
Pertemuan yang tak terduga disiang hari itu seharusnya memberi kebahagiaan dan menghapus kerinduan yang selama ini terpendam dalam hati. Ketika Eva memeluk tubuh Joe sesungguhnya Joe pun ingin membalas pelukan itu. Namun disaat matanya memandang lurus di depannya ada Grego dan Gio yang sedang duduk di sebuah meja makan. Seketika itu kebencian dalam hatinya muncul.
Didorongnya tubuh Eva agar melepaskan pelukannya. Namun karena didorong terlalu keras Eva hampir jatuh ke belakang dan dengan refleks Eva berusaha menyeimbangkan tubuhnya sehingga dia tidak terjatuh. Grego yang melihat dari kejauhan segera berlari dan berusaha juga menahan tubuh Eva. Melainkan Eva tidak terjatuh Grego tetap merasa khawatir. Dipeluknya tubuh Eva dan diperiksanya jangan sampai ada yang terluka. Setelah memastikan Eva tidak kenapa-kenapa, ditatapnya Joe dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
" Hei, kenapa kamu kasar sekali? " Apakah kamu tidak bisa bersikap lebih lembut kepada perempuan? ucap Grego dengan sedikit emosi.
Joe malah membalasnya dengan tatapan sinis. " Harusnya aku yang marah karena dia bertingkah tidak sopan." ujarnya dengan angkuh. Grego ingin kembali membalas ucapan Joe namun dihalangi oleh Eva.
" Aku minta maaf Joe jika tadi terlalu lancang. Aku hanya tidak bisa menahan diri karena begitu rindu dengan dirimu selama ini." ucap Eva dengan sendu. Kembali Eva mendekati Joe namun kali ini hanya berdiri beberapa jarak dari hadapan Joe.
" Aku sangat terkejut ketika melihat kamu tiba-tiba muncul dihadapanku. Sejak kamu pergi tanpa kabar berita sama sekali, aku selalu berusaha mencoba mencari cara untuk mendekati keberadaanmu. Tapi kamu menghilang bagai ditelan bumi." wajah Eva nampak sedih dan haru.
__ADS_1
" Aku tidak menyangka jika keadaanmu akan seperti ini. Jika seandainya aku tahu aku bersedia bertanggung jawab untuk merawatmu.
Mendengar kata-kata Eva, Grego seperti merasakan sedih karena ternyata selama ini istrinya itu masih menyimpan rasa rindu kepada pria lain dan pria itu adalah Joe.
Jawaban Joe malah cukup menyakitkan hati Eva.
" Aku tidak butuh belas kasihan darimu. Dan aku tidak suka dikasihani."
" Kamu sombong sekali. Kamu pikir kamu siapa Hah? emosi Grego bangkit kembali.
Tapi Eva dengan lembut berusaha meredam amarah Grego.
__ADS_1
Dengan gerakan tangannya Joe meminta pengawalnya untuk pergi dari tempat itu. Dengan sigap si pengawal segera membawa tuannya itu meninggalkan restaurant. Meninggalkan ketiga anak manusia yang ada ditempat itu. Eva tetap saja melepas kepergian Joe dengan memberikan senyuman di wajahnya yang manis itu sembari mendekap tubuh Grego agar tetap tenang dan tidak bertindak yang hal yang buruk.
Sepeninggalan Joe, Eva dan Grego masih berdiri ditempat semula. Eva melirik sejenak ke arah Gio yang masih duduk manis di kursinya. Diraihnya jemari pria gagah itu.
" Mas, lain kali kamu harus bisa menahan emosi dan amarahmu ya. Jangan sampai kamu bertindak diluar batas karena hanya akan merugikan dirimu sendiri. Lagipula ada Gio loh. Jangan sampai Gio melihat kita melakukan tindakan yang tidak baik dihadapannya. Karena itu tidak baik bagi perkembangan psikisnya kelak." ucap Eva dengan bijak.
Grego pun tersenyum bangga membalas kata-kata bijak dari istrinya itu. Betapa bahagianya dia menikahi wanita ini. Tidak hanya berhati lembut, ramah dan sopan, rendah hati juga begitu bijak dalam menghadapi masalah.
Secara tidak langsung Grego banyak belajar kehidupan dari Eva. Mengajarinya makna hidup yang utama, mengajarinya menemukan kebahagiaan yang sejati. Bukan lewat harta atau materi. Tetapi cinta, kasih sayang, perhatian dan kemurahan hati.
Dalam hati Eva masih tersimpan pertanyaan tentang perubahan sikap Joe yang sangat berbeda dengan kepribadiannya yang sesungguhnya. Ada sesuatu yang terjadi selama ini. Dan Eva harus tahu itu. Dia tidak ingin Joe membencinya tanpa alasan yang tidak jelas. Tapi yang terpenting saat ini dia Sudah bertemu dengan Joe. Untuk saat ini itu lebih dari cukup.
__ADS_1