
Wanita itu Neta, bagaimana ibu tirinya bisa sampai ke sekolah? Jadi tamu Bapak kepala sekolah adalah ibu tirinya? Kenapa dia bisa sampai disini? pertanyaan- pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Lidahnya kelu, Kayra sangat takut. Apakah ibu tirinya tahu ia ke sekolah bareng Dariel. Mengingat kecurangannya tadi pagi membuatnya serba salah dan tak terasa keringat dingin mulai menganak sungai di dahinya.
Neta yang melihat Kayra mematung, segera menegurnya.
"Kalau sudah selesai urusan di sekolah, cepat pulang. Banyak kerjaan di rumah."
"Iya nyonya." jawab Kayra lirih, sedikit lega.
Neta segera berlalu, dan memacu mobilnya.
Sementara Kayra segera menuju ruang kepala sekolah.
Tok....tok... tok
Kayra mengetuk pintu ruang Kepala Sekolah.
"Masuk....!" Terdengar jawaban dari dalam ruangan.
"Selamat pagi pak." Sapa Kayra dengan sopan.
"O...Kayra, ayo masuk. Baru saja ibumu
tadi dari sini." pak Darmawan menampilkan senyum wibawanya.
"Maaf pak saya dapat pesan dari pak Tono untuk menemui Bapak?" Tanya Kayra dengan sedikit ragu.
"O... iya. sebelumnya dari pihak sekolah mengucapkan selamat dan terimakasih atas prestasi yang telah membanggakan nama sekolah". "Sebagai ucapan terimakasih, sekolah memberikan voucher untuk belanja buku sebesar satu juta rupiah. Semoga ini bisa bermanfaat ya." Kata pak Darmawan sambil menyerahkan selembar kertas voucher.
Kayra sangat senang menerima hadiah voucher tersebut. "Trimakasih pak." Sambil disimpan dalam tas selempangnya.
"Oh ...iya, ibu mu juga sudah memberikan persetujuannya untuk mengambil kesempatan beasiswa kuliah di Universitas Tunas Harapan. Jadi sudah tidak perlu daftar ataupun ikut tes lagi."
Kabar yang sangat spektakuler bagi Kayra.
" A..... apa benar ibu saya menyetujui untuk saya bisa lanjut kuliah pak? Ba ..... Bagaimana bisa pak?" Tanya Kayra dengan antusias.
"pak Tono sudah menceritakan semua masalah mu, jadi tidak ada salahnya Bapak mencoba untuk membujuk ibu mu. Ternyata beliau sangat senang dan antusias. Saya rasa semua orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anak - anaknya. Demikian juga ibu mu." penjelasan pak Darmawan membawa harapan baru dalam hidup Kayra. Ibu tirinya tak sejahat perkiraannya.
__ADS_1
"Sekali lagi terimakasih banyak pak atas semua dukungannya, saya berhutang budi pada bapak kepala sekolah juga pak Tono." Kayra tak kuasa menahan tetesan air mata bahagia, ada banyak kasih sayang dari orang- orang yang tidak disangkanya.
"Sudah....sudah... dapat kabar bahagia kok malah nangis." Seloroh pak Darmawan.
"Saya sangat bahagia pak." Kayra tertawa sambil menghapus air matanya.
"pesan bapak kejarlah ilmu setinggi mimpimu dan raih lah cita- citamu, itulah yang akan sangat membahagiakan kami."
"Baik pak, terimakasih nasehatnya." Kayra segera mencium tangan kepala sekolah yang bijak itu, dan berpamitan undur diri.
Tidak ada yang dapat melukiskan kebahagiaan Kayra saat ini. Ia menghayalkan dapat berkuliah bersama Dariel. Membayangkan saat dia jadi pengacara terkenal. Kemudian menikah dengan dr Dariel. Hingga tak sadar sepanjang perjalanan ia tersenyum - senyum sendiri. Sampai dikagetkan sapaan dari seorang cowok.
"Hai.... cantik, senyum - senyum sendiri gak ngajak- ngajak?" Sapa Roby ketua Osis, adik kelasnya yang terkenal playboy.
Kayra mendadak ilfill, ia tidak menanggapi teguran Roby dan segera mempercepat langkahnya untuk segera keluar dari gerbang sekolah. Ternyata di depan gerbang masih banyak cowok - cowok yang bergerombol sambil duduk diatas jok motornya. Sebagian besar diketahuinya adik kelasnya.
Kayra berjalan menjauhi gerombolan itu, yang tak henti- hentinya bersuit- suit dan melemparkan godaan. Ia memilih menunggu Dariel di bawah pohon rindang seberang sekolahnya, duduk pada sebuah bangku. Ia tersadar belum diperiksanya ponsel nya.
Ternyata masih kosong, belum ada pesan masuk. Bahkan pesan yang dikirimnya pada Dariel sedari tadi belum terbaca. "Mungkin masih sibuk, jadi belum sempat periksa ponselnya." Gumam Kayra menghibur diri. "Lebih baik aku pulang sendiri naik angkot". Sambil mengetikkan pesan buat Dariel.
"Kenapa lama sekali angkotnya gak datang- datang?" Gumam Kayra sambil menengok ke jalanan berharap angkot yang ditunggunya terlihat. Namun nihil.
Salah satu cowok itu berkata: "Cantik.....Lagi nunggu angkot ya."
"Bareng aku aja, sekalipun kamu nunggu sampai sore tidak akan datang. Sopir angkot lagi demo." Cowok itu pasang senyum paling gombalnya. Membuat Kayra bertambah galau.
"Kayak apa ini, kalau gak ada angkot bagaimana aku pulang nanti, waduh dapat karma gara- gara nyakitin sepeda pagi tadi. waduh.... gimana ini?" gumamnya dalam hati.
"Ayo... cantik ku antarkan pulang?" Cowok satunya ikut- ikutan menawarkan tumpangan membuat Kayra bingung pilih yang mana.
"Terimakasih tawarannya, aku lagi nunggu jemputan."
Kayra terpaksa bohong, ia gak nyaman kalau harus diantarkan mereka. Sekalipun satu sekolahan Kayra merasa tidak terlalu kenal pada kedua cowok itu.
"Kalian gak apa - apa duluan aja." usir halus Kayra.
"Kami ini cowok sejati, gak akan biarin cewek secantik kamu sendirian. Kami temani sampai jemputanmu datang." Kata salah satu cowok, sambil turun dari motor dan mendekati Kayra.
__ADS_1
"Ya ampun bagaimana ini?" gumam Kayra dalam hati resah.
"Kayaknya aku belum pernah lihat kamu sebelumnya? anak baru ya?" Tanya cowok berkulit putih. Ia mengulurkan tangan minta berkenalan. "Kenalkan namaku Bima kelas XI Ips."
Kayra pura-pura menyibukkan diri dengan ponselnya. "Aku Kayra" mengabaikan uluran tangan Bima.
"Aku Davar kelas XI Ipa,wakil Osis." kata cowok berkulit sawo matang sambil menunjuk dadanya membanggakan diri.
Tin....tin.. suara klakson mobil menarik perhatian Kayra, dalam hati ia berharap Dariel yang datang.
Harapannya pupus saat melihat orang di dalam mobil bukan Dariel melainkan Roby? Kayra mengabaikannya dan kembali menyibukkan diri dengan ponselnya. Melihat kedatangannya tak di gubris membuat Roby turun dari mobil dan segera menghampiri Kayra.
"Hai cantik.... bareng aku aja,. dari pada ntar pulangnya kesorean." Kata Roby merayu.
"Makasih, jemputanku sudah mau sampai." Kata Kayra dengan penuh percaya diri, padahal hatinya gamang, masih dengan sandiwaranya nya pura- pura main hp.
Tiba-tiba ada suara cowok terengah- engah
"Rara.... maaf terlambat, sudah lama nunggunya? Ayo kita pulang" Dariel datang dengan peluh membasahi keningnya.
Kayra seperti mendapat oase di padang gurun, saat mengetahui Dariel datang menjemputnya. Ia segera menggandeng tangan Dariel. Tak lupa ia berpamitan pada tiga orang cowok rese yang dari tadi mengganggunya. "Maaf aku duluan, sudah dijemput."
Roby sangat kesal dan mengumpat pelan, Kayra mendengarnya. Dengan sengaja ia mendekatkan tubuhnya pada Dariel.
Sesampainya mereka dalam mobil, Dariel kembali minta maaf sambil melajukan mobilnya. "Cinta.... maaf ya terlambat, sudah nunggu lama?"
"Baru setengah jam nunggunya." jawab Kayra sambil tersenyum.
"Berarti sudah lama donk, kamu gak marah?" Tanya Dariel memastikan.
"Kenapa mesti marah, padahal tadi ku pikir, Sayang Riel gak bakal jemput aku." Kata Kayra tulus.
"Cowok- cowok tadi temen satu sekolahan dengan kamu?" Selidik Dariel.
"Iya, kamu cemburu?" tanya Kayra menggoda Dariel.
"pastilah, aku gak nyaman kalau cinta sampai deket- deket sama cowok lain." kata Dariel sungguh- sungguh.
__ADS_1
Kayra menceritakan kejadian yang sesungguhnya mengenai tiga orang cowok yang mendekati dan menggodanya itu. Dia juga menceritakan bagaimana sebenarnya perasaan was- wasnya saat berdekatan dengan mereka. Untungnya Dariel segera datang sehingga ia tidak perlu berlama-lama bersama tiga cowok rese itu.
Dariel menarik nafas lega. "Cinta.... sebagai permintaan maaf aku belikan es krim ya?"