Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Minta Restu


__ADS_3

***


Hari sudah mulai sore saat Kayra minta ijin untuk pulang ke rumahnya. Dariel tidak ingin Kayra pergi. Namun Kayra bersikeras minta pulang. Membuat Dariel juga keluarganya tidak dapat lagi menahan Kayra lebih lama. Erlangga dan Dariel mengantarkan Kayra pulang kerumahnya.


Kedatangan Kayra benar- benar menjadi kejutan tak terduga. Bik Sari dan Mang Ujang tak henti- hentinya menangis. Mereka begitu bahagia melihat Kayra baik- baik saja. Neta juga mengembangkan bibirnya tersenyum penuh misteri. Sementara Cerry tersenyum paksa bagaimana tidak? Rencana yang disusunnya sedemikian rupa gagal total. Bahkan Kayra pulang diantarkan Dariel? Teman sekolah Cerry, sekaligus cowok idola di SMA Tunas Harapan, selain tampan, pintar, ia juga anak pemilik yayasan.


Cerry mengenal sosok Dariel sebagai cowok yang tidak bisa dia sentuh sama sekali, bukan dalam artian literal. Dariel di lingkungan sekolah sangat ramah namun sangat cuek dengan cewek. Tak satupun cewek berhasil memikatnya. Termasuk Cerry, ia pun tak pernah berhasil mendekati Dariel.


Jadi kecurigaannya selama ini benar, bahwa Kayra ada hubungan khusus dengan Dariel? Sebulan lalu saat persiapan ulang tahunnya ia memergoki Kayra dan Dariel terlihat berbincang akrab. Bahkan mereka berkejar- kejaran seperti sepasang kekasih di film Bollywood. Membuatnya semakin memendam geram pada Kayra. Terlebih setelah ia kehilangan Rudi. Pria pujaannya itu menghilang bak ditelan bumi. Sampai sekarangpun, ia tak tahu kabarberitanya.


"Cerry.... beri jalan buat mereka supaya bisa masuk ke dalam rumah." Bisikan pelan Neta membuyarkan lamunan Cerry. Ia pun memberi jalan kepada tamunya.


"Silakan masuk..." Bik Sari menggandeng tangan Kayra. Seperti seorang ibu memapah anaknya yang baru belajar berjalan. Diperlakukan seperti itu membuat Kayra tertawa.


"Bik, Kayra tidak apa -apa. Kayra bisa jalan sendiri." Bik Sari pun menyadari kelakuannya, hingga tersipu malu. Mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Maafkan Bik Sari Non. Nona mau minum apa? Tuan? Den?" Bik Sari begitu antusias.


"Kopi hitam Bik." Kata Erlangga.


"Saya sama Kayra jus apel." Kata Dariel, yang diangguki Kayra.

__ADS_1


"Teh hijau bik." Kata Neta.


"Es Capucino." Cerry tidak mau kalah. Ia perlu minuman dingin untuk meredakan amarahnya pada Kayra. Bik Sari segera menyiapkan minuman yang dipesan mereka. Sementara Mang Ujang menaikkan koper pakaian ke kamar Kayra. Senyuman tidak lepas dari pria paruh baya ini. Ia sangat bahagia Kayra pulang sudah sembuh. Bahkan melebihi perkiraannya, Kayra sembuh total.


"Bu Neta, hari ini saya mengantar Kayra. Setelah menjalani beberapa rangkaian pengobatan di Singapura, bersyukur Kayra pulih cepat. Dan hari ini ia bisa pulang." Kata Erlangga.


"Terimakasih banyak Pak Erlangga, saya sungguh tidak menyangka kalau pihak rumah sakit Melati sangat kompeten dalam mengobati anak saya, yang waktu itu secara medis tidak ada harapan. Berapapun dana yang telah dikeluarkan akan segera saya lunasi. Juga sebenarnya Bapak tidak perlu sampai mengantarkan Kayra sampai ke rumah. Karena kalau dikabari kami juga bisa menjemputnya di rumah sakit." Basa-basi Neta.


"Iya... sebenarnya ada tujuan lain kami datang. Yang pertama untuk mengantarkan Kayra bertemu keluarganya kembali. Kedua, anak saya Dariel sangat menyintai Kayra. Bisa dikatakan anak kita saling mencintai, sehingga alangkah baiknya agar hubungan ini bisa lebih serius. Jadi saya bermaksud melamar Kayra untuk anak saya Dariel. Mengenai biaya perawatan Kayra kami anggap sudah lunas, apalagi sebentar ia akan menjadi bagian keluarga kami juga."


Kata - kata Erlangga seperti petir di telinga Neta. Sebuah kejutan yang tidak pernah disangkanya. Bagaimana bisa ia kecolongan hal sebesar ini?


"Saya juga sudah mempertimbangkan banyak hal. Dariel juga masih seumuran Kayra, namun ia sudah mandiri. Sudah punya penghasilan sendiri. Juga sudah punya beberapa rumah. Secara finansial ia sudah bisa menjadi calon suami yang bisa menafkahi Kayra nanti." Erlangga berusaha meyakinkan Neta.


Neta melihat ke arah Kayra yang sedang berpegangan tangan dengan Dariel. Seketika membuat hatinya panas. Beruntung bik Sari datang membawa minuman dan makanan ringan. Mengurangi ketegangan diantara mereka.


"Silakan diminum, juga kuenya silakan dimakan." kata Bik Sari dengan ramah.


"Trimakasih Bik." jawab kompak mereka.


Neta juga mempersilakan tamunya untuk mencicipi kue dan minuman yang sudah disediakan bik Sari. Erlangga segera menyesap kopi hitamnya. Ia perlu mengatur strategi agar lamarannya untuk Dariel bisa berhasil.

__ADS_1


Setelah terjeda beberapa saat, Erlangga kembali melancarkan rayuan untuk meluluhkan restu Neta.


"Saya kenal baik dengan mendiang Mahendra. Kami sudah bersahabat sejak lama. Saat Kayra dan Dariel masih kecil kami menjodohkan mereka. Namun kami sempat putus komunikasi, baru-baru ini saya dapat kabar kalau Mahendra sudah meninggal karena serangan jantung. Terus terang saya sangat terkejut. Saya menghadiri acara pemakamannya sebagai sesama bisnismen, namun saya tidak menyangka kalau itu Mahendra sahabat saya. Setelah saya menemukan Kayra, saya tidak ingin kehilangannya kembali. Setidaknya ijinkan saya membalas budi Mahendra dengan mengambil Kayra sebagai menantu saya." Kata Erlangga dengan penuh permohonan.


Neta terlihat gundah. Ia belum siap dengan konsekuensi yang akan segera ia alami, kalau sampai acara pernikahan Kayra terlaksana. Ia belum siap untuk mati.


"Saya tahu bu Neta pasti memikirkan yang terbaik untuk anak- anaknya. Saya pun juga sudah mempertimbangkannya baik- baik. Sekalipun mereka nantinya menikah muda. Mereka tetap bisa lanjut kuliah. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk menunda pernikahan mereka." Kembali Erlangga berusaha membujuk Neta.


"Saya rasa lamaran ini sangat mendadak, apalagi mengingat Kayra baru mengalami kecelakaan besar. Ijinkan saya berdiskusi dulu dengan Kayra, karena pernikahan perlu dipersiapkan dengan matang bukan? Beberapa hari lagi saya akan berkabar pada Pak Erlangga. Kayra juga masih perlu istirahat, Kita bahas masalah ini beberapa hari lagi. Saya sangat berharap pengertian pak Erlangga." Kata - kata Neta tak bisa dibantah lagi. Erlangga dan Dariel pun memahami maksud Neta. Mereka segera pamit pulang.


Setelah Erlangga dan Dariel pulang dari rumah mereka. Neta menyuruh Kayra mengikutinya ke dalam kamarnya. Neta langsung mengunci pintu dibelakangnya.


"Rara... sejak kapan kamu jatuh cinta sama pria itu?" Tanya Neta datar.


"Baru sebulan Bu." Jawab Kayra bingung.


"Jadi sebelum ulang tahun mu kamu sudah dekat dengannya?" Neta mulai penasaran.


"Iya Bu." Kayra menunduk, ia merasa ada kegentaran menyelimuti hatinya. Kayra tidak bisa membaca fikiran Neta. Seketika terbayang mimpi yang pernah dialaminya. Kondisi yang sama, saat Neta tidak mendapat restu untuk menikah dengan kekasihnya dari papanya.


"Tidak... aku tidak mau itu terulang, terjadi pada ku." Gumam Kayra dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2