
Sehabis membeli roti dari toko roti si gadis matic, Gio singgah sebentar di kediamannya Joe. Sejak kehilangan sang Bunda kadang kala Gio pergi menemui Joe untuk bercerita atau berbagi keluh kesahnya. Hal yang tidak dapat dilakukannya kepada Ayahnya Grego. Karena Grego letih memilih untuk terkurung dalam diam dan sepinya.
Segala curahan hatinya yang mengganjal dalam hatinya akan dicurahkannya kepada Joe, layaknya seorang anak yang bercerita kepada ayahnya.
" Om Joe! sapa Gio yang langsung masuk begitu saja ke kamar Joe. Rumah itu sudah seperti rumah kedua bagi Gio. Dan Joe juga sudah mengingatkan asisten rumah tangganya untuk membebaskan Gio masuk ke dalam rumahnya kapan saja Gio ingin masuk ke rumah itu.
" Kamu Gio! Apa kabarmu nak? Sepertinya sudah beberapa hari kamu tidak kunjungi Om! Kamu kemana saja? Jangan terlalu sibuk bekerja, kamu juga perlu hiburan! Balas Joe dengan rentetan pertanyaan.
" Iya Om. Gio mengerti. Gio memang sibuk akhir-akhir ini. Ada proyek baru yang harus Gio selesaikan! jawab Gio lalu duduk dihadapan Joe.
" Oh ya Om, Gio mau cerita. Gio tidak yakin tetapi perasaan Gio mengatakan sebaliknya.!
"Ada apa nak? Tanya Joe dengan lembut layaknya seorang ayah.
" Beberapa hari ini Gio bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan Bunda! ujarnya ragu.
" Apa, seseorang yang mirip Bunda kamu? Tanya Joe yang sedikit terkejut.
" Gio tidak yakin Om, tapi hati Gio merasakan hal yang sama dengan orang itu. Ketika dia berbicara, berjalan, dan lembut suaranya mengingatkanku kepada Bunda! Gio berkata sambil membayangkan wanita dan Bundanya bergantian.
" Kamu bertemu dimana dengan orang itu.?
" Di sebuah Taman Hiburan dan toko roti. Hanya saja Gio tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena wajahnya selalu ditutupi masker.! Gio mencoba meyakinkan Joe dengan apa yang dilihatnya.
" Gio memang masih ragu Om, tapi hati kecil Gio seakan-akan meyakini jika Bunda ada didekat kita saat ini! ujarnya kemudian.
Joe mendesah, tidak ingin mengecewakan hati anak itu tetapi tidak juga anak itu terlalu berharap pada kenyataan yang palsu.
__ADS_1
" Seandainya Bundamu berada dekat dengan kita, Om yakin Bunda pasti akan kembali pulang. Dia tidak akan membiarkan kita mengalami kerinduan yang menyesakkan seperti ini. Kamu mengerti kan apa maksud Om!? Tanya Joe mengingatkan Gio.
" Gio mengerti Om. Tapi bagaimana jika seandainya Bunda juga sedang mengalami kesulitan sendiri sehingga Bunda tidak bisa pulang atau mungkin tidak berani pulang.? Gio mencoba balik bertanya lagi.
Joe hanya menggangguk mencoba mengerti dan mengiyakan maksud Gio. Joe tidak ingin Gio merasa kecewa atau putus asa. Walau bagaimanapun selalu ada harapan.
" Baiklah, bagaimana kalau nanti kamu dan Om pergi bersama. Kita bersama-sama untuk melihatnya? ujar Joe memberi dukungan kepada Gio.
Gio tersenyum bahagia. Dipeluknya lelaki yang dulu hampir saja menjadi ayah sambungnya itu.
Dia tentu saja bahagia. Karena masih ada seseorang yang mau mendukung dan memberinya semangat. Meski ayah Grego juga adalah semangat bagi hidupnya. Hanya saja ketika bersama dengan Joe, Gio tidak sungkan menunjukkan sisi kekanak-kanakannya yang mungkin tidak dapat dicurahkannya kepada Grego.
Tapi tentu saja Gio dapat bebas memperoleh perhatian dan kasih sayang dari Joe karena hingga sampai saat ini Joe masih saja melajang. Di usianya yang tidak lagi terbilang muda Joe masih memilih untuk tidak menikah. Banyak gadis dan wanita yang telah mencoba untuk menaklukkan hatinya tetapi tak satupun yang berhasil.
Bukan karena cintanya telah terpaku mati untuk Eva, melainkan belum satupun yang bisa menggetarkan hatinya. Usianya yang kini sudah kepala 4 tidak membuat penampilannya seperti orang tua. Wajahnya yang tampan masih terlihat muda tanpa kerutan, dan tubuhnya yang kekar selalu terawat dengan makanan yang sehat dan olahraga teratur.
Joe dan Gio berjanji akan pergi menyelidiki wanita yang di duga oleh Gio mirip dengan Bundanya itu di akhir pekan.
Gio sangat tidak sabar menunggu hari itu. Hatinya diliputi rasa penasaran yang begitu mendalam. Hati kecilnya selalu meyakinkan dirinya untuk tetap berharap dan percaya jika Tuhan pasti akan mempertemukan mereka lagi.
Hari yang ditunggu telah tiba. Gio dengan gaya santainya tetap saja terlihat keren dan tampan.
Dia segera menjemput Joe dikediamannya. Joe pun tidak ingin mengecewakan Gio, dirinya sudah menanti dengan antusias. Gaya dan penampilannya tidak kalah dengan Gio. Jika mereka berdua disandingkan orang akan mengira jika mereka adalah kakak adik.
Gio memacu kendaraannya dengan begitu bersemangat. Seakan-akan hari ini dia akan bertemu dengan pujaan hatinya. Sepanjang perjalanan senyum di bibirnya terus saja melengkung. Joe turut senang melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh Gio yang sudah dianggapnya seperti putra kesayangannya.
Tidak berapa lama mereka akhirnya tiba juga di tempat misi mereka. Joe keluar lebih dahulu dari dalam mobil. Kemudian Gio menyusul keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Joe memperhatikan sekitar tempat itu. Dihadapannya sekarang ini berdiri dengan kokoh dan megah sebuah bangunan kuno dengan paduan warna cerah dan ceria. Di pintu masuknya terdapat papan bertuliskan Toko Roti.
Gio dan Joe masuk bersama-sama. kedatangan mereka disambut oleh wanita penjaga toko roti itu. Wajahnya tertutup dengan masker sehingga tidak terlihat begitu jelas.
" Mari, silahkan masuk! Sapa wanita itu.
Joe yang baru saja melangkahkan kakinya ketika mendengar suara wanita itu seketika itu langsung terhenti. Matanya mencari sumber suara yang baru saja di dengar oleh telinganya.
Dan ketika matanya tertuju pada wanita pemilik suara itu, tatapannya terhenti sejenak. Wajah Eva langsung terpampang di wajah wanita itu.
Rasanya dia seperti sedang bermimpi. Tetapi ini bukanlah mimpi. Ini kenyataan. Dipandanginya dengan lekat, untuk memastikan Apakah penglihatannya sedang bermasalah?
Karena diperhatikan begitu wanita tersebut menjadi salah tingkah. Dia mengira ada yang salah dalam dirinya sehingga diperhatikan seperti itu oleh tamunya itu.
Seakan telah tersadar dari lamunannya Joe pun tersenyum menertawakan salah tingkahnya sendiri.
Entah wanita itu membalas senyuman atau tidak karena tersembunyi dibalik masker.
Gio dan Joe kemudian berpura-pura melihat-lihat roti-roti yang ada disana. Tetapi mata mereka berdua tak lupa mengintip dan memperhatikan wanita itu. Seperti seorang pencuri yang sedang was-was takut ketahuan.
Wanita itu yang tak lain tak bukan adalah ibunya Gia juga seperti menaruh curiga kepada mereka berdua karena tingkah mereka yang mencurigakan.
Setelah selesai berpura-pura mengelilingi
toko roti, Gio dan Joe pun memilih beberapa rasa kue. Lalu menyerahkannya kepada kasir.
Lirikan mata tak lepas dari pandangan Joe. Sungguh benar kata Gio wanita terlihat persis dengannya eva.
__ADS_1