
Sepanjang perjalanan, pikiran Gio diliputi pertanyaan tentang surat kaleng tadi. Entah siapa yang mengirimkannya dan apa maksudnya. Gio jadi tidak fokus menyetir mobilnya. Eva bisa melihat dengan jelas terlukis kekhawatiran di wajah Gio.
Sebagai seorang ibu dia bisa merasakan jika anak-anak nya sedang menyimpan beban dalam hati mereka.
Memang semenjak mereka berkumpul bersama lagi, Gio belum pernah curhat sama sekali dengan Eva. Mungkin karena ingatan Eva belum pulih sepenuhnya, jadi Gio masih segan untuk berbicara lebih akrab dengan Bundanya itu.
Meski sebenarnya dari dalam hatinya Gio ingin sekali berdua dengan Bundanya itu. Bercerita seperti dulu waktu dia masih kecil. Betapa berat beban rindu yang di simpannya dalam hatinya. Tapi karena Bundanya itu masih dalam proses penyembuhan belum bisa memikirkan hal-hal yang terlalu berat. Gio berusaha bisa bersabar. Benar kata Dilan. Rindu itu berat.
Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi lepas landas meninggalkan bandara Soetta. Langit yang cerah dan semesta pun turut mendukung perjalanan mereka hari ini.
Segala sesuatunya berjalan dengan lancar. Kebahagiaan pun terpancar dari wajah mereka.
Kurang lebih 2 jam perjalanan dan cukup melelahkan. Setelah tiba di kamar hotel, Gia langsung meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur. Baru pertama kali baginya naik pesawat, untungnya dia tidak mabok udara. Hanya seluruh badannya terasa pegal.
Mereka memesan kamar khusus Family Room. Kamarnya sangat besar. Didalamnya terdapat 3 ruang tempat tidur. Ada ruang keluarga. Dan juga dapur mini.
" Gia kenapa Bunda? Tanya Gio khawatir karena Gia terlihat lelah.
" Hanya kecapean doang. Ini pertama kalinya Gia naik pesawat. Coba Gio lihat di kamar.! ujar Bundanya itu.
Gio pergi melihat kondisi Gia yang sudah terbaring di tempat tidur. Wajahnya benar-benar lelah. Tidurnya nyenyak sekali sehingga tidak sadar akan kehadiran Gio disana.
Gio mendekati tempat tidur Gia, lalu duduk di samping tubuhnya Gia.
Dibelainya rambut hitam dan lembut milik Gia. Dalam tidur saja wajahnya begitu cantik dan menggemaskan.
Gio tersenyum bangga. Bangga menjadi bagian dari keluarga ini.
Meski untuk menggapai kebahagiaan yang mereka nikmati saat ini membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Mereka harus melewati 17 tahun penuh penderitaan karena sebuah perpisahan.
__ADS_1
Ketika Gio sedang fokus memperhatikan wajah Gia, Eva masuk ke dalam kamar dan berjalan mendekati Gio.
Dipegangnya bahu Gio dengan lembut. Gio pun memalingkan wajahnya dan melihat wajah sang Bunda. Gio menyunggingkan senyumnya kepada sang Bunda.
" Kamu baik- baik saja nak? Tanya Eva dengan suara lembutnya. Suara yang sudah lama dirindukan oleh Gio. Eva lalu duduk dihadapan Gio.
" Menurut Bunda ? Gio balik bertanya. Dia tahu jika dulu Bundanya itu adalah orang yang paling tahu dirinya. Paling mengerti apa isi hatinya. Apakah sekarang masih sama atau juga ikut hilang bersama hilangnya ingatan..
" Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu. Apa Bunda boleh tahu, apa yang membebani pikiranmu saat ini ? Hati Gio merasa senang. Ternyata Bundanya itu masih tetap Bundanya yang dulu. Ingatan akan kenangan di masa bisa saja hilang. Tetapi cinta, perhatian dan kasih sayang akan selalu bersemayam di dalam hatinya.
" Boleh Gio memeluk Bunda? pintanya seperti permintaan seorang bocah balita. Tanpa memberi jawaban apa-apa Eva langsung memeluk Gio dalam dekapannya. Dirangkulnya erat dan hangat. Gio pun membalas pelukan itu lebih erat lagi. Pelukan yang sudah lama dirindukannya. Dan tanpa terasa bulir air mata menetes di pipinya. Dan akhirnya pertahanannya jebol juga. Gio tak dapat lagi menahan kerinduannya itu. Dia menangis. Menangis tersedu-sedu. Banjir air mata membasahi pipinya.
Eva sangat merasakan kerinduan yang selama ini ditahan oleh Gio. Pasti raganya sesak sekali. Tapi disembunyikannya dengan rapi sehingga tak seorangpun tahu derita yang sedang dialaminya.
" Maafkan Bunda yang sudah meninggalkan kamu dan ayah kamu. Membiarkan kamu menderita dan berjuang sendirian. Maafkanlah Bunda! sesal Eva. Meski kenyataannya itu bukanlah kesalahannya.
Gio menggeleng kepalanya dalam pelukan Bundanya itu.
" Tapi Bunda merasa ada sesuatu yang sedangkan kamu pikirkan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatimu saat ini?
Gio terdiam, sedetik kemudian dia lalu berkata kepada Bundanya itu.
" Tidak apa-apa Bunda. Bukan masalah penting. Gio sekarang lega karena Gio sudah mendapatkan Bunda Gio lagi. Hanya itu yang Gio harapkan selama ini.! ucap Gio dengan binar cerah nampak di matanya.
Kemudian Eva berkata lagi kepada Gio.
" Sebenarnya di dalam hati Bunda ada rasa sedih dan kecewa jika Bunda mengingat selama 17 tahun Bunda telah melewatkan masa dimana Bunda seharusnya melihat tumbuh kembangmu. Seharusnya Bunda ada disaat kamu mulai masuk sekolah, mengantar kamu ke sekolah, menemani kamu belajar, menyiapkan segala kebutuhan kamu dan yang terpenting selalu menemani kamu setiap waktu.!
Mendengar perkataan Bundanya itu ada haru dalam hatinya. Seandainya waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya kembali ke masa lalu dan mengubah peristiwa yang sedih menjadi peristiwa yang membahagiakan.
__ADS_1
Tapi waktu berlalu, dan takkan kembali lagi. Semua telah dituliskan dalam buku kehidupan.
Mereka saling menggenggam tangan. saling menguatkan, dan saling meneguhkan. Eva berkata lagi,
" Sekarang kamu sudah dewasa, waktunya kamu untuk menemukan kebahagiaan dalam hatimu Gi. Waktunya kamu mencari cinta sejatimu. Selama ini kamu pasti membiarkan hatimu sepi. Sudah saatnya kamu membahagiakan hidupmu nak! Nasehat Eva.
" Kebahagiaan Gio bersama Bunda, ayah dan sekarang ada Gia. Gio tidak membutuhkan yang lain lagi Bunda.!
" Tidak nak, kamu membutuhkan sebuah cinta yang lain. Sebuah cinta yang akan menemanimu di masa tuamu. Cinta yang akan memberikanmu begitu banyak kebahagiaan lainnya. Kamu harus ingat Gi, suatu saat Bunda dan ayahmu kelak akan pergi darimu. Gia juga pasti akan pergi bersama dengan pasangannya kelak. Tidak selamanya kita bersama. Kamu harus pikirkan itu baik-baik!
Gio merenungkan perkataan Bundanya itu. Dan kenyataannya memang demikian. Kelak pasti akan ada perpisahan lagi diantara mereka.
Selama ini Gio memang tidak terlalu peduli dengan perasaannya sendiri. Gio selalu menghindar jika harus berurusan dengan masalah cinta. Bukan karena trauma akan tetapi karena dirinya terlalu fokus pada kebahagiaan ayahnya waktu itu.
Dia sibuk dengan pekerjaannya dan juga sibuk mencari keberadaan sang Bunda. Sehingga tanpa disadari dia sering mengabaikan wanita-wanita yang pernah mendekatinya. Dan dia pun dikenal sebagai pria dingin tanpa perasaan.
Namun kini perkataan Bundanya itu mulai merasuk dihatinya. Dia memang butuh sosok seseorang yang akan mengisi hatinya, berbagi suka dan duka dengannya kelak. Menemaninya menjalani kehidupan ini sampai masa tuanya bahkan sampai akhir hidupnya. Memberinya anak-anak yang akan melanjutkan keturunannya.
Gio mengangguk tersenyum. Bundanya itu memang selalu menjadi malaikat baginya bahkan diusia dewasanya sekarang. Sungguh Gio sangat bersyukur sekali karena Tuhan telah mengembalikan Bundanya kepadanya.
" Baik Bunda, Gio akan mendengarkan Bunda. Tapi Bunda, Gio tidak tahu menilai gadis yang baik itu seperti apa? Gio bodoh dalam hal itu. Mungkin Bunda bisa membantu Gio? ungkap Gio jujur dari hatinya.
" Masalah hati hanya kamu yang bisa menilainya nak. Tapi Bunda hanya akan sekedar membantu kamu memberikan nasehat dan saran. Yang terpenting adalah hatimu merasakannya seperti apa! Nasehat Bundanya itu dengan bijak.
Tiba-tiba saja Gia bangkit dari tidurnya dan langsung memberikan petuah pada kakaknya itu.
" Masalah mencari istri untuk kakak serahkan pada Gia. Gia paling tahu menilai gadis yang baik dan yang jahat. Jadi kakak tidak perlu khawatir, ada Gia yang akan siap selalu membantu kakak tersayang.! Ucap Gia sambil memeluk dadanya dengan bangganya.
Eva dan Gio yang tentu saja merasa kaget melihat Gia yang bangun seperti mayat hidup dan langsung nyerocos seperti kereta api. Spontan mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Gio pun mengacak-acak rambut Gia dan menjawabnya di dalam pikirannya. Sungguh Tuhan baik telah mengirimkannya hadiah yang terindah dalam hidupnya. Adik gadis kecilnya yang lucu dan menggemaskan.