Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Bunda, Gio Sangat Merindukanmu.


__ADS_3

" Kamu Gio kan? Tanya Savio memastikan keyakinannya itu.


" Iya, nama saya Gio! jawab Gio sambil menganggukkan kepalanya.


" Ternyata kamu sudah dewasa, dan semakin tampan. Saya hampir saja tidak mengenalimu! ujar Savio dengan sambil tersenyum. Ada rasa bahagia dihatinya setelah melihat Gio.


" Om mengenal saya? Tanya Gio penasaran.


" Ya, tentu saja. Waktu kamu masih kecil kita pernah bertemu!


Gio penasaran dengan jawaban pria paruh baya itu, begitu juga dengan Gia. Meskipun Om nya itu sudah bercerita tentang masa lalu ibunya, Gia masih belum mengerti sepenuhnya dengan kisah itu.


" Kamu pasti ingat tante Aletta, sahabat Bundamu. Saya adik sepupunya tante Aletta. Dan kita pernah bertemu dulu sekali. Karena kamu masih kecil mungkin tidak ingat dengan baik.


Gio mencoba mengingat sebagian dari masa kecilnya itu. Setelah diingat-ingatnya kembali, dia pun mengenali Savio.


" Iya, Gio ingat Om. Om Savio kan? Pertama kali kita bertemu waktu pesta di kantor ayah Grego.! Savio senang mendengar ternyata anak itu masih mengingatnya.


" Om tidak menyangka kamu sudah sebesar ini sekarang. Kamu semakin tampan jauh berbeda sewaktu kamu masih kecil dulu.! Gio tersenyum mendengar ucapan Savio.


" Jadi selama ini, Bunda ada bersama dengan Om Savio? Tanya Gio penasaran.


Savio tidak langsung menjawab pertanyaan Gio. Dia hanya mendesah dengan napas yang berat dan pelan.


" Kami tidak tinggal bersama. Hanya saja Om yang tahu dimana keberadaan Bundamu selama ini! ungkap Savio.


" Lalu kenapa Om tidak memberitahukannya kepada kami. ? Selama 17 tahun kami mencari keberadaan Bunda. Kami hampir putus asa.! ucap Gio dengan kesedihan dalam hatinya.


Savio yang mendengarnya pun merasa bersalah. Dia bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh anak itu. Mengingat dulu bagaimana anak itu sangat mencintai Bundanya itu. Tapi karena keegoisan hatinya dia malah memisahkan ibu dan anak itu selama belasan tahun.


" Maafkan Om yang sudah membuatmu menderita dan bersedih karena kehilangan Bundamu! sesal Savio.


" Om akui saat itu Om marah dan kesal sehingga membuat Om menjadi egois dan melakukan kesalahan itu.! Sesalnya lagi.


Gio terdiam tak ingin membalas lagi. Bagaimanapun dia masih bersyukur karena Bundanya itu baik-baik saja. Tentu saja karena Om Savio yang telah menjaga Bundanya selama ini. Hal itu tak dapat dipungkiri.


" Gio tidak berhak untuk marah dengan Om. Karena bagaimanapun selama ini Om telah menjaga Bunda dengan baik.! Ucap Gio memberi hormat kepada Savio sebagai ucapan terima kasih. Rasa haru pun kembali menyelimuti hati pria itu. Tak disangkanya Gio akan memperlakukannya dengan baik. Tidak marah ataupun dendam kepada-Nya.


Gio pun semakin mendekat ke tempat pembaringan Bundanya itu. Ditatapnya lekat wajah Bundanya yang sangat dia rindukan itu. Gio berdiri dekat di sisi Gia. Dan netranya tak hentinya menatap sang Bunda.


Lalu Gio menunduk menggenggam tangan Eva yang terasa dingin. Netranya mulai berkaca-kaca tak dapat menahan haru dalam hatinya.


" Bunda, apakah Bunda tidak merindukan Gio!? ucap Gio lirih.


" Gio sangat merindukan Bunda. 17 tahun ini Gio selalu merasa kesepian. Tidak ada Bunda yang selalu merawat dan menyayangi Gio.!


" Bahkan ayah Grego sangat menderita karena merindukan Bunda!

__ADS_1


Gio berbicara seolah-olah sedang berbicara dengan Bundanya. Sedangkan Gia hanya mendengar dengan setia. Savio pun memegang pundak Gio. Menepuk-nepuk bahu yang kekar itu.


"Mari kita doakan Bundamu semoga Tuhan selalu menjaga dan melindunginya.! ucap Savio memberi peneguhan.


Gio mengangguk perlahan dengan kedua sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas. Dia berusaha untuk tetap tersenyum dan optimis.


Gio lalu menoleh kepada Gia yang ada disampingnya. Kemudian bertanya kepada Gia.


" Jadi kamu putrinya Bunda Eva?


Gia menjawab dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Jadi kamu adalah adik kecilku! Gio menyunggingkan senyumnya kepada Gia, yang disambut oleh Gia dengan senyuman pula lalu dianggukkannya kepalanya.


Dengan refleks, Gio menarik tubuh Gia kedalam pelukannya. Dipeluknya Gia dengan penuh kasih sayang layaknya seorang kakak kepada adiknya.


" Maafkan kakak yang tidak bisa langsung mengenali kamu! Gia begitu nyaman dan hangat berada di pelukan Gio. Betapa bahagianya hatinya memiliki seorang kakak seperti Gio. Terlihat dingin dan kaku tetapi sebenarnya berhati lembut dan hangat.


Gia tetap memeluk Gio dengan erat seakan enggan untuk melepaskannya. Ternyata beginilah rasanya memiliki seorang kakak. Gio pun seakan tak ingin melepaskan pelukannya. Untuk pertama kalinya dia menjadi seorang kakak. Dan dia ingin menjadi seorang kakak yang mencintai dan melindungi adiknya dengan setulus hati.


Savio yang melihat adegan kedua kakak beradik itu merasa terharu. Seandainya dulu dia tidak egois, mereka tidak akan menderita seperti ini. Mereka seharusnya bahagia sekali dulu.


Saat mereka masih melepaskan kerinduan mereka yang selama ini tersembunyi dalam hati, tubuh Eva seperti memberikan reaksi. Jemari-jemari tangannya menunjukkan suatu pergerakan. Kelopak matanya nampak berkedip-kedip. Savio yang memperhatikan moment itu langsung bergerak dan mendekati Eva. Lalu dipanggilnya dokter dan perawat untuknya memeriksa Eva.


" Dokter...!!!! Suster...!!!! teriaknya kencang berharap ada yang mendengarkannya. Gio dan Gia pun ikut mengawasi sang Bunda melihat jikalau-kalau ada reaksi lagi.


Mereka bertiga merasa was-was dan sedikit cemas tentang keadaan Eva. Harap-harap cemas tapi tetap berpikir optimis. Semuanya akan baik-baik saja.


Perlahan-lahan netra itupun mulai terbuka. Masih terlihat kabur olehnya karena harus beradaptasi dengan sinar cahaya lampu yang sedikit menyilaukan netranya.


Eva melihat kesekelilingnya. Mencoba mengenali orang-orang yang ada disana. Dilihatnya Savio, lalu Gia. Kemudian dilihatnya Gio. Dalam benaknya Eva bertanya,


" Mengapa dia ada disini?


Gio yang melihat Bundanya itu pun tersenyum bahagia. Dia senang akhirnya Bundanya itu bangun juga dari tidurnya.


" Kenapa saya ada disini Mas? Tanya Eva yang tidak ingat persis kenapa dia bisa ada di rumah sakit ini. Tempat yang sebenarnya tidak dia sukai.


" Kamu pingsan karena terlalu banyak pikiran! jawab Savio seadanya agar wanita itu tidak terlalu kepikiran lagi.


Eva berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya. Savio pun membantunya untuk dapat duduk di atas tempat tidurnya.


" Nyonya Eva sudah mulai membaik, tidak perlu khawatir lagi. Hanya perlu istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran.! ucap Dokter itu mengakhiri pemeriksaannya. Kemudian dokter itu mengundurkan diri dari sana karena masih ada pasien yang harus di periksanya.


Eva menyentuh kepalanya yang sedikit berdenyut.


" Masih terasa sakit ya? Tanya Savio yang masih terlihat khawatir.

__ADS_1


Eva menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Eva kemudian berpaling kepada Gio.


" Kamu, kenapa ada disini?


Gio pun mendekati tempat tidur Eva.


" Saya ingin menjenguk.....Bund...! Gia langsung menarik baju Gio sehingga Gio tidak menyelesaikan perkataannya lalu menoleh ke arah Gia dan menatapnya heran karena melarang dia untuk memanggil Bundanya itu dengan panggilan Bunda seperti yang biasa dia lakukan.


Gia menggelengkan kepalanya melarang Gio untuk memanggil Eva dengannya sebutan Bunda karena dia merasa khawatir jika Ibunya itu akan bertambah kepikiran dan bisa membuatnya semakin merasakan sakit. Dan Gia tidak tega melihat ibunya itu menderita sakit lagi.


Tapi reaksi Gia itu tertangkap oleh kedua netranya Eva. Ia tahu jika ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh mereka.


" Kenapa sih, kalian itu harus berrahasia segala dari ibu?


Gia, Gio dan Savio saling berpandangan. Mereka bingung harus mengatakan apa, karena bisa saja mereka salah bicara dan ibunya itu akan bertanya terus dan terus.


" Ibu tahu ada yang kalian sembunyikan dari ibu. Apapun itu ibu üdah siap untuk mendengarkannya.?" ucap Eva dengannya percaya diri.


Savio menganggukkan kepalanya kepada Gia dan juga Gio. Pertanda jika ia mengijinkan mereka berdua untuk berterus terang kepada bundanya itu.


Gia mendekati ibunya itu lalu duduk disamping kakinya.


" Ibu.! Ibu tahu kan kalau Ibu saat ini sedang amnesia.? Tidak ingat sama sekali dengan masa lalu Ibu! ujar Gia . Eva pun mengangguk mengakui perkataan Gia..


" Apa ibu bisa mengingat sedikit saja jika dulu ibu memiliki seorang putra kecil? Pancing Gia akan ingatan ibunya itu. Eva mencoba mengingatnya. Eva memejamkan kedua matanya dan mengingat-ingat apa yang bisa diingatnya. Sekelebat bayangan wajah Gio kecil melintas di benaknya.


Eva pun membuka netranya lebar. Dan terdengar sebuah nama terucap keluar dari mulutnya.


" Gio! panggilnya.


Mereka yang mendengarnya kaget dan terkejut. Eva mulai mengingatnya.


" Ibu ingat kakak Gio ? Tanya Gia meyakinkan ibunya itu.


" Iya dulu ibu punya seorang putra namanya Gio. Tapi ibu tidak tahu dimana dia sekarang. Ibu merindukannya!


Mendengar perkataan Eva, Gio langsung menghamburkan dirinya dalam pelukan Eva. Dipeluknya wanita itu erat dengan berurai air mata. Tak disangkanya sang Bunda ternyata masih mengingatnya.


" Bunda, ini aku Gio. Gio putra Bunda! ucap Gio sambil terisak tidak dapat menahan air matanya karena terharu dengan ucapan sang Bunda.


Eva membalas rangkulan Gio meski dia masih meragu. Karena seingatnya putranya itu masih kecil. Masih berusia 5 tahun. Tiba-tiba kini muncul dihadapannya Gio yang lagi kecil. Sangat berbeda dan sedikit canggung. Tapi hati kecilnya tidak dapat membohongi perasaannya. Saat memeluk anak itu ada rasa yang pernah dia rasakan dulu. Hatinya merasa begitu dekat dan nyaman ketika dipeluk olehnya.


Pelukan itu terasa sama persis dengan pelukan yang dulu pernah dia rasakan. Jantungnya pun merasakan detakan yang sama. Detakan kebahagiaan seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Dan tanpa terasa air matanya pun tertumpah. Ada dorongan dari dalam hatinya yang mengingatkan dirinya jika putranya itu adalah dia. Rindu yang ada di hati mereka berdua melebur mengharu biru dan meneteskan air mata kebahagiaan.


" Gio putra Bunda!? seru Eva dengan ringkih.


" Iya Bunda. Ini Gio putra Bunda! jawab Gio dengan lirih.

__ADS_1


" @


__ADS_2