Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Sebuah Pertanda.


__ADS_3

Sosok yang melihat Evelyn di rumah sakit tempo hari ternyata adalah ibunya Joe. Kebetulan hari itu dia sedang check up kesehatan. Maklumlah wanita tua itu semakin berumur dan kesehatannya sudah mulai menurun. Untung saja di hari tuanya ini, dia semakin bijaksana. Tidak lagi seorang wanita tua egois yang suka memaksakan kehendaknya apalagi kepada anaknya Joe.


Setelah peristiwa bertahun-tahun silam, dia semakin menyadari satu hal. Apa yang baik dan buruk. Menilai sesuatu tidak lagi berdasarkan pandangannya sendiri. Semenjak menghilangnya Eva 17 tahun yang lalu, beliau pun semakin menyadari, jika perempuan yang dicintai oleh putranya itu adalah sosok perempuan yang sangat baik. Berhati lembut dan tulus.


Penyesalan baru hadir ketika sudah kehilangan. Dan hari itu di rumah sakit, dia melihat sosok Eva ada disana. Antara terkejut dan senang. Dia langsung pulang ke rumahnya dan menemui Joe memberitahukan putranya itu apa yang dilihatnya. Karena menurutnya itu adalah berita yang membahagiakan. Dan Joe harus tahu tentang hal itu. setidaknya dia ingin melakukan suatu hal yang benar untuk pertama kalinya bagi putranya itu.


Namun ternyata, dia lebih terkejut lagi ketika Joe menceritakan siapa perempuan yang mirip dengan Eva itu.


Setelah mengetahui kenyataannya ada sedikit rasa kecewa dihatinya. Awalnya ibu Joe sudah berpikir optimis jika Eva memang benar-benar telah kembali lagi. Takdir seolah sedang mempermainkan perasaan mereka.


Ibu Joe sekarang bukanlah wanita yang dulu hanya suka memaksakan kehendaknya. Beliau tak pernah lagi memaksakan apa yang di inginkan olehnya. Seperti halnya tentang pernikahan Joe. Karena hingga saat ini Joe belum pernah menikah.


Setiap kali bertunangan, Setiap kali itu pula akan berakhir. Entah kutukan dari manakah sehingga jodohnya Joe selalu menjauh darinya.


Pulang dari kantor, Gio langsung pulang ke rumah. Malam ini dia berjanji untukmu makan malam dengan ayah Grego. Sudah cukup lama mereka berdua tidak duduk bersama menikmati makan malam.


Sesampainya di rumah, Gio langsung membersihkan diri. Menyegarkan diri dengan berendam air hangat. Hari ini raganya terasa letih karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.


Sebelah merasakannya segar dan sakit sudah menunjukkan pukul 18.30 waktunya untuk makan malam.


Grego keluarganya dari kamarnya, lalu pergi menemuinya ayah Grego untuk mengikutinya makan bersama. Meja makan masih kosong ,artinya Ayah Grego masih ada di dalam kamar. Gio pun menari ayahnya di dalam kamar.


" Tok.. tok.. tok...! Gio mengetuk pintu kamar ayahnya lalu membuka sendiri pintu itu karena ayahnya tidak pernah mengunci pintu kamar itu lagi semenjak Eva menghilang.


Gio mencari-cari jejak ayahnya di dalam kamar itu. Nah itu dia. Sedang duduk termenung di tepi tempat tidur nya. Tangannya menggenggam sebuah bingkai photo. Gio mendekati Grego kemudian duduk disamping ayahnya itu. Dilihatnya bingkai photo itu. Wajah cantik sang Bunda tersenyum manis sembari merangkul Gio kecil.


Tanpa terasa netranya berkaca-kaca menatap haru. Mengenang kembali memori indah saat mereka masih berkumpul bersama. Rindu, hanya bisa merindu tanpa tahu kapan rindu itu akan terobati.


" Yah, kita makan yuk. Gio lapar nih! ajak Gio memecah keheningan di antara mereka.


Grego mengangguk sambil tersenyum.


Gio menggandeng ayahnya itu berjalan beriiringan menuju ruang makan. Bibi sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Untung saja dulu Eva sering mengajar bibi untuk memasak makanan kesukaan Grego dan Gio. Setidaknya rasa rindu dalam hati mereka sedikit terobati dengan menikmati masakan Bunda Eva.


Saat menikmati makan malam, Gio hampir tersedak ketika mendengar ayahnya berkata kepadanya,


" Gio, kenapa kamu tidak pernah bawa pacar kamu ke rumah? . Ayah tidak pernah melihat kamu membawa pacar kamu kesini! Apa kamu belum punya pacar?


Hati Gio mendadak senang. Bukan karena ayahnya menanyakan tentang pacarnya, tetapi Gio senang karena ayahnya ternyata selama ini masih memperhatikannya. Jika tidak, mana mungkin ayahnya itu tahu jika dia belum punya pacar sama sekali.


" Ayah pengen punya menantu seperti apa? Gio balik bertanya. Grego melihat Gio sambil tersenyum.

__ADS_1


" Yang penting kalian saling mencintai. Jika kamu cinta maka ayah pasti akan mendukungnya! jawab Grego dengan bijak layaknya seorang ayah yang sangat peduli dan perhatian kepada anaknya.


" Ayah hanya ingin melihat kamu bahagia. Jika kamu bahagia maka ayah ikut bahagia! lanjut Grego.


Gio tersenyum bangga kepada ayahnya itu. Untuk sesaat hatinya diliputi kebahagiaan, meski masih terasa ada yang kosong karena tidak ada sosok Bunda berkata mereka saat ini. Seandainya Bunda Eva ada disini saat ini maka sempurnalah kebahagian mereka.


Savio duduk termenung di ruang kerjanya. Setelah kejadian beberapa hari terakhir ini, dia mulai bimbang dan ragu. Ternyata 17 tahun itu tidak cukup menyembunyikan Eva dan Gia dari keluarga mereka. Dia mengira jika Eva tidak akan lagi ingat akan masa lalunya.


Apakah memang waktunya akan segera tiba? Rahasia besar itu akan terbongkar. Eva akan kembali kepada masa lalunya dan yang ternyata juga adalah masa depannya. Mungkin selama ini Vio terlalu memaksakan kehendaknya sendiri. Mengira apa yang dilakukannya adalah jalan yang terbaik. Tanpa dia sadari jika perbuatannya itu hanya membohongi dirinya sendiri dan membuat orang lain menderita.


Di tengah kegelisahan hatinya, Savio menghubungi seseorang lewat telvon pintarnya.


" Halo, Mbak aku ingin membicarakan sesuatu.! " Mbak bisa datang ke apartment aku kan?


" Aku tunggu mbak malam ini ya. Nanti aku traktir Mbak makan malam dech! Tersungging senyum dibibirnya.


Ponsel itupun dimatikan setelah pembicaraan sudah selesai.


Savio tersenyum pasrah. Sepertinya dia memang harus melakukannya. Jangan sampai rahasia ini akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri di masa depan. Walau bagaimanapun dia berusaha untuk menutupinya akhirnya pasti akan terkuak juga.


Malam yang ditunggu akhirnya pun tiba.


Savio sudah menunggu dengan setia kehadiran sang kakak. Mereka berjanji akan bertemu sambil menikmati makan malam di apartemen Savio.


" Malam Vio,! sapa sang kakak.


" Malam Mbak! sambut Savio. Lalu mempersilahkan kakaknya itu masuk.


Mereka langsung menuju meja makan.


Telah terhidang makanan lezat di atas meja.


" Ada perayaan apa nih, makanan sebanyak ini dan kelihatannya istimewa.! Savio hanya tersenyum tak menjawab.


Wanita itu langsung duduk setelah dipersilahkan oleh sang tuan rumah.


" Silahkan dinikmati Mbak. Kita makan sambil ngobrol. Biar lebih santai. Nggk papa kan Mbak!? ucapnya meminta persetujuan dari kakaknya itu.


" Iya, tidak apa-apa. Kamuflase kan adikku, tidak perlu formalitas begitu.! balasnya dengan lebih akrab lagi.


Perjamuan malam itu pun dimulai. Sambil menikmati santapan lezat Savio mulai membicarakan maksud dan tujuannya mengundang kakaknya itu malam ini.

__ADS_1


Awalnya wanita itu masih menikmati makanan yang ada dihadapannya itu dengan nikmat dan senang. Naming suasana menjadi berubah ketika Savio mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan bagi wanita itu.


" Kamu bilang apa Vio? Tanya wanita itu untuk memperjelas apa yang baru saja didengarkannya.


" Eva masih hidup Mbak. Tapi saat ini dia sedang mengalami amnesia semi permanent.!


Wanita itu membatu untuk sesaat. Terkejut. Sangat-sangat terkejut. Ibarat suara petir yang menggelagar dengan kekuatan ribuan ton voltase. Bisa membuat jantung berhenti berdetak untuk seketika.


Wanita itu menarik napas panjang kemudian menghelanya perlahan untuk menenangkan suasana hati dan pikirannya yang sudah chaos.


" Sekarang kamu jelaskan kepada Mbak yang sejelas-jelasnya. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa kamu harus melakukannya. Karena perbuatanmu ini sungguh tidak dapat dibenarkan sama sekali. Perbuatanmu ini sangat salah! Wanita itu dengan tegas meminta Vio menceritakan yang sejujurnya. Sungguh tak dapat dipercaya jika selama ini dia telah dibohongi oleh adik sepupunya itu.


Savio menghela napas cukup panjang. Berat rasanya untuk mengungkapkan kebenarannya. Tapi sudah tak bisa lagi untuk disembunyikan.


" Aku akan menceritakan semuanya. Tapi Mbak harus janji untuk tudia mengatakannya kepada siapapun untuk saat ini. Kelak aku yang akan mengatakannya sendiri! pintanya Savio kepada kakaknya itu. Meski mereka hanyalah saudara sepupu tapi hubungan mereka cukup dekat. Karena mereka sudah bersama sejak mereka masih kecil.


Kakaknya itu yang ternyata adalah Aletta, teman, sahabat sekaligus rekan kerja Eva dulu waktu mereka sama-sama bekerja di perusahaan Grego.


Aletta menganggukkan kepalanya pertanda setuju.


Dan Savio pun memulai kisah yang terjadi 17 tahun yang silam.


Flashback...


Waktu itu, Eva sedang berada di rumah Joe. Eva bermaksud untuk menyampaikan rasa terima kasih atas kerja keras Joe selama ini yang telah membantu mereka untuk mengungkapkan peristiwa kecelakaan yang menimpa Eva dan Gio.


Selesai pertemuan singkat antara Eva dan Joe, Eva pun mengundurkan diri pamit pulang. Meski Joe masih berharap mereka dapat duduk bicara lebih lama lagi.


Tapi mengingat sikap Grego yang tidak menyukai jika Joe dekat dengan Eva istrinya, Joe pun harus mengikhlaskan Eva untuk segera pulang. Dari pada pria arogan itu datang dan menghajarnya.


Eva lalu menghubungi nomor suaminya itu, sesuai dengan pesannya agar menghubunginya untuk menjemputnya setelah selesai bergeming dengan Joe.


Namun ketika dihubungi nomor itu malah tidak aktif. Ketika Eva masih sibuk menghubungi nomor suaminya itu, sebuah mobil mewah berhenti dihadapannya. Sopirnya digerakkannya keluar dan menemui Eva yang masih sibuk dengan ponselnya.


" Selamat siang Nyonya. Saya Jaka. Saya sopir kantor yang disuruh tuan Grego untuk menjemput Nyonya.! lelaki muda itu memperkenalkan dirinya. Eva menatapnya dengan teliti. Dia tidak pernah melihat laki-laki itu di kantor sebelumnya.


"Saya pegawai baru Nyonya. Baru 2 hari ini masuk kerja. Tuan Grego memberi pesan untuk menjemput Nyonya karena Tuan Grego ada urusan mendadak dengan rekan bisnisnya.! ucap pria itu seolah bisa membaca pikiran Eva saat ini.


Sebenarnya Eva sedikit ragu dengan laki-laki yang ada dihadapannya itu. Tapi nomor Grego juga tidak bisa dihubungi. Biasanya nomor Grego di nonaktifkan hanya saat dia sedang ada meeting penting dengan rekan bisnisnya.


Meski kurang percaya, tapi akhirnya Eva menurut saja dengan sopir baru itu.

__ADS_1


Sopir itu membuka pintu belakang mobil dan mempersilahkan Eva untuk masuk. Dengan langkah ragu Eva masuk dan duduk manis di belakang kursi sopir.


__ADS_2