Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Hati Yang Gelisah


__ADS_3

Setelah perjumpaannya dengan Eva aka Evelyn, hati dan pikiran Grego tidak tenang. Bayangannya akan Eva dan Evelyn muncul silih berganti dalam benaknya. Keduanya seperti satu orang dalam dua raga. Grego sudah ingin mulai belajar menerima kenyataan jika Eva sudah tiada lagi di dunia ini. Namun disaat keinginan itu muncul dia malah diingatkan kembali setelah bertemu sosok Evelyn.


Seolah-olah semesta tidak mengijinkannya untuk melupakan Eva cinta sejatinya.


Gio melihat ayahnya yang sedang termenung dengan pikiran yang mendalam.


Didekatinya pria naif itu.


"Ayah! panggilnya.


Grego menoleh ke arah Gio lalu dia bangkit berdiri dan mendekat kepada Gio.


"Gio, kamu masih percaya kalau Bunda kamu masih hidup? Grego langsung melontarkan pertanyaan kepada Gio.


Gio mengangguk mengiyakannya.


"Ayah juga sangat-sangat percaya jika Bunda kamu masih hidup. Dan ayah merasa Bundamu sangat dekat dengan kita dan dia akan segera kembali." Dipegangnya bahu Gio, seperti memberi kekuatan dan kepercayaan serta peneguhan.


Gio tersenyum meyakini ucapan ayahnya itu.


Sedangkan Joe....


Dia sedang berusaha memikirkan cara bagaimana caranya supaya bisa melihat wajah wanita itu secara langsung untuk menghapus segala bentuk keraguan dalam benaknya.


" Tapi bagaimana caranya??


Tidak mungkin dia harus menguntitnya 24 jam karena pasti ada saat dimana dia akan melepaskan maskernya. Joe memutar otak untuk mendapatkan ide cemerlang. Tapi sayang nya otaknya sedang buntu. Padahal ini hanyalah sebuah masalah kecil. Masalah perusahaan yang rumit dan kacau saja bisa dia selesaikan dengan baik bahkan sangat baik, kenapa hanya problem kecil begini sulit baginya untuk menemukan jalan keluarnya.


Akhirnya malam ini Joe berencana untuk mengikuti kedua wanita itu. Untuk sementara ini Joe mengganti profesinya sebagai penguntit. Dari pada benaknya terus dipenuhi oleh keragu-raguan. Fix malam ini Joe akan memulai aksinya. Tapi dia hanya akan melakukannya sendirian saja. Gio tidak perlu tahu dan tidak perlu diberitahu. Dia sudah cukup sibuk mengurus perusahaan dan merawat ayahnya.

__ADS_1


Sampai-sampai Gio tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Jangankan untuk berkencan dengan pacarnya, sampai sekarang saja dia masih berstatus jomblo akut. Belum pernah pacaran sama sekali. Tidak sia-sia selama ini Eva mendidiknya menjadikannya pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, berhati lembut dan tulus. Meski terkadang terkesan dingin kepada lawan jenis. Bukan karena dia tidak menyukai perempuan. Akan tetapi sepertinya ada trauma setelah kehilangan Bundanya. Gio takut menjalin hubungan dengan seorang perempuan karena dia takut tidak mampu menjaga dan melindunginya sehingga suatu saat nanti wanitanya itu hilang seperti Bundanya.


Ada perasaan bersalah dalam hati Gio atas hilangnya Eva Bundanya itu. Bersalah karena tidak bisa menjaga Bundanya dengan baik sehingga Bundanya itu hilang dan tak kembali meski kini telah 17 tahun berlalu.


Joe sudah bersiap-siap untuk pergi. Misi kali ini harus berhasil setidaknya memuaskan hatinya. Meski hasilnya belum tentu sesuai dengan keinginan hatinya.


Dengan mengendarai mobil kesayangannya, Joe menuju ke toko roti "Awan ". Entah kenapa toko roti itu dinamai dengan sebutan toko roti "Awan". Sesampainya disana dia memilih memarkirkan mobilnya agak jauh dari toko roti itu. Namun masih bisa melihat lebih jelas orang-orang keluar masuk dari toko itu. Dengan sabar Joe menunggu di dalam mobil. Karena dia tidak tahu jam berapa toko roti itu tutup.


Seperti biasanya, Evelyn dan putrinya Gia menutup toko kira-kira pukul 08.00 malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.50 malam. Evelyn dan Gia sedang merapikan toko sebelum mereka pulang ke rumah.


Setelah semua terlihat rapi, Evelyn menutup pintu toko lalu mereka berdua berjalan pulang.


Jarak rumah dengan toko mereka tidak terlalu jauh kira-kira 5 blok rumah sehingga bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Saat Joe melihat Evelyn dan Gia sudah keluar dari toko, dia mengikuti mereka dari belakang. Laju mobilnya dibuat melambat agar tidak mendahului mereka. Hanya beberapa menit saja mereka sudah tiba di rumah. Joe fokus memperhatikan dari jauh. Evelyn membuka maskernya sebelum masuk ke dalam rumah. Hanya saja karena posisinya membelakangi Joe maka Joe tidak bisa melihat wajah itu dengan lebih jelas.


Bahkan hingga keduanya masuk ke dalam rumah dan menghilang Joe tidak berhasil melihat wajahnya.


Gagal misi kali ini. Joe sudah berpikir hendak meninggalkan tempat itu, untuk kali ini misinya tidak berhasil. Mungkin kali lain masih ada kesempatan. Baru saja dia hendak menghidupkan mesin mobilnya, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka lagi. Evelyn keluar membawa kantongan sampah. Dan kali ini tanpa masker. Betapa terkejutnya Joe ketika melihat wajah itu. Ya. Wajah yang tidak asing lagi bahkan sangat melekat dan terekam dalam memori ingatannya.


Joe meraih handphonenya. Dibukanya kamera video dan segera direkamnya Evelyn. Evelyn yang tidak menduga jika ada seseorang yang sedang merekam dirinya berjalan biasa saja. Tidak ada kecurigaan sedikitpun, meski dirinya sudah melihat mobil Joe yang sedang parkir disana, dia hanya mengira jika mobil itu hanya sekedar parkir saja.


Joe tak henti-hentinya memperhatikan Evelyn. Rasa kaget masih menguasai pikirannya. Antara percaya dan tidak. Apakah mungkin bisa ada dua orang yang berbeda memiliki wajah yang sama persis? Kecuali anak kembar! Karena jika dia Eva kenapa dia tidak ingat dengan Joe sama sekali? Dan lagi pula dia juga memiliki seorang putri. Tidak mungkin Eva memiliki anak dari pria lain, mengingat betapa Eva dan Grego sangat saling mencintai.


Setelah membuang sampah ditangannya, Evelyn segera masuk kembali ke dalam rumahnya. Joe terpaku dalam diam, dalam pikiran yang tidak dapat diartikan. Peristiwa ini terlalu mengejutkan baginya.


Namun masih ada satu kemungkinan lagi. Mungkinkah Evelyn sebenarnya Eva yang sedang menderita amnesia atau lupa ingatan? Dan dalam keadaannya itu mungkin saja Eva menemukan pria lain yang memberinya perlindungan dan kenyamanan sehingga mereka menikah dan mempunyai seorang putri.


Pikiran Joe semakin menerawang tak terbatas arah. Segala kemungkinan-kemungkinan berseliweran di dalam otaknya. Setelah Evelyn tidak terlihat lagi barulah Joe melajukan mobilnya kembali kekediamannya. Meski teka-teki dalam otaknya masih belum terjawab sama sekali.


Sesampainya di rumahnya, Joe langsung menghubungi Gio. Namun dia tidak memberitahukan apa yang dilihatnya barusan. Dia hanya meminta Gio untuk datang karena ada sesuatu yang ingin diperlihatkannya.

__ADS_1


Gio segera meluncur kekediamannya Joe.


Tidak sampai 15 menit Gio sudah tiba dan langsung menuju kamar kerja Joe.


" Malam Om! sapa Gio.


" Sini Gio! Om ingin menunjukkan sesuatu sama kamu! Joe membuka video dalam handphonenya. Lalu menyerahkannya kepada Gio.


Dan betapa terkejutnya Gio ketika melihat isi dari video itu.


" Om?? Om ketemu Bunda dimana? Tanya Gio yang mengira orang dalam video itu adalah Eva Bundanya.


" Itu bukan Bunda kamu!


Mendengar jawaban Joe, Gio bingung dan bertanya-tanya.


" Maksudnya apa Om? Jelas-jelas wajah wanita ini sama persis dengan wajah Bunda! Gio meyakinkan apa yang dilihatnya.


" Tapi tetap saja dia bukan Bunda kamu. Dia bukan Eva.! Joe membenarkan apa yang diketahuinya.


" Lalu? Siapa wanita ini.? Kenapa wajahnya sangat mirip sekali dengan Bunda?


" Dia itu wanita pemilik toko roti yang kita datangi kemarin!


Gio langsung teringat dengan kedua perempuan pemilik toko roti itu.


" Apa om yakin? Gio terlihat masih meragu.


" Iya, Om sangat yakin karena Om sendiri yang mengikuti mereka sampai ke rumah mereka dan merekamnya.!

__ADS_1


Gio masih terus melihat wajah di dalam video itu. Rasa penasarannya sungguh teramat besar. Dirinya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wajah itu jelas-jelas menunjukkan wajah Bundanya. Sama persis tidak ada bedanya.


Gio menyentuh layar handphone itu seolah-olah ia sedang menyentuh wajah ibunya. Betapa rindu dihatinya sungguh amat besar kepada bundanya itu.


__ADS_2