Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Cinta Tak Selamanya Memiliki.


__ADS_3

Indahnya langit sore ini, tak seindah dengan suasana hati Kevin yang terasa mendung dan kelabu. Bagaimana tidak kelabu, perjumpaannya dengan Gia dikampus tadi pagi memang membahagiakan. Namun akhir dari pertemuan itu tidak membahagiakan sama sekali. Awalnya dia mengira Gia telah bersedia menerima cintanya kembali. Pelukan dan tatapan kasih sayang yang diberikan oleh Gia begitu nyata. Hangat dan menunjukkan. Ternyata pelukan itu adalah pelukan terakhir dan tatapan kasih itu adalah tatapan untuk menguatkan dirinya saja.


Mengapa keluarga yang seharusnya menjadi tempat untuk mendapat dukungan dan kebahagiaan dalam meraih cinta, nyatanya harus menjadi penghalang yang begitu menyesakkan. Sebenci apapun Kevin terhadap kedua orang tuanya, bukan berarti dia harus menyangkal mereka sebagai orang tua dan keluarganya. Walau bagaimanapun mereka telah memberinya sebuah kehidupan. Kehadirannya kedunia ini adalah karena kedua orang tuanya. Baik buruk dari keluarganya dia harus tetap bersyukur.


Mendung tak selamanya kelabu, tapi hati yang kelabu pasti akan mendung dan hanya ada kesepian yang bertakhta disana. Kevin tenggelam dalam mendung hatinya. Tidak tahu kapan matahari cerah akan bersinar lagi disana. Yang memberinya kehangatan dan sinar terang untuk menerangi kegelapan hatinya saat ini.


Saat Kevin masih diselimuti mendung hatinya, muncul Keenan dari balik pintu. Melihat kakaknya itu larut dalam kepedihan dan tidak menyadari akan kehadirannya, muncul ide usil dalam benaknya.


" KAK KEVIN, ADA KAK GIA TUH CARIIN KAKAK!" teriak Keenan mengagetkan Kevin. Dan tentu saja Kevin terkaget mendengar teriakan Keenan terlebih ketika mendengar nama Gia disebut.


" Gia datang? Gia datang? Gia dimana? Kevin melompat bangkit dari tempatnya dan bertingkah seperti orang linglung yang sedang mencari-cari sesuatu.


Melihat tingkah kakaknya yang lucu itu, Keenan tak sanggup lagi menahan tawanya.


" Kakak tuh lucu sekali. Benar-benar lucu.!" Keenan tak hentinya menertawakan kakak nya itu.


" KEENAAAAN.....!" teriak Kevin kesel setelah sadar jika dia sedang dikerjain oleh adiknya itu. Yang terjadi berikutnya terjadilah aksi kejar-kejaran antara Kevin dan Keenan seperti Tom dan Jerry.


Sementara itu Gia sedang bersama dengan kakaknya Gio. Mereka berdua nampak duduk santai di bawah pohon yang ada di tengah taman. Sambil menikmati indahnya gemerlap bintang diangkasa biru sana. Bulan kelihatannya absen malam ini. Makanya langit terlihat sepi dan bintang-bintang meredup sendu.

__ADS_1


" Gi, hari ini kakak perhatikan kamu sepertinya kurang bersemangat. Ada masalah di kampus atau ada mata kuliah yang sulit untuk kamu ikuti?" tanya Gio dengan begitu perhatian.


" Kak, Gia mau nanya boleh nggak?" Bukannya menjawab pertanyaan Gio, Gia malah balik bertanya.


" Mau nanya apa adik sayang?" Gio memperbaiki posisi duduknya, dengan begitu dia bisa terlihat serius dan perhatian untuk mendengarkan curhatan Gia.


" Kakak kan sudah ngalamin bagaimana itu rasanya jatuh cinta. Gimana sih kak caranya supaya kita bisa mengontrol perasaan kita? Supaya hati kita tidak terlalu gelisah atau galau disaat perasaan kita tidak terbalaskan."


Mendengar penuturan sang adik, Gio bisa memahami kegelisahan yang sedang dialami oleh adiknya itu.


" Kakak senang, ternyata adik kakak yang imut ini sudah mulai berani mengungkapkan perasaannya. Yang penting jangan sampai perasaan itu membuat kamu menjadi pribadi yang plin plan, tidak punya pendirian dan mudah untuk dipengaruhi oleh orang lain.!" ucap Gio mengingatkan adik tersayangnya itu.


" Tapi kadang aku merasa takut untuk jatuh cinta Kak. Takut kehilangan disaat diriku sudah merasa nyaman.!" ucap Gia mencurahkan isi hatinya. Gio membelai rambut Gia dengan lembut dan penuh kasih sayang.


" Cinta tak selamanya harus memiliki. Kehilangan itu pasti suatu ketika akan kita rasakan hanya tidak tahu kapan waktunya.!" Gio mencoba menyampaikan kenyataan yang sering kali dialami oleh orang-orang.


" Namun bukan berarti kita jadi takut dan tidak mau untuk mencintai. Kita hanya perlu berpasrah pada yang Kuasa.!" lanjut Gio menasehati adiknya itu.


" Mungkin Gia sudah terbiasa untuk kehilangan cinta. Bukankah sejak Gia belum lahir, Gia sudah kehilangan cinta Ayah dan juga cinta kakak selama 17 tahun? Gia telah terbiasa hidup tanpa kasih sayang Ayah dan Kakak. Meski kini Tuhan telah mengembalikan semuanya, tapi Gia sudah pernah merasakannya.!" Gia mengenang kembali hari-hari dimana dia hidup tanpa kasih sayang seorang Ayah. Saat dimana dia menjadi bullyan teman-temannya.

__ADS_1


Namun Gia tak pernah mengeluh atau menyesal akan kehidupannya. Bundanya selalu mengajarkannya untuk tak lupa bersyukur atas setiap pengalaman hidupnya.


" Kakak berjanji akan selalu menjaga dan melindungi kamu. Sekalipun nanti kelak kamu harus menikah dan mengikuti suamimu, kakak akan selalu ada untuk kamu. Kakak tidak akan membiarkan kamu menderita lagi. Kakak janji!" Gio mengucapkan janjinya dengan tulus dan murni dari kedalaman hatinya. Gia pun menjadi terharu mendengar ucapan tulus dari sang kakak.


" Gia juga berjanji, Gia akan selalu menjadi adik yang baik dan manis untuk kakak. Jika perlu Gia juga akan melindungi Kakak.!" ucap Gia dengan semangat dan penuh percaya diri.


Gio pun tersenyum bangga karena telah berhasil membuat adiknya itu tersenyum. Tidak hanya bangga tetapi juga bahagia karena Tuhan telah memberinya seorang adik yang begitu sempurna. Benar kata orang Tuhan itu adil. Dia akan menganugerahi para hambanya dengan anugerah yang mereka butuhkan. Bukan apa yang mereka inginkan tapi apa yang mereka butuhkan.


Grego dan Eva yang memandang kedua anak kesayangannya mereka begitu dekat, akrab dan hangat membuat hati kedua orang tua itu sungguh bahagia. Betapa senangnya jika melihat dan menyaksikan sendiri keluarganya hidup dengan bahagia. Saling memahami dan mengerti satu sama lain.


" Mas, aku sangat bersyukur sekali. Ada kamu, ada Gio dan juga Gia. Kalian adalah hadiah yang terindah yang Tuhan kirimkan untuk keluarga ini.!" Eva mengutarakan isi hatinya.


Grego lalu mendekap dengan erat dan penuh harapan istrinya tercinta. Hangat dan mesra. Kebahagiaan yang dirasakannya seakan disalurkannya kepada istrinya tercinta.


" Sayang, semoga kebahagiaan yang kita alami saat ini, akan selalu abadi untuk selamanya.!" ucap Eva sekaligus sebagai bentuk doa. Semoga Tuhan mendengarkannya dan mengabulkannya.


" Iya sayang. saya juga selalu berharap dan berdoa semoga Tuhan selalu mendengarkan doa dan harapan keluarga kita.!" Grego meneguhkan hati istrinya itu. Dan Eva menimpalinya dengan anggukan lembut diringi senyuman yang mempesona.


Sungguh keluarga Pratama telah terberkati. Derita yang mereka alami selama ini telah dibayar dengan kebahagiaan dan suka cita. Siapa bisa mengira jika Tuhan sudah mencintai keluarga ini lebih dari apapun.

__ADS_1


__ADS_2