
"Riel... sudah. Aku belum gosok gigi dan cuci muka. Cepat balik sana, nanti bikin orang panik." Kayra mengusir Dariel dengan halus.
"Oke cinta... apapun ku lakukan buat mu."
Zzzzztttt... kilatan cahaya membungkus Dariel dan dalam hitungan detik ia hilang dari pandangan.
Kayra segera mandi, hari ini ia berencana segera pulang ke rumah. Ia sudah kangen dengan bi Sari dan Mang Ujang. Bagaimana saat mereka melihatnya pulang? pasti kejutan yang sangat menyenangkan.
Tok...tok...tok
"Ra... ditunggu di ruang makan." Terdengar Keke memanggilnya dari balik pintu.
"Iya kak sebentar lagi saya menyusul ke bawah." Kayra segera menyelesaikan ganti bajunya. Ia mimilih memakai kaos oblong dan celana jeans pendek Dariel. Sementara rambut panjangnya ia ikat ekor kuda. Kayra tidak ingin keluarga Dariel menunggu lama, ia pun segera turun ke ruang makan. Ternyata di sana Erlangga, Raka dan Keke sudah menunggu.
"Slamat pagi ... Maaf saya terlambat." Kayra segera duduk di kursi yang disiapkan Raka dekat Erlangga.
"Makasih kak..." Mereka pun mulai sarapan. Ada berbagai buah, roti dengan berbagai selai juga susu segar dan jus jeruk. Namun itu bukan menu yang diharapkan Kayra. Ia ingin sedikit karbohidrat dan protein.
"Apakah engkau ingin makan sesuatu yang lain Rara?" Tanya Erlangga menunjukkan perhatiannya.
"Hehehe iya Om Rara pingin makan omlet, kalau boleh Rara yang masak."
"Hemmm boleh, masaknya banyakin ya... kami juga pingin mencicipi masakan mu." Jawab Erlangga. Ia begitu penasaran, apakah Kayra bisa masak? Setahunya Kayra kecil sangat dimanja ayahnya.
Lima belas menit kemudian Kayra sudah kembali membawa masakannya. Ada tiga jenis omlet yang dibuatnya, omlet sayur, omlet kentang- tuna, dan omlet daging giling- bakso. Aroma gurihnya seketika menyebar di setiap penjuru ruang makan. Raka yang biasanya hanya sarapan segelas susu, kali ini menghabiskan banyak omlet.
"Hemm... enak sekali masakan mu Ra.., nanti kalau sudah menikah. Masakin papa setiap hari ya?" Erlangga sangat menyukai masakan Kayra.
__ADS_1
Keke juga sangat menyukai omlet buatan Kayra hingga hampir satu piring omlet sayur disikat habis.
"Ra... omletnya apa ada telurnya?" Tanya Raka ragu- ragu
"Iya kak, bahan utamanya telur." Mendengar hal itu Raka langsung melonjak dari kursinya ia segera menjauhkan omlet yang sedang dimakan Keke.
"Stop Ke, jangan dilanjut lagi. Kamu gak boleh makan ini. Nanti kalau alergimu kambuh gimana?" Raka terlihat sangat kawatir.
"Gak... apa - apa, gak bakalan kambuh kok. Ini enak sekali biarkan aku makan sepotong kecil lagi. Sepertinya dedek juga suka." Rengek Keke manja. Raka tidak tega juga melihat Keke yang sampai merengek. Ia akhirnya luluh dan memberikan sepiring omlet yang dipegangnya.
"Kalau ada apa- apa langsung hubungi dr Mawan." pesan Raka.
"Beres." Keke mengacungkan ibu jarinya.
"Makasih Rara... sarapan pagi nya enak sekali. papa sama Raka berangkat kerja dulu nanti makan siang kami pulang. Mungkin Dariel juga sudah datang. Tolong atur menu makan siangnya yang spesial ya. Suruh koki rumah yang memasaknya." pesan Erlangga sebelum mereka berangkat ke kantor.
Keke mulai menggaruk tangan dan wajahnya yang mulai gatal.
"Kak Keke.... alergi mu kambuh?" Tanya Kayra terkejut.
"Iya... gak papa Ra. Nanti kalau sudah diobati dokter Mawan pasti cepat sembuh." Keke sebenarnya dilanda ketakutan namun ia tidak ingin Kayra merasa gak enak dan mendapat kesulitan nantinya.
"Ayo kak ke kamar, ku coba obati dengan minyak. Siapa tahu berhasil." Mereka bergegas masuk ke dalam kamar Keke. Saat itu wajah dan sekujur tubuh Keke bentol- bentol merah.
Kayra menyuruh Keke buka baju. Ia segera mengoleskan minyak telon kesekujur tubuh Keke. Kayra sedikit menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengobati Keke. Tak berapa lama kulit Keke sudah pulih seperti sedia kala.
Keke takjub melihat kulitnya yang sudah mulus kembali. "Ra... kamu menyembuhkan ku?"
__ADS_1
"Heheheh... ternyata resep peninggalan ayah ku manjur juga." Bohong Kayra, ia tidak mau sampai ada orang tahu kalau ia bisa menyembuhkan penyakit dengan cara magis.
Keke kembali berpakaian. "Ra... aku dari kecil alergi telur, biasanya sampai seminggu baru sembuh. Hari ini sebentar saja sudah langsung sembuh. Apakah bisa aku bebas dari alergi telur? Soalnya banyak makanan enak yang enggak bisa aku makan." Tanya Keke penuh harap.
"Mungkin kalau makan telurnya gak terlalu banyak, gak bakalan kambuh." Kata- kata Kayra membawa angin segar baginya.
"Sebagai ucapan terimakasih, aku akan mengajak mu belanja." Kata Keke bahagia.
Kayra menggelengkan kepala. "Enggak usah Kak, nanti aku belanja sama Dariel aja."
"Kenapa enggak mau belanja sama aku?" Keke sepertinya tersinggung dengan penolakan Kayra. Membuat Kayra menjadi serba salah.
"Kak... bukan begitu maksud ku..." Kayra mencoba memberi pengertian kepada Keke. Ia mencoba mengejar Keke yang begitu tergesa menuju ruang tamu.
"Aku tahu Ra... kamu mengkuatirkan kakak karena kandungan kakak sudah tinggal menghitung hari. Hehe kakak mau ajak Kayra belanja di sini." Keke menunjukkan sederetan baju- baju yang tertata rapi di gantungannya.
"Kak Keke? Kita belanja di rumah? Bagaimana bisa?"
Kayra keheranan melihat banyaknya baju yang dibawa ke rumah Erlangga. Bajunya dikenali Kayra rancangan designer terkenal baik tanah air juga manca negara. Dia hafal dari logo merk baju seperti punya Cerry. Bandrol harga juga tidak main- main semua diatas dua jutaan. Terlihat dari harganya yang selangit baju- baju itu tentunya hanya mampu dibeli orang- orang berduit.
"Ini salah satu 'Mobil Market' nya kak Raka. Kamu boleh memilih sesuka mu. Anggap itu hadiah dari kakak iparmu." Keke menjelaskan usaha baru suaminya. Membuat Kayra terkagum - kagum, ini benar- benar butik berjalan. Selain baju- baju mahal juga ada asesoris dan sepatu. Semuanya berkelas. Membuat Kayra cukup kebingungan memilih baju yang disukainya. Akhirnya pilihannya jatuh pada empat dress dan sepasang flatshoes. Kalau ditotal menurut perhitungan Kayra itu sudah dua puluhan juta.
"Kak Keke, aku ambil ini, kebanyakan ya?" Tanya Kayra ragu.
"Gak papa dek. Ambil aja. Kalau ada yang mau kamu ingin ambil aja." Tawar Keke tulus.
"Makasih Kak, ini sudah cukup banyak ." Kayra begitu bahagia dengan kebaikan Keke. Ia pun pamit untuk menyimpan baju- bajunya. Sementara Keke memeriksa dan memilih beberapa baju lagi yang cocok untuk Kayra. Ada sekitar dua puluh baju, diberikannya pada pembantu untuk diantarkan ke kamar Kayra juga lima pasang sepatu lagi. Tentu saja Kayra sangat terkejut dan bahagia mendapat hadiah sangat banyak dari kakak iparnya.
__ADS_1