
Gio sedang berbaring diatas tempat tidurnya. Matanya nanar memandang langit-langit tembok. Entah apa yang sedang dipikirkannya namun wajah sendunya menunjukkan kegelisahan dalam hatinya.
Berapa lama lagi sampai Tuhan mengabulkan doa-doanya. Hatinya selalu terluka saat melihat kondisi Ayahnya yang tak berdaya. Hampa dan kosong. Hanya raganya yang terlihat tegar tapi karena sudah lama tak dirawat dengan baik nampak garis-garis kerutan yang membuatnya terlihat tua dan rapuh.
Gio memejamkan matanya. Bayangan wajah Bundanya terlintas dalam benaknya. Wajah yang penuh cinta dan kelembutan. Kemudian bayangan itu pun lenyap dari dalam benaknya sehingga tanpa terasa air mata menetes dari pelupuk matanya.
Kesedihan dalam hatinya sungguh tak terobati lagi. Membuatnya hatinya menjadi dingin dan kosong. Sehingga dirinya seakan tidak mampu membuka hatinya lagi untuk mencintai seorang perempuan. Sekalipun banyak perempuan yang mencoba mendekatinya, jatuh cinta kepadanya dan berharap mendapatkan balasan cinta dari Gio, semua itu hanyalah sia-sia.
Sedikit pun hatinya tak tersentuh untuk membalas cinta perempuan-perempuan yang haus akan kasih sayang darinya. Cinta dan kasih sayangnya kepada sang Bunda sepertinya telah habis tercurah dibawa oleh Bundanya. Tidak tersisa sedikitpun untuk diberikannya kepada wanita lain.
Gio bangkit dari peraduannya. Disekanya air mata dari pipinya. Tiba-tiba hatinya ingin pergi ke suatu tempat. Gio pun mencoba menuruti kata hatinya itu. Diperiksanya sang ayah di dalam kamar. Grego sudah tidur. Bahkan dalam tidurpun hatinya tetap merindu.
Lalu Gio mengendarai mobilnya membelah jalanan ibu kota. Tidak tahu arah dan tujuan, dia hanya mengikuti kata hatinya saja. Kurang lebih 30 menit Gio berkeliling kota menikmatinya udara malam. Kemudian dia memarkirkan kendaraannya disebuah Taman Hiburan malam. Suasananya sangat ramai. Banyak pasangan pemuda memanfaatkan tempat itu untuk berkencan dengan pasangan masing-masing.
Namun ada juga beberapa keluarga bersama dengan anggota keluarganya menghabiskan malam dengan gembira dan sukacita.
Melihat mereka yang begitu bahagia bersama dengan orang-orang yang mereka cintai membuat hati Gio teriris pedih. Seandainya Bundanya masih berada bersama mereka saat ini mungkin mereka akan menikmati kebahagiaan sama seperti yang dirasakan oleh orang-orang ini.
Bukannya terhibur, hati Gio malah bertambah sedih datang ke tempat ini. Dia pun berbalik ingin kembali ke dalam mobil dan segera pergi dari sana. Baru saja dia berbalik, " Buukk! Gio bertubrukan dengan seorang gadis remaja.
" Auhh! si gadis itu meringis.
" Maaf! Gio meminta maaf kepadanya.
Diperhatikannya gadis itu. Sepertinya dia pernah melihatnya? Iya... Bukankah dia itu gadis yang sama. Gadis si motor matic.
" Kamu? tunjuknya dengan jarinya.
Gadis itu balik melihat ke arah Gio.
" Kamu? balasnya lagi.
"Waaahhh. Kenapa kamu ada dimana-mana ya! ujarnya
Gio hanya tersenyum simpul. Tapi senyum itu hambar. Dingin bagaikan es.
" Eh Tuan, sepertinya kamu sedang berbeban berat ya. Wajahmu terlihat tak bergairah.! Ujar Gia memperhatikan wajah Gio. Entah tahu darimana Gia bisa membaca ekspresi wajah Gio.
Tapi Gio tidak menanggapi perkataan Gia. Dia hanya menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
" Gia! suara teriak seorang wanita dari belakang punggung Gio.
" Ya Ma! jawab Gia.
Gia segera menemui ibunya itu.
Tapi ekspresi Gio tiba-tiba berubah ketika mendengar suara itu. Suara itu terdengar familiar di telinganya. Suara yang sangat dirindukannya selama ini.
Gio segera berbalik ingin melihat wajah sang empunya suara. Yang dilihatnya hanyalah punggung wanita itu. Gia dan wanita itu berjalan ke arah yang berlawanan. Tapi sosok itu mirip sekali dengan Bundanya. Gaya berjalannya, bentuk badannya cara melangkahnya dan bahkan suaranya itu persis dengan Bundanya.
Dan satu lagi. Gia. Nama gadis itu Gia. Tidakkah nama itu juga mirip dengan namanya. Gia dan Gio. Gio mencoba mengikuti mereka. Namun orang lalu lalang begitu ramai. Sehingga dia harus kehilangan jejak.
Rasa penasaran begitu membara dalam hatinya. Semangat dan keyakinannya seakan bangkit kembali.
Dia akan mencoba untuk mencari jejak gadis matic itu. Mungkin Tuhan yang telah mengirimkannya kepadanya sebagai petunjuk baginya untuk menemukan sang Bundanya yang telah lama menghilang.
Keesokan harinya.
Gio memacu mobilnya berkeliling kota dengan satu tujuan, bisa bertemu kembali dengan si gadis matic. Hampir berjam-jam Gio berputar-putar mengelilingi kota. Dan tak ada kata lelah baginya. Kali ini dia tidak akan menyerah.
Dan kerja kerasnya tidaklah sia-sia. Tuhan masih menunjukkan kasih-Nya kepada Gio.
Gio memberhentikan miliknya tetapi dia hanya mengawasinya dari dalam mobil. Ketika Gia sudah selesai berbelanja dia segera pergi dari sana. Dan Gio mengikutinya dari belakang. Gio mengikuti perlahan-lahan dengan menjaga jarak agar Gia tidak mencurigainya.
Gio berhenti di sebuah toko roti. Kemudian dia masuk ke dalamnya. Gio berpikiran jika gadis itu pasti bekerja di toko roti itu.
Gio pun menunggu di dalam mobil. Tidak keluar sama sekali. Untuk kali ini dia cukup hanya mengintai dari jauh terlebih dulu. Melihat situasi sebelum dia bertindak.
Tak lama kemudian gadis itu keluar dengan seorang wanita. Tetapi wajah wanita itu tidak jelas karena ditutup dengan masker. Sehingga Gio tidak dapat melihatnya dengan baik.
Terlihat wanita itu sedang membicarakan sesuatu dengan si gadis matic. Lalu setelah itu si gadis matic pergi meninggalkan toko itu dengan motor maticnya.
Gio mencoba melihat dengan jelas wajah wanita itu tetapi tidak begitu jelas. Namun jika dilihat sekilas garis dan bentuk wajahnya begitu mirip dengan Bundanya.
Tentu saja Gio semakin penasaran dengan sosok dibalik masker itu.
Gio pun menyusun sebuah rencana agar dia dapat memastikan penyelidikannya benar.
Tuhan telah memberi petunjuk dihadapannya.
__ADS_1
Keesokan paginya.
Gio berkunjung ke toko roti itu. Dengan tujuan melihat secara langsung wanita itu. Tapi dengan alasan ingin membeli beberapa roti.
Dengan mengumpulkan keberanian, Gio pun melangkah dan memasuki toko itu. Gio berpura-pura melihat-lihat roti-roti yang sudah dipajang di etalase kaca.
Lalu terdengar sebuah suara menyapa dirinya.
" Selamat datang di toko roti kami. Ada uangnya bisa kami bantu? Suara itu begitu lembut dan tidak begitu asing ditelinganya.
Gio segera melihat sumber suara itu. Wanita yang sama namun wajahnya masih tertutup dengan masker sehingga Gio tidak dapat mengenalinya dengan baik.
Tapi suara itu jelas-jelas dikenalnya. Suara sang Bunda. Penampilan, postur tubuh dan cara melangkahnya terlihat sama persis.
Gio pun berniat untuk meminta wanita itu untuk melepaskan masker diwajahnya. Agar rasa penasaran dalam hatinya dapat terjawab.
Namun belum sempat niat itu terwujud si gadis matic tiba-tiba muncul.
" Mama! Sapanya. Lalu dipeluknya wanita itu dengan penuh cinta dan kehangatan. Melihat adegan itu betapa rindu hati Gio untuk bisa memeluk Bundanya lagi. Seperti dulu yang sering dia lakukan semasa kecilnya.
Gia berbalik kemudian dan ketika melihat Gio ada disana dia sedikit terkejut.
" Kamu! Kok ada disini? Tanyanya penasaran.
" Kamu ikutin aku ya! Ucapnya kemudian.
" Saya hanya ingin membeli roti. Saya tidak tahu kalau tempat ini milik kamu! jawab Gio sedikit berbohong.
Lalu ucap Gio kemudian.
" Saya lihat ada toko roti baru jadi saya ingin mencobanya. Tidak salahkan untuk mencoba sesuatu yang baru!
" Ya sih. Tapi bagus jugalah. Siapa tahu kamu bisa jadi pelanggan tetap kami nantinya! ucap Gia sambil tersenyum menggoda kepada Gio. Senyuman untuk menarik hati pelanggan baru.
Gio menggangguk-angguk perlahan. Seakan mengiyakan maksud gadis itu.
" Jadi kamu mau pilih roti apa? Kami punya banyak pilihan rasa dan pastinya kamu akan suka! jiwa marketingnya pun dikeluarkan.
Ibunya hanya tersenyum menggeleng melihat tingkah putrinya itu. Sungguh dia sangat bahagia mempunyai putri seperti Gia. Baik, manis, selalu memberinya kegembiraan sehingga hari-harinya yang sepi selalu ceria karena kehadirannya.
__ADS_1