
Grego, Gio dan Gia serta bocah imut itu nampak menunggu dengan perasaan was-was dan khawatir. Sudah 35 menit sejak Eva dimasukkan ke ruang ICU dan tak seorangpun dokter atau perawat yang keluar untuk memberitahukan keadaan Eva di dalam sana.
Hanya doa dan doa yang terbersit dalam hati dan pikiran mereka saat ini. Tak lama kemudian seorang dokter dengan seragam operasi keluar didampingi seorang perawat.
Gio langsung menghadang si dokter dan memberondongnya dengan pertanyaan.
" Bagaimana dengan Bunda saya Dok? Bunda saya baik-baik saja kan Dok! Iya kan Dok?
Si Dokter yang memahami kecemasan dan rasa gelisah pada keluarga pasiennya membuatnya tetap bersikap tenang dan sabar.
" Kami sudah berusaha dengan baik dan puji Tuhan, ibu anda bisa tertolong. Sekarang beliau sudah baik-baik saja, hanya butuh waktu pemulihan saja.!
Mendengar ucapan dokter tersebut hati mereka sedikit lebih lega.
" Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke kamar rawat. Sehingga keluarga bisa menjenguk dan menjaganya.! ujar si dokter kemudian.
Meski keadaan Eva sudah baik-baik saja menurut keterangan dokter tetap saja masih ada rasa khawatir dan cemas dalam hati mereka.
Rasa kehilangan pernah mereka rasakan dan itu sangat menyakitkan. Dan tentunya mereka tidak mengharapkan kehilangan untuk yang kedua kalinya. Jangan pernah lagi.
Tubuh lemah Eva yang terbaring di atas tempat tidur didorong menuju ruangan kamar rawat inap. Gio, Grego dan Gia serta si bocah imut mengikuti di sisinya.
Wajahnya yang pucat pasi nampak tak berdaya. Wajah ceria dan lembut seperti sembunyi di balik sakitnya. Cobaan apalagi yang akan mereka hadapi kali ini?
Disaat mereka telah merengkuh kebahagiaaan, tetapi Tuhan seolah ingin menguji seberapa besar cinta dan kasih yang mereka miliki.
Sebelumnya Dokter bertanya kepada mereka riwayat kesehatan Eva. Menurut hasil pemeriksaan ada sesuatu dalam otak Eva seperti bercak-bercak hitam dan ada retakan tipis di tengkorak belakangnya bekas benturan.
Gio pun menyampaikan jika sang Bunda pernah mengalami kecelakaan yang membuatnya amnesia. Dokter pun menjelaskan keadaan Eva mengapa dia tiba-tiba pingsan seperti itu.
Ternyata tengkorak kepalanya yang mengalami benturan dan mengakibatkannya lupa ingatan masih meninggalkan bekas benturan yang belum sembuh total.
Ada beberapa memori yang masih tersimpan dalam ingatannya yang ternyata memberikan efek sakit yang luar biasa jika memori itu tiba-tiba muncul kembali.
Mereka pun mengingat kejadian sebelum Eva pingsan. Mungkinkah ada peristiwa yang mengingatkan sang Bunda sehingga ingatannya terguncang dan membuatnya pingsan.?
__ADS_1
Tanpa sengaja Grego melihat bocah imut yang duduk disamping Gia. Yang mengenakan pakaian Gio diwaktu Gio masih kecil. Dan dia pun tersadar jika bocah itu pasti mengingatkan Eva dengan Gio kecil.
Eva pasti teringat dengan Gio kecil yang terpaksa ditinggalkannya ketika dia mengalami kecelakaan. Dan bisa saja dia menjadi merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dan merawat Gio yang masih kecil saat itu dan sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
Grego menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya kepada sang dokter. Dan sang dokter pun mengangguk mengerti mengapa pasiennya itu mengalami shock attack sampai pingsan.
Gia yang mendengar cerita sang ayah hanya bisa meneteskan air mata menahan haru mengingat kisah sang Bunda yang memilukan hati.
Gia berpikir jika sang Bunda pasti dulu sangat menyayangi Gio kakaknya itu. Seperti dirinya yang sangat disayangi oleh Bundanya itu.
Namun karena sebuah peristiwa yang hingga saat ini masih menjadi misteri yang membuat sang Bunda mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya. Sehingga membuat sang kakak hidup menderita tanpa kasih sayang seorang ibu.
Pastinya saat-saat itu adalah saat yang menyakitkan bagi mereka. Kehilangan orang yang mereka cintai. Seperti yang juga dirasakan oleh Gia tanpa kehadiran sosok ayah sejak kelahirannya selama 17 tahun yang telah silam.
Meski kasih sayang dari Bundanya tidak pernah berkekurangan ditambahkan kehadiran sang Paman yang menyayanginya layaknya seorang ayah. Tapi tetap saja dalam hati kecilnya sangat merindukan kasih sayang seorang ayah kandung.
Meski kini mereka telah berkumpul bersama. Menjadi keluarga yang lengkap dan sempurna. Tapi ternyata masih menyimpan bekas luka dan penderitaan yang kapan saja bisa keluar dan meledak.
Seperti saat ini yang dialami oleh sang Bunda. Yang secara tidak sadar menyimpan perasaan bersalah dalam ingatannya karena telah meninggalkan Gio yang masih kecil meski hal itu bukanlah keinginan hatinya.
" Semoga saja peristiwa ini adalah untuk terakhir kalinya. Guncangan yang dialami oleh pasien saat ini untung tidak merenggut nyawanya. Jika tekanan akibat peristiwa kali ini bisa dilewati oleh pasien maka kemungkinan besar pasien tidak akan mengalami guncangan hebat lagi jika dia mengingat kembali memori-memori yang masih tersembunyi dalam alam bawah sadarnya.
Mendengar penjelasan sang dokter ada kelegaan dalam hati mereka. Setidaknya sang Bunda telah melewati masa kritisnya. Dan semoga perkataan sang dokter benar jika sang Bunda tidak akan mengalami lagi guncangan bila dirinya kembali mengingat serpihan-serpihan memori dalam hati dan pikirannya.
Dan disaat mereka sedang larut dalam duka sekaligus bahagia, tiba-tiba ponsel Gia berdering.
Telvon dari kantor polisi.
" Halo selamat sore dengan mbak Gia!
" Iya Halo Pak! Saya dengan Gia! jawab Gia
" Maaf mbak Gia, kami mau memberitahukan jika ada keluarga yang datang ke kantor kami dan melaporkan anak hilang. Dan ciri-ciri anak itu sesuai dengan anak yang ada bersama dengan mbak Gia! Pak Polisi memberi keterangan kepada Gia.
" Oh, baik Pak. Kalau begitu saya akan membawa anak ini segera ke kantor polisi! balas Gia.
__ADS_1
" Oh, anda tidak perlu datang ke kantor polisi, kami dan keluarga anak itu yang akan datang ketempat mbak Gia! balas Pak Polisi kembali.
" Baiklah Pak kalau begitu. Sekarang kami ada di rumah sakit "S", bapak silahkan datang kemari! balas Gia.
" Telvon dari siapa Gi,? Tanya Gio.
" Dari kantor polisi kak. Keluarganya si adek udah datang mencari ke kantor polisi. Dan sebentar lagi mereka akan datang kemari untuk menjemputnya.! Jawab Gia sambil menatap dengan senyum ke arah si bocah imut.
" Baguslah, akhirnya keluarganya datang juga mencarinya! Ucap Grego dengan perasaan lega. Bukankah itu adalah kabar gembira karena bocah imut itu akhirnya dapat berkumpul kembali dengan keluarganya?!
" Iya ayah, Gia juga senang, karena adek kecil masih punya keluarga yang mencarinya.! Hati Gia terasa haru. Di saat moment-moment sedih seperti ini masih ada kabar bahagia yang setidaknya memberi sedikit penghiburan.
Jika seandainya tidak ada keluarga yang mencarinya, pasti hatinya akan sangat sedih karena merasa diabaikan oleh keluarganya sendiri. Meski Gia sudah merencanakan akan menjaga dan merawatnya jika seandainya saja bocah imut itu tidak dicari lagi oleh keluarganya.
Tapi syukurlah. Gia tak perlu khawatir lagi. Keluarga Si bocah imut sedang mencarinya sekarang.
Gia lalu berlutut dihadapan bocah imut itu.
" Adik ganteng kakak, sebentar lagi adek akan dijemput mama dan papa kamu. Kamu pasti senangkan bisa ketemu lagi dengan keluarga kamu? Sampaikan Gia kepada bocah itu.
Tapi bukannya berwajah gembira ketika mendengar kabar yang disampaikan oleh Gia, sorot matanya malah terlihat sedih.
Dan Gia segera bisa menangkap reaksi itu.
" Kenapa sayang, kamu kok sedih? Harusnya kan senang bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan orang tuamu. Dengan papa mama, dengan anggota keluarga lainnya, ada kakak, kakek, nenek. Iya kan? Gia mencoba untuk menghibur hati bocah imut itu.
Tapi reaksi bocah imut itu, dia malah memeluk Gia dengan erat seakan enggan untuk melepaskannya.
Gia pun membalas pelukan bocah imut itu dengan hangat dan kasih sayang. Gio dan Grego ikut tersenyum haru melihat pemandangan yang mengharu biru itu.
Beberapa saat kemudian yang dinantikan tiba jua. Dua pria berpakaian polisi masuk ke dalam ruangan ditemani seorang perawat.
" Selamat malam. Kami dari kantor polisi yang telah menghubungi Mbak Gia beberapa saat yang lalu! Salah satu dari mereka memberi salam.
" Selamat malam! jawab mereka hampir serempak.
__ADS_1