
Joe sedang duduk termenung di dalam ruang kantornya. Setelah sekian lama mengenal Eva, baru kemarin itu dia mengetahui jika Eva ternyata sudah memiliki seorang putra.
Flashback.....
Rencananya Joe ingin memberikan ucapan selamat langsung kepada Eva dengan datang ke kantornya Eva hari itu.
Dengan membawa buket bunga mawar merah Joe berharap Eva akan menyukainya. Ketika sudah sampai di gedung perusahaan tempat Eva bekerja, Joe meminta ijin kepada Petugas resepsionis yang sedang bertugas disana dan setelah mendapat ijin dia langsung menuju ruangan yang sudah diberitahukan oleh Petugas resepsionis. Dengan hati yang berbunga-bunga Joe berharap jika kedatangannya membuka jalan baginya untuk bisa lebih dekat dengan Eva. Namun saat dia sudah tiba disana ada peristiwa yang mengharu biru sedang terjadi. Dan sesungguhnya peristiwa tersebut sedikit memberi kejutan baginya. Ternyata Eva sudah punya seorang putra. Yang artinya dia sudah menikah atau pernah menikah. Tempo hari ketika mereka bertemu dan saling bercerita Eva tidak menyinggung sedikitpun tentang putranya itu. Apakah Eva sedang menutupi sesuatu atau karena memang Eva tidak ingin bercerita hal yang lebih pribadi dengannya.
Setelah melihat peristiwa itu Joe mengurungkan niatnya untuk memberi kejutan kepada Eva. Dengan perasaan yang bercampur aduk Joe pun meninggalkan tempat itu. Ada sedikit rasa kecewa. Tapi juga diselimuti berbagai pertanyaan. Dan dia tidak ingin selamanya diliputi rasa penasaran karena itu dia bertekad akan bertanya langsung kepada Eva. Dia akan berbicara langsung dari hati ke hati, supaya dirinya tidak lagi bimbang dan diombang-ambingkan perasaannya sendiri.
Flash off....
Setelah berpikir dengan matang dan penuh pertimbangan, Joe memutuskan akan menjumpai Eva, mengungkapkan isi hatinya yang sudah lama dipendamnya. Namun sebelumnya dia akan meminta Eva untuk jujur, tentang kehidupan pribadinya. Yang terpenting adalah tentang hubungannya dengan bocah laki-laki bernama Gio yang memanggilnya dengan sebutan Bunda itu.
Joe pun mengirimkan pesan singkat kepada Eva jika malam ini dia akan datang bertamu ke rumahnya. Tanpa banyak basa-basi Joe langsung berterus terang. Eva yang membaca pesan tersebut sedikit bingung sekaligus penasaran hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh Joe sehingga dia begitu ingin bertamu dan berbicara langsung dengannya.
__ADS_1
Dan malam itupun tiba. Joe yang sudah berada di depan pintu rumah Eva, menekan bel tak lama kemudian pintu terbuka dan wajah Eva muncul dari balik pintu. Dipersilahkannya Joe untuk masuk ke dalam. Gio terlihat sedang sibuk dengan tugasnya yang diberikan oleh gurunya.
Joe terlihat menenteng sebuah bungkusan.
"Nih, ada sedikit makanan. Aku ingat kalau ini salah satu makanan kesukaanmu." ucap Joe saat setelah dia masuk ke dalam rumah. Diserahkannya makanan itu, yang ternyata martabak manis.
Eva sedikit tersanjung mendengar Joe tahu salah satu makanan favoritnya. Itu artinya dia punya perhatian juga kepada dirinya.
Eva segera menerima bungkusan tersebut lalu mempersilahkan Joe untuk duduk di sofa. Joe langsung meletakkan badannya di atas sofa. Eva pergi menyimpan bungkusan ke dalam lemari lalu menyiapkan air minum untuk Joe. Diletakkannya gelas berisi air tersebut di atas meja dan mempersilahkan Joe untuk meminumnya.
Lalu Joe memulai pembicaraan untuk memecah keheningan yang rasanya bagai di dalam goa yang gelap dan dingin.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf Va, karena sudah memaksa kamu untuk bertemu dengan ku malam ini." ucapnya sembari menatap kedua mata Eva dengan tatapan hangat.
"Tidak apa-apa kok. Aku bisa mengerti.! ucapnya dengan suara lembutnya.
__ADS_1
Joe memperbaiki posisi duduknya. Di liriknya sejenak ke arah Gio yang sibuk sendiri dengan tugasnya.
Kemudian ditatapnya lagi Eva dengan tatapan hangat.
"Va, aku ingin berbicara dari hati ke hati, karena selama ini aku sudah berusaha untuk memendam perasaan yang selalu mengganggu hati dan pikiranku."ucapnya dengan rasa percaya diri.
Eva yang mendengarkannya sedikit merasa tak karuan. Apa maksud dari perkataan Joe sepertinya sudah dapat ditebaknya tapi dia tidak ingin salah tebak jadi dia berusaha untuk lebih mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Joe kepadanya.
Jantung Eva mulai berdetak dengan kencang.
Ternyata begini rasanya berbicara masalah hati dan perasaan apalagi dengan seseorang yang pernah kita kagumi.
Joe sudah menyiapkan tenaga dan keberanian untuk mengutarakan isi hati yang mengganggunya beberapa hari terakhir ini.
Dan saat ini di malam ini dia akan mengutarakannya. Dari hati ke hati. Apapun jawaban dari Eva, Joe sudah menyiapkan hati untuk menerimanya. Baik atau buruk semuanya akan diterima dengan hati yang terbuka dan lapang dada. Ya.....sebagai seorang pria dia akan menerima segalanya.
__ADS_1