
Erlangga mendekati ranjang Neta. Ia terkesiap. Wanita yang terbaring di ranjang bukan Neta yang dikenalnya.
"Siapa dia?" Tanya nya dalam hati. Neta menangkap reaksi terkejut Erlangga. Meskipun setelahnya Erlangga bersikap cukup normal. Namun Neta tahu kalau Erlangga pasti kebingungan melihat wajahnya telah berubah. Sebuah perubahan yang sangat drastis.
"Saya Neta Pak, ibu kandung Kayra." Neta berusaha menetralkan suasana. Ia tahu pak Erlangga pasti merasa sungkan untuk meminta kejelasan darinya.
Raut muka Erlangga semakin menunjukkan kebingungan. Bagaimana bisa? Bukankah ibu kandung Kayra sudah lama meninggal?
"Saya ibu kandung Kayra. Saya dan Mahendra berpisah saat Kayra masih sangat kecil. Kami takut perpisahan kami membuat tumbuh kembang Kayra terganggu. Jadi kami memutuskan membohongi Kayra untuk kebaikannya."
Sesaat Neta melirik ke arah Kayra yang memprotes kebohongannya. Ia melemahkan pandangan nya berharap Kayra bisa mengerti maksud kebohongannya. Ia benar- benar tidak ingin orang lain tahu mengenai masa lalu nya yang kelam.
Beberapa saat kemudian Kayra menganggukkan kepala. Memberi persetujuan pada kebohongan ibu nya.
"Empat tahun lalu, Mahendra mengabari kalau ia terkena kangker stadium tiga. Itulah saat saya datang masuk ke dalam keluarganya sebagai ibu tiri Kayra." Neta menghirup nafas berat. Masih terasa sakit kehilangan pria yang sangat dicintainya.
"Sekali lagi saya harus memerankan seorang ibu tiri yang jahat. Supaya Kayra tidak merasa terlalu kehilangan saat ayah nya meninggal. Saya salah. Kayra sangat terpukul atas kematian ayahnya." Neta mengambil jeda untuk mengumpulkan keberanian membuka lukanya yang terdalam. Setitik air mata lolos dari ujung matanya tanpa dapat dicegah.
"Empat tahun peran ini saya jalani. Bukan waktu yang singkat. Sebenarnya saya sangat tersiksa. Ingin segera memeluk Kayra dan mengatakan. Kayra kamu anak kandung ibu. Ini ibu mu nak... yang selama ini kau dengar telah meninggal." Hiks....hiks... Neta tersedu. Kayra bergegas memeluk ibunya. Ia tidak ingin melihat ibunya bersedih.
__ADS_1
"Ibu.... sudah ibu. Tidak perlu diteruskan. Ibu masih sakit. Jangan memaksakan diri ya..." Kayra sangat mengkuatirkan keadaan ibunya.
"Tidak Ra... semua harus jelas dari saat ini. Supaya pak Erlangga bisa menjadikan ini sebagai pertimbangan. Bagaimana pun niat pinangan Dariel untuk mu bukan suatu hal yang main- main. Keluarga yang dibangun diatas kebohongan tidak akan pernah bertahan."
Neta menepuk tangan Kayra seakan memberi tahunya kalau dia baik- baik saja dan Kayra tak perlu cemas.
"Saya sebenarnya malu mengakui kalau saya ibu kandung Kayra. Semua kejahatan yang telah saya lakukan pada anak saya sangat keterlaluan. Dan bodohnya saya saat menyesali masa lalu, saya mencoba mengakhiri hidup." Neta mengelus dadanya yang tertutup selimut.
"Kayra adalah anak semata wayang saya. Saya sangat bangga dengannya. Ia bertumbuh menjadi anak yang cantik, ramah dan baik hati. Dan yang paling membuat saya bahagia ia bisa menerima saya apa adanya."
Neta memberi jeda sesaat, memandang Kayra dengan penuh kerinduan. Seperti seorang ibu yang baru menemukan anak nya yang terhilang bertahun- tahun.
"Kalau saya pribadi tidak mempermasalahkan masa lalu keluarga Ibu. Karena sebenarnya selain janji saya dengan Mahendra untuk menjodohkan anak- anak kami. Saya melihat perilaku Kayra sangat baik. Jadi tidak ada alasan untuk saya membatalkan pertunangan mereka. Namun saya juga tidak akan memaksa atau menghalangi baik Dariel atau Kayra kalau mereka berubah pikiran." Erlangga terang- terangan melemparkan bola panas pada Dariel dan Kayra.
"Saya sangat mencintai Kayra, dan saya akan menikahinya." Dariel menatap Kayra dengan tatapan menuntut sebuah jawaban penerimaan. Seketika membuat Kayra gugup.
"E... kalau ibu menyetujui ?" Jawab Kayra gamang.
"Ra... ibu setuju kamu menikah dengan Dariel." Neta dengan semangat menjawab pertanyaan Kayra. Namun saat melihat Kayra seakan tidak percaya pada jawabannya, Neta menepuk bahu Kayra.
__ADS_1
"Nikah sekarang pun ibu setuju!" Kata Neta berapi- api.
Kayra langsung memeluk ibunya. "Trimakasih bu..." Dan air mata serta isakan lah yang selanjutnya berbicara antara ibu dan anak itu.
Bik Sari di pojok ruangan juga mendengar semua cerita Neta. Ia menghapus air mata dengan ujung lengan baju dasternya. Ia ikut berbahagia dengan kebahagiaan Kayra.
"Baik lah kalau begitu, setelah ibu Neta keluar dari rumah sakit kita akan segera adakan acara tunangan dan langsung pernikahan? Bagaimana? Setuju?" Tanya Erlangga penuh luapan kebahagiaan.
Baik Kayra, Dariel juga Neta menganggukkan kepala sebagai persetujuan atas rencana Erlangga yang mereka pandang baik. Canda tawa mulai membahana memeriahkan ruang perawatan Neta yang kaku. Hingga terusik saat Dariel melemparkan pertanyaannya.
"Sedari tadi saya tidak lihat Cerry? Oh iya apakah Cerry saudara kandung Kayra?" Dariel melemparkan pertanyaan yang membuatnya penasaran.
Neta tersenyum, ia juga harus meluruskan hal ini. Bagaimana pun ia harus memastikan Kayra tidak akan mengalami masalah di masa mendatang.
"Sebenarnya Cerry anak angkat ku. Ia seorang anak yatim piatu yang sedari bayi dirawat di panti asuhan. Saat saya melihat pertama kali saya seperti melihat Kayra. Hal mengejutkan lainnya, ulang tahun mereka sama persis. Cerry menjadi pelipur lara saat ke sendirian terpisah dari suami dan anak. Saya sudah menganggap Cerry sebagai anak kandung. Untuk kedepan juga akan tetap seperti itu. Ibu harap Kayra juga bisa memaafkan dan menyayangi Cerry selayaknya saudara."
Kayra mengangguk. Ia berjanji dalam hatinya untuk belajar menyayangi Cerry di masa depan tanpa mengingat kejahatannya di masa lalu.
Dibalik pintu ada seorang gadis menangis dalam diam. Air matanya mengalir deras. Cerry telah mencuri dengar pembicaraan mereka. Cerry sama sekali tidak menyangka kalau selama ini ia hanyalah seorang anak angkat. Mama Neta yang sangat memanjakannya ternyata hanya ibu angkat? Dan kejahatannya pada Kayra yang adalah anak kandung mamanya? Cerry menunduk kan wajah. Ia begitu malu pada diri nya sendiri. Bagaimana bisa ia begitu jahat pada anak asli ibu angkatnya? Sambil menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya ia berlari mencari tempat untuk bisa melampiaskan segala perasaannya. Pilihannya jatuh pada bangku taman rumah sakit. Disitulah ia terduduk dalam kegalauan hatinya. Ia ingin menolak semua kenyataan yang baru didengar nya. Kenyataan itu begitu menyakitkan baginya. Seandainya ia boleh memilih ia mau jadi satu- satunya anak kandung Mama Neta. Perhatian dan segala kelimpahan materi yang di dapatnya dari mama Neta sama sekali tidak ingin teralihkan dari nya. Cerry tidak pernah siap kehilangan.
__ADS_1