Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Wajah Yang Sangat Mirip


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah pertemuan mereka bertiga malam itu semua berjalan dengan normal. Sikap mereka tetap sama seperti biasanya. Tak ada rasa canggung atau pun enggan. Seolah-olah malam itu hanya sekedar pertemuan biasa saja. Gia bersikap sebagaimana sebelumnya dia bersikap terhadap mereka berdua. Dan tentu saja hal itu tidak mengecewakan kedua pria itu. Karena dengan demikian hubungan mereka tetap berjalan dengan baik.


Meski pada awalnya niat Kevin dan Varen selain untuk menunjukkan perasaan mereka yang sesungguhnya tetapi juga demi untuk bisa lebih bebas untuk melindungi Gia. Tapi kini hubungan mereka semakin kuat meski belum ada hubungan yang lebih mengikat. Namun mereka punya alasan yang tepat untuk melindungi Gia.


Gia baru saja keluar dari kelas. Nampak Kevin berlari kecil mengejar langkah Gia. " Gia!" panggil Kevin cukup keras. Namun tak terdengar sampai di telinga Gia, sehingga Gia tetap saja melangkah. Kevin semakin mempercepat langkahnya kemudian berteriak agak kencang. Dan baru terdengar oleh Gia.


Gia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kevin. " Kevin, ada apa? sahutnya setelah Kevin sudah mendekat.


" Kita ke rumah ya, Keenan ingin ketemu !" ujar Kevin. Gia melirik jam dipergelangan tangannya. Baru jam segini. Masih banyak waktu. Lagi pula dia tak ada tugas yang mendesak. Tak perlu lama untuk berpikir Gia langsung mengiyakan permintaan Kevin.


Dan tentu saja betapa bahagianya Keenan melihat kehadiran Gia. Gia memang kakak yang terbaik. Hanya sekali minta saja dia langsung menuruti keinginan Keenan.


" Keenan buat apa saja kalau di rumah? tanya Gia sambil duduk di sofa di samping Keenan.


" Hanya belajar doang kak. Keenan jadi bosan. Tidak ada teman bermain! " curhat Keenan manja.


" Kan, ada kakak Kevin? tunjuk Gia pada Kevin.


" Jangan harap kak Kevin bisa diajak kerja sama. Dia lebih suka sibuk sendiri. Kalau diajak main sama Keenan selalu kalah. Nggak seru!" keluh Keenan tak bersemangat.


" Oh yaa..?" seru Gia tak percaya.


" Hemm,!" gumam Keenan lesu.


Gia melirik Kevin dengan ekor matanya. seakan meminta pembenaran atas ucapan Keenan. Melihat lirikan Gia, Kevin pura-pura buang muka, menjauhkan pandangannya ke arah lain.


" Sepertinya kamu memang benar Kee, kakakmu ini nggk bisa diajak kerja sama.!" sindir Gia halus. Keenan manggut-manggut menyetujui ucapan Gia. Ketika Gia, Keenan dan Kevin sedang seru-seruan, tiba-tiba orang tua Kevin muncul bersama dengan tantenya Via Hermawan. Tanpa salam dan sapa.

__ADS_1


" Ada apa nih rame-rame?" tanya mami Kevin dan Keenan. Mereka bertiga jadi kaget ketika mendengar suara mami Kevin dan Keenan.


" Mami, tumben sudah pulang secepat ini? " tanya Kevin yang tidak percaya melihat orang tuanya itu sudah ada di rumah jam segini.


" Iya, Tante Via ingin bertemu kalian katanya tante sudah rindu sekali khususnya sama Keenan.!" jawab maminya.


" Benar banget, Tante tuh sangat rindu sama kalian. Sudah lama kita nggk ketemuan. Iya kan! " sang tante menimpali ucapan sang mami.


Kevin dan Keenan kaget begitu mendengar suara Tante kesayangan mereka itu. Mereka berdua langsung bangkit dan lari berhambur ke dalam pelukan sang Tante kesayangan.


Tentu saja Gia hanya mematung saja di tempat duduknya melihat adegan yang sedikit mengharukan itu. Sementara itu Via belum menyadari akan kehadiran Gia di rumah itu. Dan ketika pandangannya beralih dari Kevin dan Keenan, tatapannya beradu dengan tatapan Gia. Mereka saling menatap dengan tatapan mendalam.


Bagi Gia karena ini adalah perjumpaan yang pertama, maka tatapannya pun tak beralih dari pandangan Via. Ada sesuatu di wajah Gia yang membuatnya agak kaget dan terkejut. Wajah dan sorotan mata gadis itu mengingatkannya dengan seseorang di masa lalu. Wajah itu benar-benar sangat mirip sekali.


Via melepaskan pelukannya dari Keenan, lalu melangkah ke arah Gia. Seakan ingin memastikan jika penglihatannya itu benar.


" Kamu siapa?" tanya Via dengan hati yang penasaran. Dan sebelum Gia menjawabnya, Kevin berlari dengan cepat ke arah Gia.


" Nama kamu siapa? " tanya Via ulang seolah dia tidak mendengar ketika Kevin menyebut nama Gia.


" Gia tante! " jawab Gia dengan agak sedikit takut. Gimana tidak takut, wajah Via terlihat sangat tidak bersahabat. Gia sendiri heran kok bisa-bisanya Kevin dan Keenan yang punya karakter yang lembut, bersahabat dan ramah, mempunyai sosok tante yang cukup menakutkan, wajah tak bersahabat. Kelihatan sekali tak ada senyum atau raut wajah yang meneduhkan. Sangat berbanding terbalik antara langit dan bumi.


Tapi walaupun demikian, kelihatan jika mereka berdua begitu dekat dan akrab dengan tante mereka itu. Rasa sayang diantara mereka tidaklah dibuat-buat. Tulus dari dalam lubuk hati mereka yang terdalam.


" Nama lengkap kamu? " tanya Via lagi seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi pelaku kejahatan.


" Gia Damian Pratama. " jawab Gia dengan bangganya.

__ADS_1


" Deg! ". ..Mendengar nama itu Via sedikit kaget. Karena nama itu tidak asing ditelinganyau.


" Damian Pratama?" ucap Via mengulang jawaban Gia, lalu dibalas dengan anggukan oleh Gia. Sedangkan kedua orang tua Kevin hanya mendengar saja pembicaraan diantara Via dan Gia.


" Nama ibu kamu?" Tanya Via lagi.


" Nama Bunda saya Eva Christa de Gretel tante!" jawab Gia. Dan tentu saja jawaban Gia lebih mengejutkan lagi bagi Via.


Dunia ini memang sempit. Via tak bisa membayangkan jika musuhnya selama ini ternyata masih hidup. Dan bahkan telah membuatnya menjadi gelisah. Sudah hampir 18 tahun berlalu dan Via mengira semuanya telah berakhir. Namun kini dihadapannya muncul wajah yang selalu menghantuinya sepanjang malam. Seolah-olah wajah itu bangkit dari kuburnya.


Melihat perubahan ekspresi di wajah wanita itu, Gia menjadi penasaran. Wanita itu terlihat kaget sekaligus seperti ketakutan. Seakan-akan ada rahasia yang disembunyikannya namun rahasia itu sepertinya mulai terkuak. Sehingga membuatnya merasakan takut dan gelisah.


Gia yang bisa membaca perubahan ekspresi wajah wanita itu membuatnya ingin mencari tahu apakah itu. Jiwa detektifnya mulai bergejolak. Tapi tidak mungkin bertanya langsung kepadanya. Bukankah itu dianggap kurang sopan? Lalu bagaimana caranya? Gia berpikir keras untuk menemukan ide yang cemerlang.


Melihat Gia bengong, Kevin pun mencoleknya " Hei, kamu lagi mikirkan apa?" Gia lalu tersadar dan menjawab Kevin.


" Eehh, nggk kok. Nggk mikirin apa-apa.! sahutnya sambil menggelengkan kepalanya.


Kedua orang tua Kevin duduk di sofa disusul kemudian oleh Via. Tapi ekspresi wajahnya masih terlihat seperti tadi.


" Kamu kenapa? " Tanya Papi Kevin.


" Nggk apa-apa kak! " jawabnya sedikit gugup.


" Dia teman satu kelas kamu Vin? " Tanya papinya.


" Tidak juga pi, Gia ini yunior Kevin di kampus. Gia ini loh sebenarnya yang tolongin Keenan waktu hilang kemarin pi !" Kevin memberi penjelasan.

__ADS_1


" Oh, jadi kamu gadis itu! " ulang Mami Kevin. Sambil menatap Gia dari ujung kepala sampai ujung kaki. " Penampilannya boleh juga, tidak norak! " bisik mami Kevin pada suaminya yang duduk disampingnya itu.


" Iya tante! " balas Gia. Gia sangat memahami situasi sehingga dia tetap berusaha untuk tenang agar tidak membuat dirinya malu atau grogi. Pertama kalinya bertemu orang tua Kevin membuat hatinya sedikit nervous. Meski dia hadir hanya sebagai teman. Tidak lebih atau pun kurang..


__ADS_2