
Di sebuah cafe romantis, tempat para pasangan biasanya menghabiskan malam romantis berdua, di salah satu sudut ruangan ada Gia, Kevin dan Varen duduk saling berhadapan. Wajah mereka nampak serius sekali. Terutama Gia. Dalam kebingungannya dia berusaha mencerna apa gerangan yang sedang direncanakan oleh kedua pria itu.
Sudah berapa gelas air minum yang telah dihabiskannya ketika kedua pria itu hanya diam membisu tak berkata sepatah katapun.
Entah sampai berapa lagi mereka hanya diam dan saling memandang. Karena sudah tak sabar lagi akhirnya Gia pun buka suara.
" Sebenarnya apa tujuan kalian mengundang saya ketempat ini? Dan sampai kapan kita harus saling membisu seperti ini? Tanya Gia yang kehilangan kesabarannya.
" Eee.....! suara Kevin menggumam.
" Apa eeee......? Aku tidak tahu bahasa isyarat.! sela Gia.
Varen pun sepertinya juga masih tak sanggup untuk berbicara. Bibirnya kelu dan tak tahu harus mulai dari mana. Kevin terus memandangi wajah keduanya, Gia dan Varen bergantian. Lalu akhirnya Kevin pun mengutarakan apa tujuan kehadiran mereka saat ini.
" Gi, sebelumnya kita minta maaf karena , sudah membuang-buang waktu kamu. Tapi karena ini cukup penting bagi kami maka kami tidak akan melewatkannya."
Wajah Gia berkerut karena bingung sendiri mendengar perkataan Kevin.
" Kenapa sih kalau mau mengatakan sesuatu itu to the point ajah. Nggak usah berbelit-belit gini. Bikin pusing tahu!" protes Gia.
" Iya.. iya. Maaf. Namanya juga gugup! " jawab Kevin dengan jujur dan polosnya.
Gia kaget mendengar pengakuan Kevin.
" What? Seorang Kevin bisa juga merasa gugup?" Tanya Gia tak percaya. Kevin malah menunduk antara malu atau memang tidak percaya diri. Sedangkan Varen melirik Kevin dengan tatapan yang seakan ingin membenamkan tubuh Kevin ke dalam samudera agar tidak muncul lagi. Bikin malu saja.
__ADS_1
" Hari ini kalian berdua kenapa sih. Aneh tahu," ujarnya dengan keheranan.
Kevin pun memperbaiki posisi duduknya. Dengan duduk yang tegap, Kevin menghela napas sekali. Entah mengapa kali ini nyalinya begitu ciut menghadapi Gia. Hanya untuk memperjuangkan perasaannya saja keberaniannya seakan menguap entah kemana. Varen juga tak kalah gugup. Kedua pria tampan yang sudah jadi idola kampus sejak pertama kalinya mereka menginjakkan kakinya di kampus ini ternyata tak berdaya dihadapan seorang perempuan bernama Gia.
" Baiklah, aku akan mengatakannya, tapi kamu harus janji jangan marah atau benci dengan kami! " ujar Kevin.
"Baiklah! Gia mengiyakannya. Kevin dan Varen saling menatap satu sama lain, kemudian saling menganggukkan kepala. Lalu Kevin mulai berbicara.
" Sebelumnya kamu pasti sudah tahu tentang perasaanku semenjak awal kita bertemu. Bahkan kamu sudah pernah mendengarkan permintaanku untuk menjadikan kamu pacarku!" ungkap Kevin. Kepala Gia mengangguk perlahan sambil membayangkan kejadian tempo hari.
" Dan kali ini, apa yang ingin aku sampaikan masih tetap sama dan tidak pernah berubah sama sekali.! lanjutnya kemudian. " Hanya saja kali ini bukan sekedar pengakuan dari bibirku saja." sambungnya lagi.
Ekspresi wajah Gia berkerut heran mendengar perkataan Kevin.
" Maksud kamu...? " Tanya Gia penasaran.
" Aku tidak tahu seperti apa perasaan Kevin kepada kamu, tapi aku sangat tahu pasti bagaimana perasaanku untukmu."
" Deg! Baru mendengar kalimat Varen ini saja jantung Gia langsung berdetak kencang.
Varen melanjutkan ucapannya, " Aku tidak tahu apakah kamu masih ingat atau sudah lupa pertemuan pertama kita waktu di Bali. Tapi dalam ingatanku wajahmu selalu tertanam dan hingga saat ini selalu membekas dalam pikiranku.!" Gia tidak menyangka jika ternyata pria itu mengingat dirinya dengan baik. Padahal Gia sendiri sudah begitu yakin jika pria itu sudah melupakan dirinya.
Kali ini Kevin yang jadi terkejut mendengar pengakuan Varen. " Mereka berdua pernah bertemu di Bali? Kapan itu terjadi? Tanyanya dalam benaknya.
Varen berkata lagi, " Sejujurnya sejak pertama kali kita bertemu, kamu sangat berkesan dihatiku tapi sayangnya pertemuan kita tidak berlanjut karena kita tidak bisa berkomunikasi sama sekali. Tapi setelah aku melihat dirimu lagi berada di kota yang sama dengan aku, muncul keyakinan dalam diriku jika semesta merestui perjumpaan diantara kita berdua.! ucap Varen dengan sangat percaya diri.
__ADS_1
Dan kini hati Kevin yang menjadi ciut. Tak disangkanya jika Varen sudah bertemu Gia jauh sebelumnya. Kemudian Varen berkata lagi, " Kalau kamu juga ingat, ketika aku menolong kamu ketika kamu hampir mengalami kecelakaan!"
Gia kaget sekaligus bahagia. Jadi ternyata pria yang menolongnya waktu itu adalah Varen? Gia tidak pernah menyangka sama sekali. Semesta seakan sedang membuat sebuah permainan diantara mereka. Kevin semakin tak tenang. Tak terbayangkan olehnya, jika ternyata sahabat dan gadis impiannya telah saling berhubungan sebelumnya. Dirinya hanya seperti sebagai bunga-bunga penghias. Kevin hanya bisa memohon dalam hatinya, " Oh semesta alam, bantulah diriku!
Gia tak tahu harus berkata apa. Dia sendiri menjadi bingung dan ragu. " Apa maksud yang sebenarnya yang ingin disampaikan oleh kedua pria ini kepadanya.!
" Jadi, apa maksud dari semua ini. Aku bingung! ujar Gia.
Kevin menghela napasnya dengan berat hati. Sepertinya semangatnya yang tadi masih menggebu-gebu seperti semangat 45' berubah menjadi tak berdaya, hampir menyerah.
" Kami ingin tahu bagaimana dengan perasaanmu. Kalau kamu memang memiliki perasaan yang sama dengan salah satu diantara kita berdua, maka siapa yang ingin kamu pilih untuk menjadi kekasihmu?" tanya Kevin tanpa basa-basi lagi.
Gia yang tiba-tiba di todong dengan pertanyaan yang sulit seperti tentu saja membuat hatinya sulit untuk menjawab. Kalau mau jujur, Gia akan menjawab dengan sejujur-jujurnya tentang perasaan yang ada dalam hatinya. Di satu sisi, hatinya mulai nyaman dengan perlakuan Kevin yang selama ini penuh perhatian kepadanya. Tapi di sisi lain perasaan hatinya pada pandangan pertama dengan Varen juga masih tersimpan rapi di lubuk hatinya.
Gia menarik napas panjang. Begitu sulit baginya untuk menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Di satu sisi senang karena perasaan hatinya kepada Varen ternyata berbalas manis, tapi dia sisi lain hatinya tak ingin kehilangan perhatian dari Kevin dan tak tega menyakiti hatinya.
Tapi Gia tidak bisa berdiam diri saja. Hanya akan membiarkan kedua pria tersebut merasa digantung.
" Aku minta maaf karena untuk saat ini tidak tahu harus menjawab apa. Karena aku takut jawabanku salah dan menyakiti perasaan kita masing-masing. Apakah kalian masih bisa menunggu jawabanku di lain waktu? Karena aku butuh waktu untuk memikirkannya." sahut Gia.
Kevin dan Varen saling menganggukkan kepala. Ada sedikit rasa lega. Terlebih Kevin. Setidaknya dia masih punya harapan. Gia sepertinya masih menghargai perhatiannya selama ini. Artinya Gia masih mau mempertimbangkan apa yang sudah pernah mereka alami meski hanya untuk beberapa saat.
Varen sendiri merasa lega dan tenang setelah mengungkapkan perasaannya. Meski Gia belum memberikan jawabannya tapi setidaknya Varen sudah memahami perasaan mereka masing-masing. Mungkin secara tidak langsung Gia mengungkapkan perasaannya. Hanya karena demi menjaga perasaan masing-masing maka Gia tak ingin menjawabnya terburu-buru. Dan juga agar hati bisa melihat dengan lebih jelas perasaannya lebih nyaman dengan siapa.
Karena urusan hati tak dapat ditentukan hanya karena sekedar suka sama suka, senang sama senang. Tapi ada beberapa hal yang perlu pertimbangan yang matang. Apalagi ini melibatkan lebih dari dua hati. Tidak hanya satu hati semata.
__ADS_1
Malam ini rasanya waktu sangat lambat berputar. Jarum jam seakan berhenti berdetak. Bahkan udara terasa berbeda dari biasanya. Dengan kata lain aura cinta mampu mengubah segala sesuatu.