Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Rasa Penasaran


__ADS_3

Grego sedang serius memperhatikan biodata Eva di layar komputernya. Sekilas tidak ada yang aneh atau istimewa. Hanya saja Grego merasa sedikit bingung mengapa Eva yang lulusan Sarjana Hukum bisa bekerja diperusahaannya hanya sebagai karyawan biasa yang tidak sesuai dengan kualifikasi perusahaan dalam merekrut pegawai baru. Grego kemudian fokus pada status yang tertera disana. Belum menikah alias single. Tapi bukankah dia sudah punya anak. Grego teringat kembali di malam itu ketika dia mengantar Eva pulang dari pesta. Waktu itu dia sedang menggendong seorang anak dan dia mendengar dengan jelas ketika bocah itu memanggilnya dengan sebutan Bunda. Dipenuhi dengan tanda tanya dan penasaran dia pun memanggil Pak Ardian melalui telvon untuk datang keruangannya.


" Pak Ardian, tolong datang ke ruangan saya."


Selang beberapa menit Pak Ardian sudah muncul dihadapannya.


"Ada apa Tuan Muda? tanya Pak Ardian. Dia mengira-ngira apa yang akan ditanyakan oleh bos mudanya itu.


"Sudah berapa lama nona Eva itu bekerja di perusahaan ini? tanya Grego sambil menatap wajah Pak Ardian.


"Kira kira sudah 5 tahun Tuan Muda! jawab Pak Ardian.


"Kok dia bisa diterima bekerja di divisi pemasaran dan keuangan padahal dia itu lulusan sarjana hukum? wajahnya terlihat seperti ingin mendengar jawaban yang tepat dan benar.


"Maaf Tuan Muda, kalau aku tidak salah ingat nona Eva itu diterima bekerja atas rekomendasi Tuan Besar! jawab Pak Ardian dengan senyuman.


"Rekomendasi dari ayah Saya? Grego terlihat semakin penasaran.


"Ceritanya begini Tuan Muda....


Flashback ...


Siang itu Eva terlihat sedang membawa berkas-berkas lamaran kerja. Beberapa minggu yang lalu dia baru saja kembali dari Papua sebagai relawan tenaga pengajar di pedalaman Papua. Beberapa perusahaan telah didatanginya namun sepertinya tak satupun yang bersedia menerimanya dengan alasan tidak ada lowongan.


Karena sudah merasa lelah dia ingin beristirahat sejenak di salah satu sudut taman yang ada di tengah tengah kota itu.


Eva melepaskan penat setelah beberapa jam yang lalu dia berkeliling memasukkan lamarannya. Dengan santai dia duduk di bangku taman sambil melihat lihat pemandangan yang asri di taman itu.


Sayup sayup dia mendengar suara teriakan yang cukup keras. Tapi dia tidak tahu suara itu berasal dari mana. Suara itu semakin keras dan membuatnya sedikit penasaran.


Eva pun berusaha mencari asal dari suara tersebut.


Dari kejauhan samar samar terlihat bayangan hitam di salah satu bangku taman yang ada di taman itu.

__ADS_1


Eva semakin mendekat dan semakin terlihat jelas. Terlihat 3 pemuda besar dan kasar sedang mengganggu seorang bapak tua yang sedang duduk di bangku tersebut.


Pemuda pemuda kasar itu sepertinya sedang berusaha meminta uang secara paksa dari Pak tua itu.


Namun pak tua tersebut tidak berniat sama sekali untuk memberikan permintaan para berandalan tersebut. Pak tua itu tetap diam tak bereaksi. Para pemuda itu bahkan sudah mulai bermain fisik. Tubuh pak tua itu mereka dorong dengan kasar membuat tubuh pak tua itu hampir saja terjatuh.


Melihat perisitiwa itu jiwa muda Eva menjadi mendidih. Dengan langkah cepat dia berjalan kearah para berandalan itu.


Setelah cukup mendekat dia pun berteriak tanpa ada rasa takut.


"Hei, kalian. Beraninya mengganggu orang tua. Dasar preman kampungan! sambil berkacak pinggang Eva menatap ketiga pemuda itu dengan tatapan sangar.


Mendengar teriakan Eva ketiga pemuda tersebut mengalihkan perhatiannya ke arah Eva dan dengan senyuman sinis mereka menatapnya.


"Perempuan idiot dari mana tiba tiba datang mencari mati disini hah! teriak salah satu pemuda yang bertubuh lebih tambun dari dua pemuda lainnya.


"Wah, cari mati dia boss! ucap pemuda yang kedua, bertubuh sangat kurus tapi tinggi.


Eva malah tersenyum sinis membalas ancaman para pemuda berandalan itu.


Eva melangkah maju dengan percaya diri. Sedangkan ketiga pemuda tersebut malah melangkah mundur.


Tanpa pikir panjang Eva pun langsung berteriak dengan sekencang kencangnya dengan suara melengking memecah keheningan di tempat itu.


"Tolong, ada maling, ada maling, ada maling.!!


Mendengar teriakan Eva yang tiba tiba itu ketiga pemuda tersebut malah terkejut dan nyali mereka seketika ciut. Tanpa aba aba mereka bertiga langsung lari tunggang langgang dari tempat itu. Mereka takut massa akan datang dan menghajar mereka babak belur.


Eva pun tertawa melihat tingkah preman preman kaleng kaleng tersebut yang lari tunggang langgang. Eva bahkan memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa lucu terlalu keras.


Pak tua tadi pun ikut tersenyum melihat tingkah Eva yang tak hentinya tertawa.


Setelah puas tertawa, Eva kemudian mendekati pria tua tersebut.

__ADS_1


"Anda tidak apa apa kan Pak? tanya Eva dengan penuh perhatiannya. Dia merasa kasihan dengan pak tua itu yang duduk sendiri di bangku taman seperti orang yang kesepian.


"Saya tidak apa apa nak. Terima kasih karena sudah menolong bapak tadi. Bapak salut sama kamu dengan berani melawan berandalan tadi.! jawab pria tua itu dengan senang.


"Ah tidak apa apa pak. Sebagai orang muda harus bisa menolong orang lain apalagi orang yang sudah tua dan lemah seperti bapak! ucap Eva dengan senyum manisnya. Suaranya yang lembut dan merdu sungguh mengena di hati pak tua itu.


Dilihatnya Eva yang sedang memegang sesuatu.


"Apa itu yang kamu bawa nak? tanya Pak tua itu lagi.


" Oh, ini surat lamaran saya pak. Saya lagi kerjaan tapi belum dapat. Nggk ada lowongan katanya! jawab Eva polos.


Pak tua itu hanya manggut manggut. Lalu diambilnya sesuatu dari kantong bajunya dan diserahkan kepada Eva.


"Ini kartu nama saya, kamu boleh datang besok ke kantor saya dan temui saya di kantor.!


Mendengar itu Eva sangat gembira sekali. Sepertinya dia akan mendapat kesempatan kali ini.


Eva menerima kartu nama itu dengan senang hati. Tak henti hentinya terlukis senyum di wajahnya.


Flash off ...


" Begitu ceritanya Tuan Muda! ucap Pak Ardian mengakhiri ceritanya.


Mendengar kisah yang diceritakan oleh Pak Ardian Grego hanya diam tanpa respon sama sekali.


" Lalu apakah semua yang tertulis di data ini adalah benar? tanya Grego kemudian.


"Iya Tuan Muda! jawab Pak Ardian.


"Apa dia benar benar belum menikah sama sekali? tanya Grego lagi dengan penekanan yang cukup tegas.


"Iya Tuan Muda, Nona Eva itu belum pernah menikah sama sekali.! jawab Pak Ardian dengan percaya diri. Grego masih ingin bertanya tapi diurungkannya.

__ADS_1


__ADS_2