
"Sudahlah Cerry, aku tahu engkaupun tidak mencintaiku. Jadi buat apa juga kita menjalin ikatan?" Dariel menjauh pergi meninggalkan Cerry.
"Oh... begitu? Kau berani mempermalukan aku? Lihat saja kau akan menyesal nanti!" Geram Cerry. Kemarahan dan kebencian membuncah dalam dadanya.
Selama ini dia sangat membenci Dariel dan Kayra yang telah merenggut orang-orang yang disayanginya. Rudy dan mama Neta. Sudah lama ia memendam dendam yang membara pada saudara tiri dan iparnya itu. Namun saat Kayra tiba-tiba menghilang sepuluh tahun lalu, dendamnya mulai padam.
Apalagi saat menyadari ketampanan Dariel dan kekayaannya yang berlimpah. Membuat Cerry tertarik padanya. Segala cara telah dilakukannya untuk memikat Dariel namun hasilnya nihil. Sampai beberapa waktu lalu, tiba-tiba Dariel menghubunginya dan mengajaknya bertunangan. Sebuah kejutan yang tak terduga.
Demikian juga hari ini, saat ia tahu ada acara pernikahan di rumah keluarga Erlangga. Hatinya seketika perih. Terlebih saat Dariel mengacuhkannya, membuat dendam lamanya kembali membara dalam dadanya.
Cerry berlalu pergi meninggalkan kediaman Erlangga.
***
Setelah pembicaraan nya dengan Cerry, Dariel bergegas melihat rumahnya yang barusan terbakar. Dariel melongok ke dalam rumahnya. Sepertinya ruang tamu yang dipakai untuk acara pernikahan saja yang terbakar.
Tampak api sudah berhasil dipadamkan. Juga para pemadam sudah membereskan perlengkapan mereka. Dariel menghela nafas lega.
Ia tak menyangka kemarahan Cerry benar-benar menakutkan. Kalau ia tahu bakal begini jadinya, pasti ia tidak akan berani mengusik Cerry.
Dariel mencoba mencari Dio namun tak juga menemukannya.
Diantara kerumunan para tamu, Dariel menangkap sepasang mata dengan tatapan penuh rindu. Seorang wanita cantik yang sangat dicintainya
"Rara...!" gumam Dariel. Apakah wanita bermata sendu itu benar-benar Kayra istrinya yang selama ini dicari-carinya? Ia pun bergegas mencari Kayra diantara kerumunan tamu.
Rara nya sudah tidak ada di sana. Dariel panik. Ia yakin melihat Kayra tadi. Ia pun terus mencari ke sekitar halaman, sampai ke pintu gerbang terbuka yang dijaga dua orang security.
Dariel menghampiri satpam itu dan bertanya, "Pak Tono lihat seorang wanita baru saja keluar?" Tanya Dariel pada salah satu security.
"Tadi barusan lewat seorang wanita bersama anak kecil. Mereka berjalan ke arah sana." Tunjuk pak Tono ke arah jalan besar.
Dariel segera berlari ke arah yang ditunjuk pak Tono. Ia melihat ada dua sosok di depannya sedang berjalan menjauh. Seorang wanita dan anak kecil berumur sepuluh tahunan. Dari siluetnya ia sangat yakin kalau wanita itu adalah Rara istrinya.
__ADS_1
"Rara..." Panggil Dariel.
Wanita dan anaknya itu berhenti dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.
Jantung Dariel berdetak kencang. Wanita itu benar-benar mirip Kayra. Wajahnya, rambutnya, matanya bahkan senyumnya. Itu semua milik Kayra.
"Rara... akhirnya kamu pulang! Aku merindukanmu!" Seru Dariel seraya memeluk erat Kayra.
Kayra hanya tertegun, tidak berani membalas pelukan Dariel.
"Rara... aku hampir putus asa mencari mu... untunglah kamu datang, sebelum aku melakukan kesalahan besar."
Hati Kayra tersentuh, air matanya berlinang membasahi pipinya.
"Ra... aku merindukanmu!" Bisik Dariel ditengah isakan tangis haru yang tak bisa dibendungnya.
Rino hanya menatap mama Rara, ia butuh penjelasan.
Dariel yang menyadari ada seorang anak yang menatapnya lekat, ia pun melepaskan pelukannya pada Kayra.
"Ra... siapa dia?" Tanya Dariel penasaran.
"Ini babby M..? Anak kita?" Tanya Dariel tidak percaya. Ia pun memeluk Rino.
"Anak ku..." Dariel semakin tak bisa menahan diri untuk menangis.
"Babby M, kamu hebat nak. Telah menjaga mama mu dengan baik." Dariel meraih tangan Kayra dan memeluknya bersama Rino.
"Kalian jangan pergi lagi. Kita akan bersama bahagia selamanya." Kata Dariel bersemangat. Sekarang harinya tidak akan sama lagi. Kesedihannya saat kehilangan anak dan istrinya telah terhapus dengan kehadiran mereka kembali.
"Ra... ,babby M ayo kita pulang ke rumah!" Dariel segera menggendong babby M di punggungnya. Sementara tangan kirinya menggenggam jemari Kayra yang dingin.
"Pegangan yang erat!" Serta merta Dariel membawa Rino dan Kayra berteleportasi menuju apartemennya.
"Kita pulang ke apartemen dulu, sampai rumah di Blue Sky selesai dibereskan." Kata Dariel menjelaskan.
__ADS_1
Kayra memandangi foto dirinya yang terpasang di hampir setiap sudut ruangan.
"Riel... kamu merindukan ku?" Tanya Kayra tiba-tiba.
Dariel menggeleng, "Tidak lagi karena Rara tercinta sudah kembali."
"Ra... kelihatannya Rino sudah sangat lelah. Sebaiknya suruh dia tidur dikamar itu." Tunjuk Dariel pada sebuah kamar yang tertutup rapat.
"Ya... perjalanan kami cukup melelahkan." Rara mengajak Rino untuk membersihkan diri dan mandi air hangat. Seketika kantuk langsung memaksa Rino untuk tidur lelap di kamar nya yang sangat nyaman.
Kayra meninggalkan Rino yang sudah terlelap dan menemui Dariel di dapur. Tampak Dariel sedang sibuk memasak sesuatu. Kayra membiarkannya dan memilih duduk di bangku dapur.
"Sejak kepergian mu, aku jadi pintar masak Ra.."
"Oh ya... coba masakkan sesuatu untuk ku. Tadi aku belum sempat menikmati makanan di pesta." Kata Kayra menuntut penjelasan dari suaminya.
"Hmmm... apakah Cinta menyangka kalau suami mu ini dengan mudah menikahi orang lain?" Goda Dariel.
"Riel... sekian lama aku meninggalkanmu. Jadi bukan salah mu kalau kamu membutuhkan seseorang yang bisa mendampingimu." Kayra menjawab lugas, meskipun sebenarnya rasa perih mengiris hatinya.
Tiba-tiba tangan Dariel sudah melingkar diperutnya. Memeluk Kayra dari belakang. "Rara... kamu satu-satunya dalam hidup ku, tak seorangpun bisa menggantikanmu selamanya." Bisik Dariel tepat ditelinga Kayra.
"Mengapa engkau pergi begitu lama Ra... tidak kah engkau tahu, aku sangat merindukanmu?" Bisik Dariel semakin menggoda Kayra.
"Sepuluh tahun Riel, aku tak sadarkan diri. Baru tadi pagi aku terbangun karena mencium wangi bunga mawar kuning. Sekarang aku di sini berniat menggagalkan acara pertunanganmu dengan Cerry. Tapi ternyata Cerry pun telah kau buat kecewa?" Tanya Kayra menuntut penjelasan Dariel.
"Oh... rupanya ada yang salah paham. Papa telah beberapa hari harus mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit. Bersamaan Dio, tangan kanan papa menikah. Karena aku juga tidak menempati rumah besar, maka ku suruh Dio bikin acara pernikahan keduanya di rumah kita. Ternyata Cerry salah paham hingga ia nekat mengacaukan pesta itu. Kasihan Dio."
Dariel merasa tidak enak karena telah mengacaukan pesta Dio. Orang yang dipercaya keluarganya.
Kayra melepaskan pelukan Dariel.
"Apakah Riel tidak sadar kalau telah mengecewakan aku juga?" Gumam Kayra lirih namun terdengar jelas ditelinga Dariel.
"Ra.... maafkan aku, kalau aku telah membuatmu kecewa." Dariel buru-buru memeluk Kayra. Saat ini ia sangat takut, kalau Kayra meninggalkannya lagi.
__ADS_1
"Please Ra... jangan marah, jangan pergi lagi. Kumohon... Aku tidak bisa hidup tanpa mu." Desah Dariel sungguh-sungguh.
Kayra terdiam, sudut bibirnya menyunggingkan sekilas senyum puas.