
"Ibu dari mana? Mengapa sampai berada di tempat sepi ini?" Tanya sang pria penasaran.
Kayra sesaat terkesiap, jawaban apa yang seharusnya dia berikan? Agar pasangan suami istri yang memberinya tumpangan tidak curiga padanya? Sesuatu terlintas dalam fikirannya, serta merta Kayra memasang wajah sedih.
"Kami ingin ke kota mencari suami, ayahnya Rino yang sebulan pergi ke kota dan gak ada kabar beritanya. Waktu berangkat, pamitnya mau cari kerja namun sampai saat ini tidak menelepon atau kasih kabar sedikitpun. Kami pergi dengan modal nekat, tanpa ada uang ditangan. Mungkin Rino kecapean dan kelaparan makanya ia pingsan." Cerita bohong mengalir mulus dari bibir Kayra.
Sepasang suami istri itu mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, sebaiknya kita cari makanan dulu. Kalau anak itu belum bangun juga, baru kita antar ke Rumah Sakit." Kata sang istri pada suaminya.
"Mana baiknya lah Ma." Kata sang suami memberikan persetujuan.
Mobil mereka melaju dengan cepat menuju sebuah gerai makanan yang memberikan layanan drive true. Setelah mendapatkan pesanan, Sang istri yang memperkenalkan diri sebagai bu Ita segera menyerahkan bungkusan itu pada Kayra dan menyuruh agar segera memakannya.
Kayra menuruti perintah bu Ita, karena sebenarnya ia juga sudah mulai merasakan lapar. Sesekali ia juga menyuapkan susu hangat pada Rino sambil menyalurkan tenaga dalamnya.
Tak berapa lama, nampak mata Rino mengerjap. Rino terbangun dari pingsannya. Namun ia hanya diam saja, memperhatikan mama Rara yang sedang buru-buru menghabiskan makannya.
"Rino... nak.. sudah bangun?" Tanya Kayra dengan perasaan lega.
"Sini... minum ini dan cepat dihabiskan. Supaya kamu cepat pulih." Kata Kayra seraya menyodorkan sebuah cup berisi susu hangat.
"Bu Rara, gimana anaknya apa sudah sadar?" Tanya bu Ita.
"Syukurlah Bu, Rino anak saya sudah sadar." Jawab Rara semangat.
"Bu Rara, mau diantar kemana sekarang?"
"Kalau boleh antar kami ke komplek Blue Sky." Harap Kayra pasangan suami istri yang memberi tumpangan itu bisa mengantarnya sampai rumah besar keluarga Erlangga.
__ADS_1
"Wah itu komplek orang-orang elite." Kata pak Danu ragu.
"Suami ku pernah menyebut nama itu. Bisa jadi ia kerja di salah satu rumah di sana." Kayra berusaha meyakinkan Pak Danu dengan kebohongannya.
"Sangat sulit masuk ke kompleks itu. Kami hanya bisa mengantar sampai pos nya saja."
Pak Danu masih ragu-ragu. Ia sangat tahu bagaimana ketatnya penjagaan di sana. Bahkan untuk sekedar masuk ke dalam kompleks saja harus dikonfirmasi dulu dengan orang yang akan di datangi. Bagaimana nanti nasib ibu muda dengan anaknya ini? Bagaimana kalau diusir dari pos satpam di sana?
"Kalau sudah sampai di pos penjagaan, apa yang bu Rara akan lakukan?" Selidik Danu.
"Ehm... entahlah pak. Mungkin saya akan menunggu di pos satpam. Dan semoga saja suami saya bisa melihat saya di sana." Kata Kayra ragu. Selama ini ia bisa dengan mudah keluar masuk dari sana. Dan setahunya tidak ada peraturan seketat itu. Mungkinkah waktu sepuluh tahun sudah mengubah banyak hal?
"Bagaimana kalau ibu sampai diusir dari sana, bahkan sebelum ketemu suami ibu?" Tanya bu Ita kuatir.
"Entahlah Bu, kita lihat saja nanti. Semoga ada jalan agar perjuangan kami berhasil menemukan Bapaknya Rino." Kayra mulai putus asa.
Suasana dalam mobil menjadi senyap, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara Rino, sudah kembali terlelap dalam pangkuan Kayra.
"Selamat malam Pak, apakah Bapak tamu undangan keluarga Erlangga?" Tanya seorang satpam ramah.
Dengan kikuk Danu mengangguk. Salah satu satpam langsung pergi membukakan portal. Sementara satpam yang satunya mempersilahkan Danu untuk melanjutkan perjalanan.
"Bu Rara, biasanya untuk masuk ke kompleks ini akan sangat sulit sekali. Beruntung kita diijinkan masuk, karena sedang ada pesta. Nanti saya turunkan disana. Semoga bu Rara beruntung dan dapat bertemu suami ibu." Kata Danu sambil mengedarkan pandangan mencari rumah yang dikatakan satpam di depan tadi.
Sebuah rumah besar tiga lantai berpagar tinggi. Dari balik teralis pagar, nampak banyak mobil yang terparkir di halamannya yang luas. Danu menurunkan Kayra dan Rino agak jauh.
Kayra mengucapkan banyak terimakasih pada pasangan suami istri yang sudah mengantar mereka.
Mobil Danu segera melaju pergi.
__ADS_1
"Mama Rara, apakah kita sudah sampai?" Tanya Rino bersemangat kembali.
"Iya, kita sudah sampai. Ayo kita masuk. Tapi kita tak boleh terlihat oleh penjaga supaya jangan kita nanti ditangkap dan diusir sebelum bertemu papa mu." Kayra segera menarik tangan Rino merapat ke dalam bayang-bayang gelap pohon palm yang berjajar di tepi jalan.
Kayra dan Rino menunggu waktu yang tepat, saat para penjaga lengah mengawasi gerbang.
Sebenarnya Kayra sangat tidak sabar. Dengan melihat banyaknya mobil yang terparkir di halaman rumah besar keluarga Erlangga, menunjukkan kalau sedang ada acara besar di dalam sana.
Apakah benar Dariel masih mencintainya dan menunggunya? Padahal kenyataannya dia membuat acara besar dengan tamu undangan yang cukup banyak hanya untuk sebuah acara pertunangan dengan Cerry.
Tanpa sadar sebulir air mata lolos dari sudut matanya.
"Mama Rara kenapa menangis?" Bisik Rino seraya menghapus air mata mamanya dengan jari-jarinya yang kurus.
"Enggak... mama enggak menangis cuma terharu, karena setelah sekian lama akhirnya kita akan bertemu papa mu." Kata Kayra menenangkan Rino.
"Ma... kenapa kita harus sembunyi? Kita panggil papa saja keluar." Usul Rino pada Kayra.
"Enggak nak, kita masuk diam-diam supaya tidak membuat kekacauan." Rino mengangguk-angguk padahal ia masih bingung pada keputusan mamanya. Namun ia tidak berani membantah mamanya. Rino memilih berdiam diri merapat pada mamanya.
Beberapa waktu berselang, nampak satpam disibukkan dengan pengendara mobil yang kehilangan surat undangannya. Kayra segera menarik tangan Rino dan mengajaknya berlari menerobos gerbang yang terbuka.
Sesampai di halaman yang cukup luas, kembali Kayra menarik tangan Rino untuk bersembunyi di balik deretan mobil. Kayra masih menimbang-nimbang untuk masuk ke dalam melalui pintu depan atau pintu belakang.
Sudah banyak perubahan bagian-bagian rumah keluarga Erlangga. Rupanya selama ia menghilang, Keluarga Erlangga merenovasi total rumahnya.
Kayra tidak yakin, apakah pintu belakang masih ditempatnya atau sudah di renovasi juga? Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya. Ia memutuskan untuk memberanikan diri masuk lewat pintu depan.
Kayra menggandeng Rino memasuki rumah Keluarga Erlangga yang sangat megah. Rino sampai melongo melihat dekorasi yang sangat bagus. Anak itu sampai mendongakkan kepalanya saat melihat lampu-lampu kristal yang berkilau indah.
__ADS_1
"Apakah ini rumah seorang raja?" Gumam Rino tak henti-hentinya mengagumi rumah keluarga Erlangga.
Sementara Kayra disampingnya terlihat sangat gugup.