
" Halo Gia, putri Om yang manis!
Gia langsung menoleh ke arah suara tersebut. Melihat siapakah pria yang baru saja muncul itu, ekspresi wajah Gia langsung berubah, cerah dan bahagia.
" Om Vio! teriaknya senang. Dihampirinya pria itu lalu dipeluknya. Gio dan Grego ikut melihat ke arah pria itu.
" Om kok ada disini.? Tumben-tumbenan mau datang? ucap Gia dengan sikap manjanya. Sepertinya mereka berdua sangat begitu akrab.
" Om tiba-tiba rindu dengan putri kecil Om. Karena beberapa hari ini, putri Om menghilang, nggk datang berkunjung ke rumah Om! balasnya dengan sikapnya yang begitu hangat dan lembut.
Gia tersenyum bahagia mendengar penuturan pria itu yang dipanggilnya dengan sebutan Om. Pria itu melihat-lihat ke arah Gio dan Grego. Mimik wajahnya sedikit terkejut ketika melihat wajah Grego. Buru-buru dialihkannya perhatiannya agar tidak terlihat oleh mereka.
"Apa kabar Ev? Sapa pria itu menanyakan kabar Evelyn yang hanya terdiam melihat tingkah keduanya.
" Aku baik-baik saja! jawab Evelyn seadanya.
Mendengar pria itu memanggil Evelyn dengan sebutan nama Ev, Grego seperti mendengar nama Eva yang dipanggilnya. Hatinya sedikit bergetar. Rasa rindu kembali menyerang hatinya. Rindu yang amat teramat dalam.
" Pagi-pagi sekali sudah ada pelanggan ya. Baguslah, berarti roti buatan kalian enak dan disukai banyak orang! Puji pria itu dengan bangga.
" Mas Vio terlalu memuji. Tapi puji Tuhan toko kita selalu ada pengunjungnya.! ucap Evelyn merendah.
Melihat kedekatan mereka ada rasa iri dan cemburu di dalam hati Gio dan Grego.
Kemudian Gio berkata lagi menyela percakapan diantara mereka.
" Kalau begitu, kami mau pamit permisi. Maaf jika sudah mengganggu waktunya!
" Oh, tidak apa-apa. Kami harusnya minta maaf karena tidak bisa membantu apa-apa.!
Gio tersenyum, mencoba menerima dengan tabah meski hatinya terluka. Demikian juga dengan Grego. Hati kecilnya masih meyakini jika perempuan yang ada dihadapannya saat ini adalah Eva wanitanya. Entah apa yang terjadi sehingga wanita itu tidak mengingat mereka sama sekali.
Gio menundukkan kepalanya, pamit kepada Evelyn, Gia dan pria itu. Gio pun mengajak ayahnya untuk meninggalkan tempat itu. Berat rasanya Grego meninggalkan tempat itu. Dia belum puas melihat wajah itu. Tapi Gio menarik lengannya mau tidak mau dia pun melangkahkan kakinya dan beranjak dari sana.
Baru saja beberapa langkah, Evelyn mengucapkan kata-kata penghiburan kepada mereka berdua.
" Saya berdoa dan berharap semoga kalian segera menemukan dan bertemu dengan wanita yang sangat kalian rindukan itu. Dan kebahagiaan pasti akan datang. Percayalah!
Grego berbalik dan menatap wajah perempuan yang baginya adalah wanita yang akan selalu mengisi hatinya. Dan apa yang diucapkannya adalah pengungkapan isi hatinya juga.
Dengan langkah-langkah berat akhirnya Gio dan Grego meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sedangkan ketiga orang di dalam ruangan toko itu terlihat senang dan bahagia. Terlihat jelas lewat pancaran wajah mereka.
Lalu siapakah pria bernama Vio itu?
Ya pria itu adalah Savio, adik sepupu Aletta sahabat Eva. Selama 17 tahun ini dia lah yang menjaga dan melindungi Eva dan Gia. Dan dia tahu siapa Eva sebenarnya dan apa yang telah terjadi. Bahkan saat dirinya melihat sosok Grego dia merasa terkejut. Hatinya sempat merasa khawatir apakah jangan-jangan Grego sudah mengetahui keberadaan Eva dan ingin membawa mereka kembali. Tetapi semua itu di rahasiakan olehnya. Dan apa alasannya hanya dia yang tahu.
Mungkin Vio terlihat sebagai sosok pribadi yang jahat dan egois karena telah menyembunyikan keberadaan Eva dan Gia meski dirinya tahu siapa sebenarnya Eva yang bahkan harus berganti nama menjadi Evelyn.
Melihat Vio yang sedang mengkhayal, muncul keusilan Gia untuk menjahili Omnya itu.
" Om, awaass... ada kecoaaaaa...!! teriak Gia.
Dengan refleks Vio melompat ke atas sambil berteriak-teriak.
" Aaaa....dimana kecoanya.....kecoa... kecoa...!!!
Ternyata pria perkasa itu takut dengan kecoa.
Lemah!!!
Melihat usahanya berhasil Gia malah tertawa terbahak-bahak. Dia bahagia sudah berhasil mengerjai orang tua itu.
Sadar jika dirinya sedang dikerjai oleh Gia, Vio pun turun dari kursi yang jadi korban sandaran kakinya yang perkasa itu. Dan dikejarnya Gia untuk membalas keusilannya itu. Dan tentu saja Gia tidak tinggal diam. Dengan gerakan lincah dan cekatan dia berlari menghindari kejaran Vio. Terjadilah adegan kejar-kejaran ala Tom and Jerry di dunia nyata.
Di dalam mobil Gio,
Grego hanya termenung saja sejak masuk ke dalam mobil. Tidak ada reaksi apapun. Pikirannya jauh menerawang. Raganya memang berada di dalam mobil itu. Tetap hati dan pikirannya berada di tempat lain.
Gio memperhatikan ayahnya itu. Betapa sedih hatinya. Dia sangat bisa merasakan jika ayahnya itu pasti merasakan kekecewaan yang amat sangat dalam. Mungkin sesaat tadi ayahnya itu mempunyai keyakinan jika wanita yang mereka jumpai itu adalah Eva, Bundanya. Tapi kenyataan tak sehebat ekspektasi.
Yakin, boleh saja yakin. hanya saja harus tetap percaya dengan realita.
Awalnya dia mengira jalan terang seakan sudah mulai terbuka dan mendekat. Tapi diujungnya tetap saja. Akhir yang mengecewakan.
Seolah-olah takdir sedang mempermainkan hidup mereka. Padahal selama ini mereka tidak pernah melakukan kejahatan ataupun kesalahan dengan menyakiti orang lain. Lalu mengapa mereka seakan-akan sedang menjalani sebuah hukuman.?
Jikalau bukan karena mereka adalah orang-orang beriman yang percaya kepada Tuhan, mungkin sudah lama mereka akan mengingkari iman mereka sampai menyalahkan Tuhan atas derita yang mereka alami.
Tetapi mereka masih memiliki iman yang sekalipun bahkan lebih kecil dari biji Sesawi.
Gio hanya mampu berdoa dan berpasrah dalam hatinya. " Semoga Tuhan tidak akan mengabaikan keluh kesah hambanya yang meminta pertolongan kepadanya.
__ADS_1
Dibiarkannya ayahnya itu menenangkan diri sejenak. Semoga saja bisa menata kembali hati yang hancur menjadi lebih tegar.
Malam harinya.
Evelyn sedang berdua dengan Gia di dapur toko sambil membuat adonan roti. Sesekali mereka saling bercanda, bermain tepung seperti anak kecil. Hingga wajah mereka ditaburi oleh bubuk putih itu.
Lalu tiba-tiba seseorang masuk dengan paksa. Mendobrak pintu dapur dengan keras sehingga terdengar hentaman keras antara pintu dan dinding.
" EVA! teriak pria dengan keras.
Evelyn yang terkejut menjadi takut mengira ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Dilihatnya pria itu. Ternyata Grego.
" Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak seperti itu? Tanya Evelyn yang masih ketakutan karena terkejut.
Grego langsung memeluk Evelyn dengan erat dan hangat. Seakan-akan takut kehilangan. Wajahnya tampak sedih dan cemas.
"Jangan pergi lagi! Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Aku tidak sanggup jika harus berpisah denganmu. Sudah terlalu lama aku menunggu dan menderita. Aku mohon jangan pergi lagi! Rintih Grego dalam pelukan Evelyn.
" Aku tidak kemana-mana. Aku akan selalu disini bersamamu. Kamu tidak perlu takut sayang.! ucap Evelyn menenangkan hati Grego.
Tapi kemudian seorang laki-laki muncul dan meraih tangan Evelyn, mencoba memisahkannya dari pelukan Grego.
Grego tersentak dan terkejut. Dia sangat ketakutan ketika orang itu memisahkan mereka berdua.
" Eva,! teriaknya.
" Sayang! panggil Evelyn.
Laki-laki asing itu malah menjauhkan Evelyn dari Grego. Membawanya pergi dan menghilang dari sana. Grego yang berusaha mengejar dan meraih Evelyn hanya bisa mematung karena kaki dan tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali.
" Evaaaa! teriaknya kencang.
Evelyn tersadar dari tidurnya. Mimpi. Iya, ternyata hanya mimpi. Tapi kenapa dia malah memimpikan pria itu. Pria yang datang menemui mereka karena mengira jika dia adalah wanita yang dicari-cari selama ini. Wanita yang sepertinya sangat dicintai oleh kedua pria itu, ayah dan anak.
Evelyn berpikir sejenak. Apakah mungkin hal itu benar-benar terjadi? Mengingat kenyataan jika dia juga tidak bisa mengingat sama sekali kenangan-kenangan yang terjadi sebelum 17 tahun ini.
Kenangan yang tersimpan di memorinya saat ini adalah hanya kenangan selama 17 tahun ini. Kenangan yang dimulai sejak dia hamil Gia tanpa tahu siapa sang ayah dari bayi yang dikandungnya. Kenangan yang diawali saat Vio merawat dan menjaganya di rumah sakit karena sakit hingga dia melahirkan Gia ke dunia ini. Hanya Vio yang selalu menemaninya menjalani kehidupannya yang penuh penderitaan karena ketidak berdayaannya.
Jika memang benar dirinya adalah wanita itu, kenapa mereka tidak mencarinya selama 17 tahun ini? Kenapa mereka membiarkannya seorang diri melalui penderitaan yang dialaminya? Kenapa mereka meninggalkannya seorang diri? Kenapa dan mengapa?
__ADS_1