
Kevin dan Varen saling berdiam diri. Gia sendiri pun bingung harus berbuat apa. Kedua pria itu membuatnya pusing tujuh keliling. Meski sebenarnya Gia tak punya alasan khusus untuk mendiamkan mereka juga. Selama belum ada pengakuan resmi dan juga jawaban pasti, artinya belum ada hubungan apapun diantara mereka. Hanya sekedar teman biasa.
Meski dalam hati mereka masing-masing ada rasa yang terpendam. Sekalipun Gia sudah mengetahuinya perasaan keduanya kepada dirinya meski secara tidak langsung. Hanya saja sekarang Gia bingung dengan perasaannya sendiri. Karena pada awalnya dia memang menyukai sosok Varen. Tapi kedekatannya selama ini dengan Kevin tak bisa diabaikannya begitu saja. Karena jelas selama ini Kevin yang lebih dulu mengutarakan perasaannya kepadanya. Meski pada awalnya Gia mengira ungkapan perasaan Kevin hanyalah sekedar bercanda dan omong kosong belaka.
Tak disangkanya jika Kevin dari awal memang benar-benar menyukai dirinya. Walaupun dulu dia merasa kesal dan tidak menyukainya. Tapi sekarang hatinya juga tidak tega. Bagaimanapun dia harus menghargai segala usaha dan perasaan Kevin kepadanya.
Apalagi Gia yang memang berhati lembut dan tulus. Gampang terharu dan kasihan. Hanya sekarang dia tidak tahu perasaan apa yang dimilikinya saat ini. Apakah rasa suka yang sama atau hanya sekedar kasihan.
Kevin dan Varen saling memunggungi satu sama lain. Mereka seperti anak kecil yang sedang bermusuhan dan tidak saling berbicara. Lalu Gia menoleh ke kiri dan kanan, kiri dan kanan, berulang-ulang. Kedua pria itu membisu bagaikan patung.
" Sampai kapan kalian berdua bersikap seperti itu? Kekanak-kanakan sekali! ejek Gia, berharap keduanya memberikan reaksi. Namun keduanya tetap diam tak berkutik sama sekali. " Kalau kalian berdua tetap seperti ini, aku bakalan pergi dari sini dan aku janji tidak akan pernah berbicara lagi dengan kalian berdua.! ancam Gia.
" Jangaaann....! teriak mereka berdua kompak. Ternyata ancaman Gia ada efeknya juga. Gia pun membalas mereka bersuara dengan tatapan tajam. Kevin dan Varen saling melirik lalu kembali saling membuang muka. "Kalian mau damai atau tidak! bentak Gia dengan tegas.
Kevin pun mengulurkan tangannya terlebih dulu, lalu Varen melakukan hal yang sama. Tangan mereka saling berjabat tangan tapi tak sampai seperkian detik mereka kembali menarik tangan dengan secepat kilat. Gia menggelengkan kepalanya melihat tingkah bocil keduanya.
" Kalau saling memaafkan itu harus tulus dan ikhlas bukan seperti sikap kalian itu! tegur Gia dengan tegas. " Ikhlas kok! balas Kevin, tapi dengan mimik wajahnya yang berkata lain.
" Ikhlas apa seperti itu, wajahnya cemberut! sindir Gia. " Dia tuh yang tidak ikhlas! ucap Kevin membela dirinya dan malah menuduh Varen. " Siapa bilang aku tidak ikhlas? protes Varen buka suara.
" Tuh kan mulai lagi, saling menyalahkan. Bisa nggk sih kalian itu bersikap dewasa. Kalian bukan anak sma yang baru lulus sekolah. Kalian itu senior! SENIOR! nasehat Gia Sepertinya seorang ibu guru yang sedang menasehati murid-muridnya. Tapi lucunya wajah Gia malah terlihat menggemaskan. Kevin dan Varen yang sedang dalam mode beku akhirnya luluh dan mencair melihat ekspresi wajah Gia.
__ADS_1
Bibir mereka pun tak tahan untuk tidak tersenyum. Dan ketika mereka saling melirik satu sama lain tertawa mereka pun pecah dan meledak karena tak sanggup lagi untuk menahannya. Dan Gia pun ikut tertawa meski dia tidak tahu alasan kenapa mereka berdua tertawa sehingga membuatnya ikut tertawa.
Benar kata orang, tertawa adalah salah satu penyakit yang menular dan tidak pandang bulu. Baik tua maupun muda, anak-anak atau dewasa. Jika sudah terkena virus tertawa maka mau tidak mau kamu pasti ikut tertular.
Sementara itu di tempat lain....
Gio sedang menikmati black coffee favoritnya di " Nongki Cafe" langganannya. Sembari membaca artikel bisnis yang lagi viral di media sosial lewat ponsel pintarnya. Karena terlalu fokus, Gio tidak menyadari jika seseorang duduk disampingnya. Gio yang masih fokus sehingga tidak memperhatikan sekitarnya.
" Serius amat sich. Semut lewat pun tidak kamu lihat! sindir suara tersebut. Gio yang merasa terusik, menolehkan kepalanya dan dilihatnya wajah seseorang yang tidak disukainya. Zara Geraldine, wanita pengagumnya. " Kamu!? Gio pun mematikan ponselnya, dengan wajah dinginnya ditatapnya wajah Zara.
" Kenapa emangnya kalau aku? Zara malah balik bertanya dengan tanpa rasa bersalah.
" Siapa yang menyuruh kamu untuk duduk disitu? tanya Gio dingin. " Emangnya tidak boleh duduk disini.? Tidak ada larangan untuk duduk di sini kan. Ini kan tempat umum siapa saja bisa duduk disini! balas Zara tidak mau mengalah. Seorang Zara Geraldine tidak akan pernah mengalah.
" Kalau saya lebih suka duduk disini emangnya kenapa.? Kenapa kamu harus keberatan! jawab Zara ngeyel.
" Tentu saja saya keberatan. Privasi saya jadi terganggu.! ucap Gio dengan sangat tegas.
" Itu kan derita loe, bukan derita gue.! jawabnya dengan santai, seakan memang memancing emosi Gio. Dan Gio pun semakin kesal dan gondok.
" Dasar wanita gila! Setelah berkata demikian, Gio pun bangkit dari tempatnya. Lalu meninggalkan Zara dengan perasaan yang masih jengkel dan kesal. Gio tak lagi berselera untuk menikmati black coffee favoritnya.
__ADS_1
" Hei, kenapa kamu pergi? teriak Zara memanggil Gio. " Aku kan masih ingin berbicara sama kamu! Teriakannya begitu keras tanpa mempedulikan sekitarnya. Bahkan tak peduli dengan Gio yang Sangat-sangatnikmati kesal kepadanya. Benar-benar gadis bar-bar muka tembok. Sekalipun Gio sudah berkali-kali dengan terus terang telah menolak kehadirannya dan mengusirnya, tetap saja Zara tidak peduli dan tidak mau tahu. Malah semakin memaksakan kehendaknya untuk mendekati Gio.
Dan Gio pun lebih tidak peduli lagi dengan Zara. Cuek dan dingin. Meski sebenarnya Gio bukanlah tipe cowok yang anti wanita. Bahkan Gio sangat menghormati wanita. Gio adalah pria yang mengagumi dan mencintai sosok wanita. Nampak jelas dari sikap Gio terhadap Bunda Eva dan adiknya Gia. Bagaimana Gio begitu sangat mencintai kedua wanita itu melebihi dirinya sendiri. Namun entah mengapa berbeda halnya dengan Zara. Hatinya begitu dingin dan tidak suka dengan wanita itu. Apalagi sikapnya yang selalu membuat Gio emosi dan jengkel.
Setelah Gio menghilang dari pandangannya, Zara pun tersenyum pada dirinya sendiri. Selama ini pria-pria itu yang selalu mendekatinya, bahkan mengejar-ngejar cintanya. Namun Gio sangat berbeda. Mendekati pria itu tidak semudah yang dipikirkannya. Jangankan untuk berharap Gio mau berbicara dengannya empat mata saja, untuk sekedar meliriknya saja Gio tidak sudi. Tentu itu sangat melukai harga diri wanita itu.
" Awas kamu ya Gi. Aku janji kamu bakalan bertekuk lutut dihadapanku! janji Zara kepada dirinya sendiri.
Sesampainya di rumah, wajah Gio yang masih seperti ditekuk, nampak jelas kekesalan menghiasi wajah tampannya. Bundanya Eva yang sedang duduk di sofa memperhatikan dengan jelas jika ada sesuatu dalam pikiran anaknya itu. Gio sendiri tak menyadari jika Bundanya ada disana. Untuk mengucapkan salampun Gio sampai lupa.
" Loh, kok anak Bunda gantengnya hilang? _ Bahkan sampai lupa memberi salam juga iya kan? sindir Bunda Eva dengan halus. Gio yang mendengarnya menjadi merasa bersalah. Dia sadar jika dirinya telah terbawa emosi dan perasaan. Gio pun langsung meminta maaf kepada Bundanya itu.
" Maaf Bunda, Gio tadi tidak memperhatikan Bunda ada disitu.! sesalnya dengan jujur dan tulus.
" Ada apa sayang ? Apa yang membuatmu kesal, sampai-sampai hati kamu kacau begitu? Tanya Bunda Eva dengan penuh kelembutan layaknya seorang ibu. Gio pun memilih untuk duduk disamping Bundanya itu.
" Gio kesal dengan seseorang Bund! ucapanya mulai bercurhat. " Seseorang itu pasti wanita. Iya kan? tebak Eva dengan tepat. " Kok Bunda tahu? Gio balik bertanya sedikit kaget karena tebakan Bundanya itu benar sekali.
" Kamu itu kan anaknya Bunda. Jadi Bunda bisa mengerti dan merasakan segala sesuatu yang terjadi pada anak Bunda! jawabnya dengan sosok keibuannya. " Memangnya kenapa dengan wanita itu? Kenapa kamu bisa begitu kesal dan tidak senang dengannya? tanya Bunda Eva dengan selidik.
Gio menarik napas dalam dan pelan. Mungkin ini hanyalah masalah kecil dan sepele baginya sehingga awalnya Gio berniat untuk tidak menceritakannya pada Bundanya itu. Namun karena sang Bunda sekarang sudah tahu dan menanyakannya kepadanya maka tak ada alasan baginya untuk menyembunyikannya dari sang Bunda.
__ADS_1
" Nggk tahu kenapa Bund, Gio merasa terganggu dengan dia. Orangnya cerewet dan sangat menyebalkan. Terlalu banyak bicara dan agresif. Dia selalu membuat Gio emosi dan kesal Bunda! curhatnya.
Mendengar penuturan Gio, Eva memahami perasaan putranya itu. " Tapi kamu tidak sampai menyakiti hatinya kan! tanya sang Bunda lagi. " Nggk tahu Bund. Gio nggk tahu apa sikap Gio menyakitinya atau tidak. Tapi buktinya dia tidak pernah kapok mengganggu Gio.! Gio menjawab Bundanya itu dengan jujur.