Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Setitik Harapan


__ADS_3

Vidio pun mulai main. Dalam vidio terlihat latar belakang gelap. Samar- samar terlihat dua sosok datang mendekat. Sekalipun tidak terlalu jelas dapat dipastikan dua sosok yang berjalan mendekat itu adalah seorang pria dan seorang wanita. Terdengar juga gurauan yang tidak terlalu jelas. Kemudian dua sosok itu berhenti berhadapan saling bergandeng tangan. Tiba-tiba ada cahaya putih menyelubungi mereka dan seketika dua orang itu menghilang. Vidio rekaman pun berakhir.


Rahardian berulang- ulang memutar vidio. Tidak terlihat trik apapun. Ia mencoba meneliti durasi waktu pengambilan vidio. Menunjukkan vidio baru saja diambil sebelum ia temukan hp itu terjatuh di jalan. Sebuah rekaman asli belum mengalami proses editing sama sekali. Beberapa saat ia fokus pada dua orang dalam vidio itu. Ia merasa familier dengan dua orang dalam rekaman itu. Membuatnya semakin penasaran.


Rahardian mengambil laptopnya dari dalam tas. Ia mentransfer vidio itu ke dalam laptop. Berjam- jam ia habiskan waktu untuk menganalisa vidio itu. Hari sudah lewat tengah malam saat ia benar - benar yakin dengan analisanya. Ia segera mengirim vidio dan hasil analisanya pada tangan kanan bos besar. Juga tidak lupa minta pembatalan keberangkatannya ke Jakarta besok pagi.


Rahardian berniat akan melakukan penyelidikan lebih dalam. Ia tidak sabar menunggu matahari terbit. Setiap kali ia mulai menemukan titik terang dari sebuah misteri yang diselidiki membuat adrenalinnya terpacu. Seerti saat naik rollercoster meluncur cepat pada lintasan yang sangat tinggi. Ini juga seperti seorang pembalap di lintasan pacuan. Mungkin juga seperti anak-anak gadis tanggung yang berbondong- bondong masuk wahana rumah hantu. Adrenalin yang membangkitkan getaran semangat baru. Semangat Rahardian begitu berkobar- kobar. Namun ia berusaha menguasai diri, sekalipun otaknya ingin terus bergelut dengan misteri di depannya. Tubuhnya perlu istirahat. Diambilnya botol obat dari saku tas ranselnya. Langsung ditegaknya dua butir dengan bantuan sebotol air mineral.


Rahardian membaringkan tubuhnya diatas springbad yang mulai rusak pegasnya. Matanya menerawang memandang langit- langit kamar kos yang kosong. Akhirnya ada setitik harapan di depannya. Mulai terkuak misteri menghilangnya gadis rumah sakit. Ia sangat yakin bahwa ada hubungan antara Kayra dengan gadis dalam vidio. Namun yang membuatnya tidak habis pikir bagaimana pemuda - pemudi itu menghilang dalam kilatan cahaya. Besok pagi ia akan mengorek informasi dari Drajat si pemilik hp.


Obat yang diminum Rahardian mulai bereaksi. Kantuk datang membuai tidurnya. Rahardian jatuh tertidur tanpa mimpi.


Dipojok ruangan ada sepasang mata tak terlihat. Mengawasinya dan menyunggingkan seringai.


"Tidak semudah itu rahasia ku terbongkar. Kalau tiba waktunya, aku sendiri yang akan membukanya."


Gumam sosok misterius dari tempat persembunyiannya. Ia segera menyabotase handphone juga laptop Rahardian. Semua data-data yang ada di laptop juga di hp dihapusnya.

__ADS_1


"Tinggal satu lagi...membereskan pak Drajat."


Sosok misterius itu menghilang dari kamar Rahardian untuk melanjutkan rencananya.


Sinar matahari menerobos ventilasi kamar berukuran tiga kali tiga meter itu. Mengusik Rahardian yang baru saja membuka mata dan melihat jam dinding. Sejenak ia mengingat- ingat kejadian tadi malam. Seketika ia bangkit dan bergegas ke kamar mandi. Ada pekerjaan mendesak yang harus segera ia kerjakan.


Setengah jam ia menyelesaikan mandi dan urusan lainnya. Segera ia keluar dari kamar kosnya berjalan menuju alamat Drajat yang sudah ia hafal diluar kepalanya. Ia cukup berjalan kaki, karena alamat Drajat hanya satu blok jauhnya tidak lebih satu kilometer.


Kurang dari seperempat jam Rahardian sudah berdiri di sebuah rumah kecil berpagar hijau dengan nomer rumah O8. Tanpa ragu ia mengetuk pintu rumah itu. Tidak beraa lama muncul seorang wanita berdaster dengan keadaan yang masih acak-acakan baru bangun tidur. Sepertinya wanita itu istri pak Drajat.


"Selamat pagi bu, pak Drajat ada? Saya ada urusan sedikit dengan bapak." Kata Rahardian dengan ramah.


"pak....pak...!" Istri pak Drajat kebingungan mencari suaminya. Ia bolak- balik ke kamar, ke dapur, keruang depan. Teriakan bu Drajat menarik perhatian Rahardian. Ia pun masuk ke dalam rumah.


"Ada apa Bu?" Tanyanya saat melihat bu Drajat kelihatan kebingungan.


"Maaf mas, pak Drajat tiba - tiba menghilang. Padahal tadi waktu saya tinggal buka pintu. Si bapak masih tidur. Sekarang tidak ada di manapun."

__ADS_1


"Bagaimana bisa Bu?" Rahardian sangat kecewa, mendapati pak Drajat saksi mata yang akan sangat membantunya tiba- tiba hilang begitu saja? Harusnya malam itu ia langsung bergerak. Sekarang tinggal penyesalan. Atau mungkin saja pak Drajat kabur saat melihat ia datang? Ia segera berpamitan. Rahardian menyisir jalanan berharap bisa menemui pak Drajat di suatu tempat.


Ada panggilan masuk di hp nya. Dengan malas diterimanya panggilan tanpa melihat siapa yang menghubungi.


"Halo, rupanya sudah bosan kerja dengan kami ya?" terdengar suara tegas dan mengancam dari seberang. Rahardian mengenalinya sebagai suara Dio, klien paling royal. Sekaligus bos yang paling kejam.


"Hallo, maaf bos? apa maksudnya?"


"Belum jelas ya perintah saya kemarin sore?"


"Maaf bos, saya sudah kirim pesan tadi malam. Untuk pembatalan keberangkatan saya ke Jakarta."


"Pesan apa? Tidak ada satu pun pesan yang aku terima. Aku tidak mau tahu, segera berangkat ke Jakarta!"


"Baik bos."


Orang diseberang telah mematikan panggilan telephonnya. Rahardian termangu ia hanya bisa geleng- geleng kepala. Bagaimana mungkin pesannya tidak terkirim ke bos Dio? Mungkin saja kuotanya habis. Ia membuka histori pengiriman pesannya. Tidak ada pesan untuk bos Dio. Ia segera membuka- buka galeri vidio namun yang dicarinya tidak ada. Bagaimana bisa? Ia segera bergegas menuju kos- kosannya. Pertama kali yang ia lakukan segera menyalakan laptop nya dan mengecek file yang disimpannya semalam. Tidak ada apa pun di sana. File yang telah dikerjakan semalaman raib tak berjejak. Harapan satu- satunya ada pada hp Drajat yang ia temukan semalam. Ia masih ingat menyimpannya dalam laci lemari terkunci rapat. Lemari dan laci masih dalam kondisi terkunci namun hp yang diketemukannya semalam tidak ada.

__ADS_1


Rahardian terduduk lesu di kursi kayu.


"Semalamam aku tidak mabuk, bagaimana mungkin ini terjadi?" Rahardian tidak habis mengerti akan apa yang terjadi padanya. Apakah kejadian semalam hanya mimpi? Ia memukul - mukul kepalanya berharap ada sesuatu yang bisa diingatnya.


__ADS_2