Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Janji Baru


__ADS_3

Sesaat Kayra terdiam, tidak tahu jawaban apa yang seharusnya diberikannya.


"Ra... mengasuh anak bukan sekedar memberi makan. Tapi juga kasih sayang. Kalau Rara berniat mengadopsi babby M. Rara juga harus memberikan kasih sayang pengganti mama dan juga papanya. Rara juga tidak bisa membuat keputusan sepihak. Ingat, perkembangan psikis anak sangat dipengaruhi dari hubungan papa dan mamanya, yang dilihat setiap hari. Apakah Rara mengerti hal ini?" Tanya ibu Neta memastikan.


Kayra mengangguk, ia mengerti maksud perkataan ibunya.


"Iya Bu, Rara mengerti. Rara juga akan memperbaiki kesalahan. Rara tidak akan bercerai dengan Dariel. Kami akan menyelesaikan masalah dengan lebih baik. Terutama Rara tidak akan gegabah lagi dalam membuat keputusan. Rara sangat cinta sama Dariel juga Babby M, kami akan selalu bersama untuk saling mendukung."


Jawab Kayra dengan sebuah komitmen baru. Ia merasa keputusannya meninggalkan Dariel, bukan keputusan bijak. Kayra berniat akan membicarakan itu kembali dengan suaminya. Apalagi masalah wanita bercadar yang mengancam akan mengambil babby M. Ia merasa, itu bukan ancaman kosong.


Tok...tok... tok..


Suara ketukan pintu menarik perhatian. Kayra bergegas membukakan pintu. Diluar ada seorang pelayan membawakan tiga gelas minuman dingin.


"Nyonya muda, saya buatkan minuman buat nyonya dan ibu nyonya. Pastinya haus sepulang dari acara penguburan." Kata sang pelayan wanita paruh baya menyerahkan nampan kepada Kayra.


"Bawa ke teras belakang, kami akan menyusul ke sana," kata Kayra halus. Ia mengantisipasi kalau Dariel akan segera datang. Pastinya ia lelah setelah sehari semalam menjagai papanya, juga segala persiapan acara pemakaman hari ini. Ia ingin mengajak keluar ibu dan neneknya, agar Dariel nanti bisa langsung istirahat di kamar.


Ibu dan nenek Sari mengajak serta babby M ke teras belakang. Mereka melanjutkan bincang-bincangnya. Sampai seorang pelayan memberi informasi pada Kayra bahwa Papa Erlangga dan suaminya telah sampai di rumah.


Kayra menitipkan babby M pada ibu Neta yang dengan takut-takut menerima dan menggendongnya. Sementara ia segera bergegas menuju ke kamarnya. Ia melihat Dariel sudah berbaring dengan kaki terjuntai di lantai dengan baju dan sepatu lengkap dari acara pemakaman.


Kayra berinisiatif melepaskan sepatu Dariel dan memposisikan tubuh Dariel berbaring dengan nyaman.


"Ra... sini, berbaringlah di dekatku, supaya aku bisa melepaskan lelah." Dariel mengundang Kayra untuk berbaring di dekatnya.

__ADS_1


Kayra ragu. Ia masih terpaku di tempatnya berdiri.


"Riel... kamu tidak marah padaku?" Tanya Kayra memastikan. Ia tahu perbuatannya saat tidak sadar telah membuat Dariel menderita dan harusnya keputusannya meninggalkan Dariel tidak diubah lagi. Namun Kayra tidak ingin berpisah dengan babby M juga dengan Dariel. Karena perpisahan itu sangat menyakitkan baginya.


"Ya aku marah banget saat kamu membuat keputusan sendiri. Ra... bukankah masalah kutukan Rara Jonggrang dan Pangeran Bondowoso sudah pernah kita bahas? Kita tidak akan berpisah karena hal itu. Kita akan berjuang bersama-sama menghadapinya. Ingatlah Ra... meskipun kita berjauhan, kalau kutukan itu bekerja, meskipun kita terhalang jarak. Roh jahat itu akan menyetirmu dan memburuku. Jadi keputusanmu bercerai bukan solusi."


Kata Dariel, ia bangun dan bersandar di kepala ranjang. Matanya memerah, nampak raut kelelahan membayang dipancaran matanya yang sayu.


Kayra tidak tega melihat kelelahan suaminya. Ia mendekati Dariel menawarkan pijatannya. Dariel mengangguk menyetujui, karena baru kali ini badannya dipijat terlebih sama orang yang dicintainya.


Kayra tidak tahu dari mana ia akan memulai. Ia ingat salah satu tayangan iklan minyak gosok. Orang yang dipijat berbaring tanpa mengenakan baju. Ia pun menyuruh Dariel membuka baju dan kaos dalamnya hingga berte lanjang dada.


Kayra mulai menggosokkan minyak kayu putih disekujur punggung Dariel. Seketika rasa hangat terserap kebadan Dariel membuat rasa capek dan penat menghilang sempurna. Dariel masih ingin berlama-lama merasakan sentuhan lembut tangan Kayra di punggungnya. Membuat senjatanya terkokang sempurna.


Dariel tidak bisa menahan hasratnya lebih lama. Ia berbalik dan menangkup Kayra dalam pelukannya. Kayra yang tidak waspada seketika jatuh menimpa dada suaminya. Bibir mereka tak sengaja bersentuhan. Seketika, suasana romantis menghinggapi hati kedua orang itu. Mereka saling melepaskan kerinduan yang tertahan. Sore itu mereka mengikat sebuah janji baru.


Tubuh mereka berpeluh, hati menghangat dan bibir mereka dihiasi senyuman kebahagiaan dan kepuasan.


Kayra membiarkan Dariel tertidur. Sementara ia segera mandi dan bersiap. Ia teringat babby M sedang bersama ibu dan neneknya di teras.


Saat ia mencari ibu dan neneknya di teras, mereka sudah tidak di sana lagi. Kayra bertanya pada seorang pelayan dan memberitahunya bahwa nenek dan ibunya sedang di kamar tamu. Kayra mengetuk salah satu kamar yang ditunjukkan pelayan padanya.


Tok... tok.. tok..


"Ibu..." Panggil Kayra. Tak berapa lama nenek Sari yang membukakan pintu.

__ADS_1


"Masuk Ra... Babby M tidur, makanya kami bawa kemari. Acara ibadah penghiburan nanti malam jam berapa Ra...?" Tanya nenek Sari.


"Jam tujuh Nek, sejam lagi. Ibu mana? Tanya Kayra penasaran karena tidak melihat keberadaan ibunya.


"Ibu mu sedang mandi." Kata nenek Sari.


"Nenek sudah bersiap?" Tanya Kayra mengagumi neneknya meskipun baju yang dikenakan cukup sederhana namun tetap berkelas. Berbeda penampilannya saat ia masih berstatus sebagai pembantu.


"Nenek cantik sekali." Kata Kayra seraya memeluk dan mencium neneknya.


"Oh ya Nek... bisakah Rara nitip babby M? Rara mau memastikan persiapan acara untuk sore ini sudah siap semua apa belum."


"Iya Ra... gak papa... waktu acara biar nenek yang jagain babby M . Lagian gak bagus kalau bayi sekecil itu bertemu banyak orang. Takutnya kena virus atau penyakit."


Kata nenek Sari menawarkan bantuan. Usul nenek Sari sangat membantu Kayra. Karena saat acara nanti ia pasti sibuk mengurusi tamu juga papa Erlangga.


"Nek, Rara lihat dulu persiapan acara sore ini ya?" Pamit Kayra meninggalkan kamar nenek Sari.


Kayra menuju ruang tamu, semua kursi sudah tertata rapi. Juga tenda besar dihalaman sudah terpasang dengan baik dan bangku-bangku sudah tersusun. Karangan bunga ucapan bela sungkawa disusun mengelilingi seluruh halaman.


Saat membaca salah satu karangan bunga, air mata Kayra mengalir membasahi pipinya. Ia masih belum bisa menerima kalau kak Raka dan kak Keke sudah meninggal dunia. Buru-buru dihapusnya air matanya. Ia tidak ingin terlarut dalam kesedihan mengenang mendiang kedua kakak iparnya.


Kayra kembali memeriksa dapur, memastikan catering nasi kotak yang dipesannya sudah datang. Ternyata nasi kotak itu baru saja diantar dan sedang diatur para pelayan rumah besar.


Ia memeriksa sebuah nasi kotak. Menunya cukup pantas untuk disajikan diacara nanti. Ia sengaja memilih nasi kotak untuk alasan kepraktisan. Juga kalaupun nanti ada sisa nasi kotak, bisa disumbangkannya ke panti asuhan ataupun tetangga sekitar.

__ADS_1


Terakhir, Kayra memeriksa keadaan mertuanya. Ia mengetuk kamar papa Erlangga. Namun beberapa kali ia mengetuk, tak juga ada jawaban. Ia berusaha membuka pintu, namun pintu terkunci. Hati Kayra semakin cemas, saat ia memusatkan kosentrasi ia tidak mendengar apa-apa di kamar papa Erlangga.


Kayra memanggil pak Hasan kepala pelayan untuk mengambilkan kunci duplikat. Pintu kamar papa Erlangga akhirnya bisa dibuka. Saat mereka melongok ke dalam kamar papa Erlangga, betapa terkejutnya mereka.


__ADS_2