
"Byurrrr...." huph.. huph....
"Bangun.... dasar pemalas!" teriak Cerry sambil berkacak pinggang. Ia membangunkan Kayra dengan tidak sopan. Seperti sifat aslinya yang tidak pernah bisa menghargai orang lain.
"A.... ada apa Non....?" tanya Kayra gagap karena sangat terkejut dan juga belum sadar sepenuhnya dari tidurnya. Kayra melongo melihat Cerry yang tanpa permisi nyelonong masuk ke dalam kamar dan membangunkannya dengan menyiram air. Benar- benar tidak menghargai prifat nya.
"Cepat bangun, dan segera bereskan segala. kekacauan yang telah kamu perbuat tadi !" Seru Cerry sambil berkacak pinggang. Ada kemarahan dalam kata- katanya.
"Waktumu setengah jam, semua harus selesai !" Cerry langsung berlalu meninggalkan Kayra yang masih termenung.
Kayra mengucak matanya, membangunkan seluruh kesadarannya. Ia bangkit dan mengambil peralatan kebersihan. Kayra mulai membersihkan ruang tamu dan dapur. Disana sangat berantakan dimana-mana ada pecahan kaca dan keramik. Ini semua ulah ibu tirinya Neta yang sangat emosional. Kayra tidak menyangka hanya sedikit kesalah pahaman bisa menyulut emosi Neta.
Apa sebegitu cintanya Neta pada pria mesum itu. Hingga Neta begitu marah saat mendapati Rudi mencoba mendekatinya? Sungguh tidak masuk akal. Bukankah Neta sangat cantik, ia pasti bisa memikat banyak pria tampan dan kaya di luar sana. Sedangkan Rudi? siapa pria itu? hanya seorang pria tanggung, juga terlihat belum mapan. Apalagi tatapan genitnya pada wanita? Jelas- jelas bukan orang baik. Sangat jauh levelnya jika dibandingkan dengan mendiang ayahnya. Kayra tidak Rela Neta salah pilih pria. Kayra hanya berharap semoga aja Neta terbuka matanya.
"Tapi sudahlah itu hak nya ibu Neta, siapapun yang dipilihnya asal membuat ibu Neta bahagia?" Gumamnya sendiri. Yang membuatnya seketika tidak mempercayai perkataannya sendiri. Untuk apa ia mengharapkan ibu tirinya bahagia? Bagaimana dengan dirinya sendiri? Kayra juga ingin bahagia. Kalau sampai ibu tirinya menikah dengan Rudi, bagaimana nasibnya nanti? Kayra tidak bisa memikirkan kemungkinan yang terjadi. Pasti muaibah besar akan menimpanya. Saat ini ia berharap semoga dengan kejadian pertengkaran mereka tadi akan membuat hubungan Neta dan Rudi putus. Membayangkan putusnya hubungan mereka seketika membuat hati Kayra lega.
Kayra dengan sigap dan hati- hati semu barang yang berserakan dibereskan nya. Juga belanjaan tadi pagi yang belum sempat dibereskannya. Semua dimasukkan dan disusun dengan rapi dalam kulkas. Saat Kayra merapikan isi kulkas, ia menemukan sepotong roti kismis. Segera disimpannya dalam kantongnya, yang akan dimakannya nanti sebagai pengganjal perut pengganti makan malam. Semua sudah beres dan rapi. Kayra beristirahat sebentar, ia duduk di kursi dapur. Mengelap keringat di pelipisnya.
Cerry datang menghampirinya.
"Bagus.... sudah selesai? Sekarang kembalilah ke kamarmu !" "Dan ini upah mu!" Cerry melemparkan dua potong roti tawar dan satu kotak susu fullcream UHT. Segera Kayra mengambilnya dan dibawanya kembali ke kamar. Cerry mengikutinya dari belakang dan mengunci pintu kamarnya dari luar.
Kayra mendesah.... "Tuhan berikan hamba Mu ini kekuatan agar tetap sabar menghadapi semua cobaan ini." Gumam Kayra sambil mengelus dadanya. Ia tidak tahu kapan penderitaan nya ini akan berlalu.
Kayra segera memakan roti kismis dan dua lembar roti tawar. Dia merasa sangat lapar sehingga habis dalam sekejap. Diakhiri dengan minum susu kotak. "Hmmmm.. nikmat sekali."
__ADS_1
Ada remah-remah roti tertinggal di jarinya. Saat ia membersihkannya, ia merasa ada hal yang aneh. ya kulitnya terlihat lebih cerah dari biasanya. Kulitnya juga terasa halus dan lembut. Jari-jari tangannya menjadi lentik dan sangat mulus.
"Aneh....." gumamnya.
Ia segera mencari pecahan kaca cermin yang disembunyikan ditumpukan buku tulisnya.
Dia mulai bercermin, dan mengagumi dirinya sendiri.
"Apakah ini benar-benar bayangan ku....." dirabanya hidungnya yang mancung, kulit wajahnya yang mulus tak berjerawat,
bulu matanya yang lentik... semua nyata. Begitu menawan, Kayra sangat terpesona dengan pantulan wajahnya dicermin. Hingga ia tidak menyadari seseorang telah masuk ke dalam kamarnya.
"Dasar pembangkang ! berapa kali lagi harus ku beritahu... itik buruk rupa seperti mu tidak perlu cermin!"
Kayra terkejut karena tiba-tiba saja Neta sudah di dalam kamar, merebut pecahan cermin dan meremasnya sampai ***** seperti kerupuk.
Kayra jatuh terlelap dalam tidur hampa tanpa mimpi.
Hingga keesokan harinya, ia terbangun pagi- pagi sekali dan melakukan aktifitasnya seperti hari-hari biasa.
Mantra Neta memberi pengaruh sangat besar pada diri Kayra, semua kejadian yang terjadi hari Jumat kemarin benar- benar tidak diingatnya, Memory satu hari terhapus dari ingatannya.
Namun ada satu hal yang sangat membekas dalam perasaannya. Dia merasa takut saat melewati cermin, kaca jendela, bahkan saat memegang gelas.
Dia takut dan malu melihat pantulan wajahnya. Ya... terintimidasi perasaan minder yang mengakar kuat dalam hatinya, rasanya sudah sejak lama... bahkan jauh sebelum ia melihat dunia.
__ADS_1
Mungkinkah perasaan rendah diri ini sudah hadir bahkan saat ia masih dikandungan ibunya?
Kayra mengakui bahwa ia seorang gadis buruk rupa. Yang tidak pantas mendapatkan cinta, kasih sayang ataupun sekedar perhatian. Dia sama sekali tidak boleh berharap.
Hati Kayra menjadi dingin, tidak ada impian bahkan keinginan terbesarnya untuk lanjut kuliah, tiba-tiba saja sudah sirna.
Yang ia ingat, Ia hanya ingin menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini, sehingga bisa cepat beristirahat.
Saat senja mulai hadir, makan malam telah selesai dan semua pekerjaan telah rampung. Kayra segera mandi dan bersiap istirahat.
Sayup... sayup terdengar senandung. Entahlah lagu yang begitu tipis dan samar, seakan hanya melayang diudara. Mendayu-dayu menyeret kesadaran tenggelam ke alam mimpi.
Kayra jatuh tidur terbius, terhipnotis.
Tidur terasa panjang namun tidak ada mimpi yang hadir.
Di sebuah kamar paling ujung lantai dua terdengar suara-suara aneh. Kamar terlarang bagi Kayra. Ada aktifitas yang tidak biasa terjadi di dalamnya.
Tidak ada ranjang ataupun meja kursi, hanya ada sebuah lukisan terpaku didinding. Lukisan abstrak, garis-garis meliuk-liuk, dan sepasang mata merah menakutkan yang sepertinya asal digambar saja.
Ruangan itu hanya diterangi sebuah lilin merah, setiap kali lilin itu meleleh akan menguarkan bau yang memuakkan. Bau amis yang sangat kental. Sedikit tertutupi oleh bau kemenyan yang dibakar di atas pedupaan.
Namun seorang wanita di dalamnya tetap fokus dengan aktifitasnya, suasana dan bau-bauan itu tidak mengganggunya sama sekali.
Wanita itu adalah Neta.
__ADS_1
Memakai kebaya hitam, rambut panjangnya dikepang. Dalam keadaan normal pasti terlihat sangat cantik.
Namun dalam ruangan yang suram itu Neta terlihat mengerikan, aura gelap menyelubunginya.