah sama sekali meskipun gadis ini sakit." Jawab teman satunya.
"Aku baru dengar ?. Tapi kasihan sekali kondisi gadis ini. Apa tidak sebaiknya kita panggilkan dokter?"
"Kita tidak boleh membuat keputusan sendiri. Harus menunggu perintah tangan kanan sang pemimpin."
"Aku dengar, sang tangan kanan jatuh cinta pada gadis ini? Bagaimana bisa ia tega mengorbankannya untuk ritual nanti malam?"
"Entahlah. Aku juga tidak habis pikir. Bagaimana ia dengan suka rela membawa gadis ini ke sini."
"Sudah, ayo kita keluar. Kita monitor aja dari luar, untuk menjaganya tetap hidup sampai acara ritual nanti malam. Bisa-bisa kita dihukum kalau ada apa-apa pada gadis pilihan sang pemimpin ini." Dua pria berjubah hitam melangkah pergi meninggalkan Kayra. Terdengar pintu terkunci setelahnya.
Kembali Kayra menghirup udara dalam-dalam. Ia tidak ada kesempatan kabur untuk saat ini. Kemampuan khususnya tidak bekerja sama sekali di sini. Juga badannya terasa sangat lemah. Meskipun ia berhasil lari, tidak mungkin ia bisa lolos.
__ADS_1