
" Gio?" Zara begitu terkejut ketika melihat Gio berdiri dihadapannya saat ini. Zara seakan tak percaya jika orang yang berdiri didepan matanya sekarang adalah Gio. Seolah tak ingin ditipu oleh ilusi, Zara pun mengabaikannya. Dibuangnya pandangannya ke arah lain. Gio kini yang menjadi bingung sekaligus kaget. Dia nggak percaya jika Zara akan mengabaikannya seperti ini.
Padahal pikirnya, Zara pasti akan senang melihat kehadirannya disana. Namun tak sesuai dengan ekspektasinya. Zara malah terlihat cuek dan acuh. Seolah-olah tak peduli dengan dirinya. Gio yang merasa dikacangin semakin mendekatkan langkahnya. Dan kini dia berdiri tepat dihadapan Zara.
" Zara! " panggilnya kembali.
Zara pun menoleh kepadanya. Ketika dilihatnya Gio Zara langsung berdiri. Namun karena jarak yang terlalu dekat membuat Zara harus mundur. Bukannya mundur Zara tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan dia hampir saja jatuh ke belakang, dengan refleks Gio menangkap tubuh Zara dan meraihnya ke dalam pelukannya.
" Kamu tidak apa-apa?" Gio nampak sedikit cemas. Zara yang tersadar dari khayalannya, kemudian mengatur napas sejenak lalu mulai berbicara. " Kamu beneran Gio? tanya Zara yang masih meragu.
" Iyaaa, ini aku Gio. Kamu kira siapa?" Gio balik bertanya.
" Aku kira tadi aku sedang mengkhayalkan kamu. Jadi aku pikir kamu hanya bayangan doang. Makanya aku cuekin!" jawab Zara dengan polosnya. Gio pun menarik napas panjang. Sepintas lalu dia mengira jika Zara sudah tak punya perasaan lagi kepadanya karena itu dia mengabaikannya. Ternyata gadis itu hanya mengkhayal saja. Gio pun mengajak Zara untuk ikut dengannya masuk ke dalam mobilnya.
" Kamu lagi ngapain tadi disana? Tanya Gio setelah mereka sudah berada di dalam mobil.
" Nggak ngapain. Cuman nyantai doang. Lagi bosan aja di rumah.!" jawab Zara.
" Kamu nggk lagi nungguin seseorang?" selidik Gio.
__ADS_1
" Nungguin siapa? Zara balik bertanya.
" Yaa nggk tahu. Kan kamu yang disitu.!"
Zara tersenyum. Dia tahu jika Gio sedang mengorek informasi tentangnya. " Tumben!" ucap Zara dalam benaknya.
" Beneran kok, aku nggk nungguin siapa-siapa.!" ucap Zara meyakinkan Gio. Dan Gio membalasnya dengan senyum percaya.
" Tapi, kok kamu tiba-tiba muncul disana. Bukannya jam segini kamu harus ke kantor!" ujar Zara sambil melirik jam ditangannya.
" Aku sengaja lewat sini ingin ketemu kamu! " jawab Gio jujur. Zara merasa tersanjung ketika mendengar perkataan Gio barusan.
" Aku hanya mengikuti kata hatiku saja. Dan kata hatiku benar kan?" ujarnya dengan rasa bangga pada dirinya sendiri. Zara pun tersenyum bahagia. Saat ini hatinya benar-benar bahagia. Tak disangkanya jika kali ini Gio yang datang sendiri mencarinya. Disaat dia sedang berusaha untuk bersikap pasrah dan mencoba mengikhlaskan perginya cinta dari hatinya, namun cinta itu malah datang sendiri menemuinya.
Melihat Zara yang hanya tersenyum-senyum sendiri, Gio jadi penasaran sendiri. "Kok senyum sendiri sih. Ada yang lucu ya!" ujarnya. " Ahh nggk kok. Aku hanya senang aja!" Zara semakin mengembangkan senyumnya.
" Senang kenapa?" Gio yang semakin penasaran tak hentinya bertanya.
" Ya senanglah, karna ada kamu!" jawab Zara dengan jujur. Gio pun tak dapat menahan rasa senang di hatinya mendengar jawaban Zara. Zara bisa melihat raut kebahagiaan di wajah Gio. Wajah pria itu semakin tampan saat dia tersenyum dan tertawa. Dan tentunya membuatmuncul Zara semakin jatuh cinta.
__ADS_1
Kedua insan itu kini sedang dimabuk cinta. Gio yang biasanya bersikap dinginnya dan kaku, kini berubah menjadi lembut, hangat dan perhatian. Zara yang dulunya sedikit keras kepala, egois dan hyper aktif, kini berubah menjadi lebih tenang, lemah lembut dan tulus.
Mobil Gio melaju membelah jalanan ibu kota. Gio berencana untuk mengajak Zara ke suatu tempat. Yang artinya hari ini Gio bolos kantor. Dia kan boss nya. Boleh-boleh saja dong, siapa yang berani melarang?
" Kita mau kemana? tanya Zara penasaran.
" Aku mau ajak kamu ke suatu tempat yang sangat menarik. Kamu mau kan? ajak Gio. Zara menjawab dengan anggukan kepala sembari memamerkan senyuman manisnya. Terpancar rona kebahagiaan di sinar matanya. Karena dalam hatinya Zara berharap bisa berdua lebih lama lagi bersama dengan Gio. Dan Gio lebih bahagia lagi karena Zara tidak menolak permintaannya itu.
Gio pun melajukan mobilnya dengan hati yang bahagia dan cerah, secerah matahari yang bersinar hangat saat ini. Gio menghentikan mobilnya, karena lampu merah lalu lintas menyala. Pada saat yang bertepatan, Zara melihat seorang ibu yang sedang berdiri sepertinya menunggu seseorang ataupaun sesuatu, dan tiba-tiba terjadi peristiwa yang cukup menakutkan. Seorang pria berpakaian serba hitam, menggunakan topi mendadak muncul dengan senjata tajam di tangannya. Pria itu langsung saja merampas tas yang dibawa si ibu sambil mengancamnya. Zara yang menyaksikan kejadian itu sangat terkejut. Berani-beraninya dia merampok di tempat umum seperti ini. Padahal situasi begitu ramai lalu lalang kendaraan dan banyak pasang mata yang menyaksikan. Setelah berhasil merebut tas dari tangan si ibu perampok itu berlari melawan arah menuju ke arah mobil Gio yang sedang berhenti karena lampu merah masih menyala.
Dan entah insting dari mana, Zara tiba-tiba membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Dalam pikirannya saat ini adalah untuk menghalangi si perampok kabur dan melarikan diri. Melihat aksi Zara, Gio kaget dan cemas. Karena tindakan Zara itu sungguh berbahaya. Gio pun dengan segera keluar dari mobil tak peduli lampu lalu lintas sudah berganti hijau. Dia harus menghalangi Zara agar tidak bertindak gegabah. Namun dalam sekejap mata kejadian yang mengerikan itu terjadi persis di depan matanya. Ketika Zara berusaha menghalangi si perampok dan berhasil merebut kembali tas itu si perampok akhirnya meluapkan kemarahannya. Dihujamkannya senjata tajam tersebut ke tubuh Zara dan mengenai perutnya. Perampok itu berhasil membalas tindakan Zara dan nyawa Zara menjadi taruhannya.
Setelah menusuk perut Zara, perampok tersebut berusaha kembali meraih tas dari tangan Zara. Namun ternyata Zara memiliki tenaga yang kuat. Tas itu dipegangnya dengan erat, sehingga si perampok tak bisa mendapatkannya kembali. Meski tubuhnya telah berlumuran darah akibat tusukan tersebut Zara masih tetap mempertahankan barang itu dengan sekuat tenaga. Gio yang menyaksikan kejadian tersebut sangat terkejut dan takut. Takut jika Zara mengalami kesakitan akibat tusukkan itu dan merenggut nyawanya. Gio berlari dengan kencang sambil berteriak, " Tidaaaaak.......!" Melihat keadaan tak menguntungkan, perampok itu akhirnya melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya dari kejaran orang-orang disana yang sudah melihat aksi kejahatannya tersebut. Dan ternyata salah seorang teman si perampok telah menungguinya sejak tadi langsung melajukan sepeda motornya setelah rekannya itu berhasil naik ke atas motor.
Zara yang berlumuran darah tergeletak tak berdaya di atas trotoar. Gio pun langsung merangkul tubuh Zara yang lemah itu dengan hati yang merasa perih dan sakit. Bagaimana tidak, ketika kita melihat orang yang kita cintai terluka dan merasakan kesakitan. Gio berteriak-teriak meminta pertolongan sambil berurai air mata. Rasa sesal dalam hatinya menambah perih dan sakit karena tidak bisa menyelamatkan Zara dari tangan si perampok.
Lampu ruang UGD bernyala merah. Itu tandanya sedang ada operasi darurat di dalam sana. Gio yang khawatir dan cemas menunggu di luar pintu ruang operasi. Kegelisahan meliputi hati dan pikirannya. Bahkan rasa takut kehilangan menghantui dirinya saat ini. Jangan sampai Zara tak dapat diselamatkan. Hatinya pasti akan hancur dan tidak bisa menerimanya. Netranya bahkan tak henti-hentinya meneteskan air mata.
Dari kejauhan, nampak Gia berlari kecil menjumpai Kakaknya itu. Gia tak kalah cemas dan khawatir dari Gio. Setelah menerima telvon dari sang kakak, Gia langsung bergegas datang ke rumah sakit. Gia hanya datang sendirian karena Gio melarang adiknya itu untuk memberitahukannya kepada orang tua mereka. Gia langsung memeluk kakaknya itu dengan erat. Dengan penuh kehangatan dan kasih sayang dirangkulnya sang kakak, seakan memberikan kekuatan dan peneguhan serta penghiburan. Gia bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh kakaknya itu. Sangat sedih dan menyakitkan.
__ADS_1