Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Babby Miracle


__ADS_3

Wanita bergaun merah itu menatap Rino dengan pandangan penasaran. Sepertinya ia mengenali anak laki-laki yang baru saja datang.


Sementara Rino sangat takjub, melihat mama Rara telah bangun dari tidur panjangnya. Ia pun berulang- ulang mengucak matanya tidak percaya.


"Mama Rara sudah bangun?" Tanyanya gembira dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.


"Kamu siapa? Anak kecil, kamu tahu dimana bayi ku?" Tanya Kayra sambil memperagakan menggendong bayi di tangannya.


"Mama... aku Roni, anak mama." Jawab Roni dengan perasaan membuncah bahagia. Namun ia masih berdiri mematung di tempatnya semula. Membiarkan mangga-mangga nya tetap terserak di lantai.


Kayra tersenyum meskipun hatinya diliputi kebingungan. Ia berusaha mencerna kata-kata anak laki-laki kecil dihadapannya yang dirasanya sangat aneh. Mana mungkin Babby M yang berumur dua bulan saat meraka jatuh ke jurang, tiba-tiba saat Kayra bangun anak itu sudah berumur sepuluh tahun? Kayra menggeleng- gelengkan kepalanya. Berusaha menahan tawa atas lelucon anak kecil itu. Namun saat ia mengingat bagaimana ia bangun tadi, Kayra menyadari mungkin ia telah berhari-hari tak sadarkan diri.


"Sekarang tanggal berapa nak?" Tanya Kayra memastikan.


"Tanggal 2 April 2031" Jawab Rino.


Kayra terdiam, ia mulai memproses informasi yang baru di dapatnya. Sepuluh tahun terlewat tanpa disadarinya. Apa yang sebenarnya dialaminya? Apakah benar anak laki-laki di depannya adalah Miracle Erlangga yang sudah berumur sepuluh tahun?


Tapi mengapa ia hanya mengingat saat mereka terjatuh ke dalam jurang?


Kayra berusaha keras mengumpulkan ingatan- ingatannya di masa lalu. Usahanya yang keras membuat badannya limbung. Sebelum ia terjatuh ia segera menghempaskan tubuhnya untuk duduk di batu datar tempatnya terbaring selama ini.


Kayra memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.


"Mama Rara..." Rino berlari menghampiri mama nya.


"Apakah mama sakit?" Tanya Rino kawatir.


"Tidak... Apakah kamu Miracle?" Kayra meraih tangan Rino dan meneliti sepasang mata Rino. Mata indah yang seketika mengingatnya pada mendiang kak Keke. Rambut lebat dan perawakan Rino sangat mirip dengan kak Raka.


Kayra tergagap, semoga ini bukan halusinasinya. Ia meraih lengan kanan Rino, menggulung lengan kaos lusuhnya hingga memperlihatkan sebentuk bekas luka dilengan atasnya. Kayra mengenali bekas luka di lengan Rino. Itu sama seperti yang dipunyai babby M. Bentuk lekukan ke dalam membentuk setengah lingkaran. Sebenarnya itu bukan bekas luka, namun sudah bawaan lahir.

__ADS_1


Air mata Kayra seketika merebak haru. Sepuluh tahun ia tidak mengikuti tumbuh kembang babby M karena kondisi aneh yang dialaminya. Ia tertidur panjang, tanpa ada sedikitpun yang berubah padanya. Seperti gaun merah yang melekat dibadannya masih nampak seperti saat pertama kali dipakainya saat ritual di villa.


"Engkau benar, babby M. Miracle Erlangga. Anak mama..." Kayra mengguncang lengan Rino.


Rino mengangguk. "Namaku Miracle, teman-teman dan nenek memanggilku Rino. Katanya nama ku sulit di sebut." Jawab sedih Rino.


Kayra memandangnya dengan penyesalan mendalam. Bagaimana bisa ia tertidur begitu lama, hingga melalaikan babby M yang sekarang bertumbuh sendirian sampai sebesar ini? Kayra menggapai Rino dan menariknya kembali dalam pelukannya.


"Maafkan mama ya nak. Karena keadaan, mama tidak bisa merawat mu." Kayra dan Rino bertangis-tangisan haru. Kayra menyesali keadaannya, sementara Rino sangat bahagia karena mamanya akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.


"Kruyuk..." Suara perut Kayra menuntut makan.


"Mama lapar? Rino tadi bawa mangga." Rino melepaskan diri dari pelukan mamanya. Ia langsung memunguti buah mangga yang berserak di lantai gua.


Kayra pun ikut membantu Rino. Saat ia memunguti buah mangga ia menemukan sepucuk kartu ucapan berwarna kuning. Karena penasaran diambil dan dibacanya.


"Rara sayang... hari ini tepat sepuluh tahun engkau pergi dari ku. Aku masih sangat percaya, kalau kamu dan anak kita masih hidup dan baik-baik saja. Cepatlah pulang... Rara, aku akan selalu mencintaimu. Malam ini aku akan bertunangan dengan Cerry, semua ini kulakukan agar aku bisa segera menemukanmu. I love you forever." tertanda Dariel.


"Mama... makanlah buah mangga ini." Kata Rino sambil menyodorkan buah mangga yang cukup ranum.


Kayra cepat-cepat menghapus air matanya. Ia tidak ingin Rino melihat kesedihannya. Kayra menerima buah mangga yang sangat manis itu dan menikmatinya dengan lahap.


"Mangganya sangat manis, trimakasih ya nak. Selama ini siapa yang merawat Rino?" Tanya Kayra.


"Nenek Ipah yang menemukan ku waktu bayi. Ia lah yang merawat ku Ma."


Kayra menganggukkan kepalanya. "Mama ingin ketemu dengan nenek Ipah."


Rino sesaat terdiam. "Nenek Ipah sangat takut pada mama."


Kayra cukup terkejut dengan jawaban Rino. Apakah nenek Ipah tahu apa yang terjadi padanya. Seperti saat kabut merah pembawa maut keluar dari tubuhnya?

__ADS_1


"Mama hanya ingin mengucapkan terimakasih pada nenek Ipah."


"Nanti kita akan menemui nenek Ipah." Jawab Rino dengan gembira.


"Rino, mama akan pulang ke rumah. Apakah Rino mau ikut pergi sama mama?" Tanya Kayra hati-hati.


"Ya Ma... Rino akan ikut kemana pun mama pergi." Jawab Rino tegas tanpa keraguan sedikitpun.


Mereka sesaat terdiam, sibuk menikmati manisnya mangga hutan dalam gigitan mereka.


Kayra mencoba mengingat Dariel dan masa lalunya. Semua masih terasa segar dalam ingatan seperti baru kemarin terjadi. Namun sangat tidak masuk akal bagi Kayra, kalau semua itu telah berlalu bertahun-tahun lalu.


Kayra teringat pada buket mawar kuning yang pertama dilihatnya saat ia sadar tadi.


"Rino... dimana kamu menemukan bunga itu?" Tanya Kayra penasaran.


"Rino ambil bunga itu dari depan reruntuhan villa." Jawab Rino.


Kayra tersenyum, "Nak... bunga itu dari papa mu, mungkin bunga itu juga yang membangunkan mama dari tidur panjang."


"Benarkah ma...? Sebenarnya sering Rino melihat keberadaan bunga itu tersebar di sekitar reruntuhan villa. Namun Rino tidak berani mengambilnya karena kata orang bunga itu ada kutukannya. Bahkan nenek juga melarang keras tidak memperbolehkan Rino menyentuhnya."


Sesal Rino. Seandainya dari dulu ia memberanikan diri, tentunya mamanya tidak perlu terlalu lama dalam tidur panjangnya.


"Tidak perlu Rino menyesal seperti itu. Yang terpenting kita sudah bersama bukan? Dan kita akan segera menemui papa mu." Kayra mencoba menghibur Rino.


"Ma... masih banyak mangganya, ayo Ma... makan lagi." Rino menyodorkan sebuah mangga lagi pada mama nya.


"Sudah cukup... sebaiknya kita bawakan untuk nenek Ipah, supaya dia senang." Kayra mengumpulkan mangga-mangga yang tersisa.


"Ayo Rino, sebaiknya kita bergegas. Kita harus segera menemui papa mu di Jakarta."

__ADS_1


"Papa tinggal di Jakarta ya Ma? Rino pingin sekali jalan-jalan ke Taman mini dan Ancol." Rino mulai membayangkan saat ia bisa berjalan-jalan ke kota yang ramai. Seperti yang dia lihat di televisi saat ia main ke tempat Asep.


__ADS_2