
Hai..... kenapa bengong disini...?" Seseorang menepuk bahunya. Suara wanita tinggi melengking mengejutkan Dariel juga Kayra. Bersamaan mereka menoleh kearah yang sama.
Kayra tidak menyangka kalau Dariel masih didapur. Karena sedang sibuk mempersiapkan segala yang diminta Dariel tadi. Dan selama ia berkutat didapur tidak ada sepatah katapun dikeluarkan Dariel. Hingga Kayra menyangka kalau Dariel sudah kembali ke ruang depan.
"Riel.... orang-orang sudah pada kelaparan di depan sana, kamu malah asyik menggoda gadis disini." Goda Tika salah satu karyawan De party.
"Nungguin piring." gerutu Dariel merasa terganggu.
Ia segera menyerahkan bungkusan kresek yang sedari tadi ia pegang. pegal juga tangannya. Dariel kemudian membantu Kayra membawa piring ke ruang depan.
"Ayo... makan bareng sama kita disini!" Bujuk Deni.
"Terimakasih... saya sudah masak tadi takutnya makanan gak kemakan." Jawab Kayra.
"Aku mau bantuin Kayra ngabisin makanan". Celetuk Dariel sambil mengerling penuh harapan pada Kayra.
Kayra mengangguk sekilas dan tersenyum.
Kayra dan Dariel melangkah ke dapur. Lebih tepatnya Dariel membuntuti Kayra. Saat Kayra melihat ada seekor kecoak lewat, ia berhenti tiba- tiba. Dariel yang berjalan tepat dibelakangnya menabrak hingga Kayra hampir jatuh tersungkur. Beruntung tangan kekar Dariel menangkap tubuh Kayra, dan membawanya dalam dekapannya. Kejadian dijembatan terulang kembali, namun kali ini Kayra pasrah. Ia tidak meronta ataupun berusaha melepaskan pelukan Dariel.
Ada perasaan aman dan terlindungi dalam dekapan Dariel. Kalau ia boleh meminta, ia ingin seperti ini, terus ada dalam dekapan Dariel. Beberapa saat terhenti, hingga mereka tersadar. Dengan gugup saling menjauhkan diri.
"Kayra... kamu tidak apa-apa?" Tanya Dariel sambil memperhatikan kaki jenjang Kayra yang tertutup rok selutut. "Maaf ya... aku menabrakmu tadi..."
"Gak pa pa... Makasih dah menolong jadi aku gak sempat jatuh." jawab Kayra sambil tersipu malu. "Aku ambilkan makanannya ya, kita makan ditaman aja, enak tempatnya." kata Kayra kemudian ia mengambilkan dua piring nasi kemudian ditaruhnya masing- masing sepotong ayam goreng, tempe goreng dan sesendok oseng kangkung. Dari pagi Cerry dan Neta pergi dari rumah. Sarapan yang sudah disiapkan Kayra pun tidak termakan, itulah yang menjadi menu makan siang mereka. Ditambah dua gelas es jeruk segar, cocok dinikmati disiang hari yang panas.
Mereka berjalan menuju halaman belakang. Dibawah tudungan payung taman, mereka menikmati makan siangnya. Dariel tidak mau menyia- nyiakan kesempatan ia harus memuaskan segala keingin tahuannya tentang Kayra.
"Kayra... apakah kamu masih sekolah?"
"Tahun ini aku lulus." jawab Kayra.
"Berarti kita sama- sama donk, aku juga lulus SMA tahun ini."
"Kamu sekolah di mana?"
__ADS_1
"SMA 13, bukan sekolah unggulan." Jawab Kayra rendah diri.
" Ya memang bukan sekolah unggulan, tapi tahun ini ada dua orang lulusan terbaik tingkat nasional dari sekolahan kamu."
"Aku pikir itu kebetulan saja." Kayra menjawab dengan enggan.
Dariel menatap Kayra dengan penasaran. "Kamu jurusan apa?"
"Ipa".
"Nama lengkap kamu, Kayra Mahendra?" Tebak Dariel.
"Benar, kok kamu tahu?" Kayra terkejut, hingga membuat sendoknya tertahan tidak jadi masuk mulut.
"Jadi Kamu yang dapat peringkat terbaik lulusan tahun ini untuk jurusan ipa?"
"Iya, tapi itu kebetulan saja." Jawab Kayra merendah.
"Wah.... kamu hebat Kayra. Aku saja yang mati-matian belajar gak dapat peringkat sebagus kamu." Dariel memuji Kayra dengan tulus. "Setelah ini kamu lanjut kuliah ke mana?"
"Aku masih bingung, sudah ada tawaran beasiswa dari Universitas Tunas Harapan tapi sepertinya aku tidak mungkin lanjut kuliah." curhat Kayra menumpahkan kesedihannya.
"Di sini aku cuma seorang pembantu, mana mungkin aku bisa sekolah tinggi?"
"Selalu ada jalan bagi orang yang berharap kepada Tuhan." hibur Dariel.
"Ya Riel... Aku ingin dapat gelar Sarjana Hukum. Aku ingin sekali jadi pengacara. Aku ingin membela orang- orang miskin yang tertindas, juga aku ingin memenjarakan orang yang telah membuat ibuku meninggal" Kata Kayra dengan pancaran penuh tekat.
"Jadi jangan putus asa ya... selalu berdoa kepada Tuhan dan berusaha, karena TUHAN yang akan menjadikan semua indah pada waktuNya." nasehat Dariel.
Ya... sebmoga, tapi aku bahkan tidak tahu caranya berdoa." Keluh Kayra. Dia merasa begitu nyaman ngobrol dengan Dariel sehingga semua kesesakan dijiwanya ingin dicurahkan.
"Berdoa itu, seperti kamu ngobrol dengan orang yang kamu sayangi, curahkan apa saja isi hatimu, keluh kesahmu, rencanamu bahkan juga mimpimu kepadaNya, maka apapun beban yang kamu rasakan Tuhan akan berikan kelegaan dan pertolongan." Kembali Dariel menasehati Kayra.
Tut...tut...tut..
__ADS_1
Suara panggilan di Hp Dariel dari papanya.
Dariel berjalan sedikit menjauh dari Kayra.
"Hallo....Ya pa,"
"Dariel masih di tempat klien kakak."
"Sebentar ya pa."
"ya baik pa.... Dariel segera pulang."
Dariel selesai menerima telephon dari papanya, Saat ia berbalik memandang Kayra. Ia tertegun terpana. Kayra sedang menggenggam beberapa batang bunga mawar. Ia terlihat sangat cantik. Dariel segera mencuri beberapa jepretan kamera mengabadikan kecatikan Kayra yang sangat menawan.
"Rara suka bunga mawar ya?" Tanya Dariel.
"Ya.... mawar merah sangat cantik dan wangi" Kayra mencium dan mengagumi keindahan bunga mawar yang dipegangnya. Sementara Dariel mengagumi kecantikan Kayra yang begitu natural tanpa polesan make up.
"Rara.... sebenarnya aku masih ingin ngobrol banyak sama kamu, tapi papa menyuruhku pulang sekarang karena ada acar keluarga yang mengharuskanku untuk datang."
" E... Bolehkah aku minta no Hp supaya aku bisa menghubungimu?" pinta Dariel.
"Maaf Riel aku tidak ada Hp." Sesal Kayra, Saat ayahnya masih ada ia sering dibelikan Hp keluaran terbaru, namun saat ayahnya meninggal hp nya telah dirampas ibu tirinya dan didepan matanya hp itu dibanting hingga hancur. Sejak itu ia tidak pernah pegang hp lagi.
"Oh.... Ok gak papa." Jawab Dariel memaklumi keadaan Kayra. "Aku pulang dulu ya..., makasih buat makan siangnya enak sekali dan juga trimaksih buat kesempatan ngobrolnya. Aku harap bisa segera bertemu lagi." Darielpun berpamitan pulang.
Kayra segera membereskan piring-piring bekas makan dan segera mencucinya di dapur. Tidak lupa meletakkan bunga mawar yang telah dipetiknya tadi pada vas kristal yang telah diisinya dengan air. Sementara Dariel meninggalkan rumah Kayra dengan berat hati.
Orang-orang dari EO De party masih sibuk berkutat pada pekerjaannya. Target mereka hari ini harus selesai membangun interior bangunan sebuah Kastil dari batu bata, dan akan dilanjutkan di pagi hari-H nya untuk membuat rangkaian berbagai bunga segar. Karena acara pesta akan dilaksanakan pada malam harinya.
Hari sudah mulai gelap saat mereka menyelesaikan dekorasinya. Mereka berpamitan pada Kayra.
Setelah kepulangan orang-orang De party, Kayra segera membersihkan lantai ruang depan yang baru didekor. Sebersit ada rasa cemburu mengingat acara ulang tahun Cerry dipersiapkan begitu mewah. Sementara ulang tahunnya? apakah ibu Neta mengingatnya? apakah seperti tahun kemarin, ia diabaikan, ditinggal sendirian di rumah. Tidak ada sebuah pun kado yang ia terima. Bahkan tidak ada seorangpun yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Sedangkan Cerry berpesta bersama mama dan teman-temannya disebuah hotel mewah. Mendapatkan segunung kado yang tidak dihargainya sama sekali. Hanya kado dari teman- teman se-ganknya saja yang dibukanya. Sementara kado yang lain disuruh membuangnya. Tentu saja Kayra tidak tega, dengan sembunyi-sembunyi ia buka kado itu, menikmati saat-saat hatinya mulai penasaran apa isi kado- kado itu? Dalam hati Kayra menganggap bahwa kado-kado itu untuknya dari teman- teman yang belum ditemuinya. Memikirkan itu membuat hatinya berdesir perih.
__ADS_1
Kapan giliran buat Kayra bisa merasakan kebahagiaannya?
Tok.....tok....tok..