
Kayra sedang melamun memikirkan Dariel saat ia mendengar Ratih berbisik. Kayra langsung menoleh memandang Ratih. Mata mereka bersirobok saling menatap. Ratih sedikit kikuk namun dengan hitungan detik ia bisa menguasai diri dan bersikap biasa.
"Ra... kamu melamun?"
"E... sedikit. Tadi aku pergi dengan emosi sehingga tidak sempat berpamitan." Kayra tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Telepon aja sekarang supaya keluargamu tidak kuatir. Nanti di Jakarta kalau tidak ada tempat tinggal, kamu bisa tinggal di tempat ku. Juga kalau mau kerja kebetulan ada lowongan di toko."
"Ehmmm sebenarnya aku pergi tadi tidak sempat bawa apa- apa. Hp ku ketinggalan."
"Kalau mau pake hp ku." Ratih menawarkan bantuannya. Ia menyodorkan hp nya pada Kayra.
"Aku gak hafal no hp nya." Kayra belum hafal no hp Dariel. Sejak kecelakaan hingga saat ini belum pernah sekalipun ia menyentuh hp. Hampir sebulan.
"O.... kalau gitu nanti kalau sudah sampai kirim surat saja." Ratih tersenyum dalam hatinya ia membatin.
__ADS_1
"Benar- benar mangsa empuk. Seorang gadis cantik, lugu, dan polos. Hahahah. Sebentar lagi aku akan dapat uang banyak."
Kayra jelas sekali mendengar kata hati Ratih. "Apakah ini beneran suara hatinya Ratih, mengapa ia jahat sekali? Bagaimana aku bisa tiba-tiba punya kemampuan khusus ini? membaca pikiran orang dan tahu isi hatinya orang lain?" Kayra tidak menyangka ia akan mendapatkan kemampuan khusus sama seperti yang dimiliki Dariel. Tinggal satu kemampuan khusus yang belum bisa dilakukannya, berteleportasi.
Suara- suara hati orang disekelilingnya seketika berdengung masuk dalam pendengarannya. Ada yang mengeluh dengan nasib nya. Ada yang menangisi anak yang terpaksa ditinggalkan demi mencari nafkah ke kota. Suara- suara itu datang tindih menindih. Seketika kebisingan menyumpal kedua telinga Kayra. Spontan Kayra menutup kedua telinga dengan kedua belah tangannya. Berharap mendapat ketenangan. Bukannya hilang suara- suara itu tetap bergemuruh seperti keramaian pasar senggol. Gaduh dan sangat berisik. Padahal saat itu sudah tengah malam dan hampir sebagian besar penumpang KA tertidur. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya dia saat siang hari, ketika semua orang dalam keadaan bangun.
"Ra.... ada apa? Apa yang terjadi pada mu?" Sebuah tangan menepuk- nepuk pundak Kayra membuatnya terkejut.
"A... aku... tidak apa -apa." Kayra menangis dalam diam. Hanya air matanya yang mengalir deras membasahi pipinya. Seandainya ada Dariel di sini, ia pasti akan membantunya.
"Ratih... aku tidur dulu ya. Kejadian hari ini membuat ku sangat lelah." Kata Kayra sambil menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Dua orang ibu-ibu yang duduk dibangku dihadapannya sudah tidur sedari sore. Sementara bangkunya ditempati bersama Ratih. Terpaksa ia harus tidur dengan posisi duduk, karena ia hanya dapat tiket kelas ekonomi. Sebenarnya saat membeli tiket, Bapak Sukar sudah memesan kelas bisnis namun sudah penuh. Tersisa kelas ekonomi yang mau tak mau harus diterimanya. Tentunya tidak sopan kalau ia menolaknya. Lagi pula pak Sukar sudah banyak menolongnya.
Kayra mengangkat kakinya dan duduk meringkuk. Empat jam perjalanan telah membuat kakinya kesemutan. Kayra tidak mau menyia- nyiakan waktu. Ia harus bisa menguasai suara gaduh di gendang telinganya. Supaya saat banyak orang terbangun besok tidak membuatnya gila.
Ia mulai berkonsentrasi. Matanya terpejam, ia mulai berusaha menajamkan telinga hanya pada satu suara. Suara Ratih di sampingnya. Saat ia mencoba berkonsentrasi pada satu suara maka suara yang lain mulai terdengar samar. Namun saat ia lengah serta- merta suara- suara itu menyeruak masuk dalam lubang telinganya. Seperti bendungan jebol memuntahkan air. Membuat Kayra terjengat kaget. Ia harus berusaha lebih keras. Saat Kayra berusaha berkonsentrasi ternyata ia harus mengeluarkan tenaga ekstra. Hingga titik - titik keringat merembes keluar, menghiasi dahi.
__ADS_1
Berjam- jam Kayra berusaha menaklukkan kemampuan khusus yang baru di dapatnya. Hingga tak terasa semburat terbit matahari mengusik konsentrasinya. Ia pun membuka mata. Dipandangnya sekeliling gerbong yang ditempatinya. Sudah banyak orang terbangun. Semerbak wangi kopi melingkupi gerbong itu. Banyak yang sudah bangun namun ia tidak mendengar suara gaduh semalam. Kepalanya terasa pusing, mungkin efek usaha kerasnya semalaman.
"Sudah bangun Ra...., aku pesankan nasi rames dan teh hangat sebentar lagi pasti diantar." Kata Ratih dengan lemah lembut. Namun Kayra yang mengetahui maksud jahat Ratih sangat dongkol.
"Aku mau ke toilet dulu. Dimana ya toiletnya?" Kata Kayra mengalihkan pembicaraan.
"Didepan dan dibelakang ada." Ratih menunjuk ke arah sambungan gerbong kereta.
"Makasih ya... aku ketoilet sebentar." Kayra berusaha tetap ramah pada Ratih. Ia takut Ratih akan membiusnya saat Ratih menyadari rencananya sudah diketahui Kayra. Kayra berjalan menuju toilet, di depan pintu gerbong ada dua orang berdiri mengantri. Seorang ibu dan seorang pria muda seumuran dengannya. Saat mendapat giliran si pria mempersilahkan ibu itu untuk duluan memakai toilet. Kemudian Kayra, baru pria muda itu. Kayra sempat terkagum pada pria yang telah memberikan kesempatan baginya untuk bisa memakai toilet lebih dulu. Juga pria itu cukup ganteng, ada pesona yang memancar dari dalam dirinya. Kayra tersenyum dan hanya geleng-geleng kepala. "Dariel... satu- satunya orang yang aku cintai dan aku nikahi nanti, tidak ada yang lain." Gumamnya dalam hati. Ia segera menyelesaikan urusannya di toilet. Kemudian membasuh wajah, tangan dan kaki. Setidaknya cukup membuat badannya terasa segar. Ia bergegas keluar. Di depan pintu toilet pria itu tersenyum ramah padanya.
"Makasih ya mas." Kayra segera berlalu menuju bangkunya. Ratih sudah menunggu, ada dua bungkus nasi dan dua gelas teh hangat. Ia segera menawarkannya pada Kayra sesaat setelah Kayra duduk di kursinya.
"Trimakasih Ratih, kamu baik banget." Kata Kayra tulus. Ratih hanya mengangguk. Ratih segera membuka nasi bungkusnya dan makan dengan lahapnya. Kayra sedikit ragu, jangan- jangan dimakanan atau minumannya ada racun atau obat bius yang dimasukkan Ratih. Seakan tahu kebimbangan Kayra, Ratih menegurnya.
"Ra... makan aja, aman kok. Aku tidak kasih racun atau obat. Heheheh jangan takut. Makanannya cukup higienis dan enak.
__ADS_1
Kayra merasa tidak enak hati telah menuduh Ratih sedemikian. Ia pun segera membuka dan melahap nasi bungkusnya. Ternyata sangat nikmat sekalipun menu nya cukup sederhana namun sangat pas dinikmati dalam perjalanan kereta api. Nasi hangat dengan lauk telur bumbu balado, mie goreng dan orek tempe. Sangat lezat dilidah Kayra. Iapun menghabiskan segelas teh hangat. Kayra merasa kenyang, tak berapa lama rasa kantuk menyerangnya.