
Gia merenung di kamarnya. Mengingat semua perbincangan Omnya dengan wanita yang dipanggilnya kakak itu.
Gia sedang menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Hal ini tidak mungkin didiamkan begitu saja. Bukankah ini adalah peristiwa penting dalam hidupnya. Tubuh belas tahun telah lewat, dia berusaha mencari tahu keberadaan keluarganya. Dalam penantian yang hampir kehilangan harapan dan dalam keputusasaan, Gia hampir memutuskan untuk tidak memperdulikannya lagi. Namun kini secercah harapan muncul tanpa disengaja. Dan dia tidak mungkin menyia-nyiakannya begitu saja.
Bukankah itu termasuk sebuah petunjuk untuknya.?
Setelah cukup lama berpikir, Gia pun memutuskan. Dia akan menemui pria yang disebut sebagai ayahnya itu. Dia akan meminta penjelasan yang sebenar-benarnya.
Gia membersihkan dirinya terlebih dahulu, mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih layak lagi. Tekadnya sudah bulat. Hari ini dia akan menemui keluarganya itu. Entah bagaimana reaksi mereka jika mengetahuinya?
Sebelumnya Gia telah mengumpulkan informasi tentang keluarganya itu. Berhubung keluarganya itu bukanlah orang sembarangan alias orang yang penting dan dikenal banyak orang sehingga informasinyawaku dengan mudah dapat ditemukan di internet. Gia sempat ragu karena merasa rendah jika dibandingkan dengan keluarganya itu. Bagai bumi dan langit sangat jauh berbeda.
Tapi sebagai perempuan yang kuat, tegar dan berani dan berpendirian teguh, tentunya Gia tidak akan tinggal diam saja ketika dia sudah mengetahui akan suatu kebenaran.
Waktu tengah hari, Gia berangkat menuju tempat tinggal keluarganya itu. Dikuatkannya hatinya. Dia sendiri juga tidak tahu bagaimana perasaannya nanti saat bertemu dengan mereka.
" Ting... nong... ting... nong....! Gia menekan bel pintu rumah besar itu.
Saat baru tiba di kompleks rumah itu, bukan main kagumnya Gia ketika melihatnya. Memang media tidak salah memberitakan informasinya. Rumah itu sangat besar dengan pekarangan yang luas, arsitekturnya bergaya eropa, terkesan minimalis tapi elegan.
Tunggu lima menit kemudian, pintu dibukakan oleh seorang wanita paruh baya menggunakan seragam ART.
" Selamat siang.! sapanya.
" Selamat siang! balik sapa Gia.
" Ingin bertemu dengan siapa ya Mbak? Tanya wanita itu ramah.
" Boleh bertemu dengan Tuan Grego? Tuan Grego Carlos Damian Pratama.!
" Oh, silahkan masuk! wanita itu mempersilahkan Gia masuk ke dalam rumah itu.
Interior di dalam rumah itu juga sangat menarik dan indah. Dan Gia terkejut ketika netranya memandang sebuah bingkai foto yang lumayan besar tergantung di dinding rumah itu. Di dalam bingkai itu terpajang foto 3 wajah manusia dan salah satu diantaranya adalah foto seorangpun wanita yang sangat mirip sekali dengan ibunya.
Bukan mirip lagi tapi itu memang foto ibunya. Sedangkan wajah dua lainnya seorang pria yang datang ke toko roti mereka tempo hari. Dan seorang lagi foto anak kecil yang mungkin masih berusia 5/6 tahun.
"Silahkan duduk ! wanita itu mempersilahkan Gia untuk duduk di ruang tamu.
" Harap tunggu sebentar saya akan memberitahukan Tuan Grego dulu! ucap wanita itu dengan begitu sopan dan ramah.
__ADS_1
Gia duduk menunggu. Hatinya mulai berdebar-debar. Ini bukanlah pertemuan yang pertama tetapi pertemuan kali ini memiliki kesan yang berbeda. Tempo hari dia tidak tahu jika pria itu adalah ayahnya. Dan saat ini yang dia ketahui jika pria itu adalah ayah kandungnya meski masih merasa ragu.
Tak lama kemudian Grego berjalan dari belakang Gia. Grego melihat punggung wanita yang ada didepannya itu. Dia penasaran siapa gerangan wanita yang ingin menjumpai dirinya itu.
" Selamat siang! sapa Grego. Gia langsung berdiri dan berbalik setelah mendengarkan suara pria itu.
Jantungnya berdetak kencang sekali sesaat setelah berhadapan dengan pria itu.
" Selamat.... siang..! jawabnya sedikit gugup.
Melihat sosok Gia, Grego teringat bahwa gadis itu adalah putri pemilik toko roti yang wajahnya sangat mirip dengan Eva, istrinya.
" Kamu? Grego sedikit kaget melihat kedatangan Gia ke rumahnya.
" Iya .... Om! Gia masih tidak bisa menutupi rasa gugupnya.
" Ada hal penting apa sampai datang untuk menemui saya? Tanya Grego dengan suara lembutnya dan terdengar kebapakannya.
Telinga Gia begitu senang mendengarkan suara itu.
" Maafkan saya Om, jika kedatangan saya mengganggu pekerjaan Om! ucapnya merendah.
"Betapa baiknya pria ini.! puji Gia dalam hatinya.
" Benarkah pria baik ini adalah ayahnya? Hatinya sungguh baik dan juga sikapnya yang kebapakan, berwibawa dan juga tegas.
" Lalu apa yang bisa saya bantu nak? Tanya Grego kemudian.
" Bolehkah saya bertanya tentang wanita yang ada di dalam photo itu? Tanya Gia menunjuk wajah Eva yang terpajang dalam bingkai photo yang dilihatnya itu.
Grego pun terheran. Kenapa dia ingin tahu cerita tentang Eva istrinya?
" Untuk apa kamu ingin tahu tentang istri saya? Grego balik bertanya.
" Karena saya ingin tahu seperti apa wanita itu dulu? jawab Gia.
Grego terdiam sejenak. Dia penasaran dengan gadis kecil dihapannya ini. Yang datang tiba-tiba dan memintanya untuk bercerita tentang Eva. Grego menatap wajah Eva dalam bingkai photo itu. Kemudian dihelanya napasnya perlahan.
" Aku harus memulai cerita dari mana ? Karena cerita tentang istriku begitu banyak dan tak ada habisnya! ucap Grego memberikan pujian kepada istrinya itu.
__ADS_1
Gia tersenyum lucu mendengar ucapan Grego. "Pria ini pasti sangat mencintai istrinya! ucapnya pada dirinya sendiri.
Grego pun mulai bercerita sembari membayangkan istri yang sangat dicintainya itu.
Setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah suatu pujian yang diutarakannya untuk istrinya itu. Hatinya yang lembut, pribadinya yang hangat dan rendah hati, mengayomi dan keibuan. Optimis dan sangat peduli dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Hatinya bagaikan malaikat penuh kasih dan sayang.
Saat Grego menceritakan tentang Eva, hatinya ikut merasa bahagia. Karena seolah dirinya sedang berada bersama istrinya saat ini.
Mendengar cerita Grego, Gia pun ikut merasa bahagia. Ternyata ibunya itu sungguh sangat istimewa. Kecantikannya tidak sekedar fisik semata tetapi juga hati dan budinya. Itulah sebabnya mengapa pria dihadapannya ini terlihat sangat mencintai wanita itu.
" Apakah Om masih mencintai istri Om sampai sekarang? Tanya Gia lagi.
" Sampai kapanpun Om akan selalu mencintainya dan hanya akan mencintainya! jawab Grego dengan tulus dari dalam hatinya.
" Seandainya istri Om kembali dan dia tidak sendiri lagi tetapi bersama dengan seorang gadis kecil apakah Om akan menerimanya kembali? Gia bertanya lagi.
" Dulu Om sangat bersedih ketika kehilangan istri Om. Dia menghilang entah kemana dan siapa yang telah membawanya pergi. Tapi yang paling menyedihkan lagi ketika Om tahu jika Om tidak hanya kehilangan istri Om saja. Tapi Om juga kehilangan seorang anak.! Ucapnya dengan garis kerut kepedihan di lingkar wajahnya.
"Maksud Om? Tanya Gia penasaran.
" Waktu istri Om menghilang, dia sedang mengandung anak kami! Grego tertunduk sedih.
Mendengar kalimat jawaban Grego, semakin meyakinkan kepercayaan di hati Gia jika pria itu adalah ayahnya. Ayah kandungnya.
Netranya pun mulai berkaca-kaca, tak dapat menahan rasa haru di hatinya.
Grego yang menatapnya sekilas dan melihat gadis kecil itu meneteskan air mata dia pun terbawa suasana. Dengan sikap kebapakannya diraihnya bahu Gia dirangkulnya dan ditepuk-tepuknya pundak gadis itu dengan lembut.
" Apakah Om benar-benar ayahku? Tanya Gia dengan mengangkat wajahnya dan menatap wajah pria didepannya itu.
Kaget bercampur heran mendengar pertanyaan gadis kecil itu.
" Wanita yang Om sebut namanya Eva adalah ibu saya Evelyn. 17 tahun yang lalu ibu saya mengalami kecelakaan dan waktu itu saya ada dalam kandungan ibu saya. Karena kecelakaan itu ibu saya mengalami amnesia. Lupa ingatan yang cukup parah sehingga tidak mengingat sama sekali masa lalunya. Bahkan ibu saya sendiri lupa siapa dirinya.! Akhirnya Gia mengungkapkan kebenarannya. Grego seperti terkena sambaran petir yang sangat kuat dan keras. Sehingga membuatnya terkejut dan jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sesaat.
Grego menatap lekat gadis kecil yang ada dihadapannya itu. Ditatapnya lekat, dan wajah itu memang terlihat mirip dengannya. Mata dan senyumnya copyan darinya. Sedangkan nada bicaranya dan garis wajahnya menyerupai Eva.
Lima menit berselang mereka berdua mematung. Tanpa sepatah katapun keluar dari
keduanya. Sungguh tak terungkapkan bagaimana perasaan mereka saat ini.
__ADS_1