Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Perjanjian.


__ADS_3

Awan mendung menutupi langit biru dan matahari pun ikut bersembunyi dibalik kabutnya yang gelap. Sepertinya akan turun hujan. Langit sore ini nampak berduka, mewakili perasaan Kevin saat ini yang masih sedih karena dijauhi oleh Gia. Saat dirinya sedang berdiam dalam kamarnya tanpa melakukan apapun, Keenan muncul dan mengusik kesepiannya.


" Kakak,!" panggil Keenan membuyarkan lamunan Kevin. Kevin memutar tubuhnya dan menyambut Keenan dalam pelukannya.


" Kenapa Ken.?" tanya Kevin.


" Kak, kenapa kakak Gia nggk pernah datang lagi ke rumah ? Kakak nggak ngajak Kak Gia ya? keluh Keenan sedih.


Kevin menarik napas pelan kemudian menghembuskannya dengan sangat berat. Jawaban apa yang akan diucapkannya untuk memuaskan rasa ingin tahu adiknya itu. " Kakak Gia sangat sibuk belajar, jadi belum bisa datang untuk bermain bersama Keenan.!" ucap Kevin berbohong akhirnya.


Keenan yang polos percaya saja dengan ucapan kakaknya itu. Meski kerinduan hatinya tak terbendung lagi, namun dia tak mampu untuk berbuat apapun. Hanya saja dia tidak tahu sampai kapan kerinduan hatinya ini akan terobati. Seandainya dia sudah dewasa dan sudah bisa bebas seperti kakaknya Kevin maka dia pasti akan pergi sendiri mencari kakak Gia. Tidak hanya menunggu tanpa kepastian seperti sekarang ini.


Entah sampai kapan Kevin akan membohongi adiknya itu. Dan bagaimana perasaannya nanti jika dia tahu bahwa selama ini dia telah dibohongi. Tak mampu membayangkannya jika kelak h,.ati anak itu terluka.


Saat Kevin dan Keenan menghabiskan waktu berdua, orang tua Kevin muncul dan langsung masuk ke kamar Kevin. Tanpa sapa dan salam seperti biasanya orang tua Kevin langsung masuk begitu saja.


" Vin, mama sama papa mau bicara sama kamu!" Kata ibunya langsung. Keenan yang duduk di atas pangkuan Kevin langsung turun dari pangkuan kakaknya itu dan balik ke kamarnya. Keenan seakan mengerti dengan situasinya.


" Mau bicara apa sih Ma? tanya Kevin antara berminat dan tidak. Papa dan mamanya saling melirik satu sama lain. Kemudian Papanya buka suara.


" Papa dan Mama berharap kamu jangan berhubungan lagi dengan gadis itu. Siapa namanya? Gia ya. Kamu harus menjauhinya.!" Pria paruh baya itu bertanya namun dijawabnya sendiri.

__ADS_1


Kevin lumayan terkejut mendengar perkataan Papanya itu. Apakah hal ini berhubungan dengan sikap Gia kepadanya akhir-akhir ini yang semakin menjauhinya.?


"Kenapa aku harus menjauhinya. Apa yang salah dengan dirinya. Papa harus berikan alasan yang tepat supaya Kevin bisa mengerti dan mengabulkan permintaan Papa!" Kevin menjawab Papanya dengan masih berusaha bersikap sopan dan tenang, karena hatinya sebenarnya sudah mulai tak nyaman dan emosional. Hubungan diantara mereka memang tidak begitu harmonis. Kedua orang tuanya itu yang selalu sibuk dengan pekerjaannya dan selalu hampir melupakan keberadaan anak-anaknya.


Kevin sendiri kadang tak peduli jika orang tuanya itu tidak memperhatikannya lagi. Tapi dia tidak bisa menerima perlakuan orang tuanya itu yang juga memperlakukan hal yang sama kepada Keenan. Padahal Keenan masih kecil, butuh perhatian yang khusus dari orang tuanya. Selama ini Keenan selalu merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya itu. Hanya Kevin yang setia memperhatikan, menjaga dan merawat adiknya itu.


Dan tak dapat disangkal lagi jika kebencian Kevin kepadanya orang tuanya itu bukannya berkurang namun semakin bertambah.


"Kamu tak perlu tanya alasannya apa. Kamu cukup menuruti apa yang Papa dan Mama katakan. Belum saatnya kamu tahu apa alasannya. Tapi kelak kamu juga akan tahu. Ini semua demi kebaikan keluarga kita bersama.!" Papa Kevin berbicara berusaha bersikap penuh wibawa. Tapi bagi Kevin tak berpengaruh sama sekali. Papanya itu tak pernah dianggapnya punya wibawa sama sekali. Meski dihadapan orang lain Kevin masih berusaha bersikap sebagai anak yang penurut dan patuh kepada orang tuanya.


" Untuk masalah ini, Papa tak bisa mengatur hidup Kevin. Saya punya hak untuk memutuskan dengan siapa harus berhubungan. Papa dan Mama tak punya hak untuk itu!" Dengan tegas Kevin membantah perintah orang tuanya itu.


" Kamu jangan menjadi anak durhaka Kevin. Jangan lupa kamu itu masih dibiayai Papa dan Mama. Hidup kamu itu masih bergantung sama kami. Jadi kamu harus patuh dan menurut apa kata Papa dan Mama.!" Papa Kevin seakan memberi ancaman kepada Kevin. Berpikir Kevin menjadi takut dan mengalah. Namun pemikirannya salah besar. Bukannya merasa takut dengan ancaman Papanya, Kevin malah semakin lantang dan berani.


" Papa tak perlu mengancam Kevin. Kevin tidak takut dengan semua ancaman Papa. Jadi silahkan Papa kecewa. Kevin tidak akan menuruti apapun yang Papa dan Mama katakan.!"


Wajah Papa Kevin berubah menjadi merah padam. Mendengar perkataan Kevin emosinya menjadi naik sampai di ubun-ubun.


" Kamu itu tidak tahu apa-apa Kevin. Kamu itu belum lahir ketika masalah ini terjadi. Dan kamu tidak akan pernah mengerti.!" ucap Papa Kevin dengan nada meninggi.


" Pa, Kevin tuh bukan anak kecil lagi. Kevin itu sudah dewasa. Seharusnya Papa dan Mama menceritakan segala sesuatunya kepada Kevin. Termasuk rahasia dalam keluarga ini. Kevin adalah bagian dari keluarga ini. Ataukah Kevin bukan bagian dari keluarga ini lagi?" Kevin tak mau kalah dari sang Papa.

__ADS_1


" Kevin! kamu jangan kurang ajar sama Papa kamu!" Mama Kevin ikut memarahi Kevin. Sebagai istri tentunya dia harus membela suaminya. Tetapi sebagai seorang ibu seharusnya dia mengerti perasaan anaknya.


" Maaf Ma, tapi Kevin tidak akan menuruti lagi kemauan Papa dan Mama. Sudah cukup selama ini Kevin jadi anak penurut yang patuh pada Papa dan Mama sekalipun Kevin tidak suka sama sekali. Hati Kevin sebenarnya selalu berontak dengan semua aturan dan kemauan Papa dan Mama yang sangat bertentangan bagi Kevin.Tapi kini Kevin sudah capek Ma, capek. Kevin tidak sanggup lagi menuruti Papa dan Mama.!" Kevin akhirnya mengutarakan isi hatinya yang selama ini dipendamnya.


Sudah cukup lama dia menjadi anak baik yang patuh dan taat pada orang tuanya, meski selalu bertentangan dengan hati nuraninya. Namun semenjak dirinya mengenal Gia, banyak hal yang dipelajarinya mengubah cara pandang dan prinsip hidupnya. Secara tidak langsung kehadiran Gia memberinya kepercayaan dan keberanian untuk lebih percaya diri, berani bertindak dan lebih terbuka untuk mendengar kan isi hatinya sendiri. Dari pada hanya menuruti perintah dan perkataan orang lain yang tidak sesuai dengan hati nurani kita.


"Ohh, kamu sudah hebat sekarang ya. Kamu pikir kamu itu sudah begitu hebat sehingga berani melawan Papa dan Mama. Kamu lupa tanpa Papa dan Mama kamu itu tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu tidak punya apa-apa. Kamu harusnya tahu diri Kevin.!" Perkataan Papa Kevin kali ini cukup keras.


Bukannya membuat nyali Kevin menjadi ciut. Tapi Kevin semakin berani melawan perkataan Papanya itu.


" Kalau boleh memilih, Kevin akan memilih untuk tidak menjadi bagian dari keluarga ini. Kevin lebih baik memilih hidup menjadi keluarga miskin tapi bahagia dari pada tinggal dalam keluarga ini! "


Mendengar perkataan Kevin, Papa Kevin semakin emosi dan naik darah.


" Dasar anak durhaka. Kamu tidak tahu bersyukur sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Apa kamu mau Papa usir dari rumah ini, supaya kamu tinggal di jalanan sana. Agar kamu tahu rasanya hidup menderita tanpa uang, tak punya tempat tinggal. Apa kamu sudah siap menjadi gembel?" ancam Papa Kevin.


Mendengar ancaman sang suami, Mama Kevin pun bereaksi. Walau bagaimanapun dia adalah seorang ibu yang mengandung dan melahirkan anaknya. Bagaimana mungkin dia tega membiarkan anaknya hidup menderita di jalanan. Hati mulia seorang ibu tidak mungkin hilang sekalipun ibunya berhati kejam.


" Papa, jangan bicara begitu. Mungkin Kevin hanya khilaf saja. Apa Papa tega membiarkan anak kita hidup menderita di jalanan. Apa kata orang nanti. Kita di anggap tidak becus mendidik anak-anak.!i


Sesaat tadi Kevin sedikit merasa senang karena Mamanya membelanya juga. Tapi diakhir kalimat sang Mama membuatnya down kembali. Ternyata Mamanya hanya peduli dengan omongan orang lain. Bukan karena rasa cinta dan sayangnya kepada anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2