Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Percakapan Akrab.


__ADS_3

Entah dorongan dari mana, meski sedikit terpaksa, Joe menjumpai Via yang sedang bersantai sendirian menikmati udara segar di tepian danau. Sedangkan kakak dan Kakak iparnya menikmati waktu bermain bersama Keenan. Karena ini adalah moment yang langka dalam keluarga Hermawan, tak ada salahnya untuk memanfaatkannya. Setidaknya Keenan masih bisa merasakan jika dia punya keluarga yang sesungguhnya. Tapi sayangnya Kevin tidak ada di antara mereka. Karena baginya apapun yang dilakukan oleh keluarganya saat ini semuanya itu adalah palsu. Hanya sebagai kamuflase agar terlihat mengagumkan di pandangan orang lain. Dan Kevin, sangat membenci hal itu.


Joe duduk berdampingan di samping Via. Mereka seperti orang asing yang baru saja berkenalan. Setelah sekian lama Joe memang telah berusaha untuk berdamai dengan masa lalunya. Karena dia sadar jika kebencian dan dendam hanya akan menyakiti semua pihak. Tak terkecuali dirinya sendiri. Dan untuk membuktikan jika dirinya telah berdamai maka dengan hati yang tulus dia menemui Via, mengajaknya untuk berbicara.


Awalnya dia ragu apakah Via akan menerima niat baiknya itu, dan ternyata Via bersedia. Patut disyukuri, usahanya tidak sia-sia. Pandangan keduanya, lurus memandang nanar ke ujung seberang danau dengan isi pikiran masing-masing. Mereka seakan masih enggan untuk saling menatap satu sama lain. Lumrah, karena hubungan mereka yang sebelumnya kurang baik.


" Bagaimana kabarmu? Joe membuka percakapan bukan karena ingin sekedar berbasa-basi. Tidak bisa dipungkiri jika dia sedikit penasaran dengan keadaan Via selama ini. Dari sekian banyak hal buruk yang dilakukan oleh Via di masa lalu, masih ada beberapa hal baik yang pantas untuk diingat.


" Seperti yang kamu lihat. Keadaan saya baik-baik saja.!" jawab Via seadanya sekaligus berusaha untuk tetap bersikap baik. Walau bagaimanapun Joe pernah menjadi seseorang yang istimewa di hati Via. Dulu, ya dulu sekali. Jika ditanya untuk saat ini? Hanya Via yang bisa menjawabnya.


" Kenapa kamu sendiri....??? Joe sebenarnya ingin melanjutkan pertanyaannya itu "..dimana suami dan anak-anakmu?" namun dihentikannya. Hatinya menahan dia untuk tidak melanjutkannya. Siapa tahu pertanyaannya malah nantinya akan menyinggung perasaannya Via.


Tapi Via bisa mengerti maksud dari pertanyaan tersebut.


" Saya belum menikah. Jadi saya belum punya anak dan suaminya.!" jawaban Via sedikit menyentakkan hati Joe. Dirinya tak menyangka jika sampai sekarang Via belum menikah sama sekali. Lalu tiba-tiba di hati Joe menyusup perasaan bersalah. Mengingat kekejaman dirinya di masa lalu terhadap Via. Sekalipun yang dilakukannya adalah untuk membalas perlakuan Via yang jahat terhadap Eva. Tapi semua itu dilakukan oleh Via hanyalah karena rasa cintanya yang membabi buta kepada Joe.


" Kenapa kamu belum menikah? Joe melanjutkan pertanyaannya. Tapi kini pandangannya sudah mengarah kepada Via. Wajah Via masih terlihat muda dan cantik.

__ADS_1


" Belum menemukan yang tepat di hati.!" Via menjawab dengan santainya. Apakah itu jujur atau hanya sekedar candaan tak dapat di tebak.


" Dan kamu bagaimana?" Via balik bertanya.


" Sepertinya kita tidak jauh beda!" jawab Joe sambil tersenyum. Baginya itu sedikit terasa lucu. Bahkan Via pun ikut tersenyum.


"Sudah hampir 20 tahun berlalu, banyak hal yang telah berubah. Tapi sepertinya kamu masih tetap saja sama seperti dulu!" Joe menunduk sejenak kemudian mengalihkan pandangannya mengitari danau lalu berakhir dengan menatap mata Via yang juga sedang melihat ke arahnya. Mata mereka saling beradu pandang. Membuat Via senyum tersipu. Via lalu membuang pandangannya ke seberang danau.


" Apanya yang tidak berubah? Usia sudah bertambah tua. Keriput mulai muncul dimana-mana.!" Via menjawab seperti jawaban awam pada umumnya.


"Kamu memuji atau sedang mengejek?" Via mencoba memperjelas maksud dari perkataan Joe.


" Apakah aku terlihat seperti sedang mengejek?" Joe balik bertanya.


" Itu yang aku kurang tahu. Karena seingatku kamu tidak pernah memuji apapun tentang diriku. Karena sepertinya bagimu tidak ada yang bisa dipuji dari diriku?" balas Via yang terdengar seperti kata-kata sarkas dan membuat Joe merasa tersindir. Tapi kalau diingat-ingat kembali ke masa lalu, Joe memang sepertinya tidak pernah memuji Via sekalipun. Tentu saja Via menanyakan hal itu.


" Ternyata diriku seburuk itu kepadamu ya!?" ujarnya dengan perasaan cukup bersalah.

__ADS_1


" Sebenarnya tidak. Hanya suara mungkin kita yang tidak saling mengerti dan memahami satu sama lain. Sehingga yang terjadi hanyalah kesalahpahaman yang berlarut-larut. Dan akhirnya hanya meninggalkan luka dan kebencian diantara kita.!" Perkataan Via kali ini sangat terdengar bijak. Joe yang mendengarnya bahkan terkejut, tak menyangka kata-kata itu keluar dari seorang Via. Ternyata waktu bisa mengubah hidup seseorang. Tergantung kembali kepada diri sendiri mau menerima perubahan atau tetap pada keegoisan diri sendiri.


" Kali ini kamu memang benar berubah Vi, Sekarang kamu lebih bersikap dewasa dan bijak. Dan perkataanmu itu memang benar. Kita terlalu egois waktu itu. Tidak mau mendengarkan orang lain.!" Joe mengakui kesalahannya di masa lalu.


Sesaat kemudian mereka saling terdiam. Mereka berfantasi dalam pikiran mereka masing-masing. Serpihan kenangan masa lalu satu persatu mulai muncul dalam benak dan pikiran mereka. Bagai memutar memori film yang telah lama usang teronggok di sudut ruang hati yang lama tak berpenghuni.


Langit yang awalnya biru cerah tiba-tiba gelap terbungkus awan mendung. Angin sepoi-sepoi berubah menjadi kencang dan turunlah hujan dengan deras. Tenda-tenda yang semula berdiri kokoh ternyata tak kuat menahan deru kencang angin. Satu persatu tumbang tak mampu melawan kuatnya sang angin. Untunglah di sekitar danau ada beberapa pendopo yang sengaja dibangun yang biasanya digunakan oleh mereka yang datang tidak membawa tenda. Grego, Eva, Gio dan Gia nampak sudah menyelamatkan diri dengan bernaung di salah satu pendopo.


Begitu juga dengan Keluarga Hermawan. Mereka berlindung di pendopo yang tak jauh dari pendopo tempat Grego dan keluarganya. Sedangkan Joe dengan spontan menarik pergelangan tangan Via bermaksud membawanya untuk berlindung dari siraman air hujan yang cukup deras. Namun karena letak Pendiri cukup jauh dari tempat mereka, Joe membawa Via berlindung di bawah gazebo kecil yang ada di tepi danau.


Meski masih terkena rembesan air hujan, setidaknya masih terlindungi dari derasnya air hujan. Jarak diantara mereka berdua sangat begitu dekat. Joe tanpa segan memegang kedua pundak Via dan mendekatkan tubuh Via agar lebih dekat kepadanya agar tubuhnya tidak basah tersiram air hujan. Via yang sebenarnya merasa sedikit canggung dan malu, tak bisa menolak perlakuan Joe yang tiba-tiba saja begitu perhatian. Joe sendiri sepertinya tidak menyadarinya apa yang telah dilakukannya. Dalam bebannya saat ini adalah hanya ingin melindungi Via agar tidak kebasahan dan kedinginan. Apalagi melihat pakaian Via yang cukup tipis dan berlengan pendek.


Ternyata Joe punya sisi lembut dan perhatian kepada orang lain yang selama ini sepertinya dia sembunyikan. Atau mungkin karena belum menemukan seseorang yang ingin diperlakukan olehnya seperti itu. Via yang merasa tersentuh dengan perlakuan Joe membuat hatinya berdebar-debar kencang dari biasanya. Bagaimana tidak, ketika seorang pria yang dulu pernah dicintai, pernah mengisi relung hatinya begitu dalam, kini memberikan sebuah perhatian yang begitu menyentuh hati.


Dalam benaknya Via mencoba untuk menepis perasaan tersebut, namun hatinya tidak mampu menolaknya. Hati dan pikiran boleh bertolak belakang tetapi pada akhirnya tindakan yang ditunjukkan tidak mampu menolak suara hati. Via pun menyunggingkan sebuah senyuman. Dan itu adalah senyum bahagia yang pertama kali terlukis dari bibir merah Via. Setelah sekian tahun lamanya baru kali ini.


Ternyata perasaan itu tidak pernah hilang. Meski dulu telah dia coba untuk melupakannya, tapi rasa itu tidak benar-benar hilang. Dia tertidur begitu lama. Dan kini hanya karena sebuah perhatian berupa satu sentuhan lembut, rasa itu mulai terbangun dari tidurnya. Begitulah kekuatan sebuah rasa yang bernama cinta. Dayanya begitu hebat dan kuat. Saat Via tidak tahu harus berbuat apa. Marah pada hujan yang telah membuat mereka harus basah dan kedinginan di tempat ini atau malah bersyukur karena hadirnya telah membuat mereka semakin dekat dan hangat seperti saat ini? Via memejamkan matanya dan menikmati suasana saat ini. Dingin tapi hangat.

__ADS_1


__ADS_2