
Kevin Dante sang bintang kampus. Idola para gadis-gadis. Tapi bukan sosok pria yang menjadi type idaman seorang Gia. Meski wajahnya tampan, tubuhnya athletis tidak menjamin bawa setiap gadis akan menyukainya.
Entah mengapa Gia masih terngiang dalam benaknya pria manis yang dijumpainya waktu liburan di Bali tempo hari. Pria itu mampu mencuri setengah hati milik Gia dan mengisi seperempat ruang dalam benaknya.
Kevin dan teman-temannya sedang bermain basket di lapangan kampus saat istirahat pergantian kelas. Sedangkan Gia malah asyik membaca buku di bangku taman kampus padahal teman-temannya ikut berorasi demi menarik perhatian para pria-pria tampan dikampus itu yang sedang pamer di lapangan kampus.
Sorak-sorai dan teriakan genit gadis-gadis centil itu membahana di setiap sudut penjuru kampus.
Tak ketinggalan dua sobat Gia yang juga mengidolakan sosok Kevin dan teman gengsnya.
Gia yang fokus membaca, melirik jam dipergelangan tangannya. Sudah pukul 16.45. Waktunya dia pulang. Sesi mata kuliahnya sudah selesai beberapa jam yang lalu. Gia menyimpan buku ke dalam tasnya.
Dia ingat teman-temannya sedang menonton pertandingan basket di lapangan kampus. Mau tidak mau dia harus menemui mereka, sekedar mengajak pulang. Jika pun mereka masih ingin tinggal setidaknya dia harus pamit.
Lapangan basket terlihat ramai sekali. Gia tidak tahu pertandingan kali ini hanya sekedar main-main atau memang sedang ada kompetisi.
Untungnya kedua sahabatnya itu mudah untuk ditemukan. Gia melangkah pelan dan santai. Tidak terlalu peduli dengan orang disekitarnya yang begitu ramai dan heboh dengan teriakan mereka memberikan support kepada para pemain idola mereka.
Dan ketika Gia hampir mendekat kepada kedua temannya itu, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sosok yang selama ini tersembunyi dalam benaknya.
Sosok pria yang memberinya kesan pertama yang menggoda. Pria itu kini sedang menggiring bola ditangannya hendak memasukkannya ke dalam jaring. Dan dengan kelihaian dan kemampuannya yang cukup hebat, ditembakkannya bola itu dan....
" Yeeeeeee,! teriak gembira para penonton melihat pemain idolanya menghasilkan point yang sempurna.
Di saat Gia fokus menatap pria itu di saat yang sama pula Kevin memandang ke arah Gia. Hatinya langsung bahagia melihat sosok gadis impiannya ada disana sedang menyaksikan dirinya bertanding.
Dia mengira Gia datang menyaksikan pertandingan demi dirinya. Dengan penuh kepercayaan diri Kevin mulai menunjukkan aksinya. Ketika rekannya melakukan passing ke arahnya, Kevin langsung menangkapnya dengan tepat. Kemudian dia segera berlari ke arah keranjang musuh sambil melakukan dribbling.
Kevin pun langsung melakukan long shot dengan sangat meyakinkan. Dan usahanya untuk pamer dihadapan Gia tidaklah sia-sia. Kevin sukses melakukan field goals made. Dan yang terjadi adalah kehebohan teriakan gadis-gadis korban visual tampan idola kampus.
Sedangkan Gia malah fokus memperhatikan pria itu. Tubuhnya yang basah oleh cucuran keringat semakin membuat pesonanya lebih menarik di mata Gia.
__ADS_1
Gia yang mendadak lupa tujuan kedatangannya ke lapangan basket, tersadar setelah dikejutkan oleh kedua sobatnya itu.
" Woii, kok malah bengong?
Gia tersentak dari khayalannya. Dan betapa malunya dirinya karena itu. Dia yang hendak menjumpai teman-temannya itu malah dia kini yang mereka jumpai. Gia yang ketahuan sedang melamun menjadi merasa malu. Wajahnya merah seperti kepiting rebus.
" Kamu lagi liatin siapa sih, sampai bengong gitu! tanya salah satu diantara mereka.
" Nggak lihat siapa-siapa kok! elak Gia karena merasa sedikit malu.
" Masa sih! goda temannya yang lain.
" Iya seriusan loh! Gia berusaha meyakinkan teman-temannya itu.
" Hemmm, baiklah.!
" Sudah yuk, balik.! ajak Gia mengalihkan topic.
Meski sebenarnya Gia masih ingin berlama-lama menatap pria itu. Tapi dia juga tidak ingin jadi bahan ejekan kedua temannya itu.
" Hei, kamu lagi cari apaan? tanya salah seorang temannya.
" Tadi aku lihat ada bunga cantikku disini tapi tiba-tiba dia sudah menghilang saja! jawab Kevin serius, tapi bagi yang pertama mendengarnya akan mengira jika Kevin pasti suka menggombal.
" Bukan jodoh kali! balas temannya itu asal.
"Tapi aku yakin dia jodohku. Hatiku berkata.! ucapnya dengan yakin dan percaya diri.
" Baiklah, Tuan pencari jodoh. Balik yuk. Nggk ada kelas lagi kan?
Kevin mengangguk. Mereka berdua melangkah beriringan. Kevin Dante dan Gasendra Varen Kalya adalah dua sahabat yang begitu akrab. Sejak bangku sekolah menengah mereka telah menjalin persahabatan hingga masuk bangku kuliah.
__ADS_1
Kevin dan Varen terkenal sebagai duo kampus incaran para mahasiswi kampus. Tapi hingga saat ini belum pernah ada satupun cewek kampusnay yang berhasil menaklukkan hati mereka berdua.
Boleh dikata Kevin dan Varen memiliki banyak kesamaan. Hobi yang sama, bakat yang hampir sama, kesukaan yang sama, bahkan type gadis yang disukai pun hampir sama, meski sifat dan karakter mereka yang sedikit berbeda.
Kevin yang spontan, blak-blakan, dan jujur. Ketika menyukai sesuatu atau seseorang akan langsung berterus terang, optimis. Tidak suka menyembunyikan perasaannya, aktif dan ekspresif. Tipe serius dan tidak suka memainkan perasaan orang lain. Tapi mudah untuk jatuh cinta.
Sedangkan Varen lebih tenang, lebih kalem dari pada Kevin. Tipe pendiam tapi menganalisis. Tidak mudah untuk jatuh cinta tapi setia. Terkesan dingin namun jika sudah jatuh cinta dengan seseorang dia akan sangat perhatian dan bisa saja menjadi penganut bucin istilah anak muda zaman now.
Gio sedikit bingung melihat sikap Gia sore ini setelah pulang dari kampus. Wajahnya nampak tersenyum sumringah tanpa ada sebab. Ketika disapa pun tidak menjawab, malah semakin tersenyum lebar lalu pergi begitu saja.
Di dalam kamarnya Gia langsung membaringkan diri di tempat tidur. Memeluk bantal guling teman tidurnya sambil senyam-senyum seperti orang gila.
Gio yang penasaran melihat tingkah aneh adik kesayangannya itu, mengekor dari belakang mengikuti langkah Gia. Dan Gio semakin heran melihat kelakuan Gia yang out of the box. 😆
"Apakah Gia kesambet jin joker saat di jalan menuju pulang tadi? pikiran liar Gio menebak asal.
Tapi jika semakin diperhatikan baik-baik, Gio seakan menangkap sesuatu. Senyum-senyum sendiri seperti itu, jangan-jangan adiknya itu sedang jatuh cinta? Bisa saja tadi saat dia kampus dia bertemu dengan pria yang disukainya.
Lihat saja senyumnya itu, senyum gadis yang sedang kasmaran. Kalau senyum karena dapat lotre atau hadiah undian dia tidak akan senyum seperti itu. Yang ada dia akan berteriak kencang agar dunia tahu jika dia memenangkan lotre atau mendapat hadiah undian.
Gio pun mendekat, lalu dicoleknya bahu gadis itu.
" Hei, kamu kenapa senyum -senyum seperti kerasukan jin cupid?
Merasakan colekan sang kakak, Gia melirik sekilas. Bukannya menjawab Gia malah semakin tersenyum manja.
Gio semakin membulatkan bola matanya yang berwarna grey itu. Tak disangkanya adiknya yang menggemaskan itu akan merasakan namanya jatuh cinta diusianya yang baru saja menginjak 19 tahun.
Kemudian diangkatnya bahu Gia dan didudukkannya Gia di atas tepi tempat tidur.
" Kalau kamu sedang jatuh cinta dan menyukai seorang pria, orang pertama yang harus kamu beri tahu adalah kakak. Mengerti!
__ADS_1
Entah Gia mengerti atau tidak maksud dari perkataan kakaknya itu, dia hanya mengangguk dan senyumnya tak lepas dari bibir mungil dan manis itu.
Gio pun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya itu. Lalu ditinggalkannya adiknya itu larut dalam pikiran dan dunianya sendiri.