
Setelah pertemuan di danau waktu itu, hati Joe seakan merindukan sesuatu. Selama belasan tahun Joe memilih untuk tetap menyendiri. Menjadi bagian dari keluarga Eva dan Grego adalah salah satu keputusannya yang pantas diacungi jempol. Seiring perjalanan waktu, cintanya untuk Eva telah berubah menjadi kasih sayang seorang kakak kepada adik perempuannya.
Selama itu pula dia menutup hatinya untuk mencintai wanita lain. Seakan-akan dia trauma untuk mencintai wanita lain. Dia takut cintanya tak terbalas. Hingga selama belasan tahun dia menikmati hidupnya tanpa merasakan jatuh cinta kepada wanita manapun.
Namun pertemuan tak terduga di hari itu sepertinya memberikan sedikit pencerahan kepadanya. Bahwa dirinya layak untuk mendapatkan cinta yang lain. Kehadiran Via seakan membuka mata hatinya bahwa masih ada hati yang mau dan bersedia untuk mencintai dirinya dengan setulus hati. Bukan berarti Joe ingin memberi hatinya untuk menerima kehadiran Via.
Meski kehadiran Via menjadi titik baru baginya untuk kembali percaya bahwa selalu ada cinta sejati untuk dirinya, namun Joe tak berkeinginan memperbaiki hubungannya dengan Via. Walaupun dia tahu jika Via sepertinya masih menyimpan sisa rasa cinta untuknya. Karena baginya masa lalu biarlah hanya menjadi masa lalu. Lagi pula masa lalu mereka kurang mengenakkan. Meski sudah dicoba untuk melupakannya, memorinya akan terus tersimpan dan suatu ketika pasti akan teringat. Mau tidak mau suatu ketika memorinya itu pasti akan teringat kembali. Sebagai manusia biasa lumrah untuk mengalaminya.
Itulah alasan mengapa Joe tidak akan menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Via. Tapi sekedar sebagai teman tidak ada salahnya. Kita bisa berteman dengan siapa saja. Setelah memikirkannya dengan matang, dengan hati dan pikiran yang tenang, Joe pun memutuskan untuk mencari pasangan pendamping hidupnya. Dan orang pertama yang dihubunginya adalah Grego.
" Hi bro, loe sibuk nggk? kita ketemuan di kantor loe ya. Gue meluncur sekarang!" Belum sempat Grego membalas satu kata pun Joe langsung mematikan ponselnya. Grego hanya terdiam tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Dari pada pusing memikirkan sesuatu yang tidak jelas, Grego kembali fokus pada pekerjaannya.
30 menit kemudian, Joe sudah muncul di kantor Grego. Karena Joe sudah menjadi bagian dari keluarga Pratama, kehadiran Joe di kantor Grego tidak lagi dipertanyakan. Joe sudah sering kali hilir mudik di kantor Grego. Baik itu urusan pekerjaan ataupun hanya sekedar berbincang-bincang. Joe bebas saja berseliweran kesana-kemari tanpa ada yang melarang. Joe masuk begitu saja ke dalam ruangan Grego.
" Hai Greg,!" sapa Joe. Grego yang sedang fokus malah terkejut ketika mendengar suara Joe yang sudah nongol begitu-begitu saja dihadapannya.
" Bisa nggk sih Joe kamu itu nggk bikin kaget gitu.? Bikin jantung mau copot tahu nggk!" protesnya kepada Joe.
"Sorry bro, lain kali nggk deh!" jawabnya dengan sedikit merasa bersalah.
" Tadi di telvon kamu ngomong apa sih, aku nggk ngerti. Truss tiba-tiba gini kamu malah muncul. Kamu itu membingungkan!" Grego menghentikan pekerjaannya, lalu mendekati Joe dan duduk bersama.
Joe menarik napas dengan berat. Seperti bebannya cukup berat. Mungkin beban dalam hatinya memang terasa berat untuknya. Apalagi persoalan hati dan perasaan yang sedang melanda hidupnya saat ini.
" Gre, menurut pendapat kamu gimana kalau aku ikut kencan buta?"
__ADS_1
Grego melotot mendengar penuturan Joe. Dia mengira pendengarannya sedang bermasalah sehingga mungkin salah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Joe.
" Kamu bilang apa barusan Joe? Kencan buta? Nggak salah tuh!" Mendengar kata-kata Joe seakan duniawi Grego sedang terbalik.
" Gue tahu kalau loe pastinya tidak percaya dengan omongan gue!" Joe terlihat murung dan lemas.
" Ya iyalah. Wajar dong kalau aku kaget dan ragu. Nggak ada hujan nggak ada badai kamu datang dan bilang mau ikut kencan buta. Kamu nggk lagi mabuk kan?" Grego mencoba meyakinkan saudaranya itu.
" Gue ini waras sewaras-warasnya. Karena gue masih waras makanya gue berani berkata begitu!" Joe membalas dengan percaya diri.
" Kamu kemasukan roh apa, tiba-tiba punya keinginan untuk ikut kencan buta.? Grego mulai menanggapinya dengan lebih serius.
" Menurut loe, apa gue masih punya kesempatan untuk itu? Apa masih ada wanita yang mau hidup bersama dengan gue seumur hidupnya?" Tanya Joe sedikit merasa pesimis.
" Tapi aku masih penasaran, kenapa mendadak kamu berubah haluan begini? Adakah yang menyentuh hatimu?" korek Grego ingin mengetahui penyebab sahabat sekaligus saudaranya itu membuka hatinya lagi.
" Aku hanya berpikir, umur kita semakin menua. Tidak selamanya kita hidup sendirian. Butuh seseorang yang akan mendampingi dan menemani perjalanan hidup kita sampai akhir.!" kata-kata Joe semakin bijak. Dalam beberapa saat saja dia sudah memperoleh pencerahan.
" Apa kamu mulai merasa kesepian?" Tanya Grego untuk lebih memahami perasaan Joe saat ini.
" Mungkin saja, hanya aku belum menyadarinya sepenuhnya. Aku hanya mulai berpikir, kelak dimasa tuaku apa aku harus sendiri hingga menutup mataku? Joe mencoba membayangkan bagaimana dirinya di masa depan.
Grego mencoba mendengarkan dengan penuh perhatian. Hatinya mengingatkan dirinya untuk sejenak memberikan perhatian yang lebih dalam kepada Joe untuk saat ini. Karena saat ini Joe pasti membutuhkan dukungan dari orang-orang yang dipercayainya.
" Kadang aku cemburu melihat kamu dengan Eva begitu mesra. Dan jauh di lubuk hatiku merindukan hal demikian dalam hidupku!" Joe nampak tersenyum. Tapi sebenarnya senyuman itu hanyalah senyum mengasihani diri sendiri. Joe kemudian melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
" Kamu sangat beruntung Greg. Sangat-sangat beruntung. Punya Eva yang sangat mencintai kamu, yang pastinya akan mendampingi kamu seumur hidupmu. Tak hanya itu. Ada Gio dan Gia yang menyempurnakan dan membahagiakan dirimu. Menjaga dan merawatmu saat tua nanti. Tuhan benar-benar sayang samamu bro. Aku sangat iri denganmu.!" Perkataan yang begitu jujur dari seorang Joe. Ungkapan hatinya yang selama ini mungkin dipendamnya dalam-dalam di lubuk hati yang terdalam.
Grego menepuk pundak Joe memberinya kekuatan dan peneguhan serta dukungan. Juga sebagai bentuk ungkapan jikalau Joe tidak sendirian. Ada mereka yang akan selalu bersama-sama menjadi keluarga baginya.
" Kamu tidak sendirian Joe. Apa kamu tidak menganggap kami sebagai keluargamu lagi? Kita akan selalu bersama sebagai satu keluarga. Apapun yang akan kamu lakukan kami akan selalu mendukungmu.!"
Mendengar kata-kata dari Grego, memberi kelegaan dan kekuatan bagi Joe. Serta meneguhkan keyakinan dan kepercayaannya jika dirinya tidak sendirian. Masih ada orang-orang yang mencintainya dengan sepenuh hati.
" Ternyata aku juga paling beruntung ya. Tuhan mengirim kalian ke dalam hidupku. Selama ini aku selalu merasakan kebahagiaan bersama-sama dengan kalian.!" Tampak binar kebahagiaan terpancar dari bola matanya.
" Jadi kapan kamu pergi untuk kencan buta? Jangan khawatir aku pasti akan membantu mencarikanmu pasangan yang tepat.!" ujar Grego menyemangati Joe.
"Sabtu besok aku ada jadwal kencan buta. Tapi......! " Joe terdiam sejenak.
" Tapi kenapa? Tanya Grego penasaran.
" Jujur Greg, membayangkannya saja aku sudah merasa gugup tak karuan. Aku merasa seperti anak sekolah yang baru saja mengenal cinta.!" ujar Joe menyatakan perasaannya saat ini.
Mendengar itu Grego pun tak dapat menahan senyumnya. Pria paruh baya itu ternyata punya rasa malu juga.
" Semangat brother. Kami akan selalu mendukungmu. Karena kami semua adalah keluargamu juga. Kita adalah keluarga. Sebagai keluarga kita harus saling mendukung satu sama lain.!"
Betapa bahagianya seorang Joe mendengar perkataan Grego. Kebahagiaan yang tak dapat diucapkan hanya lewat kata-kata saja. Kebahagiaan yang sejati yang mungkin tak dapat ditemukannya di tempat lain.
Joe pun tak segan memeluk Grego sebagai ungkapan terima kasihnya.
__ADS_1