Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Aku Tidak Mengenal Kalian


__ADS_3

Gio tak hentinya menyaksikan video wanita yang mirip dengan Bundanya itu di dalam ponselnya. Gio meminta agar Joe mengirimkan video itu ke ponselnya. Gio sedang berpikir apakah dia harus memperlihatkan video itu kepada Grego ayahnya? Ataukah dia harus menyembunyikannya dari sang ayah, karena belum terungkap kebenarannya.


Karena jika wanita itu adalah orang lain yang hanya mirip saja dengan Bundanya tentu akan mengecewakan sang ayah. Tapi walau bagaimanapun ayahnya juga harus tahu, dari pada ayahnya itu lebih terkejut lagi jika mengetahuinya dari orang lain.


Ya, dia harus memberitahukannya kepada ayahnya. Setidaknya dia bisa mengawasi sang ayah jika terjadi sesuatu.


Gio turun dari kamarnya yang ada di lantai atas lalu mencari ayahnya di kamarnya yang ada di lantai bawah. Di ketuknya pintu kamar, lalu dibukanya tanpa menunggu jawaban dari dalam. Grego sedang santai sambil membaca buku di atas tempat tidurnya.


" Malam ayah! sapanya.


Grego membalas dengan senyuman.


" Ayah lagi ngapain? Kok belum istirahat? Gio lalu duduk di tepi tempat tidur ayahnya.


" Ayah belum mengantuk ! jawabnya masih dengan fokus membaca buku ditangannya.


"Yah, Gio mau tunjuk sesuatu. Tapi ayah jangan terkejut ya.! ucapnya mengingatkan ayahnya.


" Tunjukkin apa? Tanya Grego penasaran.


Gio menarik napas pendek lalu menghilang dengan pelan.


Dibukanya ponselnya lalu diserahkannya kepada Grego untuk dilihatnya.


Detik pertama belum terlihat jelas. Tapi detik berikutnya nampak ekspresi terkejut di mimik wajahnya.


" Ini kan Bundamu? Bundamu masih hidup Gio! Bundamu masih hidup! Rasa kaget terlihat jelas dalam sorotan mata Grego. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Gio tersenyum, tapi senyum yang terkulum sedih.


" Tapi itu bukan Bunda ayah! ujarnya.


" Maksud kamu apa nak? Jelas-jelas itu Bundamu. Ayah bisa mengenalnya dengan baik! Grego meyakinkan apa yang dilihatnya adalah benar.


" Dia memang mirip dengan Bunda Eva, tapi dia bukan Bunda! sanggah Gio.


" Lalu dia siapa? Tanya Grego memastikan.


" Dia itu wanita pemilik toko roti yang pernah Gio ceritakan kepada ayah! jawab Gio.


" Benarkah? Tapi hati ayah berkata kalau wanita ini adalah benar-benar Bundamu! Grego masih membenarkan apa yang diyakininya itu.


" Gio juga berharap begitu ayah. Tapi kebenarannya adalah dia bukan Bunda Eva. Dia hanya seorang wanita yang mirip dengan Bunda Eva! Mendengar perkataan Gio nampak gurat kekecawaan di wajah ayahnya itu.

__ADS_1


Kemudian Grego menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Tapi hati kecil ayah berkata kalau dia adalah Bundamu. Dia adalah Eva istriku yang tercinta! ucapnya dengan percaya. Sorot matanya masih lekat melihat sosok wajah dalam video itu.


Hatinya masih tetap yakin dengan apa yang dilihatnya. Dan sangat yakin sekali. Wanita itu bukanlah orang lain. Dia adalah Eva.


" Ayah ingin menemuinya! Grego seolah berkata kepada dirinya sendiri.


Keesokan harinya. Grego sudah memutuskan untuk menemui wanita itu. Bertanya langsung kepadanya. Dia tidak ingin hidup dalam keragu-raguan seperti ini. Gio pun tidak bisa menolak atau melarang keinginan ayahnya itu. Karena dia pun sebenarnya memiliki perasaan yang sama. Hanya saja dia takut kecewa jika terlalu meyakininya. Jadi dia akan menemani sang ayah untuk menemui wanita itu.


" Ayah yakin ingin bertemu dia? Gio berusaha memastikan keinginan ayahnya untuk menemui wanita itu.


" Ayah yakin! Grego memastikan.


Mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam toko roti itu. Karena hari masih pagi, pelanggan masih sepi, waktu yang cukup baik untuk menemuinya. Eva dan Gia terlihat sibuk merapikan tempat duduk dan perlengkapan lainnya. Mendengar suara pintu terbuka, mereka langsung memandang ke arah pintu. Mereka sedikit kaget, pagi seperti ini sudah ada pelanggan yang datang.


" Selamat datang, silahkan masuk! sambut Evelyn aka Eva.


Grego dan Gio melangkah pelan dan ragu-ragu.


Melihat sikap aneh kedua pelanggannya itu, Evelyn menjadi curiga. Tapi ketika melihat wajah kedua orang itu, Evelyn langsung mengenalinya. Mereka adalah salah satu pelanggannya yang pernah datang membeli roti di tokonya itu.


" Apa anda mau memesan roti di toko kami? Evelyn bertanya dengan sikap ramah layaknya sikap seorang penjual kepada pembelinya.


Grego dan Gio tidak langsung menjawab. Mereka malah saling menatap satu sama lain. Tatapan untuk saling meneguhkan. Gio pun mewakili sang ayah untuk bertanya lebih dulu.


" Oh ya? Apa yang bisa saya bantu!? Evelyn masih dengan sikap ramahnya melayani pelanggannya itu.


Gio mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dibukanya galeri lalu ditunjukkannya sebuah foto kepada Evelyn. Foto Eva dan Gio waktu kecil.


Evelyn kaget dan terkejut melihat wajah wanita di foto itu. Karena wajah itu sangat mirip dengan wajahnya. Tapi seingatnya dia tidak pernah berfoto dengan orang yang ada di foto itu.


" Siapa wanita ini? Tanya Evelyn penasaran.


" Anda tidak mengenalinya? Gio balik bertanya.


" Wajahnya terlihat mirip dengan saya, tapi itu bukan saya. Karena saya tidak mengenal anak yang di foto itu. Dan saya tidak pernah berfoto dengan anak itu.! Evelyn menjawab sesuai dengan ingatannya.


" Foto wanita itu adalah Bunda saya dan anak kecil itu adalah saya saat masih kecil 17 tahun yang lalu! terang Gio menjawab rasa penasaran Evelyn.


" Bunda kamu? Tanya Evelyn meragu.


" Iya, wanita itu adalah Bundaku. Istri ayahku.! Gio menoleh ke arah ayahnya.

__ADS_1


" Lalu apa yang bisa saya bantu? Tanya Evelyn yang tidak mengerti maksud dan tujuan Gio memperlihatkan foto Bundanya kepadanya.


" Saya hanya ingin tahu, apa anda tidak ingat sama sekali dengan foto ini? perjelas Gio.


" Saya minta maaf, tapi saya tidak mengenal siapa yang ada di dalam foto itu. Terlebih saya tidak mengenal anda dan ayah anda!


Rasa kecewa menelisik dalam hati Gio terlebih Grego setelah mendengar penuturan wanita itu.


Sedangkan Gia yang sedari tadi hanya mendengarkan dan menyaksikan pembicaraan diantara ibunya dan kedua orang asing itu membuka suaranya.


" Maaf, kalau boleh saya bertanya, apa yang terjadi dengan ibu anda?


Sebelum menjawab pertanyaan Gia, Gio menghembuskan napasnya pelan lalu mulai bercerita.


" 17 tahun yang lalu Bunda saya tiba-tiba menghilang tanpa berita sama sekali. Kami sudah berusaha mencarinya kemana-mana tapi belum juga kami temukan. Berbagai cara telah kami lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali. Bunda hilang seperti di telan bumi. Jika Bunda memang sudah meninggal setidaknya jasadnya ada. Tapi hingga saat ini jasadnya pun tidak pernah ditemukan!


Nampak guratan kesedihan diwajah tampan itu.


Mendengar cerita Gio, ada rasa haru menusuk hatinya.


" Tapi kami masih menyimpan harapan jika Bunda masih hidup. Itu sebabnya ketika kami melihat anda, kami mengira anda adalah Bunda Eva. Kami mengira Bunda sudah kembali! ucap Gio mencoba menenangkan hatinya.


" Saya turut berduka. Saya bisa merasakan kesedihan yang anda rasakan.!ucap Gia berbela rasa. Kemudian Gia berkata lagi.


"Tapi mungkin ini juga suatu kebetulan. Ibu dan saya sebenarnya baru pindah ke kota ini. Selama 17 tahun ini kami tinggal di kota X.


Namun karena di kota kami sebelumnya kurang beruntung Ibu memilih untuk mencari peruntungan di kota ini. Itu sebabnya kami ada ditempat ini saat ini! cerita Gia berbagi sedikit kisah perjalanan hidup mereka.


Saat mereka sedang berpusat dalam pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba seorang pria paruh baya masuk ke dalam toko lalu menyapa Gia dan Evelyn dan memecah keheningan diantara mereka yang ada disana.


" Halo Gia, putri Om yang manis!


Gia langsung menoleh ke arah suara tersebut. Melihat siapakah pria yang baru saja muncul itu, express wajah Gia langsung berubah, cerah dan bahagia.


" Om Vio! teriaknya senang. Dihampirinya pria itu lalu dipeluknya. Gio dan Grego ikut melihat ke arah pria itu.


" Om kok ada disini.? Tumben-tumbenan mau datang? ucap Gia dengan sikap manjanya. Sepertinya mereka berdua sangat begitu akrab.


" Om tiba-tiba rindu dengan putri kecil Om. Karena beberapa hari ini, putri Om menghilang, nggk datang berkunjung ke rumah Om! balasnya dengan sikapnya yang begitu hangat dan lembut.


Gia tersenyum bahagia mendengar penuturan pria itu.


"Apa kabar Ev? Sapa pria itu menanyakan kabar Evelyn yang hanya terdiam melihat tingkah keduanya.

__ADS_1


" Aku baik-baik saja! jawab Evelyn seadanya.


Mendengar pria itu memanggil Evelyn dengan sebutan nama Ev, Grego seperti mendengar nama Eva yang dipanggilnya. Hatinya sedikit bergetar. Rasa rindu kembali menyerang hatinya. Rindu yang amat teramat dalam.


__ADS_2