
Ketika tanpa sengaja Joe berjumpa dengan Eva di restaurant tadi siang, sebenarnya hati dan perasaannya bahagia karena bisa melihat kembali wajah yang sudah lama dirindukannya itu. Tapi kerinduan itu berubah menjadi benci saat melihat sosok pria itu ada juga disana. Pria yang telah merebut kekasih hatinya. Meski faktanya Grego sama sekali tidak bersalah jika pada akhirnya Eva memilih untuk menemaninya seumur hidupnya.
Dikepalnya tangannya kuat-kuat, menahan geram dan amarah yang menggebu-gebu di dalam hatinya. Benci dan rindu keduanya bercampur aduk mengaduk-aduk perasaannya saat ini. Meski bibir dan pikirannya mengungkapkan kebencian tetapi hatinya tidak sanggup untuk membenci wanita itu.
Dihempaskannya tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidurnya. Dibenamkannya wajahnya diatas bantal. Ingin rasanya dia berteriak sekencang-kencangnya agar semua beban dipikirannya hilang musnah saat itu juga. Tapi tiba-tiba bayangan Eva yang memeluknya dengan hangat lembut saat pertemuan tadi muncul dalam benaknya. Sejujurnya dia bahagia sekali itu artinya Eva selama ini merindukannya. Tapi jika dia memang rindu kenapa dia tidak datang untuk mencarinya dan menemuinya.? Kenapa dia malah memilih menikah dengan pria lain.? Kenapa dan kenapa? Hanya pertanyaan itu yang terus muncul dalam otak kecilnya itu.
__ADS_1
Sebenarnya tadi dia masih ingin berbicara dengan Eva, ingin menanyakan banyak hal yang selama ini berkeliaran dalam pikirannya. Tetapi egonya yang tinggi dan rasa bencinya itu membuatnya menahan diri untuk bertanya kepada Eva. Sebagai laki-laki, harga diri sangat penting untuk dijaga dihadapan orang lain. Agar tidak dianggap lemah dan rendahan.
Namun demi harga diri itu juga dirinya harus diliputi oleh rasa penasaran yang takkan pernah terjawab. Dihembuskannya rasa sesak didadanya. Yang seakan-akan menghimpit hatinya dan membuatnya tak sanggup bernafas dengan lega.
Entah mengapa semesta tidak merestui keinginan hatinya yang bergelora bagai nyala api. Bahkan sepertinya semesta tidak menginginkan dirinya mereguk kebahagiaan bersama pujaan hatinya itu.
__ADS_1
Sungguh sebenarnya ini adalah sebuah mukjijat yang sangat besar dalam hidupnya. Karena sebelumnya dokter telah memvonisnya akan cacat seumur hidup. Namun dengan gigih dan tekat yang kuat Joe rutin mengikuti terapi tulang belakang dan terapi berjalan. Ada semacam dorongan yang begitu besar dalam dirinya untuk bisa berjalan lagi. Dorongan yang memberinya semangat dan kekuatan serta pemikiran yang optimis bahwa dia pasti akan bisa berjalan kembali. Dan jika dia sudah bisa berjalan seperti biasanya dia pun dapat dengan berani menghadap dunia ini. Khususnya jika suatu saat dia akan bertemu dengan Eva. Karena pernah terbersit dalam pikiran Joe bahwa Eva meninggalkannya karena sekarang dia adalah seorang pria cacat. Meski kakinya sudah bisa ditegakkan walaupun tidak sempurna, saat sedang diluar Joe selalu menggunakan kursi rodanya. Meski pada awalnya ada rasa malu dan minder dengan kondisinya seperti itu.
Tapi pertemuannya tadi yang mungkin saja semesta telah mengaturnya, tidak memperlihatkan kalau Eva tidak menyukai kecacatannya. Wajah Eva malah menunjukkan ekspresi terkejut melihat kondisi Joe seperti itu. Atau Eva hanya menunjukkan wajah pura-pura saja dihadapan Joe.
Grego, Eva dan Gio terlihat bahagia sekali hari ini sebelum semuanya berubah karena perjumpaan yang tak terduga dengan Joe. Meski wajah mereka menunjukkan ekspresi bahagia akan tetapi hati mereka juga masih diliputi banyak pertanyaan. Bagi Eva sendiri dia berharap akan bertemu kembali dengan Joe. Dia sudah menyiapkan banyak pertanyaan yang ingin ditanyakannya. Yang akan menjawab semua keraguan dalam hatinya selama ini.
__ADS_1
Eva dan Grego memilih untuk tidak mengungkit hal ini didepan Gio. Karena anak itu belum mengerti sepenuhnya masalah apa yang dihadapi oleh orang tuanya itu.