Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Bingkisan Manis


__ADS_3

Akhirnya Kayra menemukan pangerannya.


Dariel mengawasi orang- orang yang sedang menurunkan barang. Saat pandangan mata mereka bertemu, Dariel melambaikan tangan dan segera menghampiri Kayra.


"Rara. cinta ku....kamu cantik baget." Dariel memandang Kayra dengan penuh cinta dan kerinduan? padahal tiga jam lalu


mereka baru bertemu. Dariel mengeluarkan sebuah bingkisan kecil dari balik kantongnya. Kemudian menyerahkannya kepadanya.


"Apa ini Yang?" Tanya kayra penasaran.


Dariel tersenyum simpul " sebuah bingkisan manis untuk Cinta ku yang paling manis."


Kayra tersipu, dan segera menerima bingkisan pemberian Dariel. "Bolehkah ku buka sekarang?"


"Buka aja."


Kayra segera membukanya dan tidak menyangka akan apa yang ada di dalamnya. "Coklat?"


"Cinta suka coklat kan?" Tanya Dariel sedikit ragu melihat raut muka Kayra yang sedikit kecewa.


Kayra sedikit ragu untuk berkata jujur


pada Dariel, ia takut membuatnya bersedih. Tapi lebih baik memulai hubungan dengan kejujuran, dari pada gara- gara sebatang coklat hubungan mereka menjadi canggung. Ia gak mau sok manis hanya untuk menyenangkan orang lain. Dengan keterbukaannya Kayra berharap untuk bisa memahami dan dipahami kekasihnya.


"Maaf sayang, sudah dari kecil aku gak suka coklat. Gigi ku pernah sakit sampai hampir seminggu gara- gara makan coklat. Setelah gigi ku sembuh, aku tidak lagi suka coklat sampai sekarang." Kayra menjelaskan dengan penuh penyesalan karena tidak bisa menerima pemberian Dariel.

__ADS_1


"Apa cinta ada alergi coklat?" tanya Dariel memastikan, karena setahu dia tidak ada seorang cewek pun yang tidak suka coklat. Apalagi kalau diberikan dengan penuh cinta dari kekasihnya.


"Sepertinya sih gak alergi coklat, karena aku sangat suka brownis ekstra drak chocolete. Juga es krim coklat aku juga bisa makan. Cuma untuk chocolate batang yang seperti ini, aku gak bisa makan." Kayra menjelaskan.


"Oh... gitu ya?" Sambil menimbang- nimbang akhirnya Dariel pun berniat untuk meminta kembali coklat yang telah diberikannya pada Kayra. "Kalau gitu, kuminta kembali aja coklatnya. Lain waktu kuganti dengan sesuatu yang Cinta sukai."


Kayra merasa gak enak juga, masak ia kembalikan pemberian kekasihnya.


Em... gimana ya? Aha... aku ada ide gumamnya pelan. "Coklatnya gak ku kembalikan, nanti biar dibuat campuran kue brownis saja. Gak pa pa kan?" Tanya Kayra penuh harap.


"Gak pa pa terserah Cinta aja. Maaf ya kali ini belum bisa ngasih sesuatu yang manis buat Cinta ku." Sesal Dariel.


"Udah gak pa pa, aku udah sangat senang karena Sayang dah datang ke rumah. Apalagi kasih senyuman paling manis buat ku. Itu sudah cukup buat aku terancam kena Diabet kalau sering liatnya. Hehehe." Canda Kayra menghibur Dariel.


"Kamu tuch ya cinta.... bikin aku gemassss.," Sambil mencubit gemas pipi Kayra.


Tanpa mereka sadari, ada se pasang mata mengawasi mereka dengan amarah yang meluap - luap.


Saat melihat Kayra lari menghindarinya, Dariel segera mengejarnya. Di dalam rumah Kayra langsung mengubah ekspresinya, seakan sebelumnya tidak pernah terjadi apa - apa.


Bik Sari sedang menyiapkan minuman untuk orang - orang yang sedang kerja. Kayra segera menghampiri bik Sari, "Bik, ajari Kayra bikin brownis ya." Rayu Kayra membuyarkan kesibukan bik Sari.


"Sekarang kah Non bikinnya?" Tanya bik Sari yang merasa sedikit terganggu dengan tingkah Kayra yang terlihat tak sabaran.


"Iya Bik, sekarang bisa?" Tanya Kayra semakin antusias. "Bahan - bahannya ku siapin ya bik?" Kayra tidak membuang - buang waktu. Ia segera menyiapkan semua bahan juga peralatan yang akan digunakan.

__ADS_1


Karena Kayra sebenarnya sudah sering bikin brownis, namun kali ini ia kangen ingin merasakan brownis buatan bik Sari yang sangat enak.


"Brownis kukus ya Non?" Tanya bibik saat melihat bahan dan alat yang sudah disiapkan Kayra. "Semua sudah lengkap, berarti Nona sudah bisa dong buat sendiri?" Tanya bik Sari menyelidik.


"Sudah bisa bik, tapi tidak seenak buatan bibik. Bibik buatin ya... Kayra kangen brownis buatan bibik." kata Kayra sambil memelas.


Mereka segera bersibuk ria membuat brownis. Kayra hanya membantu melihatin saja. Karena kali ini ingin benar- benar memperhatikan dengan cermat cara kerja Bik Sari setiap stepnya agar ke depannya ia bisa membuat brownis selezat buatan bik Sari.


Dariel masih terus mencari Kayra. Namun saat melihat Kayra asyik masak di dapur bersama seorang wanita paruh baya ia tersenyum simpul. Gadis pujaannya terlihat sangat menarik hati saat sibuk memasak di dapur. Kayra memenuhi semua kriterianya menjadi calon istri idaman. Dariel kemudian memilih untuk menyibukkan diri mengatur orangnya agar bekerja dengan baik sehingga bisa cepat selesai dan rapi.


Setengah jam kemudian brownis buatan Bik Sari sudah matang. Kayra sangat senang melihat hasilnya yang sangat menarik perhatian. pastinya ia akan segera menikmati coklat manis pemberian penuh cinta dari Dariel. Bik Sari membuat dua resep, supaya Kayra puas menikmati brownis kesukaannya. Kayra mengambil satu loyang brownis lalu mengirisnya dan menyusun dengan rapi diatas dipiring.


"Bibik, makasih ya, brownisnya enak... banget." Kata Kayra sambil mencium bik Sari. Kayra memang sangat menyayangi bik Sari dan menganggapnya seperti ibu sendiri. "Kayra mau bagi brownis ini sama temen gak pa pa ya bik?" Tanya Kayra meminta persetujuan bik Sari.


"Non ini sudah gede tapi masih saja manja, sana bagi buat temennya. Kalau habis bibik buatin lagi."


"Bik Sari emang paling the best." Sekali lagi Kayra mencium bik Sari dan berlalu pergi. Hati bik Sari seketika menghangat tak terasa air mata menetes dari pelupuk matanya yang mulai dihiasi dengan kerutan.


Hampir tiga puluh tahun pernikahannya dengan mang Ujang tapi belum juga dikaruniai anak. Bik Sari bersyukur karena Mang Ujang tetap setia. Kerinduannya mendapatkan momongan akhirnya terobati. Saat seorang pria bernama Mahendra membawa seorang anak perempuan kecil yang sangat lucu mampir ke warung sederhana bik Sari.


Anak perempuan itu berumur sekitar sembilan tahunan, rambutnya panjang dikuncir dua dan memakai baju kekecilan yang mulai lusuh. Namun mata anak itu berbinar - binar memancarkan cinta yang mendalam. Hingga bik Sari jatuh cinta kepadanya.


Mahendra saat itu seorang duda beranak satu yang tidak punya apa - apa. Sementara Kayra sudah kelas dua SD, sudah tidak mungkin lagi sering bolos dan selalu ikut bila ia harus pergi keluar kota, juga tidak mungkin ditinggalkannya di kos - kosannya sendirian. Sudah saatnya Kayra harus serius bersekolah.


Ketika melihat Kayra bisa segera akrab dengan bik Sari, Mahendra menyatakan niatnya untuk menitipkan Kayra setiap kali dirinya keluar kota menjajakan parfum. Seperti mendapatkan durian runtuh, bik Sari begitu bahagia, terlebih suaminya juga mendukungnya. Kayra merasa nyaman tinggal bersama bik Sari hingga membuat Mahendra lebih fokus dalam mencari terobosan usaha yang lebih menghasilkan.

__ADS_1


perjuangan dan dukungan orang- orang disekitarnya, membuat Mahendra meraih kesuksesan besar. Mahendra bukanlah orang yang mudah melupakan kebaikan orang terhadapnya. Ia tidak seperti kacang yang lupa pada kulitnya.


__ADS_2