
Kayra segera berbalik. Ia ingin tahu pemilik tangan yang telah membawanya sampai ketempat aneh ini. Saat ia melihat orang yang telah membawanya berteleportasi, Seketika ia terperanjat kaget.
"Dariel?"
"Pangeran Bondowoso?"
Tanya Kayra kalut. Satu sisi hatinya merasakan hangatnya kebahagiaan bertemu dengan kekasih yang sangat dirindukannya. Namun sisi hati yang lain didominasi dengan kebencian membara.
"Kayra.... Aku Dariel." Dariel mendekat menjulurkan tangan untuk memeluk Kayra. Reflek Kayra mundur dua langkah.
"Kau Pangeran Bondowoso. Jangan berbohong...!" teriak Kayra hingga suaranya tergetar. Ada dilema dalam hatinya yang tidak bisa ditakhlukkannya. Suaranya lantang penuh kebencian, namun air matanya menetes menyiratkan kerinduan yang mendalam.
Sesekali Kayra membetulkan bajunya yang dirasanya tidak nyaman. Baju rumah sakit dengan bukaan dibagian belakang membuatnya risih. Sesekali bajunya tersingkap tertiup angin. Rasa dingin menggigit kulitnya. Kayra berkali - kali mencoba merapatkan bajunya. Ah usahanya tidak berguna sama sekali. Hingga membuatnya lebih memilih mengabaikannya.
Kayra dalam pengaruh roh lain, mengalihkan perhatiannya pada Dariel yang semakin menyulut kemarahannya. Matanya berkilat penuh kebencian.
"Kayra.... aku Dariel kekasihmu. Lihat aku dengan hati mu.....!"
"Kau bohong...!"
Kayra menyerang Dariel dengan tenaga dalam yang keluar dari tangannya. Seberkas cahaya kuning keluar dari kedua telapak tangannya. Cahaya itu menghantam dinding goa saat Dariel berhasil mengelakkan serangan, menyebabkan batu goa runtuh.
__ADS_1
"Stop.! Bahaya kalau diteruskan, goa ini bisa jadi kuburan buat kita." Kata Dariel memperingatkan.
"Hahahaha.... aku tidak perduli asalkan kau lenyap ditanganku."
Kayra tertawa, dan konsentrasinya teralihkan. Dariel melihat peluang, ia segera berlari, memeluk Kayra dan membawanya berteleportasi ke tempat lain. Sebuah hutan di kaki gunung Kwoka. Tempat observasi rombongan Dariel kemarin. Dariel memilih tempat ini karena sunyi dan jauh dari pemukiman penduduk.
Kayra saat ini merasa dipermainkan. Ia segera kembali menyerang Dariel dengan seluruh kekuatannya. Lagi - lagi dengan mudah Dariel mengelakkannya. Kayra kesal membuatnya menyerang Dariel dengan membabi buta. Ada satu serangan yang berhasil mengenai pelipis Dariel. Meninggalkan sebuah luka sayatan dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Seketika Kayra tertegun seakan ada kekuatan yang menghentikannya. Ia melangkah mendekati Dariel.
"Dariel... kamu terluka." Kayra mendekati Dariel yang tetap waspada. Ia mengulurkan tangannya mengusap kening Dariel dan seketika luka dikening Dariel sembuh. Dariel sangat senang, Kayra sangat memperdulikannya, hingga sejenak bisa terlepas dari cengkraman roh .
"Makasih Cinta..." Kata Dariel sambil mengulurkan tangannya hendak menggenggam tangan Kayra. Namun Kayra menepiskan tangan Dariel. Matanya kembali memancarkan kemarahan. Ada kilatan penuh dendam terpancar dari sorot matanya.
"Jangan mendekati ku....!!!, kamu pasti lenyap ditanganku...!" Kayra berteriak dengan lantang dan segera menyerang Dariel.
"Rara.... ini aku, Dariel kekasihmu. Kamu Rara ku. Cinta ku... lawan roh yang berusaha menguasaimu." Dariel mencoba menyadarkan Kayra namun seakan sia - sia. Kayra tidak bergeming.
Kayra dalam pengaruh roh semakin marah. Dengan segenap kekuatannya ia menyerang dan berusaha melenyapkan Dariel yang dianggapnya Pangeran Bondowoso. Beberapa luka berhasil di torehkan di lengan juga beberapa di bagian wajah. Setiap serangan berhasil mengenai lawan, ada kepuasan dalam diri Kayra lebih tepatnya Roh Roro Jonggrang. Puas setiap kali dendamnya terlampiaskan.
Hari mulai terang, semburat mentari menerobos dari ufuk timur. Menerangi sekitar tempat perkelahian, luluh lantak berserakan pohon tumbang. Saat hari semakin terang Kayra kehabisan tenaga, ia semakin lemah. Akhirnya ia jatuh pingsan. Dariel membopongnya dan ber teleportasi menuju gua batu. Di baringkannya Kayra di tumpukan selimut yang sudah disiapkan Dariel. Disekanya badan Kayra yang kotor dengan air sabun. Digantinya baju rumah sakit Kayra dengan kaos dan celana pendek Dariel. Kayra terlihat cantik.
Dariel mengagumi kecantikan Kayra. Ia mendaratkan ciuman di kening Kayra. "Tidur yang nyenyak cintaku".
__ADS_1
Dariel berteleportasi kembali pulang ke dalam kamar di mess proyek. Ia segera berganti pakaian karena baju yang dipakainya semalam kotor dan banyak sobekan di sana - sini. Seperti baru pulang perang. Dariel tergoda untuk segera berbaring, sekedar melepas lelah. Namun ia tidak ingin di cap buruk karena bangun kesiangan jadi ia memilih untuk segera mandi saja.
Dariel segera keluar dari kamar dan segera mandi. Ia ingin sesaat melepaskan lelah, menikmati kesegaran air dipagi hari. Saat ia ingat Kayra, Dariel segera mempercepat mandinya. Berpakaian dan segera berjalan ke ruang makan. Sudah banyak orang yang sedang makan. Saat Dariel memasuki ruang makan, setiap karyawan yang berpapasan dengannya segera menyapanya dengan hormat. Dariel membalas sapaan karyawan dengan senyuman yang tulus.
Hari ini menu sarapan, nasi goreng dengan ayam goreng. Ia teringat makanan yang diambilnya semalam belum termakan. "Mungkin sudah basi." Gumamnya dalam hati. Dariel memutuskan makan di ruang makan. Dia memilih meja paling pojok. Ia ingin menikmati sarapannya dengan cepat. Namun saat dua suapan baru singgah di mulutnya, Rahmadi mendekatinya dan ikut makan di mejanya. Rupanya Rahmadi mengamati Dariel sejak tadi. Saat sudah duduk di meja yang sama, Rahmadi mengungkapkan rasa penasarannya pada Dariel.
"Tuan muda, bagaimana tidurnya semalam?"
"Saya gak bisa tidur." jawab Dariel jujur.
"Apakah kamar nya kurang nyaman Tuan muda?" Tanya Rahmadi cemas.
"Kamarnya dah sangat nyaman. Mungkin karena perjalanan kemarin cukup melelahkan. Jadinya malah gak bisa tidur." Jawab Dariel menutupi kejadian yang sebenarnya terjadi semalaman.
"Saya lihat diwajah dan juga tangan Tuan muda ada goresan dan ruam. Apakah Tuan Muda ada alergi sesuatu?"
Tanya Rahmadi menunjukkan perhatiannya pada Dariel. pandangannya terhadap Dariel berbalik seratus delapan puluh derajat. Sekarang yang ada adalah rasa kagumnya pada Dariel. Seorang anak muda yang baru tujuh belasan tahun, anak seorang konglomerat namun sangat rendah hati. Terlebih Dariel menunjukkan bakatnya dalam menguasai bahasa suku Asmat. Kalau Ia disuruh memberikan penilaian buat Dariel ia akan memberi tanda bintang lima. Rahmadi juga mengenal Raka anak pertama Tuan Besar. Namun bagi Rahmadi, Dariel lebih hangat dan sangat sopan.
"Inikah...?" Tanya Dariel sambil menunjukkan tangannya yang terkena serangan Kayra. Goresan - goresan dan memar di permukaan tangannya, juga di wajahnya. Ia berpikir keras, apa yang mesti ia katakan supaya Rahmadi bisa percaya padanya.
"Entahlah saya tidak yakin, mungkin semalaman saya digigit nyamuk dan gak sadar menggaruknya hingga meninggalkan luka seperti ini." Jawab Dariel asal karena tidak ada alasan lain yang masuk akal. Rahmadi mengangguk - angguk sepertinya percaya padanya. Mereka melanjutkan makan dalam diam. Dariel teringat sesuatu.
__ADS_1
" Oh ya pak, hari ini apa saya bisa istirahat? Badanku masih terasa pegal." Dariel berharap hari ini tidak perlu bekerja dan ia bisa istirahat, mengganti tidur malamnya.