Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
17 Tahun Berlalu


__ADS_3

Gio yang sudah semakin dewasa memang ada sedikit perubahan dalam dirinya. Tidak hanya perubahan fisik tetapi juga sikap dan perangainya. Kesan imut dan lucu yang dulu melekat dalam dirinya semenjak ditinggalkan oleh Sang Bunda kesan itu sama sekali tak ada lagi dalam dirinya. Kini yang nampak dalam dirinya adalah sikap dingin dan cuek tetapi kelembutan hati yang diajarkan oleh sang Bunda tidak pernah berubah sama sekali.


Sedangkan Ayah Grego berubah menjadi Batu hidup yang bernyawa. Tidak ada senyum, tawa ataupun ceria diwajahnya. Hatinya seakan-akan telah membatu. Waktunya dihabiskannya hanya dengan bekerja dan bekerja. Bahkan saat berbicara dengan Gio pun seperti berbicara dengan robot tanpa ekspresi sama sekali. Untunglah Gio yang begitu menyayangi Ayahnya itu selalu setia dan sabar merawat dan menemani sang ayah.


Gio sangat mengerti penderitaan yang dialami oleh sang Ayah. Ayahnya pasti sangat tersiksa. Selama 17 tahun ini dia harus menanggung segala penderitaan di dalam hatinya. Gio harus


menjadi pribadi yang dewasa meski diusianya yang masih sangat belia. Hingga membentuk karakternya seperti sekarang ini.


Meski sudah 17 tahun berlalu, Gio masih menyimpan pengharapan dalam hatinya jika suatu saat nanti Bundanya akan kembali berkumpul bersama lagi. Hati kecilnya yakin jika Bundanya saat ini pasti masih hidup hanya belum bisa pulang ke rumah mereka.


Sudah betapa rindu hatinya kepada Bundanya itu. Rindu yang begitu dalam. Benar kata Dilan " Rindu itu berat! Bahkan sangat berat.


Gio sedang tidak fokus saat mengemudikan mobilnya. Pikirannya melayang entah kemana-mana. Banyak hal yang memenuhi pikirannya saat ini. Tidak hanya masalah pekerjaan, memikirkan kondisi sang ayah, memikirkan keberadaan sang Bunda dan banyak hal lainnya yang sekali-kali datang silih berganti-gantian menemui ruang pikirannya.


Dan tiba-tiba saja terdengar suara benturan keras. Gio menabrak sesuatu. Kakinya langsung menginjak rem namun tabrakan tak dapat dihindari.


Karena sedang tidak fokus saat menyetir mobil, Gio tidak sadar dari arah berlawan ada kendaraan yang juga sedang melaju kencang. Meski hari masih terang karena sang matahari belum kembali ke peraduannya, Gio tidak melihat dengan baik jika ada kendaraan lain dari arah berlawanan.


Akibat terjadi benturan, kepala Gio membentur setir mobil dan meninggalkan bekas luka dijidatnya. Gio keluar dari dalam mobil untuk memeriksa kondisi di luar akibat kecelakaan itu. Kepalanya sedikit pusing efek benturan yang cukup keras.


Orang-orang terlihat berkerumun disekitar lokasi kejadian. Ternyata kendaraan yang ditabrak oleh Gio adalah sebuah motor matic yang dikendarai oleh seorang gadis remaja.


Ada beberapa barang berserakan di jalanan yang jatuh dari motor matic tersebut. Gadis itu terlihat meringis kesakitan. Tubuh mungilnya jatuh ke badan jalan yang membuat tulang-tulangnya terasa nyeri. Untung saja tidak sampai patah tulang.


" Maaf, bagaimana kondisinya? Tanya Gio yang merasa bersalah.


" Mas, kalau bawa kendaraan itu hati-hati dong. Mentang-mentang orang kaya sesuka hatinya membawa mobil.! teriak salah seorang warga dari antara kerumunan orang banyak.


" Ya betul itu. Dikiranya jalanan milik nenek moyangnya kali! yang lain menimpali.


Gio cuek aja mendengar ocehan orang-orang yang tidak penting itu. Yang ada dalam benaknya saat ini melihat keadaan si korban.


Si gadis mencoba bangkit akibat terjatuh dari motornya. Tidak ada luka serius. Hanya saja tubuhnya pasti lebam-lebam terbentur beton jalan.


Anehnya orang-orang yang berkerumun melihat kejadian tersebut bukannya membantu malah asyik menonton.


Gio segera membantu gadis itu dengan memapahnya dan membantunya untuk berdiri.

__ADS_1


" Kamu tidak apa-apa? Tanya Gio sedikit khawatir. Rasa pedulinya yang diajarkan oleh sang Bunda saat kecil menjadikannya pria yang berhati lembut dan perasa. Sikap dingin dan cueknya selama ini hanyalah kamuflase untuk menutupi kesedihan hatinya.


Karena rasa kepeduliannya yang besar dia bahkan tidak mempedulikan luka yang ada padanya. Gadis itu yang juga merasakan kesakitan ketika melihat luka dijidatnya Gio, juga ikutan merasa kasihan.


" Saya tidak apa-apa. Anda sepertinya yang terluka.! Ucap gadis itu dengan jujur.


Karena walau bagaimanapun dia ikut bertanggung jawab. Kecelakaan itu tidak sepenuhnya diakibatkan oleh pria itu.


" Saya tidak apa-apa.! Balas Gio dengan lembut tetapi dingin.


Gadis itu melepaskan genggaman Gio. Dia pun berusaha untuk memberdirikan motornya itu dibantu beberapa orang yang masih setia menonton mereka berdua.


Yang lainnya membantu membereskan barang-barangnya yang berserakan tadi.


Untunglah orang-orang disekitar lokasi tersebut tidak tersulut amarah sehingga keadaan dapat dikendalikan dengan baik.


Setelah semua barang-barang Gadis itu terkumpul dan dinaikkan kembali ke atas jok motornya, Gadis itu juga kembali menaiki motor matic berwarna pink itu. Diputarnya kunci motornya dan syukurlah masih bisa berfungsi dengan baik. Tidak ada kerusakan yang parah hanya penyok di bagian spionnya.


" Apakah kita tidak perlu ke rumah sakit untuk cek keadaanmu?


" Ahh... tidak perlu. Saya baik-baik saja! jawab gadis itu.


Setelah gadis itu pergi, Gio pun kembali ke dalam mobilnya. Bagian depan mobilnya sedikit penyok. Tapi tidak masalah besar baginya.


Sepanjang perjalanan kembali ke rumahnya, Gio teringat kembali dengan gadis motor matic. Wajahnya seperti familiar sekali. Tapi dimana dia pernah melihatnya? Gio tidak bisa mengingatnya sama sekali. Wajah ibunya mengingatkannya akan seseorang. Yaa, seseorang yang sangat begitu dekat dengan dirinya. Tapi siapa?


Sesampainya di rumahnya. Gio melangkah menuju kamar Ayahnya. Dibukanya pintu kamar dan disaksikannya sang ayah sedang duduk di depan cermin meja rias sang Bunda. Digenggamnya foto Eva dan dipandanginya dengan senyum sendu. Begitulah setiap hari, Gio menyaksikan sang ayah yang selalu merindukan sang Bunda dengan memandang foto sang Bunda berlama-lama.


Kemudian dia akan berbicara seolah-olah sedang berbicara dengan Eva. Grego biasanya akan melakukannya sampai berjam-jam. Dan Gio yang akan menghentikannya dengan mengajak Ayahnya itu berbicara.


Gio pun masuk ke dalam lalu disapanya Ayahnya itu.


" Ayah, Gio sudah pulang. Kita makan yuk. Gio masak makanan kesukaan ayah tuh! sapa Gio mengalihkan khayalan sang ayah.


Grego menoleh ke arah Gio. Kemudian dia mengangguk tapi hanya sekali anggukan. Diletakkannya foto Eva. Kemudian dia berdiri dan melangkah ke arah Gio. Dirangkulnya kedua pundak Gio lalu mereka berdua melangkah keluar bersama.


Betapa rindu di hatinya kepada Eva tidak akan pernah hilang. Karena cinta akan selalu bersanding dengan rindu maka keduanya tidak akan pernah bisa terpisahkan.

__ADS_1


Rumah itu telah lama sepi semenjak 17 tahun yang lalu. Auranya hampa, kosong dan nelangsa. Gio sendiri ingin mencoba mengubahnya agar lebih terasa hidup kembali. Namun sangat sulit karena sang ayah begitu kuat menguncinya dari dalam. Seberapa keras pun Gio mencoba, selalu terasa sulit baginya untuk mengubahnya.


Tapi Gio tidak pernah mengenal kata menyerah. Dalam hatinya selalu berharap dan berpikir positive.


Di suatu tempat yang tidak jauh dan tidak juga dekat.


" Maaa....! teriak seorang gadis sembari membuka pintu sebuah toko kue.


Seorang wanita paruh baya sedang berdiri di belakang meja kasir. Mendengar teriakan gadis itu, Dia pun segera berbalik dan menatap wajah gadis itu.


" Ada apa sih sayang, kok teriak gitu.? jawab wanita yang dipanggil dengan sebutan mama itu.


" Ma, tadi motor adek ditabrak orang! Ucapnya dengan tenang dan santai sambil cengar-cengir.


" Hah... apa? Ditabrak ? Mulut wanita itu menganga terkejut mendengar ucapan gadis itu.


"Hanya tabrakan kecil aja kok Ma, adek nggk papa kok! Ujarnya tanpa ada rasa takut atau sakit sedikitpun.


Wanita itu langsung meraba seluruh tubuh anak gadisnya itu untuk memeriksa apakah ada yang luka atau patah.


" Adek baik-baik saja kok Ma. Tapi.....!


Mendengar kata tapi membuat wanita itu penasaran sekaligus takut Apakah ada terjadi sesuatu?


" Motornya adek penyok sedikit! Lanjutnya sambil tersenyum sumringah.


Wanita itu pun menggeleng dan mendesah pelan melihat kelakuan anak gadisnya itu.


" Mama kan sudah pesan, jangan bawa motor itu lagi! Sudah berapa kali coba kamu kecelakaan dengan motor itu. Biar si David yang antar barang ke pelanggan-pelanggan kita! Ujar wanita itu mengingatkan anak gadisnya itu. Kemudian lanjut wanita itu lagi,


" Gia sayang, kita kan masih beberapa bulan ini pindah ke kota ini dan masih memiliki beberapa pelanggan toko, Mama tahu kamu ingin lebih mengenal kota ini agar bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru tapi kamu harus berhati-hati sayang. Kita tidak tahu banyak orang jahat berkeliaran disekitar kita!


Anak gadisnya itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tetapi masih dengan sikap yang sopan dan santun. Sepertinya gadis itu memang anak yang baik.


" Ya sudah kamu pergi bersihkan badan kamu dulu sana, pasti keringat dan bau kan? Ekspresi wajah wanita itu pura-pura masam.


Si gadis itu pun pura-pura mencium badannya dan wajahnya ikut berubah menjadi masam.

__ADS_1


Lalu mereka berdua tertawa kompak.


__ADS_2