
Dan disaat Eva berada di depan pintu restaurant karena dia fokus melihat Gio tanpa memperhatikan sekitarnya tanpa sengaja dia malah menabrak seseorang. Membuatnya duduk terjatuh karena tubuh yang baru saja ditabraknya itu lebih besar darinya.
Dan rasa sakit di tulang ekornya tak dapat dihindarkan lagi.
Dan yang lebih terkejut lagi ketika dia melihat wajah si pelaku yang menabraknya atau yang ditabraknya.
Seorang pria dan dia adalah Grego.
Grego sendiri pun sedikit terkejut ketika melihat wajah wanita itu adalah Eva.
Grego lalu langsung mengulurkan tangannya untuk membantu Eva berdiri. Eva pun menyambut tangan itu walau ada sedikit perasaan ragu. Saat jari jemari kedua tangan itu saling bersentuhan ada getaran lembut dan hangat mengalir diantara otot-otot tangan mereka berdua. Getaran yang sulit untuk diartikan. Apakah getaran yang ditimbulkan oleh rasa suka atau hanya rasa getaran asing semata antara dua orang yang tidak saling memiliki rasa.
" Kamu tidak apa-apa kan? Tanya Grego seperti sedang berbisik.
"Saya tidak apa-apa Pak! jawab Eva yang berusaha untuk membalas dengan senyuman.
Eva pun segera memperbaiki rambut Dan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat terjatuh tadi.
" Kamu lagi ngapain disini? Tanya Grego tanpa berhenti menatap ke arah Eva dan sesekali melirik ke arah lain seperti mencari seseorang.
" Maaf Pak, saya lagi bersama dengan anak saya untuk makan malam di restaurant ini. Tapi tadi anak saya tiba-tiba hilang dari pengawasan saya dan berusaha untuk mencarinya. Tapi malah nabrak bapak! jawab Eva dengan sikap yang begitu kaku. Seolah-olah mereka sedang berada di kantor saat ini.
__ADS_1
" Oh begitu ya. Saya juga mau makan malam, tapi saya hanya sendiri. Kalau kamu tidak keberatan apa kamu dan anakmu mau ikut makan malam dengan saya? pinta Grego dengan nada suara seperti berharap sekali Eva mengiyakannya.
Eva pun jadi bingung harus menjawab apa. Suasana hatinya jadi bergejolak. Antara senang, ragu, gugup, takut dan tidak percaya.
Tapi Grego yang tidak suka untuk menunggu langsung memegang pergelangan tangan Eva dan menariknya untuk mengikutinya.
Grego berjalan diikuti Eva yang melangkah sedikit tergesa-gesa karena takut jatuh lagi akibat tangannya masih dipegang oleh Grego.
Grego melirik kanan kiri mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Gio!
Dan mahluk imut dan menggemaskan itu ternyata sudah duduk manis di salah satu sudut meja di restaurant tersebut. Dengan santainya dia duduk seperti boss besar yang sedang menunggu seseorang. Meski Grego belum mengenal wajah Gio dengan baik tapi ketika melihat Gio yang duduk manis disana dia langsung yakin jika itu adalah anak dari wanita itu.
Karena di tempat tersebut tidak ada anak kecil yang lain selain dia. Ditambah anak itu hanya seorang diri tanpa ada orang lain disampingnya. Sedangkan Eva tentu saja dia langsung mengenalinya.
Grego langsung duduk disamping kanannya sedangkan Bundanya berjalan mengelilingi meja dan duduk di sebelah kirinya.
Gio menatap Bundanya dan pria itu berganti-gantian.
Kemudian tatapannya berhenti di hadapan Grego.
Grego balas menatap Gio dan tersenyum dengan ramahnya. Berharap bocah itu tidak merasa takut akan kehadirannya di tempat itu. Tapi Gio sama sekali tidak menanggapinya. Gio lalu menatap Bundanya. Meski mulutnya tidak bersuara tapi di wajahnya terlukis pertanyaan yang ditujukan pada Bundanya tersebut.
__ADS_1
Melihat tatapan Gio, Eva bisa langsung mengerti apa yang hendak ingin ditanyakan olehnya.
"Anaknya Bunda, ini boss nya Bunda di kantor. Namanya Pak Grego! ucap Bunda menjawab pertanyaan Gio.
"Hai! Sapa Grego mencoba terlihat akrab.
"Hai om! balas Gio dengan cukup sopan. Dia selalu ingat kata Bundanya untuk selalu bersikap sopan jika sedang berbicara dengan siapa saja.
"Nama kamu siapa? tanya Grego kemudian.
" Nama saya Gio om. Nama lengkapnya Gio de Mello! jawab Gio masih dengan sikap yang manis dan sopan.
Gio memang anak yang baik dan penurut. Dia selalu menuruti apa yang dikatakan oleh Bundanya. Dia sudah mampu membedakan yang baik dan buruk. Karena itu Gio disenangi banyak orang sekalipun hanya bertemu sekali saja.
" Malam ini, Om ingin makan malam bersama dengan kalian. Bolehkan? ucap Grego dengan harap harap cemas. Dia penasaran apakah bocah itu akan bersedia mengijinkannya untuk ikut makan malam bersama mereka.
" Boleh saja Om, tapi bilang Bunda dulu. Bunda mau atau tidak.? jawab Gio dengan sikap dewasanya.
Mendengar jawaban Gio membuat Eva sedikit salah tingkah tidak tahu harus menjawab iya atau tidak. Namun karena sudah terlanjur duduk bersama mau tidak mau Eva hanya bisa mengiyakannya saja. Eva menjawab hanya dengan anggukan kepalanya. Melihat hal itu Grego terlihat senang sekali nampak dari wajahnya yang tersenyum.
Dan malam itu terciptalah sebuah makan malam yang istimewa diantara ketiga mahluk Tuhan ini.
__ADS_1
Perlahan namun pasti kehangatan mengalir begitu saja diantara ketiganya. Ketiganya nampak bahagia menikmati makan malam dadakan tersebut. Disela-sela menyantap hidangan lezat yang tersedia dihadapan mereka terselip canda dan tawa yang membuat suasana malam itu begitu hangat dan membahagiakan. Gio merasa nyaman dengan kehadiran pria asing tersebut diantara mereka, begitu juga dengan Grego yang merasa dekat dan nyaman saat berbicara dengan Gio. Sedangkan Eva merasakan bahagia tersendiri melihat kedua lelaki beda generasi yang ada dihadapannya saat ini terlihat akrab dan hangat. Seandainya...... tiba tiba saja muncul dalam pikirannya.... Seandainya saja, mereka bertiga adalah sebuah keluarga pasti rasanya sangat menyenangkan.
Sepintas saja ketika orang-orang melihat keakraban mereka bertiga malam ini, orang-orang tersebut pasti mengira jika mereka adalah sebuah keluarga yang sempurna dan bahagia. Seandainya seperti apa yang ada dalam benak Eva. Tapi itu hanyalah sebuah ilusi semata. Namun yang pasti kenyataannya bahwa malam ini adalah malam yang membahagiakan untuk mereka bertiga.